
Sebenarnya terlalu mudah bagi sosok sakti nan misterius ini untuk mencelat terbang dan menghindar atau bermain-main di angkasa. Namun yang dilakukannya adalah menunggu kedua kendaraan itu mendekat.
Gatotkaca lalu menyeruduk salah satu kendaraan itu bagai seekor badak. Akibatnya, bukan hanya sekadar penyok, nyata-nyata Gatotkaca memang memiliki kekuatan dan kesaktian yang tak biasa dinalar sehingga kendaraan itu ringsek di bagian depannya serta sampai terangkat ke belakang.
Gatotkaca bergeser cepat ke sisi APV itu dan menendangnya keras sehingga kendaraan yang sudah hancur itu menabrak kendaraan satunya. Kedua kendaraan tersebut bergulingan setelah tubrukan dengan suara keras.
Terlihat jelas para anggota kepolisian yang mengabdi kepada Marsudi ini memiliki riwayat khusus dengan Gatotkaca. Mereka seperti sudah paham dengan kemampuan sang figur misterius ini sehingga benar-benar terfokus berusaha menghabisinya.
Gatotkaca sendiri juga tak segan-segan menyerang dan melumpuhkan mereka. Darimana ia tahu-tahu datang dan mengetahui bahwa para anggota tim khusus kepolisian ini menyerang para warga bila sebelumnya paling tidak ia sudah memperhatikan gerak-gerik dan pergerakan mereka?
"Apa kubilang! Yang orang sebut Gatotkaca itu memang benar-benar ada. Seorang adiwira, superhero, yang akan memberi pelajaran kepada orang-orang jahat itu," Hamdan berteriak keras kepada rekan-rekannya, terutama kepada Dul Matin yang berdiri di sampingnya.
Ia menatap mata Dul Matin dengan perasaan puas. Yang ditatap hanya menggeleng-gelengkan kepalanya namun ia jelas setuju dengan Hamdan. Sosok itu adalah seorang adiwira dengan kekuatan luar biasa yang bisa saja menyelamatkan desa ini dari serangan orang-orang jahat ketika empat orang sakti - yang tak kalah misteriusnya - nampak kehabisan tenaga melawan mahluk-mahluk gaib dan para begundal korup, gila dan sadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tubuh para anggota kepolisian bergelimpangan. Ada yang mengaduh karena kaki atau lengannya patah atau terluka parah di beberapa bagian tubuhnya. Ada yang tak sadarkan diri terlentang di bawah hujan.
Namun tak ada satupun anggota kepolisian itu yang tewas.
Bahkan dari dua APV yang bisa dikatakan hancur berantakan dihajar Gatotkaca, dua orang pengemudinya keluar menyeret tubuh mereka yang babak belur.
Sarti dan Anggalarang mengangkat reruntuhan dan puing tembok bangunan dan mendapatkan Soemantri Soekrasana meringis. Wajah dan rambutnya berantakan. Baju dan celananya compang-camping. Ada goresan luka di sana-sini, tapi selain itu, ia baik-baik saja untuk ukuran orang yang habis kejatuhan reruntuhan bangunan.
Wong Ayu muncul dari kegelapan bergabung dengan ketiga rekannya.
Ada segaris darah yang mengalir dari sisi kepalanya sampai ke dagu. Ia mengangkat tangannya ke arah Sarti, Anggalarang dan Soemantri Soekrasana untuk memberi sinyal bahwa ia tak apa-apa.
__ADS_1
Keempatnya kini berdiri berdampingan menyaksikan pemandangan di depan mereka. Begitu pula dengan para warga yang bermunculan dari tempat berlindung. Beberapa yang tadinya pingsan, terutama setelah kerasukan juga telah terbangun.
Dengan sesingkat mungkin warga lain yang ada di sekitar orang-orang yang baru siuman ini menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum mereka terlalu kebingungan.
Marsudi memandang sekelilingnya. Kali ini ia tak terkekeh. Ada kemungkinan bahwasanya sang ratu iblis di dalam tubuhnya tak menyangka bahwa ada satu tambahan tokoh sakti yang merasa segala rencananya. Dan orang itu bukan orang biasa.
Marsudi sendiri ingat bahwa ia pernah membaca sebuah tabloid khusus memberitakan hal-hal supranatural. Ia sempat menertawai berita perihal kemunculan sesosok pahlawan dengan kekuatan super yang melawan para pelanggar hukum dengan kemampuan terbang dan kesaktiannya. Ia tertawa saat itu.
Sekarang ia benar-benar berhadapan dengan figur yang tadinya ia ragukan keberadaannya itu.
Marsudi akhirnya pun tersenyum. Ia merasakan mendapatkan kesempatan besar melawan orang sakti ini. Darahnya berdesir kencang mengalirkan daya kekuatan dan energi yang besar bagai sengatan listrik. Iblis betina di dalamnya juga menggeliat dengan amarah dan nafsu membunuh.
Marsudi melayang di udara. Lecutan tenaga dalam bentuk sinar-sinar seperti petir berpendaran. Ia sedang mengumpulkan energi ketika Gatotkaca meluncur terbang ke arahnya dengan kepalan tangan mengantam tubuh Marsudi.
Akibatnya, tubuh marsudi terlempar menyambar atap bangunan tetapi tak berhenti. Tubuhnya masih terus terseret sampai dua tiga bangunan lagi. Ketika berhenti ia langsung menjejakkan kedua kakinya untuk memberikan daya dorong dan momentum untuk menyerang balik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Soemantri Soekrasana menutup mata dan mengambil posisi bersila. Mulutnya komat-kamit membaca mantra.
Kuntilanak merah muncul di balik pohon, cukup jauh dari posisi Soemantri Soekrasana.
Tak lama Anggalarang merasa perutnya mual. Ia muntah.
"Kau tak apa-apa?" ujar Sarti demi melihat keadaan Anggalarang yang tiba-tiba ini.
Anggalarang menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tak apa. Soemantri berhasil mengembalikan Maung."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wong Ayu mengepalkan kedua tangannya, gregetan. Ia masih merasa dipermainkan dan dipecundangi sang iblis betina itu. Melihat dua sosok sakti berkelebatan dan bertempur di angkasa membuatnya muak. Ia tidak terlalu suka ada sosok lain yang datang tiba-tiba ikut campur dalam 'pertempurannya'.
Baru saja ia akan terbang melesat untuk menyerang Marsudi kembali, tangannya dipegang oleh Sarti.
"Kau tak bisa selalu mengikuti hawa nafsumu, Wong Ayu. Aku tahu seberapa besar benci dan angkara murka dalam jiwamu, tapi kau tak boleh menambah kesalahanmu dengan berlagak mampu menyelesaikannya sendiri," ujar Sarti tegas.
Wong Ayu menatap mata Sarti tajam. "Soemantri yang mengatakan kepadamu?" tanyanya dingin.
Sarti melepaskan pegangannya, "Bukan hanya dukun muda itu yang memiliki dukungan gaib. Bahkan kita berempat terlahir dari rahim kekuatan gaib, bukan?"
Anggalarang dan Soemantri mendekat. Wong Ayu langsung berkata kepada Anggalarang, "Dan kau, aku tebak, kau punya dukungan gaib juga yang meberitahukan sejarah gelapku?"
Anggalarang mengangkat kedua bahunya, "Maung tersedot ke dalam dimensi lain dan terkurung di sana beberapa kali. Ketika ia kembali, ia menjelaskan kepadaku semuanya."
Wong Ayu mengangguk.
"Jadi kalian semua sekarang paham bahwa akulah penyebab kekacauan dan pembantaian ini? Aku memang orang yang penuh dengan dendam kesumat. Aku membunuh demi melampiaskan nafsu berdarah. Kedua orangtuaku yang sering membantu orang-orang yang kesusahan dibantai oleh warga desa Obong yang bejat dan desa dibantu beberapa warga Kaliabang sewaktu aku masih remaja," ujar Wong Ayu.
Perempuan itu kemudian menarik nafas panjang.
"Aku memang menyerap kekuatan gelap. Kekuatan yang dahulu dimiliki Calonarang. Iblis perempuan itu memanfaatkan kesedihan dan dendamku untuk ikut keluar dari dimensi gelap itu dan menguasai dunia manusia yang nyata. Aku paham semua adalah salahku, jadi aku akan menebusnya. Kalian tak perlu repot malah mencoba membantuku, aku tak meminta itu. Aku mengakui semuanya. Akan kulunasi hutang ini dan kutebus semua dosaku."
Soemantri Soekrasana tiba-tiba mendekat ke Wong Ayu, "Mbak pikir cuma mbak yang punya sejarah kelam di sini? Mbak pikir cuma mbak yang patut dipersalahkan atas korban yang bergelimpangan di tiga desa itu? Berhentilah egois dan merasa paling menderita dan paling kuat sendiri."
Pemuda yang biasanya terlihat sedikit santai itu kini terlihat serius.
__ADS_1