
Desakan warga kompleks serta istri-istri mereka yang memiliki keingintahuan besar itu membuat para suami itu sekarang berada di dalam satu mobil keluar dari kompleks dengan diiringi para warga yang berselimutkan sarung, jaket atau selimut itu sendiri yang berbondong-bondong berada di luar rumah.
Mereka sama sekali tak tahu siapa atau apa yang sedang menunggu mereka di luar sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Soelastri
Namanya Soelastri.
Dia memiliki alasan yang aneh mengapa ia kerap mengenakan jins belel dan jaket *hoodie *yang kebesaran walau ketika udara sedang panas memanggang sekalipun.
"Kalau aku mati dan jadi hantu nanti, aku mau jadi kuntilanak yang keren, bukan yang berdaster putih," ujarnya singkat.
Padahal rupa Soelastri terbilang cantik, sangat cantik malahan, ujar pemuda-pemuda kampung. Yudi, seorang anak laki-laki tanggung yang baru mengenal dan mencoba akrab dengan berahi itu berkali-kali menjadi saksi kemolekan tubuh sang gadis yang berusia lebih tua itu ketika berkemben mandi di sungai. Air melengketkan jarit ke tubuh Soelastri, mengikuti bentuk lekukan tubuh gadis itu.
Yudi, anak kelas satu Sekolah Menengah Pertama, pertama kali juga merasakan detak jantung yang berpacu menekan darahnya sampai ke otak. Kulit telanjang yang basah oleh air, tubuh gadis yang sudah terbentuk sempurna itu membuatnya menelan ludah terus.
Banyak laki-laki Kampung Pendekar menyesalkan gaya berpakaian dan perilaku Soelastri. Padahal dengan sedikit polesan, atau berbusana perempuan yang biasa-biasa saja, kecantikannya itu akan menyihir pemuda manapun di kampung ini.
__ADS_1
"Sudah kubilang, aku mau jadi hantu yang tak berpakaian putih. Kau bisa bayangkan kalau bertemu hantu dengan gaya seperti ini, kau tak akan takut denganku, bukan?" ujar Soelastri suatu waktu kepada salah satu teman perempuannya yang tak banyak itu. Entah ia bercanda, entah tidak, namun jelas ucapannya itu mewakili segala tindak tanduknya yang tak kalah aneh.
Egoisme laki-laki memang tak lekang oleh waktu dan terus menempel di dalam darah dan daging mereka. Lelaki Kampung Pendekar boleh bangga dengan kekasaran dan keurakan mereka. Sah-sah saja mereka memuja kekurangajaran dan kesemena-menaan mereka sebagai bentuk citra kejantanan dan kehebatan. Akan tetapi, untuk urusan pasangan kekasih atau istri, tetap pujaan mereka adalah perempuan sempurna dengan penggambaran yang tipikal: cantik, berkulit putih dan halus, berambut panjang lurus hitam mengkilat, berjalan pelan tertawa renyah serta berkata-kata sopan.
"Bahkan seorang preman pun tetap menginginkan istri yang manis dan lembut," ujar salah satu penjahat kelas teri produk Kampung Pendekar yang berkarir khusus di bidang curanmor, alias pencurian sepeda motor. Ucapannya langsung diiyakan dan diaminkan oleh rekan-rekan pemuda sekampung dan seprofesi.
Padahal, apa hak para penjahat ini memiliki gadis manis baik dan bersahaja? Dimana letak kepantasan mereka?
Maka dari itu, sekali lagi, kebiasaan Soelastri yang kerap ikut nongkrong di tengah malam sembari menenggak alkohol yang mengalir keluar dari botol-botol beling hijau itu malah disayangkan dan merupakan tindakan yang tak terpuji. Para pemuda hilang minat terhadap Soelastri bagai lilin yang meleleh terkena api.
Hanya Yudi yang memerhatikan bahwa kulit putih Soelastri sangat memesona, merata tanpa cela. Ia tak bisa membayangkan bagaimana gambaran utuh tubuh polos Soelastri di balik kain kemben itu. Pikiran mudanya berlari-lari liar, nakal namun tersesat karena belum sekalipun pernah mengalami apalagi melihat hal yang membuatnya terpana tanpa alasan tersebut.
Tapi itu semua dahulu, tujuh tahun lalu ketika Yudi masih begitu hijau. Yudi sendiri sekarang telah menjadi pemuda yang dewasa, sempat mati dan bangkit kembali. Ia tak terlalu ingat mengenai Soelastri, selain tujuh tahun yang lalu, gadis yang membangunkan berahi pertamanya itu mati bunuh diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pak Jerry menyetir mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia bukan jenis laki-laki yang peduli dengan keadaan sekitar. Ia lebih memilih menjadi sang cuek dan melihat bumi berputar secara alami. Ia bahkan lebih memilih melihat bumi berputar dibanding berada di dalamnya.
Berbeda dengan Pak Norman yang memelihara jenggot dan kumis tebal agar mendukung tubuh berotot yang dibentuk di gym itu. Ia jenis laki-laki yang merasa laki-laki, dimana keberanian harus ditunjukkan dengan cara mencari masalah untuk diselesaikan. Maka bila tak ada masalah yang benar-benar terjadi, ia akan membuatnya.
__ADS_1
Kata-kata 'turun tangan' dan 'mencari solusi' adalah andalannya setiap ada sejenis masalah muncul. Di kompleks perumahanya, ia yang selalu unjuk diri ketika ada kucing peliharaan tetangga yang hilang atau terjadi pertengkaran - sekecil apapun.
Maka menjadi mengherankan ketika Pak Norman lah yang pertama menciut nyalinya bagai kucing terendam di air ketika melihat sosok perempuan berwajah pucat di balik untaian rambut acak-acakan yang tengah merangkak di tengah jalan tepat di depan mobil sedan tua yang dikendarai Pak Jerry.
Setya, suami baru yang juga baru lulus pendidikan S2 di bidang Hukumnya itu yang paling terlihat berani.
Dari awal ia bukan jenis laki-laki berpikiran lawas. Paling tidak itu anggapannya pada dirinya sendiri. Ia memuja ilmu pengetahuan, teknologi dan logika, membuatnya menjadi seorang agnostik dan skeptik.
Bukan perkara sulit untuk melihat sosok merangkak di tengah jalan sesubuh ini adalah sebagai bentuk kelakar atau lelucon yang keterlaluan, alias prank. Atau yang lebih bahaya, ini hanyalah tipu-tipu warga Kampung Pendekar yang memang hampir semuanya bekerja sebagai pemalak, penipu, perampok, penjual narkoba dan pekerjaan kejahatan nan haram lainnya.
"Padahal orang-orang Kampung Pendekar tak pernah mengganggu orang-orang kompleks kita selama ini. Mereka malah menjadi semacam pelindung ketika warga kompleks ada masalah. Saya akan mencoba bicara dengan orang itu, bapak-bapak," ujar Setya sembari membuka pintu.
Ia dicegah serentak oleh Pak Jerry dan Pak Norman. "Itu ... Itu ... Kuntilanak, mas Setya," ujar Pak Norman berbisik. Suaranya bahkan hampir tak terdengar saking begitu rendahnya.
Setya geli sendiri mendengarnya, apalagi melihat tubuh besar Pak Norman yang kisut oleh rasa takut yang berlebihan tersebut.
Setya menahan tawanya setengah mati. Ia mencari-cari sesuatu di dalam mobil dan menemukan sepotong kunci stir mobil. Ia mengambil besi kuning merah itu dan menimbang-nimbangnya di kedua tangannya secara bergantian. "Nah, bapak-bapak tak perlu khawatir. Saya pinjam ini, Pak Jerry. Kalau perempuan itu memang kuntilanak, ia tak akan terpengaruh. Dia ‘kan mahluk halus," ujar Setya sembari tersenyum lebar. "Tapi, bila dia manusia, saya pikir dia tahu kalau kita tidak takut."
Setya keluar dari mobil tanpa bisa dicegah lagi. Ia menggelengkan kepala geli melihat respon kedua bapak-bapak di dalam mobil dan berjalan mendekati mahluk tersebut. Ia juga menganggap konyol tentang gambaran hantu perempuan yang menakuti manusia dengan kemunculannya yang selalu ... Selalu mengenakan pakaian berwarna putih.
__ADS_1