Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Limapuluh Empat


__ADS_3

"Catur Angkara ...," suara iblis betina yang serak dan berada di batas kematian dan kehidupan terdengar merayap diantara udara.


"Kalian kembali lagi. Manusia yang penuh hasrat dan nafsu kini masuk ke dalam rumahku tanpa diundang. Apa kalian siap berada di sini selamanya, menjadi budakku, atau kalian memiliki sebuah rencana lain?" lanjutnya.


Kata-kata yang diucapkan perlahan itu menusuk kulit bagai sembilu.


"Cukup. Kau tak diterima di bumi manusia. Segala bujuk rayu dan siasatmu sudah tak berlaku lagi," ujar Soemantri Soekrasana.


Sang iblis tertawa melengking. "Aku ada karena manusia yang memintanya. Bumi manusia adalah lahan subur untuk aku dan mahluk-mahluk sepertiku memanen jiwa. Kau, Soemantri Soekrasana, yang berpikir bisa membawaku kembali ke rumahku sendiri dan menguncinya sehingga aku tak bisa kembali? Cerdas, tapi terlalu percaya diri," ujar sang iblis dibarengi lengkingan tawa mengerikan.


"Aku ada karena Wong Ayu membawaku kemari. Aku ada karena orang-orang semacam kau merasa bisa menjadi pahlawan bagi manusia lainnya, padahal kalian menggunakan dan menguasai kekuatan gaib untuk melawan kekuatan gaib lainnya. Sebuah pembenaran perilaku jahat kalian juga, bukan begitu, Anggalarang, Sarti? Atau bisa kupanggil Ratna Manggali?" sang iblis melotot.


Sosok tersebut melompat turun dari atas pohon, tetapi tubuh gaibnya tidak menyentuh tanah, mengambang di atas bumi. Rambut dan kainnya masih menyatu di pohon beringin, menjalar-jalar seperti bagian dari pohon tersebut, atau mungkin pohon itu adalah bagian dari dirinya.


Akibat gerakan sang sosok yang mendadak tersebut, keempat anggota Catur Angkara melonjak sedikit kebelakang. Ini membuat sang iblis tertawa lebih kencang.

__ADS_1


"Kalian pikir dengan bergaya seperti rombongan pahlawan kalian bisa menghapus dosa-dosa kalian di masa lalu? Ratna Manggali, kau tahu berapa banyak hantu di rumahku ini yang menanti jiwamu? Mereka yang kau bunuh sepanjang sejarah, entah orang jahat, entah orang tak bersalah, entah orang yang tak ada hubungannya dengan apapun tujuanmu. Mereka semua siap memakan jiwamu bersama-sama, beramai-ramai. Dosa ibumu, Calonarang, terlalu tebal untuk ia kikis, sampai-sampai kau anaknya yang harus menjadi tumbal penebusnya," kedua mata sang iblis melotot.


"Terutama kau, Wong Ayu, dendam kesumatmu ...."


"Kau tidak capek apa mengulang-ulang kalimat yang sama? Aku menolak tinggal di dunia gaib bersamamu di sini bukan karena aku takut diperbudak olehmu, tapi aku bisa mati berkali-kali kebosanan dengan caramu berbicara. Tapi, jujur aku salut dengan kau yang hebat bisa tidak bosan dengan dirimu sendiri," potong Anggalarang tiba-tiba.


Ketiga rekannya yang lain melihat ke arahnya dan tersenyum. Sang iblis perempuan itu sendiri yang terpotong ketika ia berbicara terlihat kesal.


"Soemantri, lakukan apa yang harus dilakukan," ujar Anggalarang kemudian.


Soemantri Soekrasana mengangkat bahunya. Mpu Gandring digenggam erat, cahaya birunya semakin terang menjadi-jadi.


Banaspati membakar udara berseliweran diantara kuntilanak merah yang mengambang dan menyeringai ke arah Soemantri Soekrasana. Wewe gombel yang sepasang dadanya panjang menjuntai berjongkok dengan saru di bahu satu sosok gendruwo yang tinggi menjulang dengan tubuh berbulunya di balik pepohonan.


Maung dalam bentuk utuhnya, seekor harimau putih besar, menggeram ke arah sang iblis dengan membawa serta beragam binatang astral di belakangnya: ular, kecoa, kalengking, tikus, kodok, buaya, kambing, babi hutan, anjing hutan, burung gagak, kumpulan lebah dan siluman ular berkepala manusia.

__ADS_1


"Kalau kau memang butuh kekuasaan, ambil saja mereka," ujar Soemantri Soekrasana.


Mahluk-mahluk astral yang terbang mengambang, melata, merangkak, berjongkok, kayang atau berjumpalitan memenuhi danau darah dan daerah di sekitarnya, tak memberikan rongga atau tempat sama sekali bagi sang iblis betina untuk kembali ke dunia manusia.


Sang iblis tertawa melengking, "Kalian pikir bisa mengurungku disini selamanya? Waktu tak berpengaruh apa-apa padaku, dalam sekejap mata aku sudah bisa kembali untuk memanen nyawa manusi kembali. Saat itu kalian akan sudah tua digerogoti waktu bagai kayu lapuk dan tidak akan bisa mencegahku lagi."


Wong Ayu maju mendekat ke arah sang iblis yang tubuh keriputnya bermandi darah, "Tidak masalah. Manusia tak pernah terhindar dari bencana, baik secara alami atau akibat perbuatan mereka sendiri. Kau sendiri paham bahwa manusia akan selalu melakukan kesalahan, akan saling membunuh dalam perang, saling rebut kekuasaan, dan mengikuti hawa nafsu mereka. Tapi ketika bencana datang, manusia akan tersadar akan kesalahan mereka sendiri dan akan saling bantu menghadapinya, sudah dibuktikan dengan para warga desa Prajuritan dan Kaliabang, bukan?" ujarnya.


"Lagipula, akan ada orang-orang seperti Catur Angkara yang akan melawanmu. Paling tidak kalau kami sudah mati nanti, masih ada Sarti yang masih terjaga untuk memastikan mahluk-mahluk sepertimu menghadapi lawan yang seimbang," ujar Soemantri Soekrasana meneruskan ucapan Wong Ayu sembari memandang ke arah Sarti.


Perlahan keempat tokoh itu mundur, membalikkan tubuh mereka dan masuk ke dalam danau. Semua mahluk astral membuka jalan bagi mereka. Maung dan kuntilanak merah pun ikut menghilang, mengikuti sang inang dan majikan mereka, kembali ke dunia fana.


Sebelumnya tadi, Soemantri Soekrasana sudah berkomunikasi dengan para mahluk astra untuk menawarkan kepada mereka agar dapat menuntaskan segala permasalahan mereka di dunia yang masih belum selesai. Ia tak peduli bila hal ini membutuhkan waktu seumur hidupnya untuk mencari tahu permasalahan mereka semasa hidup. Ia bahkan menjanjikan membiarkan Sarti dan Anggalarang serta Maung untuk membalas dendam kepada orang-orang yang berbuat jahat kepada mereka - ia tak bisa percaya ia mengatakan hal ini. Toh, sekuat apapun ia mencegah rekan-rekannyaa untuk membunuh manusia, ia pasti gagal. Paling tidak, mereka hanya membunuh orang-orang jahat dan bejat.


Sebaliknya, ia dan Wong Ayu akan menggunakan kekuatan mahluk-mahluk itu untuk memutus perbudakan gaib yang dilakukan oleh orang-orang pencari ilmu serta dukun-dukun yang memanfaatkan para mahluk gaib ini demi kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan duniawi. Namun, semua ini dengan syarat, mahluk-mahluk gaib tersebut harus mau mengurung sang iblis betina di dalam dunianya sendiri selama mungkin.

__ADS_1


Ternyata tawaran ini jauh lebih menarik dibanding tawaran sang iblis betina untuk menguasai dunia manusia.


Sang iblis tertawa keras, melengking. Tubuhnya berubah menjadi gulungan api yang berkobar membakar pohon beringin tempat ia menyatukan tubuhnya. Amarah, angkara, nafsu, dan kejahatan tercetak jelas di kedua mata sang iblis yang membara.


__ADS_2