
"Mas, tadi melongo, sekarang kok malah bengong?" ujar Kusuma Dewi memecahkan keterpanaan Pak Guru Johan yang hampir tak dapat menahan diri untuk menganga.
"Mas … Mas ...," ujar Pak Guru Johan terbata-bata. Nyatanya lidah Pak Guru Johan kelu, tak dapat berucap menyelesaikan kata-katanya.
Kusuma Dewi pura-pura merengut. Ia memerhatikan tubuhnya sendiri. Menengok ke segala lekukan tubuhnya, memandang Pak Guru Johan, kemudian memonyongkan bibirnya cemberut.
"Nampaknya saya perlu pembuktian, Mas. Ayo, ikut saya," ujar Kusuma Dewi dengan mimik wajah langsung berubah ceria namun tetap bangor, badung, nakal, bandel dan bengal.
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu meraih dan menggandeng tangan Pak Guru Johan kemudian menariknya. Sengatan listrik menjalar dari tempat telapak tangan dan jari-jari lembut dan mulus sepupu perempuan sang istri tersebut ke sekujur lengan Pak Guru Johan.
Tubuh dan jiwa laki-laki beristri dan beranak itu tak bisa menahan tarikan godaan sang gadis tersebut. Ia menurut saja ketika Kusuma Dewi membawanya masuk menembus pepohonan, menyusuri sungai, melewati tunggul kayu keramat yang sudah tak diacuhkan lagi larangannya itu. Pak Guru Johan tersentak dan darahnya berdesir karena tak sengaja melihat selembar cawatyang dibuang tergeletak di dekat tunggul tersebut. Setengah bagiannya terendam air sungai.
Pak Guru Johan terus saja dibawa masuk sampai ke sebuah area yang bertanah lapang dan kering. Rerimbunan pohon menutupi tempat ini baksebuah bilik. Suara air sungai yang mengalir dan menyentuhi sela-sela bebatuan bagai musik yang syahdu. Entah kapan Kusuma Dewi sempat menyelidiki tempat ini, pikir Pak Guru Johan.
"Mengapa kita ke tempat ini, Dek Dewi?" ujar sang guru Sekolah Negeri itu gugup.
"Saya hanya mau membuktikan apakah ritual saya tadi berhasil, Mas," tukas Kusuma Dewi dengan senyum sumringah masih terlukis di wajahnya.
"Mas masih tak paham, apa maksud kamu, Dek Dewi?"
“Tadi saya ‘kan tanya Mas Johan, bagaimana penampilanku, apa ada perubahan setelah aku kencing di tunggul kayu itu. Mas Johan malah diam saja. Aku jadinya sedih. Makanya, aku minta Mas kesini untuk melihat dengan jelas, apa ada perubahan,” ujar Kusuma Dewi dengan nakal.
__ADS_1
Kusuma Dewi memandang lurus ke kedua mata suami sang sepupu, langsung menembus ke jiwanya. Jari-jarinya dalam sekali gerak, pakaian terusan Kusuma Dewi lepas. Tubuhnya memolos sudah. Kulit bak pualam bersinar dalam gelap. Sepasang dadanya yang panjang jatuh tetapi penuh menyeluruh.
Pucuk dada mancung lancip menyembul dari puncaknya, bukan berwarna hitam arang, coklat tua atau muda kulit kayu, bukan pula jambon bibir, namun merah merekah darah menantang, menentang, menyerang dan merangsang gairah.
Sosok gaib berkulit gelap tanpa busana tersenyum geli melihat bahwa ia memiliki persamaan dengan sang gadis.
Pak Guru Johan kalap. Ia menyelam masuk ke dalam gelora jebakan pesona sang gadis yang bagaikan seorang bidadari - atau peri, iapun tak peduli.
Tentu bukan lagi pendapat yang diperlukan oleh seorang Kusuma Dewi dan bukan lagi pengamatan yang dilakukan oleh seorang Pak Guru Johan. Sosok Kusuma Dewi yang sudah tak berbusana seutuhnya itu adalah sebuah kesempatan yang bakal hilang bila tak disambut.
Pak Guru Johan melepaskan seluruh bajunya tergesa-gesa, sampai habis. Kejantanannya menegang panjang, terpapar jelas mengeras.
Kedua tubuh tak berbusana itu tanpa malu lagi mengikuti kekuatan hasrat yang bergejolak. Keduanya bergulingan di atas tanah lapang, mengikuti jalan nafsu.
Jiwa dan daya Pak Guru Johan tercerabut dari tempatnya berada. Tubuh dan pikirannya telah menjadi milik Kusuma Dewi semata. Sebaliknya, Kusuma Dewi merasakan darahnya penuh dengan energi kuasa yang meledak-ledak penuh percaya dan cinta diri. Ia bukan lagi seorang perempuan berkulit pucat, berambut merah, berbokong besar. Ia adalah semua yang diinginkan perempuan, dan semua yang diinginkan lelaki, serta semua yang benar-benar ia inginkan.
Sewaktu tubuh Pak Guru Johan masuk dengan dalam berkali-kali ke raganya, Kusuma Dewi kembali memikirkan Anggalarang. ******* dan lenguhannya ditujukan bagi pria yang sejenak lagi akan jatuh di depannya, bersimpuh, memohon untuk menjadi teman kehangatannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ratih jatuh dari tempat tidur sedemikian rupa sehingga kepalanya terbentur lantai dan berdarah.
__ADS_1
Namun, meski rasa sakitnya langsung menyerang ke seluruh penjuru tubuhnya, bukan itu yang membuat pusing di kepalanya kembali muncul, melainkan karenasosok yang ada di tempat tidurnya.
Jelas, laki-laki yang ia lihat tepat di sebelahnya itubukan suaminya. Ia bahkan tak mengerti apakah sosok itu benar-benar seorang lelaki, manusia, atau bukan.
Ratih merangkak di lantai kamar tidurnya mencoba keluar. Tenggorokannya kering. Tak ada suara yang keluar dari
mulutnya. Maka berteriak meminta tolong akan percuma belaka. Lutut dan segala bagian tubuhnya lemas. Menyeret tubuhnya sama saja membawa beban berat tubuh orang lain.
Tentu saja Ratih merasakan seakan ia sedang membawa beban berat tubuh orang lain, karena memang ada sosok orang lain yang sudah menempel di punggung danmerangkulkan tangan ke lehernya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pak Guru Johan sama sekali tak bisa berkata apa-apa. Ia baru saja merasakan pengalaman terbaik dalam hidupnya, bahkan tak pernah ia dapatkan dengan Ratih selama bertahun-tahun pernikahannya.
Namun,di sisi lain, ia tak tahu lagi bagaimana bersikap pada Kusuma Dewi yang berjalan di sisinya ke arah pulang. Wajah gadis itu bersinar-sinar ceria, tidak hanya menambah kecantikannya yang serupa dewi, namun juga aura keperempuanannya yang terekspos secara gila-gilaan.
Anehnya, Kusuma Dewi tak mengacuhkan Pak Guru Johan, padahal mereka berjalan berduaan. Pak Guru Johan bingung dengan apa yang dirasakan gadis itu. Bukankah mereka baru saja melakukan sebuah tindakan yang luar biasa? Tidakkah mereka bertukar berahi dan kenikmatan tadi? Pak Guru Johan dengan rakus menelusuri dan menyusuri setiap jengkal tubuh moleh Kusuma Dewi. Sepasang dada menggantungnya habis dilahap Pak Guru Johan, membuat pucuk dada Kusua Dewi yang lancip dan merah merekah darah itu basah oleh air liurnya.
Pak Guru Johan tak membutuhkan waktu lama bagi pertanyaan-pertanyaannya itu untuk segera luntur, hilang dan lenyap entah kemana, tepat ketika ia sampai di ruamh. Tepat di depan pintu kamarnya, Pak Guru Johan melihat tubuh istrinya, Ratih, tertelungkup mati dengan darah membanjiri lantai.
Pak Guru Johan berteriak sekuat mungkin sampai seakan nyawa hendak lepas dari tubuhnya. Rasa sesal dan dosa kini menguasainya, menggantikan nafsu berahi yang tadi dengan liar berputaran di perut dan dadanya.
__ADS_1
Kusuma Dewi berdiri di belakang Pak Guru Johan. Wajahnya masih tak bisa menghilangkan goresan senyum kepuasan di sana. Mungkin memang bukan dirinya yang sedang tersenyum.