
Girinata tak pernah gagal terpesona oleh keindahan lekuk tubuh Marni. Belum berapa lama mereka memadu kasih dengan liar. Andaikata tak sedang dalam keadaan genting seperti ini, ia akan kembali menyeret tubuh bugil Marni ke ranjang dan kembali berbagi hasrat dengan istrinya tersebut. Hanya saja, keadaan ini secara ironis berkebalikan dengan apa yang seharusnya mereka lakukan.
"Aku sadar siapa aku, pak," ujar Marni lirih.
Dada Girinata sontak terasa digodam. Ia menyesal membentak Marni dengan kata-kata yang menyakitkan sebelumnya tadi. Ia pun tak habis pikir mengapa bisa sampai sebegitu galaknya dengan Marni.
"Cepat, lakukan, Pak. Kita harus melenyapkan anak muda itu. Hanya aku yang bisa melawan arwah lain. Kita juga tak tahu apakah Soemantri masih menggunakan ilmu Lembu Sekilan nya. Bila masih, kau tetap tak akan mampu melukainya, Pak. Sedangkan ilmu gaibmu belum bisa diamalkan secara sempurna," ujar Marni kini sedikit lebih bersemangat untuk meyakinkan kepada suaminya agar kembali menggunakannya sebagai senjata melawan Soemantri Soekrasana.
Girinata mendekat ke arah Marni. Ia mencium kening sang istri. “Aku minta maaf, Bu,” ujarnya kemudian sembari merapal mantra, meraba puncak kepala istrinya dan mencabut paku logam dari sana dengan beragam bentuk dan jenis perasaan berkecamuk dan saling bertubrukan.
Asap tebal kembali berebutan mencuat keluar dari tubuh fana Marni untuk mengubahnya menjadi tubuh gaib sundel bolong. Teriakan memilukan terdengar dari mulut Marni yang bedanyakali ini, teriakkannya disahuti oleh lengkingan yang tak kalah menakutkan dan memedihkan keluar dari mulut menganga Chandranaya si kuntilanak merah.
Kemunculan sundel bolong Marni mengancam Chandranaya. Sosok mengerikan yang mengoyak tubuh basyar Marni itu jelas-jelas ingin menyerang tidak hanya Soemantri Soekrasana, namun juga dirinya dengan bantuan mantra dan ilmu gaib pengatur oleh Girinata.
Kepulan asap tebal bergulung-gulung bagai kawanan domba yang melingkupi tubuh Marni menghilang di sela-sela garis-garis sinar terang lampu rumah Pak Guru Johan dan untaian kabut, menyisakan sosok yang sama sekali berbeda: berambut bergerombol membumbung dan mengambang panjang, wajah pucat mati, mata melotot penuh dendam dan amarah serta kuku-kuku mencuat hitam kelam panjang lancip di kesepuluh jarinya.
Marni yang sekali lagi berubah menjadi sundel bolong itu meluncur terbang ke atas atap.
__ADS_1
Sosok Chandranaya memecah. Seakan setiap partikel tubuhnya meregang jarang. Tubuhnya bergetar pula, membuat darah yang mengalir dari kedua mata dan ujung-ujung bibirnya terpercik ke segala arah.
Si kuntilanak merah membuka mulut lebar dan terkikik, seakan kedua hal itu tak saling sinkron, seakan kikikannya bekerja sendiri, bukan dari mulutnya yang terbuka lebar karena seyogyanya rahang yang membuka selebar itu menghasilkan teriakan, bukan kikikan.
Kabut terpecah ketika panas mengalir dari retakan udara. Chandranaya melontarkan hawa panas itu dari partikel tubuh astralnya melalui benci, kesedihan, amarah, kesengsaraan, dendam dan penderitaan. Ledakan teriakan kembali menggema. Bahkan kali ini Soemantri Soekrasana sekalipun menutup kedua telinganya.
Segala arwah yang berputar-putar berjubel di lapisan dimensi dan dunia itu bergetar dan padam menyala. Mereka terlontar kesana kemari oleh kekuatan daya, energi, tenaga, forsa atau dorongan magis tersebut. Tak terkecuali sang sundel bolong di atas atap genting rumah Pak Guru Johan yang terbelalak marah sekaligus terganggu.
Dengan memandang tajam penuh gejolak angkara murka, Marni terbang meluncur ke arah Chandranaya. Kedua lengannya terentang ke depan dengan cakar hitam segelap kematian menjulur. Tubuhnya yang dibalut busana panjang serupa jubah berwarna putih kumal berkelebat.
Tubuh si sundel bolong jatuh menggelepar ke tanah. Girinata melihat sosok sundel bolong yang berdebum ke bumi itu beralih rupa menjadi tubuh bugil, kuning langsat nan molek istrinya, Marni.
Itulah pemandangan terakhir bentuk tubuh manusia perempuan muda berlekuk indah dengan ujung pucuk dada merah merekah darah istrinya yang terakhir kali Girinata lihat. Marni memandang ke arahnya dengan sepasang mata sayu penuh kesedihan sebelum tatapannya dirampas kembali oleh pelototan dan kantung mata sehitam jelaga. Marni berubah menjadi sundel bolong lagi, akan tetapi kali ini untuk selamanya.
Chandranaya mengalahkan sundel bolong itu dalam sekali hentak. Sundel bolong yang hilang sama sekali kemanusiaannya itu sekarang beralih meluncur ke arah Girinata, menembus masuk merasuk ke dalam tubuh dan jiwa Girinata.
"Maafkan aku, bune. Maafkan aku ...," ujar Girinata sebelum tenggorokannya tersedak, karena tidak hanya Marni si sundel bolong yang bersarang di tubuhnya, namun juga wewe gombel yang membuka paksa mulut Girinata dan masuk melalui rongga itu. Tak lama genderuwo yang jangkung melompat ke ubun-ubunnya dan melesak ke dalam dari situ.
__ADS_1
Debumam tenaga sang Chandranaya bagai perintah serigala alfa kepada kelompoknya. Arwah simbah Dasimah, sang ibu, muncul membungkuk dan memegang erat kedua kaki anak laki-lakinya. Kinanti, si kuntilanak, putri tumbal kesaktian ilmu Girinata menempel di punggung sang bapak. Beragam mahluk gaib yang semula mengintip dan bersembunyi dari tirai-tirai dunia lain berlompatan liar keluar.
Siluman berbentuk anjing dan ular. Hantu-hantu berkepala buaya atau tak berkepala, berborok nanah, luka bakar dan terpincang-pincang tak memiliki anggota tubuh lengkap bergegas masuk bergerombol ke dalam tubuh Girinata yang kejang-kejang dan bola matanya berputar terbalik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tubuh Wardhani yang melayang ringan di udara turun cepat menghempas ke bumi. Kedua kakinya menghajar tanah di depan rumah Pak Guru Johan dengan keras, melemparkan cungkilan tanah, debu dan pasir.
Sepasang matanya yang berbulu lentik indah bagai dipaksa oleh semsta diedarkan ke segala penjuru. Ia tak melihat apa-apa selain jambangan yang rusak, termasuk bebungaan dan tanaman koleksi istri Pak Guru Johan.
Segenap pori-pori dan permukaan kulitnya dapat merasakan residual astral dan supranatural yang beterbangan di tempat ini bagai butir-butir atom. Namun, mata telanjang maupun gaibnya tak dapat melihat apapun. Tak ada tuyul, kuntilanak, genderuwo, wewe gombel, siluman bahkan sekadar arwah penasaran apapun yang bersembunyi di balik dinding dimensi dunia lain. Padahal ia jelas-jelas merasakan ledakan, dentuman, letusan, serta letupan daya magis berasal dari titik ini, bahkan dari jauh. Beberapa waktu yang lalu sudah bisa dipastikan adanya kekacauan di tempat ini yang melibatkan kedua orang tuanya.
Wardhani mendapatkan lemparan energi gaib yang muncul dari sosok gaib sang ibu. Semua berasal dari tempat ini.
Ada sesuatu yang tak beres. Ia dapat memgendusnya, namun masih tak mendapatkan jawaban pastinya.
Tungkai kaki rampingnya berjalan membawa tubuhnya sampai ia berhenti di depan sebilah keris yang tergeletak di satu sudut. Sepasang dada mungil nan kencang yang ditutupi sehelai kain kafan apa adanya itu bergerak-gerak cepat kemudian membusung. "Dimana kau, Pak?" ujarnya lirih dan cemas kepada diri sendiri.
__ADS_1