Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Obong - Jembatan


__ADS_3

Setelah kejadian setelah magrib itu, Satria Piningit sudah tak malu-malu lagi menyapa Wong Ayu setiap kali bertemu. Kadang ia malah cenderung lancang dan sembrono, seperti sudah lama mengenal gadis itu saja. Satria Piningit tak sungkan-sungkan memaksa mencuri-curi waktu untuk sekadar bertukar sapa dengan si gadis. Kalau sedang gila, Satria Piningit tidak hanya mencuri waktu, namun juga merampok dan membegal setiap detik dan menit untuk dapat mengobrol santai beberapa saat dan bertukar kata dengan Wong Ayu dalam keadaan apapun.


Agar tak mati gaya karena bingung ingin membicarakan apa dengan Wong Ayu selain "Bagaimana kabarmu?", "Sedang sibuk apa?", atau "Apa saja yang kamu lakukan hari ini?", Satria Piningit juga sering bertanya mengenai penampakan yang terbukti dapat gadis itu lihat layaknya Priyam. Maka dari itu, Satria Piningit telah memiliki jenis-jenis kalimat tanya baru seperti, "Wong Ayu, kamu lihat apa hari ini?" seperti tanyanya di suatu sore ketika sang anak perempuan sedang mencuci pakaian di kali. Sialnya, pertanyaan semacam ini malah akhirnya menyekapnya sendiri. Satria Piningit menjadi penasaran dengan jawabannya, dan apa yang benar-benar Wong Ayu lihat. Satria Piningit seperti sedang menunggu setiap seri cerita misteri di televisi. Padahal dengan Priyam ia biasa saja, malah cenderung menghindari tema ini dan tak mengindahkannya.


"Ada kakek-kakek di gapura utara desa. Wajahnya selalu cemberut, selalu sebal dengan anak-anak desa ini yang suka kencing di dekat gapura itu," jawab Wong Ayu dengan santai. Kedua tangannya yang lembut dengan jari-jari panjang dengan luwes mengucek pakaian.



Satria Piningit merasakan kedua alisnya mengkerut, "Maksud kamu Mbah Wijanarko?" tanyanya.


"Kamu bisa melihatnya?" kedua mata Wong Ayu yang lebar semakin membelalak bersemangat secara tiba-tiba mendengar respon Satria Piningit tersebut.


Satria Piningit tertawa dan agak tak enak karena akan mengecewakannya. Nampak sekali Wong Ayu ingin Satria Piningit juga mampu melihat hal-hal gaib semacam itu selayaknya dirinya dan Priyam, "Tidak. Priyam yang memberitahuku," ujar Satria Piningit sedikit meringis. "Tapi terimakasih, paling tidak sekarang aku tahu kalau Mbah Wijanarko memang benar-benar ada. Sebelumnya aku berpikir Priyam hanya anak laki-laki yang aneh. Tapi karena kamu juga dapat melihat sosok itu, berarti kemungkinan besar mbah Wijanarko memang ada di gapura sana."


Satria kemudian merasa berlaku tidak adil terhadap Priyam. Mengapa dengan gadis cantik ini saja baru ia bisa membuka pikiran, padahal Priyam sudah mengatakan mengenai penampakan ini dari awal?


Sepasang mata bulat indah milik Wong Ayu itu meredup. Jelas kecewa karena menyadari ternyata Satria Piningit tidak memiliki keistimewaan seperti dirinya. Tapi dia sebenarnya tidak perlu merasa aneh sendiri, bukannya ada Priyam yang juga memiliki keistimewaan serupa? Pikir Satria Piningit.


Lagipula, Satria Piningit tak keberatan ada dua orang aneh yang dapat melihat hantu dan mahluk-mahluk gaib di desa ini di sisinya. Yang penting ia tidak perlu dikasih lihat. Khawatirnya ia bakal kencing di celana dan membuat malu diri sendiri di depan Wong Ayu.


"Apa Priyam juga memberitahu soal pasar di kuburan di barat desa yang ramai di malam-malam tertentu sesuai hitungan hari Jawa? Apa Priyam juga memberitahu tentang gendruwo penjaga kebun tebu?" lanjut tanya Wong Ayu.

__ADS_1


"Ya ... ya ...," Satria Piningit mengangguk kuat-kuat, takjub akan cerita yang sesuai antara Wong Ayu dan Priyam. "Memangnya kapan kamu melihat mahluk-mahluk gaib itu?" tanya Satria Piningit kemudian.


"Malam, tengah malam, subuh, tengah hari, sore, magrib ... Suka-suka mereka mau muncul kapan," ujarnya santai mengelus kainnya dengan deterjen batangan dan melanjutkan mengucek kain tersebut.


"Lho, bukankah mereka hanya muncul di malam hari?" tanya Satria Piningit dengan ragu.


Wong Ayu tertawa renyah, "Mereka tidak kenal istilah waktu, berbeda dengan manusia yang punya hidup terbatas. Kalau banyak orang yang melihat hantu di malam hari karena, yah ... mungkin ketika hari sudah malam pikiran kita sudah kosong, santai, tidak lagi dibebani kegiatan di siang hari. Makanya orang sering melihat mereka malam-malam, apalagi biasanya malam sudah sepi dan tak banyak orang."


Satria Piningit tersadar. Sewaktu Priyam mengatakan bahwa ada sesosok gendruwo memperhatikan gerak-geriknya di kebun tempo hari itu adalah di sore hari, sekitar pukul empat dan memang bisa dikatakan masih tergolong terang.


"Tapi, aku tak pernah diberitahu mengenai sosok terbakar yang kamu bilang waktu itu," lanjut Satria Piningit kemudian. Wong Ayu hanya mengangkat kedua bahunya sembari kembali mengucek kainnya kembali. Namun kali ini ia menggosok kain jarit dengan batu cuci.


Kali ini Satria Piningit yang mengangkat kedua bahunya dan membuat Wong Ayu tersenyum manis.


"Memangnya apa saja yang kamu lihat, Wong Ayu?"


Wong Ayu mencelupkan dan membilas kainnya ke dalam kali yang berair bening itu, "Mengapa kamu seingin tahu itu? Tidakkah kamu takut bila mahluk-mahluk itu muncul di depanmu?"


"Ya, asal jangan tiba-tiba dan membuatku kaget, mungkin aku tidak akan takut. Lagipula, kamu dan Priyam sepertinya biasa saja walau sering dikasih lihat mahluk-mahluk itu."


"Tidak sesederhana itu, Satria. Ketakutan pasti selalu ada dalam diri setiap orang."

__ADS_1


"Memangnya kamu juga takut?" tanya Satria Piningit seakan tak percaya.


"Tentu saja aku takut, Satria. Kamu pikir aku bukan manusia, apa?" protesnya.


"Tapi aku tak pernah melihat kamu ketakutan selama ini. Kamu selalu bercerita tentang hantu-hantu seperti menceritakan tentang temanmu saja," jawab Satria Piningit sedikit bercanda.


"Kamu benar-benar mau tahu bagaimana rasanya melihat mereka?" tanya Wong Ayu kali ini dengan serius. Satria Piningit bungkam, bingung bagiamana mau menjawabnya. Air kali yang bening menggoyangkan jarit kemben Wong Ayu di bagian kakinya. Ia meletakkan kain itu di keranjang pakaian yang sudah selesai dicuci sembari menatap Satria Piningit tajam.


"Malam Jum'at lalu, sekitar jam tujuh malam, aku mengantar bapak ke rumah temannya dengan pit onthel , sepeda, melewati jembatan di atas kali di Selatan desa kita. Bapak bilang ia akan pulang diantar temannya itu, jadi aku disuruhnya pulang sendiri. Aku sama sekali tidak bermasalah. Umur segini aku biasa pergi-pergi sendirian, bahkan di malam hari."


Wong Ayu adalah memang anak perempuan yang pemberani, batin Satria Piningit terkagum-kagum.


"Di jembatan yang aku lalui sewaktu pergi itu, ketika pulang aku melihat dari belakang seorang perempuan dewasa membelakangiku, berjalan pelan. Rambutnya panjang tapi disampirkan melewati bahu ke bagian depan tubuhnya. Bajunya seperti perawat kalau kulihat dari jauh, berwarna putih tapi sedikit kusam. Ada dua lampu gantung berwarna kuning di atas jembatan, jadi jembatan dan jalan ke arahnya lumayan gelap."



"Perempuan itu hantu, ya?" potong Satria Piningit bersemangat, merasa sudah dapat menebak cerita tersebut.


"Saat itu jelas sudah pasti aku beranggapan perempuan itu hantu, Satria. Mana ada perempuan jalan kaki sendirian di tempat semacam itu," jawabnya.


Yah, kecuali seorang anak perempuan yang bersepeda sendirian malam-malam. Itu baru bisa diterima, pikir Satria Piningit bermaksud menyindir Wong Ayu. Namun itu tidak ia ucapkan karena ia tidak mau mengejek Wong Ayu dengan pikirannya itu, sebaliknya ia malah bertanya, "Kau kebut sepedamu?"

__ADS_1


__ADS_2