Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Enam


__ADS_3

Ada seorang tua yang berasal dari sebuah dusun bernama Pon. Nama aslinya tak begitu diketahui, tetapi mungkin sebagai bentuk dari jati diri, ia dikenal dengan nama Pon itu sendiri. Namun, nama Pon tidak digunakan untuk menggambarkan pekerjaannya. Maka ia menggelari dirinya sendiri sebagai Mbah Pancang Langit.


Mbah Pancang Langit baru saja dihidupkan kembali dari kematiannya.


Sebelumnya, seorang perempuan bernama Wong Ayu berhasil membunuhnya dengan mengirimkan tenung yang tak mungkin dukun tua bangka itu lawan. Kiriman sihir berupa serombongan ratusan lebah menyengat sang dukun dan membuat bekas sengatan itu mengalirkan nanah terus menerus sampai Mbah Pancang Langit muntah darah kemudian setelah tersiksa lama sedemikian rupa, tewas dengan tubuh di dalam genangan darah dan nanahnya sendiri.


Kaki telanjang Wong Ayu menginjak dada mayat sang dukun, membuat jasad itu mengejang dan bergetar. Pon sang Mbah Pancang Langit mendadak kembali hidup. Nafasnya menggebu seperti baru saja ditimpakan kepadanya. Wong Ayu membiarkan Pon berguling-guling terbatuk-batuk ketika menghisap kehidupan lagi.


Sejenak tadi Pon baru saja melihat neraka. Kobaran api meranggas di setiap jengkal tanah yang diinjaknya. Langit penuh belerang mengguyur badannya bagai hujan.


Menyadari bahwa ia kembali ke dunia, Pon mendadak menangis. Walau ia baru saja menghembuskan nafasnya yang terakhir selama kurang dari setengah jam yang lalu, namun di neraka sana terasa bertahun-tahun lamanya.


Ia terus menangis sejadi-jadinya merasakan perasaan yang campur aduk. Kulitnya terasa nyata. Aliran darah berdenyut-denyut melewati lapisan dagingnya.

__ADS_1


Mbah Pancang Langit tak ingin menjadi dukun lagi. Ia bertekad akan bertobat dan mengenyahkan semua ilmu hitam yang ia miliki dan perilaku jahat yang ia lakukan. Perempuan yang ada di depannya itu ternyata sudah menyadarkan betapa mengerikannya alam kematian, apalagi itu adalah konsekwensi dari segala tindak-tanduknya selama berada di dunia.


Entah dimulai sejak kapan, tatapi sejauh yang tua bangka itu ingat, ia telah menggunakan kemampuan sihir dan perdukunannya itu untuk mendapatkan kenikmatan jiwa dan ragawi sebanyak-banyaknya. Uang dan kekayaan tak sebanding dengan rasa kuasa yang telah ia peroleh selama ini. Perempuan manapun yang ia inginkan akan jatuh ke dalam jebakan nafsu syahwatnya semudah menjentikkan jari. Orang-orang berbondong-bondong datang kepadanya memohon untuk mendapatkan secuil saja kekuatannya, melaksanakan apapun yang mereka pinta. Membunuh orang yang dijadikan sasaran adalah sebuah kesengan tertinggi dan pamungkas. Ia telah menjadi dewa dan Tuhan dalam banyak kesempatan.


Bagaimana tidak, menyantet orang atas permintaan orang lain yang datang dengan dendam dan penderitaan membuatnya duduk di singgasana tertinggi. Seperti seorang dewa yang dapat mengabulkan keinginan manusia. Rasa sakit yang ia timbulkan kepada orang lain adalah bentuk lain dari sebuah kenikmatan duniawi dan yang paling murni serta melambangkan kekuasaan sejati dan paripurna.


Kini, melihat sang perempuan berdiri agung di hadapannya, Pon si Mbah Pancang Langit merangkak mendekati Wong Ayu. Ia memeluk kaki perempuan itu, menciuminya sembari menangis tersedu-sedu, "Terimakasih wahai perempuan sakti, terimakasih karena telah menghidupkanku kembali dan menyadarkanku dari segala perbuatan jahatku selama hidup."


Wong Ayu memandang sang dukun tanpa emosi. Tepat ketika Pon menengadah ke arahnya, Wong Ayu menghunus sebilah kelewang yang ia simpan di balik jubah panjangnya dan menebas kepala sang dukun sampai putus. Pon kembali tewas seketika, dan kali ini untuk selamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tubuhnya terasa begitu berat, tak ada luka yang berarti yang membuatnya berjalan tertatih-tatih, tetapi rasa sedih dan takut yang luar biasa ia rasakan sekarang, belum lagi dendam kesumat yang menunggui di relung-relung hatinya siap untuk keluar kapan saja. Akar-akar pepohonan mengganggui langkah-langkahnya sehingga ia terjerembab jatuh ke sebuah sungai berbatu. Kepala dan tubuhnya terbentur dan tergores batu-batu sungai yang licin namun keras. Air sungai yang sedang pasang masuk ke hidung, mata dan mulutnya dengan paksa. Membuatnya tercekat serasa ingin mati.

__ADS_1


Sebenarnya ia merasa konyol lari dari orang-orang yang telah membunuh kedua orangtuanya. Iapun sudah tak ingin lari lagi sebenarnya, percuma membawa rasa sakit ini. Apa yang harus ia lakukan seorang diri? Apa yang harus ia perbuat setelah kedua orangtua wafat? Ia bahkan tak tahu apa yang terjadi dengan jasad keduanya. Harusnya ia juga lebih baik mati berdampingan dengan mereka?


Namun suara-suara itu, ya suara-suara itu yang membuatnya masih bisa bertahan. Suara itu mengatakan untuk tetap hidup dengan gelora dendam yang membakar, dengan hasrat dan nafsu yang menyala-nyala untuk kembali dengan palu godam dan pedang. Ia harus hidup dan kembali untuk darah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berbagai jenis hantu, kuntilanak, sundel bolong, pocong, wewe gombel, gendruwo, tuyul atau banaspati berada di lapisan terluar dunia gaib. Bagian yang lebih dalam ada ilmu hitam leak, kuyang, santet dan teluh, ilmu kebal, pengasihan dan pesugihan serta susuk. Lapisan selanjutnya ada mahluk-mahluk yang berhasil keluar dari alam gaib melalui manusia. Mereka menggunakan media tubuh manusia dengan menipu jiwa mereka. Beragam siluman berbentuk binatang atau bentuk-bentuk mengerikan lain muncul dalam bentuk kasat mata, melukai, membunuh bahkan memangsa manusia melalui jasa-jasa manusia itu sendiri.


Tapi Wong Ayu sudah bertatap muka dengan setan dan iblis secara langsung. Dedengkotnya semua kekotoran dan dosa yang ada di bumi. Mereka tidak buruk rupa dan mengerikan. Sebaliknya, para setan adalah gerombolan mahluk sempurna dengan keindahan yang luar biasa, mungkin sempurna. Mereka adalah gambaran apa yang diinginkan, diimpikan dan didambakan semua orang, baik secara terang-terangan maupun tersimpan jauh-jauh di ruang gelap jiwa mereka.


Hanya karena sifat angkara dan bejat manusia yang mengejawantahkan kuasa iblis sesuai dengan sifat asli mereka. Para iblis laknat menyesuaikan keinginan manusia agar manusia mendapatkan apa yang diinginkan di dalam kehidupan mereka sehingga para iblis nantinya akan dapat memanen jiwa mereka untuk dibawa bersama-sama ke neraka jahanam.


Wong Ayu paham itu. Jiwanya mengambang menembus ruang dan waktu. Berenang di lautan darah dan nanah, menghirup udara penuh abu dan belerang, berjalan di atas tanah dari tumpukan tengkorak dan tulang-belulang, dan pepohonan mati penuh ular serta binatang-binatang melata lainnya. Jin dan Jann beraneka bentuk; menyerupai binatang dan mahluk-mahluk mengerikan, gandarwa menjulang tinggi sampai langit, menutupi pandangan dari sinar. Semua terbentuk sebagai fasilitas kejahatan yang dilakukan manusia. Semua mahluk halus bersukaria melihat manusia terbelenggu oleh hasrat, benci, amarah, angkara, birahi dan keputusasaan.

__ADS_1



__ADS_2