
Soemantri Soekrasana tak menyangka bahwa langit yang cembung ini begitu indah. Warna birunya begitu berani namun polos, tanpa basa-basi. Awan tidaklah bergerombol bagai kumpulan domba seperti dilihat dari bawah sana. Di atas sini benda-benda putih itu berserabut: tipis dan lepas bagai gula-gula kapas.
Dukun muda ini merasakan jantungnya perlahan berdetak normal kembali sebelum tadinya berpacu secepat jet pesawat mendobrak badannya ke angkasa sewaktu take off tadi.
Di atas sini semuanya menjadi kecil, tidak hanya bangunan dan benda-benda lain, namun juga jiwanya yang seperti titik mengambang di semesta tanpa batas.
Soemantri Soekrasana mencoba untuk tidak terlihat kegirangan, ketahuan bahwa ia belum pernah sekalipun menggunakan pesawat terbang. Ia menjaga mimik wajahnya dan menghindari menatap teman-temannya yang lain.
Sayang keindahan alam dan rasa itu harus diganggu dengan sebuah penampakan hawa panas yang melingkupi seseorang yang duduk beberapa bangku di depan Soemantri Soekrasana. Naluri gaibnya menangkap ada semacam asap hitam kaku yang mencuat keluar dari tubuh orang yang entah siapa itu. Energi salah satu penumpang pesawat itu bergolak, menggelegak, namun dengan frekuensi kecil. Seperti ada sengatan kecil listrik di sekeliling.
Soemantri Soekrasana berpaling ke samping. Anggalarang menutup matanya, mungkin tidur mungkin hanya menutup perhatian pada siapapun. Namun di samping Anggalarang lagi Wong Ayu yang duduk sedang menatapnya.
Wong Ayu mengangguk.
"Ya, ilmu hitam. Tapi itu bukan urusan kita selagi ia tak mengganggu jalan di depan kita atau ketahuan melakukan hal-hal buruk," bisik Wong Ayu. Anggalarang otomatis membuka kedua matanya yang memerah mendengar kata-kata Wong Ayu. Kemudian ia melihat baik Soemantri Soekrasana maupun Wong Ayu.
Wong Ayu dan Anggalarang tidak berkata apa-apa kepada Anggalarang, membuatnya penasaran.
Sarti di bangku sebelah, terpisah oleh lorong pesawat juga memperhatikan mereka namun tak merespon apa-apa.
Soemantri Soekrasana menarik nafas, menghembuskannya perlahan kemudian merebahkan punggungnya kembali ke kursi.
Dengung mesin pesawat berputar-putar di otaknya. Begitu juga hawa ilmu hitam dari salah satu penumpang itu masih terlihat meletup-letup kecil.
Soemantri Soekrasana membaca mantra pendek sembari memusatkan pikirannya. Tak lama hawa jahat itu menghilang sama sekali. Ia menutup indra keenamnya untuk sementara.
"Baik bila itu yang Yu mau," ujar Soemantri Soekrasana. "Aku juga mau tidur sebentar," lanjutnya kemudian. Ia lalu menutup kedua matanya. Anggalarang melihatnya dan Wong Ayu secara bergantian, mengangkat bahu dan kembali menutup kedua matanya.
Kelak ada saatnya, pikir Soemantri Soekrasana. Benar apa kata Wong Ayu. Selama orang tersebut tidak membuat masalah di dalam pesawat, hidupnya di jalur yang kelam adalah urusannya sendiri. Sama seperti urusan anggota Catur Angkara ini.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria Piningit terbangun dari tidurnya. Ia meraba telepon genggam di atas meja kecil di samping tempat tidurnya kemudian membuka kunci layarnya. Sinar lemah dari telepon pintar itu menyala.
Jam dua pagi!
Ia mengucek kedua matanya pelan untuk menyesuaikan pandangan serta melihat kedua anak kembar dan istrinya masih tertidur pulas.
Setiap tidur ia dan istrinya selalu memadamkan lampu. Ini sudah menjadi kebiasaan. Lampu yang terlalu terang membuat keduanya menjadi sulit terlelap.
Namun, malam ini begitu aneh, gelapnya terasa berlebihan. Satria Piningit tak bisa menjelaskan ini dengan logika. Apa pula maksud 'gelap berlebihan'? Gelap harusnya hanyalah gelap.
Di luar padahal lampu jalan tetap bersinar dengan normal. Harusnya ada secercah sinar yang masuk menembus lapisan tipis tirai kamar tidurnya. Atau menyelip melewati ventilasi. Tapi kali ini, sinar itu terasa jompo, lemah dan lambat, bahkan untuk merayap ke ruangan ini sekalipun. Kegelapan seperti kelambu tebal yang membuat cahaya tersaring sehingga tak masuk ke ruangan dengan gampangnya.
Satria Piningit bangun. Kasur berderit halus. Istri dan anak-anaknya tak terganggu. Ia meneruskan menyeret kakinya ke kamar mandi.
Nah, perasaannya menipunya. Sinar di kamar mandi ternyata terang.
Satria Piningit buang air kecil tanpa menutup pintu. Kedua matanya bahkan masih tertutup.
Ia mendengar jejak langkah di balik punggungnya sehingga membuatnya sedikit memalingkan muka. Dari sudut matanya ia melihat sang istri membuka kulkas. Sinar dari dalam kulkas menyembur keluar.
"Haus, sayang?" tanya Satria Piningit pendek dan pelan.
Tak ada respon dari sang istri. Satria Piningit merasa suaranya mungkin terlalu kecil. Maka ia mengulangi pertanyaannya.
“Haus ya, sayang?”
Kini sang istri berdiri menghadap ke arahnya. Kulkas belum tertutup.
__ADS_1
"Haus darah!" ucap sang istri kemudian.
Satria Piningit terkejut dan langsung membalikkan badannya. Celananya masih melorot dan tertahan di kedua lututnya. Alat kejantanannya menggantung bebas.
Satria Piningit memandang ke arah sang istri yang berdiri di samping kulkas yang terbuka. Gelas di tangannya sudah kosong. Istrinya masih menutup kedua matanya. Rambut panjang sebahunya jatuh tak rapi, ada beberapa helai menyilang di wajahnya.
"Aku mau pipis juga. Sayang temenin aku dulu, ya," ujar sang istri masih sambil menutup kedua mata.
Satria Piningit berada dalam keadaan yang membingungkan, namun ketika sadar ia segera mengangkat celananya.
Sang istri berjalan pelan menutup pintu kulkas dan meletakkan gelas di atasnya. Ia membuka mata, hanya separuh, mungkin karena mengantuk dan menahan laju tajam sinar dari kamar mandi.
Sang istri kemudian berjalan mendekat ke arah Satria Piningit yang masih memandangnya dengan sedikit terbelalak. Ia menggeser tubuh suaminya, "Awas, dulu sayang, aku mau pipis," katanya pelan.
Satria Piningit bergeser. Istrinya langsung masuk dan memelorotkan celana bagian dalamnya serta menghempaskan kedua bokongnya di dudukan toilet tanpa menutup pintu. "Temenin aku ya," ujarnya pelan kepada Satria Piningit.
"Tadi ... Sayang bilang apa?" tanya Satria Piningit pelan.
"Temenin aku," ulang sang istri.
"Bukan, maksudku ketika sayang sedang minum tadi? Sayang haus ya?" tanya Satria Piningit lagi.
Istrinya bangun berdiri, menyobek kertas toilet, membersihkan diri, membuang kertas itu ke tong sampah kecil di dalam kamar mandi, mencuci tangannya, kemudian meraih tangan sang suami. "Ayo tidur lagi, sayang. Aku masih ngantuk, nih."
Satria Piningit mengikuti sang istri sembari memandang punggungnya. Ia yakin tadi sang istri berkata sesuatu, "Haus darah," dengan cukup jelas.
Namun itu tak mungkin. Tak ada konteks masuk akal dari respon istrinya tersebut. Atau ia salah dengar? Tapi istrinya juga tak menjawab dengan pasti apa sebenarnya yang tadi ia katakan. Atau istrinya terlalu mengantuk saja, sehingga buang air kecil hanya merupakan tindakan otomatis sehingga serta merta kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak semua diutarakan dengan sadar, semacam mengigau saja.
Atau jangan-jangan, sebenarnya yang menjawab tadi bukanlah istrinya?
__ADS_1