
Kuntilanak itu terus merayap. Kali ini menembus masuk ke dalam mobil. Ia tak perlu pintu yang terbuka untuk merangkak ke hadapan Jerry di depan setir mobilnya yang darahnya membeku sehingga tak mampu menggerakkan apapun itu.
Mata kelabu sang kuntilanak memandang Jerry lamat-lamat dari sela-sela rambut panjangnya. Namun tak lama sesuatu yang aneh terjadi. Kuntilanak itu terdiam. Rambut panjangnya menyapu kursi dan dashboard mobil sedan itu.
Di depan wajahnya, Jerry menyaksikan sang sosok kuntilanak memutarkan tubuhnya. Bunyi gemeretak tulang-tulang yang bergeser terdengar keras ketika kepala terpuntir itu kembali ke posisi semula layaknya manusia.
Soelastri kini telah duduk di samping Jerry.
Noda darah di baju terusan putihnya tak terlihat. Tidak ada tanda-tanda mengerikan di tubuh sosok perempuan yang Jerry kenal cukup baik tujuh tahun lalu tersebut. Jerry masih bisa merasakan kemudaan dan busungan dada padat Soelastri, kecantikan wajah putih pualam berbintik-bintik hitamnya, bau tubuh dan ... Suaranya.
"Abang Jerry ..." ujar Soelastri. Suaranya menggema di otak Jerry sedangkan wajah kuntilanak itu dingin tanpa emosi. Lagipula, apakah hantu masih memilikinya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku mau seperti yang kakak berdua lakukan!" ujar Yudi kurang ajar tanpa tedeng aling-aling di hadapan Soelastri yang berkemben hendak mandi di tempat biasa.
"Bocah ingusan bangsat!" serapah Soelastri. "Kau mengintipku ya? Sudah untung kau tak kuhajar karena berani-beraninya mengurusi masalah orang. Sana, pergi ke perempuan murahan. Minta antarkan bapakmu. Dia paham soal anak laki-laki yang sudah kenal berahi," ujar Soelastri. Kata-kata kotor dan kasar sudah menjadi bagian dari kehidupan kampung ini.
Namun, entah bagaimana setan iblis bisa masuk membangkitkan jiwa binal lacurnya ini. Apa yang dipikirkannya sampai-sampai niatan menggoda anak laki-laki tanggung ini tak tertahankan? Darimana Soelastri bisa memurahkan tubuhnya dengan orang yang sama sekali tak disangka-sangka? Bagaimana pula ia bisa menikmatinya sebegitu rupa? Apakah karena dalam tubuhnya mengalir darah jahanam Kampung Pendekar?
Soelastri menatap wajah Yudi muda yang setengah polos, setengah brengsek. Terlihat sekali bahwa si remaja tanggung itu menahan gejolak yang meledak-ledak di bawah sana, diantara pangkal pahanya.
Wajah marah Soelastri mendadak melunak melihat wajah muda Yudi yang sudah terlanjur digempur berahi tersebut.
Soelastri merasakan gigitan dan sengatan aneh menjalar di sekujur kulitnya. Ada rasa kekuasaan dan kepuasan tertinggi melihat laki-laki muda itu takluk di depannya, mengemis-ngemis akan kerelaan Soelastri untuk memberikannya kagungan tubuhnya.
Soelastri kemudian berhenti membentak Yudi muda. Ia menghela nafas.
__ADS_1
“Kau sungguh mau melihat aku telanjang?” ujar sang perempuan.
Yudi menelan ludahnya dan mengangguk pelan.
Soelastri membuka kembennya, membiarkan Yudi muda memandangi bentuk-bentuk ajaib yang membangkitkan gelora gemuruh nafsunya itu.
Hanya saja, kali ini, Jerry melihat kejadian tersebut melalui lubang di dinding papan lapuk tempat Yudi muda sebelumnya melihat mereka bercinta.
Ketika Soelastri sadar, Jerry sudah tak mungkin teraih. Tak peduli apa alasannya, laki-laki itu perlahan tapi pasti menghilang bagai embun pagi hari tertimpa panas matahari di hari-hari Soelastri.
Malam Rabu, Soelastri mengenakan pakaian terusan putih kebanggaan dan satu-satunya dress miliknya itu. Ia berjalan keluar kampung menuju ke jembatan tol, tengah malam, sendirian.
Ia tertawa dalam hati. Niatnya menjadi hantu tak berbusana putih nampak-nampaknya tak akan tercapai. Ia akan benar-benar menjadi hantu perempuan berdaster putih.
Ia sendiri begitu kaget bahwa ternyata ia memiliki cinta. Cinta untuk Jerry, laki-laki yang membuka gembok kebinalannya. Ia memiliki rasa yang meledak-ledak menginginkan pegawai pemerintahan tersebut.
Ini bukan sebuah pembenaran, tapi sungguh, ia khilaf. Ia terbawa rasa bangga bahwa tubuhnya adalah miliknya seutuhnya, yang indah, yang agung. Dan ia memberikannya kepada Jerry. Yudi hanyalah pengagum yang diijinkannya merasakan sedikit saja efeknya.
Kau Sakit, Soelastri! Tuduhnya pada diri sendiri, menggoda anak laki-laki di bawah umur.
Hanya saja, Soelastri lelah harus beradu pikir dengan otaknya sendiri.
Ia memutuskan mengakhiri nyawanya sendiri dengan melompat dari jembatan tol. Tubuhnya menghujam sebuah kapal tongkang pengangkut kayu di bawah jembatan yang sedang lewat.
Kepala Soelastri patah, terpuntir. Sedangkan punggungnya tertancapi kayu-kayuan tajam tak beraturan.
Sudah dipastikan ia tewas di tempat.
__ADS_1
Lalu, mengapa Yudi ketika dewasa tak mengingat sosok Soelastri sama sekali? Padahal, tujuh tahun lalu, ia adalah bagian dari kejadian ini. Ia adalah salah satu tokoh kunci dalam jalan cerita Soelastri.
Jawabannya, karena seperti laki-laki Kampung Pendekar lain yang tumbuh menjadi pria brengsek, Yudi pun menikmati tubuh belasan perempuan berbeda, pergi ke tempat perempuan murahan - bersama bapaknya - menghamili anak gadis orang - dan menolak bertanggungjawab tentunya, serta beragam jenis kebrutalan perilaku pada perempuan lainnya.
Maka, Yudi tak terlalu ingat siapa dan Bagaimana Soelastri itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pak Norman, Pak Jerry dan Setya sama sekali tak melihat kepulan asap dan lidah api menyala di sana-sini. Padahal angkasa mulai terang, sembulan cahaya menerobos semesta seperti tetesan cahaya raksasa. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di depan sana jembatan telah runtuh, memutus satu-satunya akses ke kota. Mereka hanya mengetahui bahwa pagi-pagi ini masih buta, kelam, gelap dan tersembunyi dari mata cahaya.
Sekarang, setelah Setya dan Pak Norman tak sadarkan diri, kejang-kejang karena kengerian menelisik masuk ke relung-relung hati mereka, meresap ke tulang sumsum dan mengerutkan nyali tanpa menyisakan apa-apa, Pak Jerry mulai sadar bahwa pandangan mereka selama ini ditutupi kabut tebal yang kemudian kabut yang bergumpal-gumpal di depan sana perlahan terbuka.
Soelastri yang masih duduk anggun dalam bentuk 'normalnya' di samping Pak Jerry di dalam mobil tak tersenyum, namun memandangnya dengan penuh kehangatan.
Pak Jerry merasakan kebekuan tubuhnya mulai retak mencair perlahan. Ada rasa keakraban yang mendobrak masuk di ruang dan jarak diantara mereka. Ia melihat ke arah Soelastri dan kabut di depannya yang mulai terbuka secara bergantian.
Lamat-lamat di depan sana terlihat kobaran api di beberapa titik di arah jembatan tol dan sekitarnya. Asap mengepul tinggi-tinggi menggapai langit. Itulah penyebab terdengarnya suara ledakan.
"Kau ... Bukankah kau Lastri?" Pak Jerry memberanikan diri bertanya, mumpung rasa takutnya mendadak luntur mengalir dan menguap ke udara.
Soelastri tampak berusaha menciptakan bentuk senyuman dari wajah jelitanya itu. Namun gagal, karena nampaknya bentuk astralnya menyimpan terlalu banyak duka dan penderitaan yang memperbudaknya.
"Tak perlu kau jawab, Lastri. Aku tahu itu kau. Tak lama setelah aku ... aku melihat ..," Pak Jerry berusaha mencari kosakata yang tepat meski akhirnya tak membuahkan hasil. " ... melihat .. Hal itu, ah... Aku memang sempat kaget dan kesal. Tapi aku kemudian berpikir dan merasa bahwa itu tidak adil bagimu, Lastri. Aku juga ikut menyumbang dosa. Namun, ketika aku memutuskan untuk bertemu kau lagi, aku membaca di koran bahwa ... Kau telah bu ...,"
"Pergi! Pulang!"
Kata-kata Pak Jerry terputus ketika suara Soelastri menggema.
__ADS_1