
Tubuh Sarti terhempas menubruk dinding dan menciptakan beberapa garis retakan di sana.
Sewaktu Sarti hendak menusukkan tombaknya ke dada pentolan penjahat itu, tanpa diduga ia merasakan ada semacam putaran angin menerpanya dengan begitu keras. Akibatnya, tubuhnya yang ramping di balik balutan baju silat merah itu melayang terlempar hebat. Untungnya, kesaktiannya mampu membuat tubuhnya tidak gampang saja terluka.
Wong Ayu yang melihat pertama kali mahluk itu ketika membentuk satu sosok sempurna dan memadat. Sinar lampu yang bermain-main, berwarna-warna di dalam ruangan pesta yang telah menjadi ruangan pembantaian ini. Sosok misterius itu masih tersembunyi oleh kegelapan. Atau mungkin memang tubuh itu terbentuk dari kegelapan yang menggumpal? Pikir Wong Ayu.
Namun pemikiran yang mengemuka ketika Wong Ayu melihat betapa cepat dan mudahnya mahluk itu menghempaskan Sarti adalah bahwa, sedikit banyak, sosok itu adalah alasan mengapa suar gaib menyala terang dan memanggilnya kemari.
Wong Ayu mematikan api yang membakar di kedua tangannya, kemudian menghunus klewang yang bergelantungan di pinggangnya.
"Akhirnya muncul juga kau budak iblis! Sarang penyamun ini adalah tempat dimana setan bertelur, dan kau adalah penjaganya," ujar Wong Ayu lantang.
Setelah mengatakan hal tersebtu, tubuh Wong Ayu tidak hanya melayang kali ini. Melainkan Wong Ayu terbang cepat, berkelebat, membabat sang sosok dalam kegelapan tersebut dengan menggunakan kelewangnya.
Ada hal yang tak terduga sama sekali terjadi sehingga membuat Wong Ayu tak sengaja merintih. Tubuhnya ikut terdorong mundur dan menjejak tanah.
Wong Ayu melihat ke arah tangannya yang menggenggam bilah senjata tajam itu. Kelewangnya patah menjadi dua bagian. Bagian lancipnya tenggelam dalam genangan darah di lantai. Wong Ayu menatap sisa gagang dan separuh bilahnya yang ia genggam, kemudian membuangnya ke lantai.
Sang sosok berdiri tenang. Satu tangannya yang ternyata gelap karena tertutup beragam motif rajah dengan gradasi hitam, terangkat menutupi kepalanya yang mengenakan semacam penutup kepala berbentuk kepala burung dengan paruh melengkung ke bawah. Satu tangan lainnya teracung ke depan, digunakan beberapa saat tadi untuk mendorong Wong Ayu.
__ADS_1
Sosok itu berbalik, ikut mengejutkan dua puluh penjahat yang sekarang sudah berkurang jumlah yang masih bernafas hampir separuhnya itu.
Wong Ayu tak dapat menerima keterkejutannya, apalagi sang sosok seakan berpaling darinya. Ia tak akan ingkar dari pertarungan ini. Namun sebelum Wong Ayu dapat bertindak, Maung melaju dari kegelapan ke arah sosok berajah memenuhi tubuh itu.
Maung meloncat dan berhasil menerkam sosok misterius tersebut dari belakang. Tanpa menunggu waktu lagi, taring Maung mengunci tengkuk dan kesepuluh cakar sekeras bajanya berusaha menembus kulit sasarannya.
Untuk sejenak sang sosok seakan korban yang siap dicabik-cabik Maung, seakan hanya menunggu badannya untuk dilumat. Namun sepersekian detik tubuh itu hanya bergerak-gerak mengikuti tarikan gigi-gigi tajam Maung, bagai tiang listrik yang bergoyang oleh angin kencang namun tak berhasil membengkokkan apalagi mematahkannya.
Kejadian lebih mencengangkan kemudian terjadi. Tepat di depan para penjahat yang juga kebingungan, Sarti, Wong Ayu dan Maung sendiri, tubuh gelap itu memudar dengan cepat, menjadi tembus pandang dan tembus sentuh.
Maung mencakar dan menggigit udara. Tubuh jelaga bermahkota burung enggang tersebut kini berada di belakang Maung, melingkarkan lengannya dan balas mencekik leher berbulu tebal Maung. Kali ini, bahkan Anggalarang yang berada di dalam tubuh sang siluman harimau putih ikut merasa tercekik pula. Sebuah kejadian yang hampir bisa dikatakan tak pernah terjadi.
Melihat ini Wong Ayu berteleportasi. Tubuhnya lenyap menghilang dan muncul seketika itu juga tepat di sisi sosok hitam yang mencekik leher siluman harimau putih beserta Anggalarang di dalamnya. Wong Ayu menerkam dengan kedua tangan membuka, merah membara bagai lahar basah.
Sarti kini yang bergerak. Jurus saifi angin membuatnya dapat berjalan di dinding atau terbalik menapak langit-langit karena saking cepatnya gerakan. Ujung tajam tombak Baru Klinthing berkilau dalam gelap, terperciki sinar lampu disko yang berwarna-warni melesat siap menusuk musuh.
Maung yang bertubuh hampir dua kali manusia normal itu jatuh menghempas lantai, bukan karena cekikannya lepas, namun lebih karena ditolakkan sosok hitam kelam itu dengan keras.
Sepasang mata sang sosok melihat kelebatan merah menjalar di dinding serta langit-langit dan menuju ke arahnya. Kecepatan luar biasa Sarti malah terekam secara slow motion bagi sosok yang jelas adalah Yakobus Yakob itu.
__ADS_1
Yakobus Yakob menepis tusukan tombak Sarti, melihat mata dibalik topeng panji berkulit pucat itu membelalak karena terkejut serangannya berhasil di tepis.
Yakobus Yakob mencengkram wajah Sarti, meremukkan topeng kayunya menjadi serpihan yang berjatuhan ke bawah bagai hujan . Sarti menusukkan tombaknya, namun lengannya juga digenggam kuat dengan tangan satunya sang sosok misterius tersebut. Sarti melayang di udara dengan tengkorak wajah dan tulang lengannya terus terhimpit, dan bila dibiarkan, tangan-tangan sekuat baja itu akan meremukkan tulang-tulangnya.
Wong Ayu dan Maung menyerang hampir bersamaan. Keduanya meluncur secepat anak panah lepas dari busurnya.
Tubuh Santi menubruk Maung, Yakobus Yakob melemparkannya dengan gampang. Keduanya jatuh berdebum di lantai.
Wong Ayu terkecoh melihat dua rekannya mental bagai pin bowling sehingga ia tak menyangka bahwa tubuh jelaga sosok bertutup kepala burung itu memudar bagai asap hitam. Wong Ayu menembus udara kosong.
Ketika Yakobus Yakob kembali membentuk sebuah tubuh utuh, Wong Ayu berteleportasi dan muncul dengan cepat, secepat jepretan flash kamera menyerang musuhnya. Kedua sosok saling serang dengan cara paling ajaib dan gaib yang baru kali ini dilihat para begundal penjahat selama hidup mereka.
Yakobus Yakob dan Wong Ayu menghilang dan muncul, memudar dan memadat. Wong Ayu menyemburkan api, mencakar dengan jari-jari secair lahar. Yakobus Yakob menyeruduk bagai babi hutan, menyepak bagai kedua kaki elang. Ini terjadi di atas, hampir menyundul langit-langit aula besar dengan lampu disko berputar-putar dan menyenteri seantero ruangan.
***
Sepasang kaki Affandi akhirnya menginjak bumi Kalimantan. Segala energi menjalar, merayap dari tanah menggapai-gapai kakinya. Ia sudah siap dengan misi yang diembankan padanya.
Pandangannya menatap ke depan, melewati bangunan pelabuhan, peti kemas raksasa berwarna-warni yang dari jauh menumpuk bagai mainan Lego building blocks.
__ADS_1
Subuh akan segera hilang, langit hampir retak merekah dengan sinar matahari mengintip di baliknya.
Affandi tak menyeret kakinya, melainkan melangkah tegas dan tegap, pasti dan niscaya membuka gerbang gaib penyatuan dua dimensi demi terciptanya kekuasaan absolut, kenikmatan membara bagai api abadi yang tak mungkin dipadamkan.