Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Obong - Mayat


__ADS_3

Wong Ayu menghela nafas. "Bukan begitu caranya. Coba kamu pikir baik-baik. Kalau aku mengebut seperti orang kesetanan, bagaimana kalau sosok perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan menatapku, atau melompat ke tengah jalan mendadak? Aku bisa kaget dan terperosok jatuh ke kali, 'kan?"


"Benar juga. Tapi 'kan kamu sudah tahu mahluk itu hantu, lalu, apa lagi yang perlu kamu tunggu?" protes Satria Piningit.


"Aku mengengkol sepedaku dengan kecepatan normal saja. Ketika aku melewatinya, rasa penasaranku tak terkendali. Aku melirik ke arahnya dan berhasil melihat wajahnya."


"Pucat ... hancur ...?" potong Satria Piningit.


"Tidak, Satria. Perempuan itu cantik, sangat cantik malahan. Namun ia terlihat sedih. Aku kemudian berhenti."


"Ah ... Wong Ayu ... apa sih masalah hidupmu? Harusnya kamu pergi saja dari sana ketika sudah berhasil melewati perempuan itu," kembali Satria Piningit memrotes.


Wong Ayu menarik nafas, mengangkat kedua lengannya untuk menyimpul rambutnya, dan menghembuskannya pelan. Satria Piningit juga ikut menarik nafas panjang demi melihat pemandangan memesona gerakan sederhana Wong Ayu tersebut. Ia bahkan hampir lupa untuk menghembuskan nafasnya.


"Itulah mengapa tidak gampang memiliki kemampuan melihat mahluk-mahluk semacam itu. Seperti magnet, seperti besi berani. Seakan mereka terus-menerus berusaha menunjukkan sesuatu kepadamu. Kamu tahu rasanya? Tidak hanya menakutkan, tapi menyedihkan pula," kali ini wajah Wong Ayu menerawang jauh ke depan.


"Jadi, perempuan itu memang hantu?" tanya Satria Piningit penasaran.


"Ya. Ia memang hantu. Ketika aku berhenti dan bertanya kepadanya, kenapa malam-malam begini jalan sendirian, ia menceritakan sesuatu kepadaku."

__ADS_1


Hah? Mengapa jalan-jalan sendirian? Pertanyaan macam apa itu. Jelas bahwasanya sang perempuan itu adalah hantu, Wong Ayu, itu sudah kerjaannya sebagai hantu, pikir Satria Piningit gemas. Meski sekali lagi ia tidak mengucapkannya.


"Perempuan itu menunjuk ke arah desa kita ini kemudian menunjuk ke sungai di bawah jembatan itu. Aku tentu saja pergi untuk melihatnya. Kamu tahu apa yang kulihat di sungai?"


Satria Piningit menggeleng.


"Walau malam, tapi tiba-tiba suasana di tempat itu menjadi terang benderang. Aku melihat entah berapa mayat yang terbawa arus, mengambang di atas air. Salah satunya adalah perempuan itu sendiri. Seakan aku tersedot ke dalam pusaran waktu. Semua cerita yang ingin perempuan itu sampaikan tercetak di dalam pikiranku tanpa ia ucapkan sama sekali. Seakan aku sendiri yang mengalaminya.


Wong Ayu kembali terlihat menerawang dan seakan sedang berada di waktu yang ia ceritakan tersebut.


"Ketika aku melihat kembali ke arahnya, yang nampak adalah sesosok wajah manusia yang tertutup gumpalan darah yang menggelegak dari lobang besar di keningnya. Aku tak bisa menjerit, aku tak bisa lari. Aku takut, sekaligus sedih luar biasa. Kamu tahu, Priyam ... tubuh-tubuh tak bernyawa di atas sungai itu adalah orang-orang yang dituduh sebagai anggota Partai Politik terlarang di masa lalu yang dibantai dengan keji. Mereka dibunuh di desa Obong, Satria. Dibuang ke sungai Pratama di timur desa kita dan mengalir terus sampai ke sungai di bawah jembatan itu."



Wong Ayu menyipitkan matanya melihat ke arah teman laki-lakinya itu, "Bukannya kamu sekolah? Belajar sejarah, bukan?"


Satria Piningit meringis. Ia merasa menjadi anak sekolah yang bodoh. Padahal dulu ia kaget ketika mengetahui ada seorang anak laki-laki yang tak tahu Kalimantan itu dimana. Sekarang, ia sendiri yang merasa tersindir. Wong Ayu menggelengkan kepalanya sebal.


"Jadi, kamu tidak sekadar disuguhi pemandangan mengerikan, tapi juga semacam penglihatan sejarah dan cerita hidup mereka?" simpul Satria Piningit, berusaha terdengar cerdas menutupi kebodohannya tadi.

__ADS_1


"Ya, begitulah," jawab singkat Wong Ayu.


"Maaf, aku jadi tak enak dengan kamu dan Priyam. Tak heran ia menjadi anak yang aneh, dan kamu dijauhi orang-orang desa," kata Satria Piningit lugas. Sialnya lagi, Satria Piningit tak tahu bahwa kata-kata luganya ini berefek pada Wong Ayu. Satria Piningit mendadak sadar ia telah bersikap benar-benar sembrono.


"Maaf Wong Ayu ... Sialan, aku tak bermaksud seperti itu. Maksudku ...,"


"Aku tahu maksudmu, Satria. Kamu benar. Tak ada orang desa yang suka dengan keluargaku. Harusnya aku juga heran kamu mau saja berteman denganku," Wong Ayu tersenyum.


Satria Piningit ikutan tersenyum, lega. Karena ternyata gadis itu tak marah dengannya. Situasi menjadi aneh dan ganjil dimana mereka berdua tersenyum-senyum di sore hari itu.


Tiba-tiba Satria Piningit teringat tentang sesuatu, "Wong Ayu, lalu, kamu juga pernah melihat sosok kepala terbang? Priyam yang bilang kepadaku juga."


Kali ini tanpa diduga, Wong Ayu tiba-tiba bangun, membereskan cuciannya cepat-cepat, "Aku harus pulang," ujarnya sembari ngeloyor pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan tetesan air dari jaritnya yang basah separuh itu. Satria Piningit cuma melongo melihat kepergiannya, syok melihat reaksi Wong Ayu yang aneh itu. Ada apa dengan kejadian yang berubah drastis dalam tempo sesingkat-singkatnya ini? Pikir Satria Piningit. Priyam dan Wong Ayu sama saja, simpul Satria Piningit. Sama-sama aneh. Maklum, keduanya diberkahi keistimewaan oleh Yang Kuasa.


Satria Piningit memutuskan untuk masih melanjutkan duduk di tepian kali, memainkan kedua kakinya di dalam air kali jernih yang mengalir semakin dingin karena hari mulai semakin menggelap. Pikirannya melayang-layang tak tahu aturan, mencoba beragam jalur pemahaman untuk lebih mengerti lebih dalam apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia memang masih muda, tetapi masa itulah dimana pertanyaan terus-terusan datang dan menuntut untuk dijawab. Satria Piningit merasakan awal jatuh cinta, persahabatan yang kian mengental, bahkan rasa penasarannya pada misteri dan kehidupan perlahan terkuak.


Satria Piningit membatin bahwa ia senang berteman dengan Priyam dan Wong Ayu. Dengan Priyam, ia merasakan persahabatan yang begitu unik. Segala misteri dan kepolosan laki-laki berkulit gelap bau terbakar itu membuat Satria Piningit merasa lebih hidup di desa ini. Teman-teman desanya yang lain kerap mengejek bahwa ia suka ketemu kuntilanak di kali karena lebih senang bermain ke daerah itu dibanding bersama mereka. Mungkin kuntilanak itu cantik sampai-sampai Satria Piningit lebeih memilih bersamanya dibanding bermain dengan mereka, mencuri tebu atau menangkap kodok. Andai mereka mendengar cerita Priyam dan Wong Ayu bahwa ejekan mereka sebenarnya setengah benar. Ada kuntilanak merah di atas pohon pisang, bukan di kali. Dan ia belum pernah melihat bentuk sosok itu sama sekali. Jadi, Satria Piningit tak tahu apakah benar wajah sang kuntilanak begitu rupawan, atau malah mengerikan seperti penggambaran Wong Ayu.


Syukurnya, teman-temannya yang lain hanya mengejek dan bermain-main dengan perilaku mereka saja, tidak sampai menjauhi. Satria Piningit masih sering juga bermain dan berkumpul bersama mereka, meronda dan bercanda, meski benar seperti kata mereka, Satria Piningit senang sekali menghabiskan waktu lebih banyak di kali. Rupa-rupanya nama baik mbah Carik Darwen di desa ini masih begitu kuat sehingga Satria Piningit masih dihormati.

__ADS_1


__ADS_2