
Tidak terlalu membutuhkan waktu lama bagi kedua perempuan jagoan, yaitu Sarti dan Wong Ayu, untuk menghabisi mayat-mayat hidup yang tiba-tiba menyerang mereka.
Namun, sama sekali bukan berarti ini semua dilakukan dengan gampang.
Bisa dikatakan, sebelumnya Wong Ayu yang paling banyak menghabiskan tenaga dalamnya untuk menghadapi sang roh iblis perempuan. Begitu juga dengan Soemantri Soekrasana yang setengah mati membuka menutup gerbang ke dunia gaib serta mengumpulkan para mahluk gaib, termasuk para arwah gentayangan alias hantu-hantu, jin serta siluman. Ia pun cukup menghabiskan banyak tenaga dan paya ketika harus tawar-menawar dengan mahluk-mahluk gaib tersebut.
Sarti walau tidak memiliki kekuatan gaib seperti Wong Ayu dan Soemantri Soekrasana, tetap saja sama seperti yang lainnya. Ia sudah benar-benar kehabisan daya tempurnya. Hampir saja wajahnya dirobek tulang jari jemari yang menyergap tanpa henti. Para mayat hidup ini hanya terhenti ketika kepala mereka hancur atau lepas dari badannya. Padahal tengkorak mereka rata-rata tak berisi lagi, kosong melompong, paling-paling berisi cacing.
Sarti sudah memapras mayat hidup hampir sebanyak Wong Ayu. Tapi secara psikologis, jiwanya sedang tenang dan santai karena berpikir semua sudah usai. Pemikiran seperti ini membuat tubuhnya rileks dan kurang awas. Ia juga sadar bahwa sudah entah berapa hari ia belum tidur, sama seperti tiga temannya yang lain. Tubuhnya jadi kehilangan kecepatan dan kegesitan serta keseimbangan yang menurun drastis. Ia bahkan tak bisa menggunakan aji Saifi Angin miliknya.
Memang ia yang pertama menyadari marabahaya yang mendekat sewaktu mereka semua tadi santai beristirahat dan lengah. Namun, sepertinya sudah terlambat karena tetap saja gerakannya sudah bisa dikatakan tidak tepat waktu.
Wong Ayu terhempas jatuh dan bersandar ke batang sebuah pohon.
Dua laki-laki lainnya, yaitu Soemantri Soekrasana dan Anggalarang menghilang, jatuh menggelinding ke bawah. Wong Ayu sungguh berharap kedua orang tersebut baik-baik saja, karena ia sendiri mulai terdesak dan melontarkan diri bergulingan di tanah berumput.
Akan terasa konyol bila ia sampai tewas di tangan para mayat hidup bedebah ini yang seperti prajurit sisa perang yang kalah.
Masih ada sekitar sepuluh mayat hidup yang kemungkinan belum lama wafat. Ini dapat dilihat dari tubuh busuk mereka yang daging-dagingnya masih lumayan utuh menempel. Mereka berbeda dengan jerangkong yang termasuk ringkih dan mudah dihancurkan, meski juga cukup berbahaya mengingat jari-jari mereka yang tajam kerena berupa tulang-belulang yang tak jarang cukup tajam.
Sarti masih sempat menancapkan Baru Klinthing ke telinga satu mayat hidup yang wajahnya separuh hancur, kedua pipinya berlobang dan berisi gumpalan tanah dan cacing.
Bilah tombak pendek itu Sarti paksa melesak lebih dalam, kemudian ia tarik ke atas sehingga tengkorak kepala itu lepas dari badannya.
__ADS_1
Sarti bergulingan menghindari mayat hidup lain dan mendekat ke arah Wong Ayu yang masih terduduk bersandaran pohon.
"Bangun, Wong Ayu! Kita selesaikan ini semua," ujar Sarti berseru. Satu tangannya menggapai lengan Wong Ayu yang kemudian meraihnya, menggunakannya untuk membantunya berdiri.
Baru saja keduanya siap menghabiskan tenaga terakhir, satu sosok dengan gerakan cepat dan prima bergerak di belakang para mayat hidup. Sosok itu memukul kepala para mayat hidup sampai hancur dengan sekali hentak. Tidak hanya satu, melainkan sembilan mayat hidup jatuh berserakan dan tak bergerak lagi. Gerakan sosok misterius itu cepat dan terukur, sama seperti para pendekar yang dikenal Sarti dan Wong Ayu ketika sedang dalam keadaan prima.
Kelegaan karena selamat dan kebingungan karena tak tahu apa yang seseungguhnya terjadi sekarang berubah menjadi ketercengangan yang disertai amarah ketika keduanya melihat siapa sosok tersebut.
Sosok itu adalah Affandi.
"Aku lihat kau sudah mati dibunuh iblis betina yang merasuk ke dalam tubuh teman premanmu!" ujar Wong Ayu ketika sadar bahwa sosok yang ia kenal baik itulah yang sudah membantu mereka.
"Bangsat! Kau masih hidup, Affandi," ujar Sarti geram. Sudah lama ia ingin membunuh para ketua preman ini.
Yang mengherankan, bila ia memang kembali hidup, Affandi terlihat memiliki kemampuan ilmu kesaktian baru yang membuatnya lebih cepat dan tangkas. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu sepersekian detik saja, seluruh mayat hidup habis dalam sekali gebrak.
Sarti dan Wong Ayu menarik nafas panjang dan mengatupkan rahang, menyiapkan kuda-kuda.
Suara gemerasak terdengar di belakang mereka, Soemantri Soekrasana muncul disusul Anggalarang. Kuntilanak merah sudah menghilang lagi.
Sarti, Wong Ayu dan Affandi melihat ke arah kedatangan mereka.
"Aku tak berniat bermusuhan dengan kalian," ujar Affandi tiba-tiba. "Aku hanya lewat dan melihat kalian dalam kesulitan dan mencoba membantu."
__ADS_1
Sarti tertawa, sebuah tawa palsu yang dibuat-buat dengan sengaja, tanda melecehkan sang lawan bicara.
Perempuan berusia sangat tua itu meludah ke tanah mencemooh.
"Kau pikir siapa dirimu? Kami tak perlu bantuanmu untuk menghabisi mayat-mayat hidup bagian dari antek-antekmu itu," balas Sarti kasar.
Soemantri Soekrasana mendekat ke arah Sarti dan membisikkan sesuatu, "Hmm, Sarti ... Dia tadi menolong Anggalarang yang jatuh hampir menubruk kayu-kayu tajam hasil penebangan di bawah sana. Ia menangkap Anggalarang dan membawanya kembali ke atas sini."
Sarti dan Wong Ayu yang juga menangkap pembicaraan ini memandang Anggalarang yang mengangguk dan tersenyum tak enak.
Sudah pasti kenyataan ini membuat merekaa bingung. Mengapa Affandi menolong mereka dengan menghabisi para mayat hidup yang notabene adalah bagian dari kelompok iblis betina yang memerintah mereka? Dan yang paling mengherankan, bagaimana ia kembali hidup?
"Aku tak mau berurusan dengan permasalahan kita sebelumnya. Biarkan aku pergi dan aku jamin kita tak akan bertemu lagi," lanjut Affandi.
"Brengsek! Kau pikir kau bisa pergi begitu saja?" kali ini Wong Ayu yang berbicara dengan geram. "Kau harus mempertanggungjawabkan semua kejahatanmu. Dengan sosok adiwira semacam Gatotkaca, penjara mungkin menjadi pilihan bagimu. Tapi bagiku, kau mati dengan cepat saja sudah menjadi anugrah."
Soemantri Soekrasana hendak mencoba berkomunikasi dengan sang sosok di depan mereka serta Wong Ayu agar dapat mencari jawaban sebenarnya. Dari awal ia tak mau darah terus ditumpahkan.
"Tunggu, tunggu dulu, mbak. Ada baiknya kita dengarkan alasannya," ujar Soemantri Soekrasana kepada Wong Ayu.
Sarti baru saja hendak menimpali, namun tubuh Affandi sudah menghilang dari pandangan meninggalkan desiran angin yang menggerakkan rerumputan. Keempat anggota Catur Angkara berdiri tanpa kata, bingung dengan apa yang barusan terjadi.
"Saifi Angin," gumam Sarti pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
__ADS_1