
Braja Wisesa, Enjang dan Dana berdiri kaku melihat kejadian yang terlalu mengejutkan di depan mereka. Bagiamana tidak, tubuh hancur Gugum dilemparkan dengan mudahnya di hadapan mereka, tercabik-cabik seperti onggokan daging belaka tanpa makna.
"Kanjut!! Pada diem semua!" bentak Braja Wisesa menghancurkan kekakuan. Seruan sang pimpinan menyadarkan dua orang bodyguard-nya. Kedua orang tersebut langsung menghunus golok, pisau komando dan revolver.
Mahluk itu masih disana. Separuh manusia, separuh lagi binatang. Tubuhnya dipenuhi bulu berwarna putih. Khusus di bagian wajahnya, bulu-bulu putih itu dinodai darah Gugum yang tersebar dari mulut sampai rambutnya. Mahluk itu tidak berdiri dengan dua kaki, melainkan empat, termasuk kedua tangannya yang panjang sehingga menyerupai kaki depan, sedangkan kaki belakangnya masih terlihat sekali milik seorang manusia, hanya dengan bentuk yang lebih besar dan lebih kokoh.
Darah ketiga orang yang keluar dari SUV itu serasa membeku. Namun, bahkan tanpa diperintah lagi, adrenalin dan insting pertahannya mendobrak. Enjang melepaskan tembakan membabi buta mengosongkan pistolnya ke arah mahluk yang meraung bagai harimau itu. Keenam mimis timah panas habis ditembakkan. Namun, jari telunjuk Enjang terus menekan pelatuk walau sudah tidak ada mimis dari pistolnya dan tubuhnya sudah terkapar di tengah jalan beraspal. Darah menyembur dari lehernya yang terluka menganga seperti air dari pipa yang bocor. Mahluk itu sebelumnya telah menerjang dengan kecepatan yang tak bisa diukur dan dinalar. Entah mungkin kecepatannya melebihi tembakan Enjang, atau Enjang sendiri tak berhasil mengenai sasaran.
Di sisi lain, Dana sendiri masih sempat membabatkan goloknya sampai tiga kali sebelum tangannya putus terkena cakar si mahluk mengerikan itu. Ia juga terkapar di aspal, berteriak-teriak bagai orang kesurupan. Darahnya terus mengalir tanpa henti selagi ia berguling-guling di tanah. Tak terlihat hasil atau bekas bacokan golok Dana. Apakah serangannya tersebut ada artinya?
Braja Wisesa melihat jelas di depan matanya Dana meregang nyawa sampai kemudian tak bergerak sama sekali. Kemungkinan Dana tewas karena rasa sakit yang tak terperi serta kehabisan darah. Maka, tinggal ia sendiri memandang teror nyata yang berjalan dengan keempat tungkai itu perlahan ke arahnya. Serasa nyawa Braja Wisesa sudah berada di atas permukaan ubun-ubun. Sang mahluk yang kini mulai terlihat lebih jelas karena sorotan lampu jalan ternyata berbentuk layaknya harimau berwarna putih akan tetapi dengan postur yang aneh dimana masih didapatkan bentuk manusianya. Apalagi sosok itu terlihat masih mengenakan celana dan kemeja yang sobek-sobek di berbagai bagian.
Braja Wisesa tak akan melupakan wajah harimau putih jadi-jadian itu. Kedua matanya penuh dendam, mulutnya yang penuh taring, gigi tajam dan darah itu perlahan mengucap sesuatu dengan suara serak dan bercampur sedikit geraman, "Kau masih ingat aku, Om? Aku pastikan kau akan mati pelan-pelan."
Kilatan kenangan berpendar di dalam otak Braja Wisesa. Selama ini ia disadarkan kembali akan kenikmatan atas anak laki-laki muda. Baginya, mereka adalah kegemarannya yang paling utama dan tak bisa disangkal lagi. Bukan sekadar hobi, perilakunya yang satu itu adalah bagian dari hidup dan nafasnya. Ia ingat bahwa tak terhitung berapa kaliia menggoda dan menjebak anak laki-laki berusia di bawah lima belas tahun. Semakin muda anak itu semakin Braja Wisesa senang.
__ADS_1
Kelebatan memori seakan memaksa Braja Wisesa untuk memandang kejadian tersebut dengan lebih baik. Gambaran itu dijejalkan ke dalam otaknya. Bertahun-tahun yang lalu, tiga anak laki-laki berusia sebelas tahun berhasil dibawa Braja Wisesa ke pertokoan dan minimarket. Mereka dibelikan makanan dan minuman serta baju, sebuah senjata yang manjur untuk menarik mangsa untuk melahap umpannya. Braja Wisesa kemudian membawa mereka ke sebuah hotel, untuk istirahat sejenak katanya. Anak-anak seperti apa yang tidak suka dengan kemewahan semacam ini. Apalagi bila yang diajak adalah anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan yang tidak pernah melihat dan menyentuh kasur empuk sebuah hotel dengan pendingin ruangan yang membuat mereka meringkuk membeku tetapi girang.
Tak lama, nyatanya ketiga anak laki-laki itu berhasil dibius dan dibawa ke rumah pribadinya. Selama lebih dari sebulan Braja Wisesa melakukan kekerasan seksual kepada mereka. Ia tidak hanya melecehkan dan merudapaksa ketiga anak laki-laki itu, Braja Wisesa juga memukuli mereka bila mereka tidak melakukan hal yang ia perintahkan. Ia masih ingat rasa nikmat yang mengalir di nadi, di permukaan bibirnya, di telapak tangannya dan di pangkal kedua pahanya.
Ketika ******* dari kekerasan yang dilakukannya semakin meningkat dan sampai pada puncaknya, dua orang anak akhirnya tewas karenatak mampu lagi menghadapi dan menerima segala bentuk kekejian diluar nalar manusia normal.
Hanya ada satu orang anak yang berhasil melarikan diri dengan berpura-pura bersedia menurut dan menjadi 'kekasih' sang om. Dengan berat hati, melihat kedua temannya sekarat, ia mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi makanan nafsu syahwat bejat Braja Wisesa. Anak yang pemberani ini meminta untuk dibawa ke kamar tidur Braja Wisesa agar dapat beristirahat yang nyaman, bukannya di gudang atau ruang rahasia ini. Ia meminta untuk diistimewakan bila memang Braja Wisesa ingin menikmatinya dengan baik.
Braja Wisesa mengenang dalam satu kesempatan, anak laki-laki itu kabur meloncat dari jendela di malam hari dan berhasil menjauh ke dalam hutan sebelum semua orang di rumah Braja Wisesa sadar bahwa anak itu telah pergi.
Si harimau putih jadi-jadian menepati janjinya. Braja Wisesa yang dipanggilnya 'Om' harus berteriak-teriak bagai orang gila ketika tubuhnya dicabik-cabik dan wajahnya dikunyah sampai tak berbentuk lagi. Ia ditinggalkan dalam keadaan sekarat ketika mobil-mobil berhenti untuk melihat keadaan ini. Tak lama ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Siluman harimau putih yang sejatinya adalah Anggalarang itu perlahan merasakan mahluk di dalam dirinya tertawa puas. Anggalarang menyaksikan dengan mata harimaunya, mayat-mayat bergelimpangan dengan keadaan tak utuh lagi, tercabik-cabik dan terkoyak-koyak bagai lembaran daging yang tak berguna. Darah menghiasi jalanan dan terciprat ke segara arah. Kegelapan malam tak dapat menyembunyikan bau amis darah bagai karat yang mengambang di udara.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Anggalarang pada mahluk yang berdiam di dalam tubuhnya dan telah mengambil alih fungsi dan kesadarannya tersebut.
__ADS_1
Bertentangan dengan rasa terkejut dan syoknya, tawa malah terdengar dari mulut Anggalarang sendiri, "Bukankah kau sendiri yang melakukannya? Tidak ada kita, aku juga tidak ada. Aku adalah kau. Jangan cari pembenaran. Sudah lama kau membiarkan aku untuk mengambil alih tubuhmu. Aku harap kau tidak lupa itu, Anggalarang. Lagipula kau menikmatinya, bukan?" suara itu keluar dari mulutnya.
“Kau membunuh orang!” jerit Anggalarang.
“Kau membunuh orang!” balas sang harimau berseru mengejek dengan meniru kata-kata Anggalarang.
“Kau membunuh orang lagi!” teriak Anggalarang lebih kuat penuh kekesalan.
“Kau membunuh orang lagi!” ejek sang siluman harimau putih. “Kau yang membunuh orang lagi, Anggalarang! Cakar itu adalah cakarmu. Taring itu adalah taringmu.” Kali ini sang harimau menambahkan kata-kata lagi, menekankan bahwa apa yang sudah terjadi tadi sebenarnya akibat kemauan Anggalarang sendiri. “Jangan cengeng, Anggalarang. Sudah bertahun-tahun kau menginginkan ini terjadi. Sudah terlalu lama kau menderita dan dibentuk oleh gumpalan dendam yang ingin meletus bagai bisul. Sekarang, bisul itu telah pecah. Kau harusnya lega,” lanjut sang harimau. “Kau harusnya berterimakasih denganku karena mengunyah wajah Braja Wisesa!”
Anggalarang hendak memprotes ketika secara alamiah tubuhnya yang masih dalam bentuk harimau jadi-jadian itu menegang. Bulu-bulu putih di tengkuk dan wajahnya berdiri meremang. Mendadak ada suara lain di dalam kepalanya yang hadir mendesak masuk selain suara sang mahluk harimau putih. Bahkan sang mahluk harimau putih yang sedari tadi terkekeh mengejek kini mendadak diam tidak bisa berkata apa-apa, ikut memerhatikan dengan seksama. Dalam detik-detik aneh itu, baik Anggalarang maupun sang harimau putih tak lagi melanjutkan perdebatan mereka.
Suara gaib itu itu begitu kuat dan memaksa sehingga Anggalarang serasa terkunci. Suara itu bagai suar yang berkedip dan memanggil-manggilnya. Tidak hanya secara fisik, bahkan hati dan pikiran Anggalarang seakan merasakan bahwa suara yang menyihir itu adalah sebuah undangan yang wajib untuk diterima.
Anggalarang sebagai seekor siluman harimau putih mengendus-endus udara dan seketika itu juga melonjakkan tubuh silumannya meninggalkan area itu untuk pergi berlari ke arah timur. Satu kata kunci yang ia dengar berulang-ulang mengisi rongga kepalanya adalah 'Obong'. Tubuhnya mencelat cepat, berlari dengan empat kaki menyelip diantara gelapnya malam.
__ADS_1