Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Keempatbelas Kusuma Dewi


__ADS_3

Anggalarang sudah tak ingat lagi bermimpi apa ia semalam. Dengan keadaan serba gamang, ia berangkat kerja dan mendapatkan berita yang tidak mengenakkan mengenai penyelia baru di tempat kerjanya.


Rumah sakit penuh berjejal dengan para pegawai dan rekan kerjanya. Kabar mengenai sang penyelia baru, Jenar Keswari, yang dibawa ke Instalasi Gawat Darurat tadi malam, membuat kantor serba sibuk. Rasa prihatin dan keingintahuan datang dari para pejabat teras perusahaan, bawahan bahkan pekerja dari divisi lain pula. Mereka berbondong-bondong datang ke rumah sakit untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita karir cantik kepala tiga itu. Ada yang turut prihatin,atau sekadar menyetor wajah agar tak dianggap tak memiliki hati nurani meski mereka tak benar kenal apalagi peduli pada tokoh yang baru-baru ini menjadi tersohor di seantero kantor bahkan perusahaan tersebut.


Anggalarang duduk di satu sudut, tak terlalu paham dengan perasaannya sendiri. Jenar Kaswari boleh adalah Queenie baginya, namun bagi kebanyakan karyawan lain - terutama yang tak tahu dan tak mau tahu tentang hubungan gelap mereka - Anggalarang bukanlah orang penting yang bisa duduk paling dekat dengan kamar VIP Rumah Sakit sang penyelia.


Ia tak keberatan, toh ia masih bingung harus bagaimana. Ia memang tidur dengan perempuan itu, berbagi kehangatan, saling meredakan awan gelap di atas kepala yang menyebabkan penat, akan tetapimereka bukanlah sepasang kekasih resmi. Bisa dikatakan, secara jujur, Anggalarang tak memiliki rasa khusus selain sama-sama berbagi kenikmatan semata. Sama-sama suka.


Jenar Keswari yang datang menggodanya dengan segala kedewasaan dan kekuasaannya. Anggalarang diperintah oleh Jenar Keswari untuk melayaninya. Banyak yang beranggapan Jenar Keswari sang Queenie adalah alpha female, alias perempuan dengan kekuasaan penuh yang membuat para lelaki tunduk padanya dan mengikuti perintahnya.


Bagi Anggalarang, itu semua hanya berlaku di tempat tidur, hanya merupakan sebuah role play. Anggalarang senang membuat Queenie menjerit-jerit nikmat ketika permainan peran mereka telah mencapai puncaknya. Namun, di lain tempat, Jenar Keswari sang Queenie tak punya kuasa, tak peduli ia adalah sang penyelia. Jenar Keswari-lah yang terus-terusan mengemis cinta kepadanya.


Jadi, apakah aneh atau jahat bila ia tak begitu bersedih atau penasaran dengan kondisi sang perempuan di dalam ruangan sana? Padahal, baru semalam ia juga berpikir untuk menginginkan kehangatan tubuh sang wanita dewasa tersebut.


Alih-alih memikirkan keadaan Jenar Keswari di dalam sana, Anggalarang malah sekarang sedang menatap Livy Tjandrawati yang juga sedang memperhatikannya balik dari tempat duduk tak jauh darinya.


Hati laki-laki ini bisa dikatakan telah membeku sehingga membuatnya selalu berperilaku dingin. Mungkin dengan begitu, trauma masa kecilnya dapat ditekan sedemikian rupa ke dalam alam bawah sadarnya. Sialnya, kebekuan perasaannya ini kerap diterjemahkan para perempuan sebagai gaya cool dan misterius seorang Anggalarang yang membuat mereka semakin gemas dan kesengsem. Kebekuan yang disalahtafsirkan ini kemudian ditambahkan dengan sebuah mekanisme pertahanan psikologis berupa flamboyanismenya. Harimau dalam tubuh Anggalarang melindungi dirinya dari sejarah dan memori kelam di masa kanak-kanaknya agar ia tak terluka.


Hasilnya, Anggalarang tumbuh menjadi pria keren yang doyan wanita.


Livy Tjandrawati baru beberapa kali saja berkencan dengan Anggalarang. Tapi ia sudah ketagihan setengah mati. Anggalarang adalah lelaki pembebasnya. Seorang pahlawan sekaligus mentor bercintanya.


Dibesarkan dalam sebuah keluarga penuh larangan dan pembatasan, dipaksa melihat dunia dari satu sudut pandang saja membuat Livy Tjandrawati jengah. Bertemu Anggalarang ibarat seorang anak kecil dibukakan pintu ke istana mainan. Maka Livy Tjandrawati pun bermain dan bersenang-senang.

__ADS_1


Anggalarang memaksimalkan efektifitas tubuh sang tacik yang ramping nan tinggi semampai itu di atas ranjang: bagaimana memainkan bahunya yang tinggi, lengannya yang panjang serta sepasang dadanya yang tidak terlalu besar tetapi kenyal berisi, paha dan kaki raping yang mengerucut lurus tak bercela. Anggalarang meyakinkan Livy Tjandrawati bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri. Sang gadisberhak atas apapun yang mau ia lakukan terhadapnya, termasuk memberikan kepada Anggalarang untuk mencumbunya.


Sebuah permainan ironi bujukan yang tidak murahan, meski tetap saja rayuan gombal. Mungkin juga malah terdengar sebagai sebuah trik yang sarat akan tipuan murahan khas laki-laki buaya. Namun, mendapatkan kesempatan seperti ini, Livy Tjandrawati malah benar-benar menggunakannya untuk mengekspresikan diri. Ia binal di atas tubuh Anggalarang.


Tubuhnya yang berkulit putih pualam tanpa cacat, mulus segar tak tandus, dimaksimalkan dengan baik. Anggalarang sungguh memainkan percintaan mereka dengan beragam gaya, beragam irama dan beragam nada.


Malam itu, Livy Tjandrawati berhasil mendapatkan Anggalarang untuk dirinya sendiri, bukan Jenar Keswari sang Queenie yang masih berada di rumah sakit, bukan Jenni Tan sang saingan dan musuh bebuyutan, atau gadis-gadis lain yang tak dapat ia hapal dan ingat semuanya.


Livy Tjandrawati melihat bayangan tubuh Anggalarang yang dipahat sempurna itu sedang berdiri membelakanginya. Sosoknya gelap tersinari sinar lampu dari luar jendela hotel.


Gadis itu meraba telepon genggamnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Sepasang matanya yang sudah sipit semakin menyipit merespon sinar terang yang bersinar dari layar smartphone-nya. Pukul tiga subuh.


"Anggalarang, sedang apa kamu disitu? Segera kembali ke sini," ujar Livy Tjandrawati menepuk permukaan kasur disampingnyadengan jari-jarinya yang lentik.


Livy Tjandrawati menyelipkan helai rambut panjang hitam super lurusnya ke belakang telinga, melihat ke arah AC dalam keremangan kamar. Mendadak udara begitu dingin, menyapu setiap inci kulit tanpa busananya yang tersimpan di balik selimut tebal.


Ia kembali memandang sosok Anggalarang.


"Ayo, kemari, Anggalarang. Masih pagi buta. Aku masih ngantuk dan kedinginan," ujar Livy Tjandrawati tak bermaksud manja, karena memang yang ia pikirkan saat ini hanyalah kehangatan tubuh panas sang harimau ranjang itu.


Mungkin ia tak meminta Anggalarang untuk menggasak tubuhnya lagi pagi-lagi buta seperti ini. Namun, mendadak rasa dingin yang menyergapnya membuat ia rela diperlakukan bagaimanapun oleh Anggalarang selama rasa hangat kembali bisa ia dapatkan.


Livy Tjandrawati tak sabar melihat laki-laki cool itu diam saja. Ia merasa bahwa ia harus turun langsung dari tempat tidur untuk menarik tubuh laki-laki itu kembali.

__ADS_1


Tapi ia sungguh kedinginan.


Maka, ia meraih pakaiannya seperlunya yang berserakan di lantai di sisi lain tempat tidur, sekadar untuk menutupi


tubuh. Sepasang pucuk dadanya berdiri menegang dengan kulit mulus yang meremang karena dingin yang menyerang.


Ia akan menarik laki-laki itu kembali ke sisinya - sekaligus mengambil remote AC untuk mengatur suhu agar ruangan ini tidak seperti di dalam freezer kulkassaja.


Sepasang kaki jenjang kerucut ke bawah lurus tak bercela milik Livy Tjandrawati turun dari tempat tidur, berjalan berjinjit mendekat ke arah sosok Anggalarang.


"Anggalarang, ayo, kita kembali ke tempat tidur. Aku kedinginan nih," ulang permintaan Livy Tjandrawati kembali. Suaranya nasal, kecil tapi tinggi dan nyaring. Tak ada yang mengalahkan nada teriakannya dalam bercinta. Anggalarang pun jujur mengatakan kepada Livy Tjandrawati bahwa dalam hal erangan, gadis itu mengungguli Jenni Tan.


Livy Tjandrawati tersenyum malu-malu mendengar pujian ini.


Jari-jari terawat dengan kulit putih bak pualam itu menyentuh lengan berotot liat Anggalarang dan mencoba menariknya.


Sosok itu berbalik.


Livy Tjandrawati lega. Itu berarti Anggalarang menurutinya untuk kembali ke tempat tidur, saling berpelukan, mungkin tak perlu kembali bergumul - karena ia ternyata begitu mengantuk dan kedinginan - yang penting mereka dapat saling menyentuh dan menghirup aroma tubuh masing-masing lagi.


Namun, melihat Anggalarang, Livy Tjandrawati malah menjerit tertahan.


Pegangannya pada lengan sosok Anggalarang terlepas karena ia sendiri tersentak ke belakang dan jatuh terdudukdi lantai sehingga bokong telanjangnya yang membulat indah menubruk lantai yang dingin membeku.

__ADS_1


Sosok itu bukan Anggalarang!


__ADS_2