Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Obong - Tarini


__ADS_3

Satria Piningit berdiri goyah dan doyong dengan tubuh belepotan lumpur. Ia berjalan gontai melalui kebun tebu ketika sesosok tubuh tinggi menyeruak dari balik batang-batang kurus itu. Eksistensi mahluk itu seperti tak bisa dipercaya walau terlihat begitu jelas di kedua mata Satria Piningit. Sepasang tungkai tangannya yang panjang-panjang seakan menggapai-gapai ke arahnya. Seluruh tubuh mahluk-mahluk tersebut berbulu dengan warna hitam legam, segelap dosa. Satria Piningit mendongak tetapi tak dapat melihat jelas rupa sosok itu selain semacam taring yang mencuat keluar dari bagian yang terlihat seperti mulut. Meski kembali terkejut kesekian kalinya hari ini, Satria Piningit tak dapat berteriak karena mulutnya kelu. Namun ia masih bisa berlari sekencang-kencangnya pulang ke rumah, tak memedulikan daun-daun tebu yang menampari wajahnya.



Satria Piningit langsung saja membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Mengguyur seluruh badannya sembari terus-terusan mencoba memaknai kejadian ini. Pertanyaan dan rasa sangsi bahkan penolakan terjadi silih berganti selagi air menutupi seluruh raganya, membawa pergi kotoran, perasaan takut, keraguan dan kesedihan.


Satria Piningit mengumpulkan tekad untuk mencari dan menemui Priyam malam nanti. Setiap perilaku Priyam, atau Priyambada, atau siapapun dia sebenarnya, kini menjadi masuk akal. Keanehannya, ketidaktahuan orang-orang desa terhadap sosoknya, serta perilaku lain, seakan sudah menjelaskan dari awal bahwa anak laki-laki itu bukan manusia biasa.


Dengan keberanian yang terkumpul, malamnya Satria Piningit bernar-benar mencari-cari Priyam. Ia begitu sedih namun juga bingung setengah mati. Semua perasaan bercampur aduk tidak karuan. Inginnya tak percaya pada kenyataan bahwa temannya, Priyam, adalah hantu gentayangan yang umurnya sudah seratusan tahun. Tapi bila memang benar, inilah jawabannya mengapa ia mendapati kerap kesulitan memahami bahasa Jawanya yang aneh. Priyam menggunakan bahasa Jawa lama, dengan kosakata yang sudah jarang atau bahkan tidak digunakan lagi sekarang.


Satria Piningti juga ingat mengapa Wong Ayu kebingungan melihat dirinya ketika pertama kali gadis itu juga melihat Priyam. Pada dasarnya Wong Ayu melihat hantu, sedangkan Satria Piningit tak sadar bahwa ia juga sedang melihat hantu.


Di lain pihak, Priyam sendiri awalnya bingung mengapa Satria Piningit dapat melihatnya, tapi tidak dengan mahluk-mahluk gaib lain. Baik Priyam maupun Wong Ayu mengatakan bahwa Satria Piningit terlalu polos karena hanya memikirkan hal yang baik pada diri orang lain dan desa ini.


Setelah mengetahui sifat buruk warga desa yang dari ratusan tahun yang lalu belum berubah dan menyebabkan Priyam tewas dan Wong Ayu pergi meninggalkan desa ini, menjadi titik yang menyebabkan ia bisa melihat mahluk-mahluk gaib lain. Buktinya ia dapat melihat nenek-nenek dengan bagian belakang tubuhnya yang hancur, atau gendruwo bertubuh di kebun tebu yang sudah diceritakan oleh Priyam sebelumnya.


Sesampainya di tempat biasa Priyam berjongkok, Satria Piningit tak menemukan Priyam. Ia memutuskan untuk berjalan terus ke arah barat desa, ke arah dimana mereka pernah berjalan-jalan di waktu malam. Bulu kuduknya meremang dan udara mendadak menjadi dingin. Satria Piningit menggigil.

__ADS_1


"Asu!" sumpah Satria Piningit di dalam hati. Matanya terbuka lebar. Keringat dingin sebesar biji jagung merembes keluar dari pori-pori di punggung dan wajahnya. Pohon pisang yang sering ia lihat itu tidak lagi biasa. Ada sesosok perempuan muda yang melayang di atasnya. Ia mengenakan pakaian sejenis kebaya berwarna merah darah. Rambutnya disanggul acak-acakan. Wajahnya begitu pucat, matanya merah, dan ia sedang menangis. Satria Piningit bahkan dapat mendengar sedu sedannya terbawa angin malam. Ia jauh lebih mengerikan dari yang Wong Ayu gambarkan. Dan ... Ia kemudian memandang ke bawah, ke arah Satria Piningit, melotot!



Satria Piningit tidak berlari. Namun ia berjalan secepat mungkin mendekati kecepatan berlari. "Priyam ... Dimana kau?" batinnya.


Sosok Priyam terlihat. Membelakangi Satria Piningit, menghadap kuburan.


Satria Piningit segera mendekat. Dengan segala yang terjadi akhir-akhir ini, tidak hanya hari ini, ia begitu lega karena berhasil melihat sahabatnya itu.


"Priyam. Aku bisa lihat perempuan berbaju merah itu sekarang. Aku juga bisa melihat gendruwo di kebun tebu yang kau katakan dulu. Aku perlahan sadar dan dapat melihat wajah desa Obong dan warganya sebenarnya sekarang," seru Satria Piningit dengan sedikit bergetar mengingat pemandangan mengerikan yang telah ia lihat, termasuk sosok perempuan mengerikan melayang di atas pohon pisang tadi.


Satria Piningit tak tahu lagi apa yang ia rasakan saat ini. Itulah sebabnya Wong Ayu tiba-tiba pergi dan menghindari pertanyaan Satria Piningit mengenai kepala terbang yang pernah ia lihat. Wong Ayu juga pernah bercerita bahwa ia mengantar bapaknya ke desa tetangga untuk suatu keperluan. Ternyata semua itu untuk urusan ini. Tak heran warga desa membenci Wong Ayu dengan cara memfitnah dan mengusirnya. Warga jelas sekali mendapatkan bagian dan keuntungan besar dengan membela pak lurah dalam praktik perdukunannya itu.


"Kau sempat bertemu adikku, Satria?" tiba-tiba Priyam bertanya.


Satria Piningit bingung dengan pertanyaan ini. "Adikmu?"

__ADS_1


"Ya, kau bertemu dia di rumahku sore ini," katanya.


Otak Satria Piningit mencari-cari jawaban atas pertanyaannya ini sampai seluruh otot-otot di tubuhnya menegang. Nenek itu!


"Nenek itu adikmu?" tanyanya tak percaya.


"Ia juga sama tidak beruntungnya denganku. Hanya saja ia perlu menunda kematian menyedihkan itu sampai tua. Padahal ia hanya harus menunggu sebentar saja sebelum kematian alami mendatanginya. Tapi orang desa jahanam ini tak bisa diam melihat orang baik hidup terlalu lama," jawab sosok anak laki-laki itu dengan penuh amarah.


"Priyam ... bagaimana adikmu ...?" Satria Piningit tak bisa menyelesaikan kalimat pertanyaan tersebut.


"Tarini adalah adikku yang sangat dekat denganku. Keluargaku, trah Ngalimun, hampir pasti tidak mau ikut campur urusan desa ini lagi setelah kematianku. Tapi Tarini terus-menerus menghubungiku, megatakan bahwa ia selalu rindu denganku. Ia terus beritual diam-diam dan selalu mencari tahu kehidupan di dunia berbeda, dunia gaib, yaitu duniaku. Sampai akhirnya tetap saja warga desa mengetahuinya walau setelah bertahun-tahun kemudian. Mereka melemparkannya ke sungai Pratama. Ia mati ketika punggung dan kepalanya menghajar bebatuan sungai yang cadas."


Mendengar ini, Satria Piningit ketakutan luar biasa namun juga sedih, terutama ketika Priyam akhirnya berbalik dan menghadap ke arahnya. Bau terbakar kulitnya semakin jelas sekarang di rongga hidung Satria Piningit. Kulit tubuh Priyam hampir seluruhnya terbakar, mengelupas di sana sini menunjukan daging putih atau kemerahan. Wajahnya hancur. Tempat yang harusnya ada hidung hanya merupakan sebuah rongga. Salah satu bola matanya seakan meloncat keluar dari lubangnya.



Satria Piningit menangis.

__ADS_1


"Kau takut denganku, Satria? Kau takut dengan apa yang kau lihat sekarang ini?"


Satria Piningit menangis semakin kencang. Perasaannya campur aduk. Ia menghambur ke arah hantu Priyam dan memeluknya erat. Kulit sosok hantu Priyam yang penuh luka bakar menempel di kulit Satria Piningit. Bau hangus yang kental merasuk ke dalam rongga hidungnya. "Kasihan kau Priyam," ujarnya lirih.


__ADS_2