Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Empatpuluh Tiga


__ADS_3

Soelastri ternyata bisa jatuh cinta. Pria beruntung itu adalah pemuda baik-baik. Seorang warga kompleks di belakang Kampung Pendekar.


Soelastri melihatnya hampir setiap hari, pulang kerja dan mampir di warung kopi sejenak di dekat gapura besar kampung.


Selidik demi selidik, pemuda itu bekerja di sebuah kantor pemerintahan di kota, seorang pegawai negeri. Masih bujang, perjaka ting-ting tetapi telah memiliki rumah sendiri.


Soelastri selalu bermimpi bersuamikan laki-laki 'normal' yang bukan merupakan warga Kampung Pendekar yang brengsek dan bajingan. Ia mau merasakan cinta seorang laki-laki lembut, menjadi kekasih pria penuh perhatian dengan kehidupan berat ala warga biasa, bukannya penjahat.


Sudah lebih dari sebulan Soelastri memerhatikan laki-laki berbaju dinas tersebut. Setiap sisi dan sudutnya sangat sempurna. Ingin rasanya tubuhnya direngkuh lengan bersih orang kantoran tersebut.


Hal ini membawa dirinya ke suatu sore yang dingin, Soelastri datang ke warung kopi pilihan langganan sang pujaan. Ia tak seperti biasanya kali itu. Jins belel dan jaket hoodie disumpalkan di belakang lemari pakaiannya.


Ini adalah satu-satunya waktu ketika ia berani mencoba memakai dress yang sangat perempuan. Hanya sepotong busana yang ia miliki, yaitu hadiah dari sang bibi dua tahun lalu yang menginginkan Soelastri menjadi sedikit feminin.


Pakaian itu sudah agak sempit dan kekecilan bagi Soelastri, tetapi masih pantas dipakai. Lucunya, pakaiannya itu malah membuat aura kecantikan dan *** appeal-nya muncul meledak-ledak.


Terusan berwarna putih bersih tersebut memperlihatkan kemulusan betis dan pahanya yang mengintip malu-malu. Belahan di bagian dadanya sebenarnya tak begitu lebar, akan tetapi sepasang dadanya yang membulat utuh, sempurna dan menantang itu memaksa rekahan di dada terusannya menyeruak lebar.


Sang pemuda terkesiap dengan keberanian sang gadis yang datang kepadanya langsung tanpa basa-basi membawa serta kematangan raga dan kemolekan tubuh tiada terkira itu.


Wajahnya yang luar biasa ayu, putih pualam dengan taburan bintik hitam, tersenyum penuh hasrat. "Aku Soelastri. Nama kamu siapa?" ujarnya menawarkan tangan untuk dijabat.


Sang pemuda gugup luar biasa, namun merengkuh telapak tangan halus bidadari itu jua. "Jerry," jawabnya pendek dan kikuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setya melangkah pelan ke arah tubuh yang tersinari lampu mobil sedan itu. Ia sengaja mendramatisir setiap gerakannya di depan bapak-bapak di dalam mobil.


Semakin dekat Setya merasakan detak jantungnya berdetak semakin cepat pula. Entah mengapa ia merasa bersemangat, seperti sedang mengikuti sebuah permainan tantangan, pikirnya.

__ADS_1


Senyuman tipis di wajah Setya hampir saja melebar sebelum berubah menjadi wajah kengerian.


Sosok yang ia dekati itu ada dalam sebuah posisi yang aneh dan tak biasa. Setya awalnya berpikir, sosok serupa perempuan itu sedang tiarap atau merangkak. Nyatanya, kedua tangan dan kakinya yang menyentuh tanah tersebut terletak di belakang punggungnya, sedangkan kepalanya terpuntir ke bawah. Sosok itu kayang namun dengan wajah terbalik patah bagai tengkurap.


Pakaian terusan berwarna putih bersih itu dinodai percikan merah.


Darah?


Wajah pucat berbintik-bintik hitam sosok itu terlihat menyunggingkan senyum dengan mata kelabu memandang tajam ke arah Setya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam itu Soelastri bermimpi kotor, jorok. Tubuhnya basah oleh liur Jerry. Pemuda itu berenang di atas tubuhnya, bergerak-gerak bagai seekor belut merambati perut dan dadanya.


Bagai seekor kumbang, Jerry juga menghisap sari-sari tubuhnya melalui dua pucuk lancip menegang di gundukan dada Soelastri, membuatnya bergelinjang liat.


Soelastri terbaring pasrah bagai sepetak ladang yang digarap, dicangkuli, ditancapi serta disirami.


Ia terbangun di pagi hari dengan peluh membasahi badannya dan rasa malu memerahkan pipi putih pualamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setya masih memaksa dirinya untuk terbenam dan tenggelam dalam penyangkalan. Sosok itu bergerak maju, berjalan, merangkak, atau apalah itu namanya, mendekat ke arahnya bagai seekor serangga raksasa.


Itu pasti semacam tipuan, pikir Setya. Pasti ada semacam cara, seperti teknik make up atau kosmetik yang dipakai di film-film horor untuk membuat sebuah pertunjukkan menjadi begitu meyakinkan.


Tapi mengapa seluruh tubuhnya sendiri terasa kaku, lidahnya kelu, serta sepasang matanya membatu?


Tangannya yang memegang besi kunci stir mobil itu lemas bagai alat kejantanannya yang lunglai setelah bercinta. Tak lama besi yang digadang-gadang sebagai senjatanya itu jatuh berdenting di atas aspal, disusul tubuh pria yang belum lama kawin itu melorot turun.

__ADS_1


Sosok merangkak kayang dengan kepala terpuntir patah itu sudah berada di atas tubuh Setya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soelastri mencuci pakaian terusan putihnya dan cepat-cepat mengeringkannya di bawah sinar mentari. Ia hanya memiliki satu baju perempuan itu. Ia tak mau bertemu Jerry dengan jins belel dan hoodie lusuh. Biar cuma satu-satunya, terbukti Jerry memandang tubuhnya dari ujung atas ke ujung bawah ketika ia dibalut baju tersebut. Baju terusan putih itu membuka keran pesonanya dengan bebas dan deras.


Tak malu mengakui, Soelastri menikmati pandangan Jerry yang menelanjanginya, melahap dan melalapnya, memamah dan mengunyahnya, menjadikannya pusat hasrat.


Oleh sebab itu Soelastri bermimpi mesum semalam.


Tapi ia tak mau sekadar bermimpi. Ia tak sudi dijadikan bulan-bulanan alam halusinasi dan imajinasi. Ia ingin tangan halus pegawai negara itu menyusuri di lekukan tubuhnya dengan cara yang pasti. Ia mau mereka berdua tenggelam dalam keringat asmara yang sungguhan.


Besok lusa, ya besok lusa adalah saat dimana ia akan membuat mimpinya tercerabut ke alam nyata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak Norman membuka pintu mobil dan merangkak keluar. Otot-otot yang tercetak di lengan, bahu dada dan perutnya tiada berguna. Segala kekuatan fisik maupun jiwanya luntur. Ia menjadi seonggok daging tak berguna di semesta.


Sang kuntilanak telah membuat Setya sang skeptik menggelojot tak sadarkan diri di depan mobil sedan di sana. Tak satupun baik Pak Jerry maupun Pak Norman benar-benar paham apa yang terjadi dengan rekan satu kompleks perumahan mereka yang paling muda itu.


Namun, keduanya sadar, melihat dengan jelas kuntilanak yang merangkak terbalik dengan kepala terpuntir patah itu berusaha menyerap segala keberanian mereka, bahkan jiwa kemanusiaan mereka pun tersedot habis.


Pak Norman mengejang dan tak sadarkan diri ketika sang sosok kuntilanak berkulit pucat seputih bajunya itu merangkak di atas tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soelastri benar-benar menjadikan mimpinya menjadi sebuah kenyataan. Tak sulit bagi seorang laki-laki lurus semacam Jerry menerima durian runtuh. Soelastri menggandeng tangan sang pemuda pada pertemuan keempat mereka. Ia menggiringnya ke sebuah gubuk di ujung kampung, tepian sungai dimana ia biasa mandi dan berganti pakaian seorang diri di sana.


Soelastri mendorong dan merebahkan Jerry di lantai papan. Tubuh tanpa cela Soelastri yang bagai pahatan dewa bagi Jerry, kini sudah tak berbusana sama sekali lagi di depan hidungnya. Lekukan pinggul, ketiak dan dadanya seindah kelokan sungai dilihat dari angkasa.

__ADS_1


Tak perlu menunggu waktu yang lama bagi Jerry untuk mencecap, menyesap dan melahap tubuh Soelastri. Jerry mereguk segala kenikmatan itu sampai kering kerontang tak bersisa.


Sepasang mata muda Yudi, anak SMP kelas satu itu mengintip dari sela-sela dinding papan lapuk yang berlubang karena rapuhnya. Keningnya berkeringat dan kelelakiannya tumbuh mengeras.


__ADS_2