Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Ketujuhbelas Kusuma Dewi


__ADS_3

Tubuh langsing Livy Tjandrawati melangkah gontai kembali ke kamarnya. Ia melemparkan dirinya bergitu saja ke atas ranjang, tak repot-repot membuka pakaian kantor yang membalut tubuhnya ketat. Ada setitik air mata yang hendak tumpah dari salah satu matanya.


Pemandangan luar biasa itu membayang di pelupuk matanya. Anggalarang dan Kusuma Dewi saling bercakap akrab di kantin kantornya.


Perasaan macam apa ini?


Ia tahu Anggalarang bercinta dengan penyelia baru di kantor mereka, Jenar Keswari. Ia bahkan bersaing dengan Jenni Tan untuk mendapatkan waktu paling banyak bersetubuh dengan Anggalarang. Livy Tjandrawati tahu Dhenok yang berdada super besar itu ditiduri Anggalarang selang beberapa jam saja setelah sang laki-laki habis bercinta dengannya. Lainnya, entah perempuan mana saja, baik sesama pegawai di kantor ini atau di tempat lain. Ia tak masalah, ia tak cemburu. Ia paham betapa Anggalarang memiliki pesona yang diperebutkan wanita-wanita itu, termasuk dirinya.


Namun, Kusuma Dewi?


Gadis yang dulu rasa-rasanya tak memiliki percikan keistimewaan itu tak terdeteksi dalam radar perhatian. Tapi mendadak ia muncul hanya beberapa minggu yang lalu dan membuat heboh seluruh kantor. Ia seakan menjadi seorang penampil yang membuka selembar tirai dan memesonakan para juri. Tubuh molek, wajah ayu dan bahasa tubuh penuh keindahan itu menghipnotis semua mata yang memandang. Termasuk Anggalarang.


Livy Tjandrawati tak menyalahkan Anggalarang sama sekali atas ketertarikannya pada Kusuma Dewi, sama seperti ketertarikan Anggalarang pada dirinya.


Hanya saja yang membedakannya adalah bahwa ada sinar yang berbeda dari dua pasang mata laki-laki perempuan itu ketika mereka berbicara.


Sinar asmara.


Apakah Anggalarang dan Kusuma Dewi saling jatuhcinta?


Sebagai seorang perempuan, kepekaan naluri Livy Tjandrawati sanggup melihat larik-laris sinar asmara dan cinta diantara mereka yang melebihi kuatnya nafsu, syahwat dan berahi.


Selama ini, baik dirinya maupun Jenni Tan yang bersaing erat dan sehat, atau wanita-wanita lain, tak sekalipun ia pernah melihat pandangan mata yang begitu intens kepada seorang perempuan. Anggalarang memang sungguh pandai bermain cinta di atas ranjang. Tidak hanya itu, ia memperlakukan perempuan dan tubuhnya dengan begitu baik. Anggalarang memuja dan memuji setiap jengkal lekukan tubuh dan setiap inci lapisan kulitnya.


Sehabis bercinta, Anggalarang memberikan perhatian penuh kepadanya. Laki-laki itu tak keberatan harus mendengar celotehannya bila ia sedang dalam mood yang tak begitu baik karena beban pekerjaan ataupun masalah keluarga. Anggalarang juga tak canggung membelai rambutnya sampai ia tertidur. Anggalarang hampir tak pernah tertidur setelah bersetubuh. Ia masih mencumbu dan bermain-main dengan sisa-sisa berahi. Livy Tjandrawati pun yakin, Anggalarang melakukannya dengan semua perempuan yang ia tiduri. Buktinya, Jenni Tan yang berbekal sepasang dada yang seujung kuku lebih besar dibanding dirinya, atau bokong yang seujung rambut lebih bulat darinya, habis-habisan mencoba merebut jadwal bercinta darinya. Beberapa minggu terakhir bahkan, Jenni Tan benar-benar berhasil mengunggulinya.


Livy Tjandrawati tak cemburu, mungkin sedikit kesal karena dipecundangi.


Ada setitik harapan di dalam sana bahwa dari semua perempuan yang ditiduri Anggalarang, ia adalah favorit sang laki-laki. Livy Tjandrawati senang sekali dengan cara Anggalarang memerhatikan tubuhnya. Kata-katanya yang sederhana tetapi bermakna seperti, “Aku suka kulit putihmu,” atau “Jangan terlalu sering tersenyum, lama-lama aku jatuh cinta,” membuat Livy Tjandrawati sungguh ingin membuat pria itu jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Namun, kali in ia iri, ia dengki.


Anggalarang dan Kusuma Dewi saling perpandangan di bangku pojok kantin. Sebuah adegan romantis yang langsung dicongkel dan diambil dari sebuah film romansa. Ia tak tahan dengan itu.


Livy Tjandrawati terbangun tepat pukul tiga subuh. Pakaian kantornya masih melekat di tubuhnya.


Perutnya keroncongan, berbunyi bagai perkusi bertalu-talu. Ia ingat bahwa semenjak pulang kantor ia belum makan dan berganti baju, apalagi mandi dan membersihkan diri. Rupanya tanpa sadar, tadi sembari menahan perasaan atas hal yang dilihatnya hari ini di kantin kantor, ia tertidur.


Livy Tjandrawati memiliki jenis diet khusus yang dilakukannya secara disiplin. Tak heran bentuk tubuhnya begitu terpelihara, tak hanya molek dan indah, namun juga prima dan sehat. Dan saat ini, hari ini, ia menghancurkan dietnya. Ia sudah terlambat makan dan rasa-rasanya ia tak kuat untuk tidak mengacuhkan rasa lapar yang berteriak-teriak protes.


Apa boleh buat. Toh, jiwa dan pikirannya sedang hancur saat ini. Sedikit melanggar aturan diet tak apalah untuk hari ini saja.


Pukul tiga subuh ia ingin makan.


Tak banyak yang ada di kulkasnya. Namun semua perlu proses memasak, sedangkan sekarang pukul tiga subuh.


Ia memutuskan untuk keluar, pergi ke supermarket duapuluh empat jam terdekat untuk mencari apa yang bisa dimakan. Ini kota besar, tak ada jam yang tak pantas bagi siapapun untuk mencari makan di supermarket.


Ia berjalan di lorong. Kamar demi kamar ia lalui menuju ke lift.


Sepi.


Tentu saja!


Ini pukul tiga subuh.


Bunyi sendal jepitnya yang menampar-nampar lantai terdengar menggema keras di telinganya. Livy Tjandrawati tertawa geli sendiri mendengar suara langkah kakinya itu. Gemanya yang berulang-ulang membuat kesan seakan ia tak berjalan sendirian.


Sampai ia berhenti di depan lift, dan bunyi langkah kaki dengan sendal jepit yang khas itu masih terdengar.

__ADS_1


Bulu kuduk Livy Tjandrawati meremang. Kedua telinganya menangkap suara itu dengan jelas.


Ia berpaling dengan cepat melihat ke belakang.


Tidak ada siapa-siapa yang bisa dilihatnya di lorong panjang itu.


Ia menekan tombol lift cepat-cepat. Merasa ngeri namun juga konyol. Bukankah ia harusnya langsung lari saja pulang ke kamar apartemennya, bukannya malah masuk ke lift dan turun? Apa ia berniat tetap mencari makan ke supermarket terdekat di bawah sana? Konyol sekali,bukan? Lalu, bagaimana nanti ia kembali ke kamarnya? Atau, bagaimana bila ada sesuatu, atau sesosok - atau apapun yang mengerikan - muncul dari dalam lift?


Bunyi langkah kaki dengan sendal jepit itu telah menghilang sejak saat Livy Tjandrawati menengok ke belakang. Sebagai gantinya ia terkejut mendengar bunyi 'ding' dari lift yang membuka.


Tak ada siapa atau apapun di dalamnya.


Livy Tjandrawati ragu sejenak untuk masuk ke dalam lift dan turun, meski ia kemudian memutuskan untuk kembali saja ke kamar apartemennya dan melupakan rasa laparnya. Mendadak kasur empuknya menjadi terasa sempurna dalam keadaan seperti ini.


Sebelum pintu lift kembali tertutup ia sudah berbalik hendak kembali ke kamarnya ketika sosok itu berdiri di tengah lorong yang kosong.


Sinar lampu-lampu bangunan apartemen


menunjukkan sosok itu dengan terlalu jelas.


Kusuma Dewi berdiri di tengah lorong.


Tubuhnya tak berbusana. Kulit putih pucatnya kontras dengan warna rambut dan pucuk dada merah merekah darahnya.


Sepasang kakinya yang jenjang bersendal jepit.


Apakah bunyi sendal jepit yang menampar-nampar lantai selain miliknya itu tadi adalah milik Kusuma Dewi?


Dengan tubuh kaku namun bergetar hebat, lidah kelu dan bulu kuduk meremang hebat, entah dorongan apa yang memerintahkan Livy Tjandrawati memandang ke bawah.

__ADS_1


Ialah yang ternyata bertelanjang kaki.


Bunyi langkah dengan sendal jepit menampar lantai terdengar mendekat dengan cepat ke arah Livy Tjandrawati.


__ADS_2