Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Kesepuluh Kusuma Dewi


__ADS_3

Queenie, sang penyelia baru di divisi kantor dimana Anggalarang bekerja sedang tersenyum lebar. Tubuhnya dibalut selimut tebal hotel. Sepasang mata bersudut tajam miliknya menatap binal Anggalarang yang tidur tertelungkup di sampingnya, menelusuri otot yang menempel apik sepanjang tulang punggung lelaki yang kokoh itu. Semalam laki-laki yang umurnya jauh lebih muda itu habis-habisan menyantapnya, hanya menyisakan desah lelah dan rintihan kepuasan.


Memang usia wanita tiga puluh enam tahun ini tak mampu tertutupi oleh tubuh ramping, wajah bersih dan rambut indah berkat perawatan ajeg yang rutin ia lakukan. Namun, bukan berarti umurnya yang sudah meluncur laju lancar di kepala tiga itu membuatnya terlihat tua dan tidak menarik lagi. Sebaliknya. Queenie adalah seorang wanita tigapuluh enam tahun yang memesona.


Bahasa tubuh, caranya berbicara dan berjalan, pilihan busana dan make up, serta tindak tanduknya melukiskan kecantikan dan pesona yang berkesan 'mahal,' elegan dan tinggi. Kelajangannya adalah kebanggaannya, harta yang bisa dipamerkan kesana sini, mengintimidasi para pria bahkan sekaligus wanita.


Para perempuan hanya bisa berbisik-bisik penuh semburan iri dengki, akan tetapi toh tak mampu menumbangkan tonggak tegak harga diri, martabat dan pamor sang Queenie yang masih terlihat cantik dan menawan di usianya yang sudah tidak muda lagi tersebut. Belum lagi kemandirian dan kesuksesannya yang diinginkan oleh banyak orang. Kalau sudah seperti ini, sudah tentu kekuasaan adalah kekuatan utama sang ratu.


Sialnya, merobohkan pertahanan seorang Anggalarang hanyalah sebuah rencana yang payah. Memang, rasa yang ia miliki pada Anggalarang bagai gayung bersambut. Tak sulit membuat Anggalarang, dan pria manapun, memelototi sepasang bongkahan bulat dadanya yang terpenjara selembar kutang. Masalahnya, Anggalarang tak bisa dikalahkan. Queenie tak mampu memilikinya seratus persen serta seutuhnya dan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ia yang terperangkap pada pesona sang lelaki, bahkan ia tak bisa melakukan apa-apa ketika selang seminggu saja keduanya berbagi berahi, Anggalarang sudah terang-terangan menggagahi Jenni Tan si gadis Metropolitan yang selalu terlihat menyelipkan sebatang rokok kurus khusus wanita itu. Dan Queenie menerima wajar akan hal itu.


Padahal, sang sahabat, Erika Dermawan,  seorang jurnalis dan reporter yang berumur jauh lebih muda darinya, yaitudua puluh lima tahun, yang semuda itu sudah berkarir dalam dunia pers, berbibir mungil, berambut pendek ringkas, bertubuh lebih tinggi dan cenderung berisi, bermata bulat dan jernih dengan tekstur wajah tegas, selalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan frustasi ketika mendengar detil cerita hubungan semacam ini.


"Ada apa denganmu sih, Mbak? Bukannya Mbak yang selalu mengatakan bahwa kita para perempuan bukanlah objek masyarakat yang patriarkal ini? Perempuan dan laki-laki memang tidak benar-benar bisa seimbang dalam statusnya, tapi kita punya hak dan kewajiban masing-masing dan tak boleh berusaha saling menindas. Begitu kan kata Mbak Jenar Keswari?" ujar Erika ketika ia diceritakan tentang hubungan sahabatnya dengan laki-laki, bawahan di kantornya, yang bernama Anggalarang tersebut.

__ADS_1


Memang, sudah kebiasaannya bila sudah kesal dengan perilaku mbeling sang sahabat yang sudah merupakan wanita dewasa itu, Erika Dermawan memang selalu memanggil nama sang Queenie dengan nama aslinya secara lengkap. Erika Dermawan seakan menegaskan bahwa nama yang tersemat pada dirinya itu mengandung makna luhur, Jenar yang berarti 'berkulit kuning' dan *Keswari *yang berarti 'pujangga yang mulia.'


Sang Queenie, Jenar Keswari, mengibaskan rambut lebat terawatnya sembari tertawa renyah, akan tetapi mengisyaratkan ketakseriusan mendengarkan kekesalan sang sahabat. "Bukankah dengan memiliki hubungan semacam ini malah semakin menegaskan kebebasan dan kekuatan serta kuasa seorang perempuan atas dirinya sendiri?" balasnya balik bertanya.


Erika Dermawan hendak protes, tapi membatalkannya. Ia tersenyum lebar dengan pasrah, dan menggelengkan kepalanya lagi. Sepasang mata bulatnya menyipit dan tenggelam dalam kedua tulang pipinya yang berisi. Padahal ia tahu benar bahwasanya semuanya ini hanya pembenaran sang sahabat belaka karena ia sudah terlanjur berkubang dalam lumpur syahwat tersebut.


Queenie, Jenar Keswari yang ikut tertawa karena mengetahui Erika Dermawan berhenti mencoba mendebat ucapannya itu mendadak terdiam. Sepasang mata bersudut tajamnya menengok ke satu sudut. Erika merespon perubahan ini dengan mencari objek yang ditatap sahabatnya itu.


Disanalah gadis itu. Kusuma Dewi berjalan menembus kerumunan orang yang seketika membelah ketika ia melewati mereka. Rambut kemerahannya bermain-main warna dan pesona dengan kulit putih pucatnya. Sebentuk daya pikat memancar dari kemolekan tubuhnya, melenggak-lenggok pelan namun berbahaya bagai adegan seekor ular betina melata yang diputar dalam slow motion. Percikan sinar matahari pagi yang belum terlalu panas memantulkannya kembali kepada alam, memedihkan mata para pelancong kantin kantor di jam sarapan ini.


Erika Dermawan yang sudah mendapatkan sasaran yang diperhatikan sahabatnya tersenyum tipis. "Siapa dia, Mbak?" tanyanya tak terlalu acuh.


"Dia pegawai kantor ini juga," jawab Jenar Keswari pendek.

__ADS_1


Senyum Erika Dermawan masih tersamar tipis di wajahnya. "Dia juga punya hubungan dengan Anggalarang?" tanya Erika dengan nada mengejek namun juga dengan gaya candaan. Ia tersenyum puas.


Diluar ekspektasi Erika Dermawan, Jenar Keswari tak menjawabnya. Malahan, kening wanita itu berkerut dan memandang lebih intens pada sosok yang menjadi sorotan hampir semua orang di sekelilingnya, baik laki-laki maupun perempuan.


Erika Dermawan menghela nafas maklum. "Cemburu, Mbak? Bukankah Mbak sendiri yang cerita kalau si Anggalarang itu memang selalu dilingkupi gadis-gadis cantik? Mbak sendiri tidak bermasalah dengan hal itu, bukan? Melihat penampilannya, ya aku maklum bila laki-laki bernama Anggalarang itu bisa kesengsem dengannya," ujar Erika Dermawan panjang lebar. Ia bermaksud sekalian meledek temannya tersebut.


Tak ada reaksi berlebihan dari seorang Queenie. Jenar Keswari menjawab Erika Dermawan kemudian, tapi selagi sepasang matanya tetap tak lepas memandang ke arah Kusuma Dewi. "Semua orang tahu ia tergila-gila dengan Anggalarang. Tapi, ia tak pernah mendapatkan perhatian sama sekali dari laki-laki itu. Makanya aku heran, sejak kapan dia terlihat cantik dan ... seksi," ujar Queenie. Kata terakhir diucapkan dengan lirih, hampir tak terdengar.


"Ah, seorang perempuan yang tak menarik mendadak tampil ke depan dengan segala perubahan fisiknya. Sepertinya aku akrab dengan permasalahan antar wanita semacam ini, Mbak," ujar Erika Dermawan sarkastis.


Jenar Keswari mengangkat kedua alisnya pbelan. "Bila yang kau maksud aku iri dan cemburu dengan perubahannya sebagai perempuan, kau salah besar, Erika. Serius, pasti ada sesuatu dengan dirinya," jawabnya tanpa emosi yang erlebihan.


"Lalu, Mbak mau bilang dia pakai susuk?" jawab Erika Dermawan cenderung asal.

__ADS_1


Secara mengejutkan, Queenie membeliakkan kedua matanya dan menatap ke arah Erika Dermawan. "Nah, nah ... Jangan-jangan benar yang kau katakan, Erika."


Erika Dermawan menghela nafas, menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi sekali lagi.


__ADS_2