
Wong Ayu menatap Soemantri Soekrasana, kemudian tersenyum. "Aku tak ingin melarangmu memanggilku dengan 'mbak'. Hanya saja jujur aku sedikit kurang nyaman. Bagaimana kalau kau ganti dengan 'Yu'. Anggap saja itu adalah bagian dari namaku, yaitu Ayu. Selain itu, di saat yang sama kau masih bisa memanggilku dengan sebutan yang serupa dengan mbak, yaitu Yu dari Mbakyu."
Soemantri Soekrasana terkekeh. "Baiklah, sebuah keputusan yang tepat, Yu."
Keduanya tertawa. Kemudian hening sejenak.
"Kau hebat, bisa menembus dunia itu, Soemantri. Bahkan aku perlu mengalami segala kesedihan dan kebencian selama ini agar bisa dicapai oleh kekuatan dari alam lain," lanjut Wong Ayu.
"Kau sadar, bahwa kau melihatku dalam keadaan bugil, tanpa busana?" kata Wong Ayu tiba-tiba. Wajahnya menunduk, sepasang matanya menatap larutan hitam kopi.
Soemantri Soekrasana kegelagapan mendengarkan pertanyaan Wong Ayu ini.
"Tunggu, tunggu, Yu. Bukan seperti itu. Maksud Yu, adalah ketika kita berada di dalam danau darah itu bukan?"
Soemantri Soekrasana menegakkan tubuhnya. "Jadi, tubuh kita yang di dunia lain itu adalah citra dari tubuh kita yang ada di dunia. Walau serupa, namun keduanya adalah tubuh yang berbeda. Sewaktu kita berada di dalam dunia lain itu, tubuh jasmani kita tidak berada di sana. Istilahnya hanya salinan dari raga kita."
"Aku tahu. Tapi sama saja ‘kan ada dasarnya. Tubuhku yang kau lihat tak berbusana di dunia iblis itu adalah bentuk tubuh asliku juga, bukan?"
Soemantri Soekrasana kehilangan kata-kata. Saat itu, tak terlintas sama sekali pikiran itu. Namun sekarang, ketika Wong Ayu mengungkitnya, tak pelak pikiran laki-laki normal Soemantri Soekrasana meraba-raba keindahan tubuh Wong Ayu.
Ia segera menepis pikiran itu.
"lalu, bagaimana pendapatmu mengenai tubuhku?" tanya Wong Ayu kemudian, dengan gaya nakalnya.
Soemantri Soekrasana terbelalak dan lidahnya kelu.
Namun, Wong Ayu terbahak. "Aku bercanda, Soemantri. Kalau kau merupakan sejenis laki-laki cabul seperti korban-korbanku, kau tak akan selamat sehari pun," ujar Wong Ayu. Kali ini dengan tatapan bernada ancaman kepada Soemantri Soekrasana.
__ADS_1
Kali ini, Soemantri Soekrasana tak dapat memutuskan apakah Wong Ayu bercanda atau tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarti berbaring di sofa. Tubuh rampingnya tenggelam di dalam nyamannya bantalan empuk sofa apartemen Anggalarang tersebut.
Satria Piningit memandang sosok perempuan yang berusia ratusan tahun itu. Ia masih tak percaya bahwa ia melihat sosok Ratna Manggali, putri tokoh legendaris yang dihormati di pulau Jawa dan Bali, sang Calonarang.
Di matanya, Sarti terlihat seperti seorang perempuan biasa yang cantik. Terbaring bagai seorang wanita lemah, padahal sosok itu hanya seekor macan yang tertidur.
Anggalarang lain lagi. Ia juga terlihat sangat lelah. Ia juga memutuskan untuk tidur di kamarnya, setelah membereskan beberapa hal dahulu, termasuk lemari pakaian yang sempat berantakan karena Soemantri Soekrasana sungguhan mengambil pakaian dari sana.
Satria Piningit tersenyum, jangan-jangan Anggalarang memang seorang penderita OCD seperti yang dikatakan Soemantri Soekrasana, batinnya.
Ia sendiri masih kebingungan untuk melakukan apa. Keempat orang ini telah memutuskan untuk menunda pembahasan mengenai rencana apa yang akan mereka lakukan setelah ini nanti, ketika mereka telah selesai mandi, beristirahat, makan, minum atau melakukan apapun yang mereka inginkan terlebih dahulu.
Hanya saja sekarang ia merasa aneh linglung. Apa yang harus dilakukannya. Dan yang utama, mengapa ia harus kembali kesini?
Soemantri Soekrasana mungkin ada benarnya. Apa yang mau ia cari lagi? Bukankah kehadiran Priyam juga mengganggu hidupnya. Kedua anak kembarnya kerap ketakutan. Istrinya juga sering gelisah tanpa tahu apa penyebabnya. Ia sendiri tak merasa punya kewajiban untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Priyam ketika hantu itu menghilang.
Tapi, dengan argumen yang sama dengan keempat anggota Catur Angkara, ia juga ditarik oleh kekuatan misterius untuk hadir kesini dan mungkin, bertemu dengan mereka.
Satria Piningit menarik nafas panjang. Ia keluar ruangan apartemen Anggalarang itu lagi.
Sarti mengekori kepergian Satria Piningit dengan salah satu matanya.
Sarti juga melihat ada sosok gaib yang menempel di punggung Satria Piningit. Ia tak bisa melihat jelas. Urusan semacam ini adalah pekerjaan Soemantri Soekrasana dan Wong Ayu.
__ADS_1
Tapi ia tahu pasti bahwa sosok itu bukan entitas yang baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satria Piningit berjalan ke sebuah lorong di antara bangunan-bangunan besar pertokoan. Ia serasa tersedot ke dalam sebuah dimensi yang sangat berbeda.
Lorong itu tidak gelap dan sama sekali tidak terkesan kumuh. Bahkan ada sebuah toko yang menjual alat-alat kelistrikan serta dua toko kelontong dengan penerangan yang baik. Hanya suasana lah yang membuatnya begitu berbeda.
Satria Piningit tak merokok, tapi ia kerap undur diri dari dunia dan mencari tempat tenang seperti ini. Dahulu, ia akan melihat Priyam dalam wujud aslinya berdiri di satu sudut paling gelap. Ia tak menyapanya, tak satupun dari mereka akan berbicara dan berbagi kata. Keduanya hanya terdiam sepuluh menit sampai sosok anak laki-laki itu menghilang perlahan di depan mata Satria Piningit.
Kali ini ia tak berharap Priyam muncul, karena memang Priyam tak dapat muncul sejak hilangnya ia secara misterius beberapa waktu yang lalu.
Ia ke sudut lorong ini karena ada satu sosok yang sudah menunggunya di sana.
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau selalu mengikutiku?" ujar Satria Piningit pada sesosok figur yang berdiri menempelkan dindingnya di dinding dari bata merah.
"Aku kenal kakekmu, mbah Carik Darwen," ujar sosok itu pendek. Suaranya dalam dan menggetarkan. Satria Piningit bahkan baru sadar bahwa figur ini bertubuh besar dan jangkung, semakin membangun aura gahar yang sedari awal sudah terlihat.
"Aku sebenarnya mengenal dan mengenalimu, bukan?" ujar Satria Piningit memicingkan kedua matanya, mengacuhkan ucapan sang figur misterius itu mengenai hubungan dirinya dengan sang kakek.
"Kau selalu mengenalku, Satria, sudah sejak lama."
"Sudah kuduga. Oleh sebab itu aku merasa spertinya cukup akrab dengan sosokmu," balas Satria Piningit. "Lalu, apa urusanmu denganku? Terutama karena tadi kau membawa-bawa nama mendiang mbah kakungku," lanjut Satria Piningit.
Sang sosok bergerak pelan. Namun setiap gerakannya memberikan aura kekuasaan dan intimidasi. Satria Piningit mundur sedikit, secara otomatis. Punggungnya menubruk dinding bata merah.
Kegelapan yang sebenarnya tak seberapa itu entah mengapa bergulung-gulung datang menutupi sosok bertubuh tinggi besar itu sehingga semakin menutupi keberadaannya.
__ADS_1
Satria Piningit tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Seakan tubuh sosok yang menjulang tinggi itu meletakkan wajah dan kepalanya di atas langit. Namun, ketika ia bersuara, desiran angin menembus sampai ke tulangnya, dan wajah itu kembali akrab di otaknya.