Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Duapuluh Delapan


__ADS_3

"Pakde Narto!" teriak Irawan ketika melihat sosok yang mendekat ke arahnya yang berlari kepayahan. Pakde Narto langsung disambut oleh beberapa laki-laki yang menjaga jalan itu bersama Irawan.


"Bagaimana penduduk desa?" Tanya Pakde Narto sesegera mungkin sambil menancapkan pedang Inggrisnya ke tanah.


"Pakde, semua warga sebisa mungkin sudah meninggalkan desa. Kami di sini mencoba menghambat mayat-mayat hidup itu supaya warga paling tidak bisa sampai ke Pancasona. Lutfi ikut dengan mereka, menjaga rombongan bersama beberapa pemuda," jawab Irawan.


Pakde Narto mengangguk dan bernafas lega. Ia menatap tajam mata Irawan dan melihat ke arah samping kepalanya, "Telingamu?"


"Ah, tidak masalah, pakde. Yang penting penduduk aman dan bisa segera mencari bantuan serta perlindungan," ujarnya. "Pakde," panggil Irawan tiba-tiba. "Maaf, tapi bagaimana dengan Marwan?" tanyanya pelan.


"Beri aku kesempatan duduk," Pakde Narto langsung duduk di tanah bersender pada gerobak pedati yang digunakan sebagai benteng.


"Handoko menjadi mayat hidup, aku juga tak bisa menyelamatkan Marwan. Aku duga ia juga sudah dibangkitkan kembali oleh perempuan sialan itu. Mereka sedang kemari berbondong-bondong. Kita mungkin hanya memiliki waktu kurang dari lima belas menit sebelum mereka sampai ke tempat ini."


Irawan menarik nafas, begitu juga rekan-rekannya yang lain, namun tetap membiarkan Pakde Narto istirahat sejenak. Semalaman mereka sudah mendapatkan perintah dari tetua dan tokoh-tokoh desa untuk mengungsikan para penduduk. Irawan sendiri bertekad untuk tetap tinggal di batas desa untuk menahan laju para mayat hidup itu. Kekuatan dan keberanian muncul secara ajaib dalan diri Irawan. Ini pula yang menyebabkan beberapa warga lain terdorong untuk ikut serta bersama Irawan. Sebenarnya hampir semua penduduk laki-laki ingin ikut serta turun berjuang bersama Irawan, tapi Irawan dan Lutfi sepakat berbagi tugas demi keamanan warga.


Pakde Narto memperhatikan Irawan kemudian tersenyum, "Aku bangga melihatmu," ujarnya.


Irawan pun ikut tersenyum, "Jangan khawatir, pakde. Istri-istri pakde sudah ikut rombongan.


Pakde Narto mengangguk, "Aku sudah tahu dari awal kalian pasti berhasil. Tinggal kita yang nampaknya perlu berkorban sekali lagi. Aku pikir kamu sudah siap dengan ini kan, Irawan?"


Irawan menatap Pakde Narto dan sekelilingnya, ke rekan-rekannya yang mengangguk mantap hampir secara bersamaan.

__ADS_1


Sarti mendengar jelas percakapan mereka dari atas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Irawan sudah sedikit lebih bisa mengatur serangannya. Setiap tebasan parangnya diusahakan sebaik mungkin tidak sia-sia selain mengarah ke leher mayat-mayat hidup yang terus berdatangan. Ia juga dengan sangat terpaksa memotong leher Marwan yang menyerangnya dengan tubuh yang setengah hancur. Namun, mereka sudah kehilangan dua warga yang keteteran diserang habis-habisan. Dua warga yang tadinya berjaga dengan mereka ini juga akhirnya bangkit menjadi mayat hidup yang menyerang mereka.


"Irawan, aku sudah terluka. Entah mungkin tercakar atau tergigit. Aku tidak mau menjadi seperti mereka. Bunuh aku segera," ujar Paimin kepada Irawan ketika mendapati dirinya terluka.


Irawan memukul kepala teman satu desanya itu yang juga ikut menjadi murid silat perguruan yang dilatih Pakde Narto, "Bukan begitu cara kerjanya. Kau pikir mereka zombie? Kau tak akan berubah menjadi mayat hidup sebelum kau mati. Jadi, angkat kudhimu lagi, habisi mereka!"


Paimin menunjukkan wajah lega dan paham. Mukanya menjadi kembali bersemangat dan berteriak keras kembali menyerang membabatkan kudhinya. Namun begitu terlihat sekali mereka sudah kepayahan. Pakde Narto sudah sampai pada batasnya ketika brajamustinya sudah mulai kehilangan sengatan karena tubuhnya sudah hampir menyerah.


Angin yang berhembus mendadak menjadi panas membakar. Peluh para pejuang ini semakin mengalir deras. Pakde Narto dan Irawan sadar bahwa sudah saatnya yang mereka tunggu-tunggu datang. Sosok perempuan paruh baya dengan rambut panjang terurai, dada telanjang dan kain panjang menyapu tanah berjalan perlahan. Segala hal menakutkan dan mengerikan menempel pada tubuhnya.


Saat itulah sang ratu iblis membuka mulut, "Sudah cukup kalian bermain-main."


Awan berangsur menggelap menutupi sinar matahari. Sang perempuan iblis mengangkat kedua tangannya, menyebabkan angin kencang yang membakar. Pakde Narto, Irawan, Paimin dan yang lainnya jatuh berlutut. Dari tanah muncul akar-akar yang membelit kaki mereka. Semuanya panik dan membabatkan senjata mereka untuk melepaskan diri, sedangkan sang kegelapan perlahan terus mendekati mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti melayang turun. Celuritnya menebasi kepala para mayat seperti memapras rerumputan saja. Gerakannya hanya terlihat bagai kelebatan sinar berwarna merah. Sarti bahkan sempat membabat akar-akar dari bawah tanah yang mengikat kaki-kaki warga yang berjuang melawan mayat-mayat hidup itu dan membebaskan mereka.


Pakde Narto yang memiliki dasar bela diri silat yang lumayan mumpuni dapat sedikit melihat gerakan Sarti, meski tidak begitu dengan rekan atau anak buahnya yang lain. Mereka hanya dapat melihat mayat-mayat hidup jatuh berguguran dengan kepala lepas dari tubuhnya dan sesosok tubuh berbaju merah dan bertopeng panji dengan sekejap sudah berdiri di depan mereka.

__ADS_1


"Sartiii ...," suara sang perempuan iblis menggema.


Kedua mata Sarti membelalak di balik topeng panjinya. Bagaimana mahluk ini dapat mengetahui siapa dirinya?


"Senang melihatmu sehat selalu, anakku. Apa kau belum lelah menghadapi Zaman demi Zaman? Tidakkan perubahan di setiap masa membuat kau selalu kebingungan dan bosan?" lanjut sang perempuan.


Andai ia tak bersembunyi dibalik baju merah dan topeng misterius ini, sudah jelas akan terlihat bahwa tubuhnya bergetar dan wajahnya menegang. Sampai saat ini sejauh ia pahami, tak ada seorangpun yang tahu siapa ia sebenarnya dan bagaimana kehidupannya. Tapi perempuan mengerikan dengan aura gaib dan jahat ini hanya sedikit berbicara namun merasuk ke dalam jiwanya, membuatnya serasa membeku walau udara sangat panas.


"Aku bisa mengabulkan apapun keinginanmu, Sarti. Bukankah kau tak ingin kembali hidup dan mengulang dari awal dengan tugas-tugas baru? Aku bisa selesaikan sekarang sehingga kau tak perlu kembali bangun dari kuburan dengan telanjang," sang iblis terkikik.


"Hei, aku tak tahu kau siapa. Tapi jangan dengar apa omongannya. Iblis itu tahu bagaimana cara menggoda seseorang," ujar Pakde Narto melihat si sosok sakti yang datang secara misterius dan membantu mereka kini sedang terdiam.


Sarti tersentak, kemudian memalingkan wajah bertopengnya ke arah orang yang berbicara kepadanya. Katanya, "Kau pikir aku tidak tahu itu?" Pandangan Sarti kemudian menubruk pada pedang Inggris Pakde Narto yang tertancap di tanah. Ia menarik nafas, tersenyum dan bergumam, "Takdir memang sudah digariskan."


Sarti kembali memandang Pakde Narto kemudian berkata keras-keras, "Pasti kau yang memiliki pedang itu. Aku yang membunuh tentara Sepoy si pemilik asli pedang itu. Suruh anak buahmu pergi meninggalkan tempat ini untuk bergabung dengan rombongan warga yang mengungsi. Gunakan pedang dan brajamustimu untuk bertarung melawan iblis betina dan rombongannya. Kalau kau masih hidup, aku akan ceritakan sampai habis soal sejarah pedang itu."


Kini Pakde Narto yang tersentak kaget dan heran, akan tetapi hanya sejemak.


Ia kemudian memandang Irawan, Paimin dan rekan-rekannya, "Kita sudah kehilangan dua orang. Aku tak mau kehilangan warga lagi. Kalian dengar kata orang itu. Susul secepatnya rombongan warga dan bantu lindungi mereka."


"Tapi, pakde ...," Irawan hendak protes. Tapi Pakde Narto sudah mengangkat tangannya yang kini telah menggenggam pedang Inggris yang semula tertancap di tanah.


"Jangan khawatir. Kau lihat ada sosok sakti ini, bukan? Ini bukan pertarungan kalian. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, aku bangga. Ini perintah terakhirku, pergi!"

__ADS_1


Irawan tak lagi protes. Ia memberi tanda kepada yang lain untuk segera minggat dari tempat itu. Pakde Narto menarik nafas panjang kembali. Hari ini nampaknya tak mau berakhir dengan cepat. Ia membentuk kuda-kuda siap tarung walau tubuhnya sudah hampir menyerah. Ketika sang perempuan iblis melayang terbang dan siap menyerang mereka, saat itu pulalah sang Maung muncul dari balik rerimbunan pepohonan kebun dan ikut masuk ke dalam pertempuran.


__ADS_2