
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sarti tak menyangka bahwa pentolan para preman dan pembunuh itu hadir di depan matanya bagai makanan yang disodorkan ke moncong seekor serigala. Padahal beberapa waktu yang lalu, ia berencana untuk menghabisi kelompok-kelompok preman terbesar di kota itu tepat di bagian kepala mereka bak memutus kepala seekor ular. Para preman memegang hampir semua lini ekonomi, sosial dan politik yang membuat kaum bawah sengsara dan kaum atas makin berkuasa. Bagaimana tidak, menurut pengalamannya sendiri, sejak masa lampau para preman ini digunakan oleh kelompok orang yang berkuasa untuk melancarkan segala kegiatan mereka mengambil dan menyedot habis keuntungan sampai ke remah-remahnya.
Sarti mendengar bahwa ada tiga orang kuat yang menguasai hampir separuh kota. Sisanya lagi diperebutkan oleh tiga sampai empat kelompok. Tiga orang yang menguasai hampir separuh kota ini adalah sang ketua preman dan orang keduanya yaitu Marsudi dan Affandi. Mereka juga dibantu oleh seorang lagi yang sosoknya dianggap misterius, bernama Kardiman Setil yang dijuluki Si UZI. Orang yang terakhir dikenal dengan nama julukan tersebut karena ia adalah seorang pembunuh bayaran yang kerap membunuh korbannya dengan menghujani tubuh orang malang itu dengan peluru dari senjata UZI-nya.
Ketiga orang ini adalah teman dekat, bahkan bisa dianggap bersaudara. Ketiganya juga notabene adalah orang-orang kuat yang memiliki kekuasaan besar di wilayah yang mereka kuasai. Ini berarti dengan ketiganya berkumpul dalam satu masa, mudah bagi Sarti untuk menyelesaikan misinya tanpa perlu berlama-lama. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali tembak, dua burung mati.
Sebenarnya Sarti pernah melihat Marsudi dan Affandi dari jauh. Itu sewaktu ia membobol sebuah gudang tempat penyimpanan narkoba yang dibekingi oleh beberapa anggota kepolisian dan preman-preman anak buah Marsudi. Namun, saat itu ia tidak sempat melakukan banyak hal. Keputusannya untuk membunuh para pemimpin itu akhirnya dibatalkan. Sarti kemudian melihat kedua orang itu lagi di tempat ini kemarin. Sedangkan satu orang lagi bersama mereka sudah dipastikan adalah Kardiman Setil.
Bila tak ada panggilan mendadak di dalam mimpinya yang berulang-ulang, ia tak akan meninggalkan kota itu dan pergi ke pinggir kota. Ada misi yang lebih penting yang harus diselesaikan si sebuah desa yang bernama Obong, begitu yang dijelaskan mimpinya sejak dua bulan lalu. Pesan ini ia dapatkan dengan berkali-kali. Penyamarannya di warung makan ini untuk menyelidiki segala sesuatu yang berhubungan dengan desa Obong malah ternyata membawa keuntungan buatnya, ketiga orang yang paling ia cari datang dengan sendirinya.
__ADS_1
Ia sendiri heran, ada urusan apa ketiga orang itu ke pinggiran kota tanpa pengawalan sama sekali. Bukankah mereka juga merupakan orang yang paling diinginkan oleh musuh-musuh mereka? Bukankah ini yang namanya makanan gratis? Ini malah menjadi hal yang membuat Sarti tertarik dan penasaran. Dua bulan yang lalu bila bertemu mereka secara langsung dalam keadaan seperti ini, sudah pasti ia pasti akan menghabisi mereka tanpa pikir-pikir lagi. Tapi sekarang, ia akan mengikuti mereka untuk mencari tahu dahulu apa yang sebenarnya mereka
rencanakan. Toh, ia tak meninggalkan daerah ini, dimana ia terikat misinya yang akan dan harus diselesaikan.
Sarti bertubuh ramping dan cenderung mungil. Sepasang dadanya meski padat, akan tetapi tidak begitu besar. Ini sebenarnya malah memberikannya keuntungan besar sehingga mudah baginya untuk bergerak dengan gesit. Kedua lengan dan sepasang kakinya sangat keras dan liat. Wajahnya yang terkesan nakal dan menggoda atau mendadak berubah menjadi polos serta murni akan dapat menipu siapapun. Selama sejarah, Sarti adalah salah satu perempuan paling berbahaya di seantero nusantara selama berkali-kali hidupnya ratusan tahun ini.
Seperti biasa, saat ini ia menyanggul rambutnya dengan erat. Kemudian ia mengenakan celana ketat selutut dan sepasang sendal bertali yang mengikat sampai betisnya. Pakaian silat sutra berwarna darah menutupi tubuhnya. Sebagian kain menjuntai menutupi paha, dimana ia menggantungkan celurit di pinggang kanannya. Ia juga menyelempangkan sebatang tombak pendek di punggungnya. Sebagai sentuhan akhir, ia mengenakan topeng panji tanpa emosi berwarna putih dan bermata kecil segaris untuk menutupi identitasnya.
Aji Saifi Angin bekerja dengan beragam tingkatan. Yang tidak orang benar-benar perhatikan adalah bahwa menggunakan kesaktian ini tidaklah mudah. Walau seorang pendekar atau jagoan yang menguasai ajian ini dapat bergerak cepat bagai angin, bukan berarti ia tak bisa lelah. Ia juga harus mampu mengontrol gerakan dan emosinya sehingga ajian ini tidak salah digunakan. Bayangkan saja ketika seseorang dengan keadaan biologis manusia yang tidak memungkinkan tubuhnya menerima hembusan angin yang keras, harus mampu mengatur cara berlari sedemikian rupa agar tubuhnya tak hancur atau tak imbang.
__ADS_1
Malam itu, Sarti menarik nafas, merapal mantra dan melompat dari tebing di belakang warung makan tempat ia bekerja. Tubuhnya melayang ringan, seringan kapas. Ia sebenarnya sedang manaiki angin. Konsentrasinya membuat tubuhnya berkelebat menunggangi udara bagai menunggangi seekor burung raksasa.
Inilah dasar ilmu saifi angin, tidak sekadar berlari dengan cepat atau terlihat seperti menghilang, seorang pendekar memanfaatkan angin sebagai kendaraannya. Ia berlari dengan ringan di atas ilalang, menggunakannya sebagai tumpuan. Ia juga melompat, meloncat di antara bebatuan dan pepohonan. Kadang ia memantulkan tubuhnya dengan menolakkannya ke tanah atau batang pohon besar. Semua ini membutuhkan kelihaian dan ketangkasan luar biasa. Saifi Angin hanya memberikan tubuh yang ringan dan kecepatan bergerak, sisanya si pengguna yang harus melatihnya dengan baik bila tidak mau menabrak benda-benda keras dan berbahaya atau bablas terlontar ke bawah jurang.
Setelah berlari di sela-sela udara selama beberapa waktu, Sarti memutuskan untuk istirahat di desa kedua. Ia tidak melihat mobil van itu berhenti di desa pertama sebelum sampai ke desa Obong, jadi ia putuskan untuk melanjutkan dan mendahului mobil itu ke desa kedua, dimana ia bisa istirahat lebih dahulu.
Anehnya, selang beberapa waktu, van yang ia tunggu itu tak kunjung datang. Pastilah mereka berhenti di tengah jalan atau ada semacam gangguan tertentu. Mau tak mau Santi kembali berkelebat kembali ke arah ia datang tadi untuk mencari tahu sampai dimana van itu berada. Ia akan sangat kesal dan kecolongan bila ternyata van yang di dalamnya ada ketiga orang yang paling dicarinya itu berhenti di suatu tempat dan melaksanakan sebuah kegiatan rahasia mereka yang tidak ia ketahui.
Sarti melanjutkannya percariannya dan berhenti di satu tempat. Ada yang aneh dengan pepohonan-pepohonan ramping ini. Selama hidup berkali-kali ratusan tahun, ia sudah mengalami semua jenis hal yang berhubungan dengan ilmu hitam dan ilmu gaib. Walau ia tidak dianugrahi dan tak pernah mempelajari ilmu gaib secara khusus, ia sendiri mati dan hidup kembali, bangkit dari kuburan secara gaib. Maka dari itu, nalurinya atas hal-hal mistis sudah terasah dengan baik.
__ADS_1
Sarti menyentuh gagang celurit dan tombak pendeknya di punggung sekaligus. Ada sesuatu di balik pepohonan itu. Ia bisa merasakannya, semacam energi khusus yang samar namun seakan berkedip-kedip.