Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Delapanpuluh Lima


__ADS_3

Wong Ayu masih melayang di udara.


Ia terlihat tersiksa tetapi berusaha melakukan perlawanan yang luar biasa. Kekuatan rengkuhan Bandi seperti hendak meremukkan tubuh sekaligus tulang-belulang Wong Ayu yang berada di dalam rantai gaibnya.


Wong Ayu berteriak tertahan. Mendadak, kedua bola matanya membalik, menjadi putih seluruhnya. Begitu juga dengan tubuhnya yang seperti terpaksa ditekuk ke belakang sedemikian rupa.


Ketika Soemantri Soekrasana sedang mengeluarkan kemampuannya, yaitu mengangkat keris Mpu Gandring tinggi-tinggi di atas kepalanya, tengkorak hitam meloncat keluar dari tubuh Wong Ayu melesat menyerangnya.


Soemantri Soekrasana sangat awas meski cukup kaget. Ia bergeser dan bersiap menusukkan senjata pusaka itu tepat ke arah si mahluk penyerang. Namun, sebelum sampai ke tujuan, sang tengkorak merah memecah, membelah menjadi serabut asap hitam ke segala penjuru menghindari bilah keris bersinar binar kebiruan yang digenggam Soemantri Soekrasana tersebut bagai arus air membelah di bebatuan.


Tentu saja tusukan keris Mpu Gandring lolos dari sasaran. Asap hitam yang pekat dan memecah tersebut bagai mahluk hidup yang memiliki kemauan dan kemampuan.


Soemantri Soekrasana tercekik karena surai-surai asap hitam kelam yang berhasil menghindari bilah keris berlekuk itu kemudian memadat menjadi ribuan helai tali-temali tipis sedikit lebih tebal dibanding rambut. Mereka mengikat tangan, leher, pinggang, dan kaki sang dukun muda kemudian mengangkatnya ke angkasa. Dengan eratnya ikatan sulur-sulur itu, Soemantri Soekrasana terkunci, tertekuk ke belakang serupa dengan Wong Ayu yang juga melayang tak jauh darinya.


Suara raungan terdengar disusul munculnya Jin Obong yang menggunakan tubuh Satria Piningit meluncur turun dari angkasa. Tak lama ada pula kerjapan cahaya melecut dan Yakobus Yakob muncul dari udara ketiadaan. Keduanya melihat Wong Ayu dan Soemantri Soekrasana terjebak dalam sebuah situasi yang sulit.


Jin Obong menggeram kemudian berteriak keras menunjukkan taringnya. Yakobus Yakob siap memuaikan partikel atom tubuhnya lagi untuk terbang mencoba membantu melepaskan kedua rekan mereka tersebut, sebelum tanah bergetar dan dunia gaib dimana mereka berada tersebut bergoyang.

__ADS_1


Sosok perempuan iblis muncul menyobek dinding dunia dari alam gaib. Kalung berhiaskan potongan tulang-tulang tengkorak manusia berkerincingan bagai bel baja. Kain busananya yang lebar nan panjang dan bergelombang rumit menyeret tanah. Sepasang dadanya yang panjang jatuh bergoyang-goyang senada dengan tawanya yang mengerikan.


Di belakang sang iblis betina, Nyi Blorong dengan anggun berdiri tinggi menggunakan tubuh ularnya yang bersisik hijau keemasan, ditutupi dengan busana hijau berkelim-kelim lebar dan panjang. Wajahnya yang ayu namun di saat yang sama mengerikan serta berwarna kematian itu menyunggingkan senyum menakutkan.


"Ah, semuanya ada di tempat ini. Nampaknya aku akan langsung ke intinya saja. Terlalu lama bermain-main dengan kalian membuatku lelah," ujar sang putri siluman ular dari kerajaan Laut Kidul tersebut. Getaran suara dan hawa kalimatnya membuat siapa saja merinding memohon ampun.


Tidak begitu bagi Yakobus Yakob dan Jin Obong bersama Satria Piningit. Melihat kemunculan dua entitas gaib, siluman dan jin, dengan kekuatan dan peringkat tinggi itu justru membuat mereka semakin bersemangat menyerang. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Jin Obong mencelat dan Yakobus Yakob memecah.


Keduanya tak ingin menghabiskan waktu untuk berlama-lama berbicara dengan sosok-sosok agung penuh kejahatan tersebut. Mereka tak bisa membiarkan Wong Ayu dan Soemantri Soekrasana tercekik di angkasa dalam keadaan yang tidak mereka bisa bayangkan, bahkan mungkin keduanya sedang sekarat.


Namun, sungguh. Kedua sosok gaib ini tidak mengenali dengan baik siapa yang hadir di depan mereka dan sedang mereka tantang tersebut.


Praktis kesemuanya kehilangan kekuatan mereka dengan cara yang aneh bin ajaib.


"Kalian bukan lawanku, sama sekali tak pantas berada di depanku!" bentak Nyi Blorong.


Sepasang matanya menyala bagai hendak menyalak. Ada rasa kepuasaan sekaligus pertunjukan kekuasaan disana. Nyi Blorong hendak memanen hasil dari semua jerih payahnya, sedangkan sosok-sosok yang menghalangi segala urusannya ini adalah hama yang perlu dibasmi.

__ADS_1


"Mungkin kami bukan lawanmu, tapi aku membawa mereka yang bisa mengalahkanmu, Blorong!" Sarti muncul menggenggam batang tombak Baru Klinthing di tangan kanannya. Di belakangnya, kuntilanak merah menyalakan matanya dengan api dan darah. Di sudut berbeda, masih di belakang Sarti, sosok agung seorang laki-laki bertelanjang dada, bercawat dan mengenakan mahkota bulu burung berdiri tak menapak tanah.


Yakobus Yakob dan Nyi Blorong sama-sama terkesiap. Bedanya, Yakobus Yakob merasa terkejut sekaligus senang meskipun dalam keadaan yang memprihatinkan, sedangkan Nyi Blorong mendengus marah. Keduanya meneriakkan sebuah nama hampir bersamaan, "Amin Kelaru!"


Tidak hanya itu, ada sosok lain lagi yang terlihat membayang tak jauh dari tempat itu. Sosok anggunnya berada di balik lapisan tipis dimensi yang terlihat seperti tubuhnya tipis dan tembus pandang. Busana merahnya megah, wajahnya yang begitu cantik menunjukkan kedewasaan sekaligus keremajaan di saat yang sama. Sepasang matanya yang indah memicing memerhatikan semua yang terjadi di tempat ini.


“Nyi Blorong. Aku sudah menyangka bahwa kau akan sampai di tempat ini juga. Rupa-rupanya hawa jahat yang sudah kau tebarkan melalui laku kandang bubrah ayahku dan warga Dusun Pon mendapatkan hasilnya juga,” ujar sang sosok.


Suaranya mengalir melalui sela-sela udara, lembut sekaligus tegas.


Nyi Blorong memandang takjub pada kemunculan sang sosok perempuan agung itu. Ia tertawa, tidak keras, tetapi tetap memberikan suasana mengerikan sekaligus mengancam.


“Ah, Nala Turasih. Seorang gadis yang kini sudah menjadi sosok besar, sakti dan berkuasa. Seharusnya engkau berterima kasih kepadaku, Nala. Oleh karena aku lah kini kau menyandang gelar itu, ratu dunia gaib, yang menguasai jagad lelembut sekaligus dunia yang penuh mahluk-mahluk agung dan sakti dari masa purba,” jawab Nyi Blorong.


Nala Turasih melangkah maju. Kini tubuhnya telah keluar dari semacam gerbang dari dunia lain menuju ke dunia manusia. Lekukan tubuhnya yang indah telah terlihat nyata sekarang. “Kau harus mempertanggungjawabkan tindakanmu, Nyi Blorong. Dengan liciknya kau menggunakan Kuranji untuk menyobek dunia yang berada dalam kekuasaanku!”


Sosok Wardhani muncul dari balik lapisan kegelapan. Tanpa busana, kemolekan tubuhnya mendukung bersinarnya sepasang pucuk dada yang mengilap merah. Sosok itu tersenyum ketika di sisinya, Gendhari, sang prajurit siluman Nyi Blorong ikut muncul dengan melata di tanah.

__ADS_1


Pertempuran besar yang sudah terjadi dan masih akan membesar bagai kobaran api ini belum dapat ditunjukkan kemenangannya, apalagi keadaan menjadi semakin rumit. Amin Kelaru yang datang bersama Sarti sudah siap untuk melawan Nyi Blorong secara langsung. Nala Turasih, tokoh baru dalam dunia Angkara Murka ini, rupa-rupanya memiliki sejarah panjang dalam hubungannya dengan kekuatan dan kekuasaan Nyi Blorong.


__ADS_2