Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tigabelas


__ADS_3

Wong Ayu seperti tersedot dalam sebuah gravitasi. Namun, aloh-alih jatuh ke bawah, wanita cantik iyu malah merasa tertarik ke atas untuk menembus awan, dan tiba-tiba mengoyak lapisan bumi.


Ia telanjang, namun bukan bugil tanpa baju. Ia meninggalkan tubuh yang merupakan busananya.


Rohnya melayang bagai kapas namun setipis angin; meregang, menyempit, berkerut, memanjang, kemudian meluncur secepat kilat namun juga selambat waktu itu sendiri yang abadi.


Ia berada di sebuah lorong dengan larik-larik cahaya yang berkejaran bagai ikan-ikan di samudra luas tak bertepi.


Tiba-tiba tubuhnya menyelip diantara pepohonan yang begitu rimbun dan lebat, kemudian mendadak berhenti. Badannya yang telanjang, ringan dan tembus pandang itu mengambang di udara, di atas sebuah ladang di tengah hutan rimba.


Dengan kedua matanya, ia melihat seorang lelaki berdiri tegak di tengah lapangan tersebut. Kedua kakinya tertanam di tanah. Sulur-sukur tanaman berbunga berwarna putih dan jambon merambati tungkai kakinya.


Tak berapa lama, terlihat oleh Wong Ayu pepohonan besar tersibak. Beragam jenis mahluk berkelebatan tertembus jarum cahaya. Hanya saja mahluk-mahluk ini tak begitu ia kenal. Ia melihat belasan raksasa bercawat dan tubuh mereka tak berkulit, hanya daging berlapis darah merah kental. Mereka berjalan seakan melayang. Ada perempuan-perempuan bugil berambut panjang dan kasar serta bertubuh selicin ikan merayap di aliran air kecil di sela pepohonan.


Langit merekah retak berwarna pelangi memedihkan mata. Dari retakan itu muncul burung-burung besar berparuh gading dengan sayap mengepak menutupi angkasa. Tanah tiba-tiba bergetar. Dua ekor naga berwarna emas menembus tanah, keluar menampakkan moncong dengan selipan taring di rahangnya. Badan mereka memendarkan larik-larik sinar.


Wong Ayu merasa tubuhnya kaku ketika ia terseret kembali. Rohnya memudar, bersatu bersama semesta. Sekarang ia melihat semuanya dari sudut pandang para raksasa, perempuan bertubuh licin yang merangkak di atas air, burung-burung berparuh gading, naga-naga bersisik emas dan ... Laki-laki terikat sulur-sulur berbunga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob melihat lumpur-lumpur di tubuhnya memadat bagai tinta membentuk gambar-gambar berwarna hitam. Setiap gambar menimpa gambar lainnya, namun tidak saling menutupi. Ada gradasi warna dan ketebalan yang dapat membedakan satu gambar dengan gambar lainnya.


Tapi jelas bisa dikatakan seluruh tubuhnya sudah tertutup rajah bahkan sampai ke leher, pipi dan keningnya.


Kedua matanya membuka lebar.


Ia kembali berdiri di sebuah ladang di tengah hutan belantara.

__ADS_1


Ia tak mampu mendefinisikan waktu saat ini. Langit merekah berwarna pelangi memedihkan mata. Ada larik-larik sinar berkelebatan bagai anak panah menancap di pepohonan.


Kedua kakinya terkunci oleh sulur-sulur berbunga, sedangkan pandangannya diramaikan dengan mahluk-mahluk adikodrati yang berseliweran seperti raksasa tak berkulit menyibak pepohonan, perempuan berkulit licin merangkak di aliran air, burung enggang gading menembusi rekahan langit, naga bersisik emas menggeliat di tanah serta seorang perempuan mengambang di angkasa dengan tubuh tipis menyatu dengan udara.


Perempuan itu memandangnya.


Yakobus Yakob tak sempat berpikir lebih jauh ketika kesadarannya berubah.


Semua hal aneh dan menyeramkan yang ia lihat seketika berubah menjadi enak dipandang. Ia seperti sedang dalam perasaan ekstasi yang berlebihan.


Tanah di bawah kakinya berubah menjadi air seluruhnya. Gelembung-gelembung muncul di segala sisi, membuatnya tertawa senang bagai anak kecil.


Ia berdiri di atas kumpulan buih yang meletup-letup lucu.


Perempuan telanjang berkulit licin berubah menjadi pesut yang melompat-lompat kegirangan. Raksasa, naga dan kumpulan enggang menempel menjadi satu. Tubuh mereka menciut, mengkerut dan membantuk sesuatu.


Binatang ini berbadan lembu dan bertanduk, berkepala singa yang bermahkota sekaligus berekor, memiliki belalai seperti gajah lengkap dengan gading panjangnya. Ia juga bersisik naga, bertelinga rusa, berjenggot kambing, bertaji ayam. Sepasang sayap garudanya mengepak keras, membuat air bergejolak.


Namun Yakobus Yakob masih melihat sosok perempuan itu melayang-layang di udara, bergoyang-goyang bagai pantulan cahaya di ombak.


Sulur-sulur berbunga yang tadinya mengikat kakinya, kini menjadi alur berwarna-warni menyelip di gelombang bagai ribuan ikan cantik yang berenang-renang ceria.


Kepakan sayap lembuswana membentuk kumpulan buih di permukaan air seperti yang ada di bawah kaki Yakobus Yakob, namun lebih besar.


Tak lama, Yakobus Yakob melihat buih-buih meletus kecil-kecil menampakkan sesosok tubuh muncul di baliknya.


Lagi-lagi seorang perempuan. Yakobus Yakob yakin pernah melihatnya.

__ADS_1


Ia berdiri di atas buih-buih di permukaan air seperti di atas kumpulan bantal-bantal empuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wong Ayu terkesiap dengan perubahan situasi yang tiba-tiba dan semerta ini, terutama dengan kemunculan sosok perempuan agung itu.


Tubuhnya yang ramping berbalut kemben hijau dengan jalinan sulaman benang emas. Jarit dan selendang di pinggangnya berkelim-kelim rumit, panjang, mewah dan megah. Rambut bergelombangnya bersaing panjang dengan jaritnya memenuhi lapisan permukaan air. Sebuah mahkota bertahta batu manikam berkelap-kelip di atas kepalanya yang sempurna.


Untaian kalung, gelang lengan dan pergelangan tangan yang berpendar keemasan senada dengan warna kulitnya yang juga bercahaya, semarak, bercengkrama dengan cahaya dari langit seakan semesta juga merayakan kehadirannya. Wajah ayunya luar biasa. Bukan sunggingan menggoda dan pemancing berahi yang muncul dari wajahnya, namun lebih pada penguasaan.


Wong Ayu berpikir bahwa sosok perempuan gaib itu pastilah figur penguasa. Ia juga bisa memastikan dari sikap ketertundukan laki-laki muda yang berdiri di atas buih itu.


Apa ini, siapa mereka sebenarnya? Pikir Wong Ayu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau sudah melihat semua dan merasakan secuil saja bagian dari kekuatan dan kekuasaan yang bisa saja kau miliki, anakku," ujar sang perempuan kepada Yakobus Yakob.


Suaranya begitu merdu dan menenangkan. Yakobus Yakob merasa kembali ke dalam rahim ibunya, sebuah tempat ternyaman bagi bayi, sebelum ia dipaksa keluar untuk menghadapi kehidupan di dunia nyata yang kejam.


"Sekarang adalah bagianku untuk memperlihatkan kepadamu sisi lain dari kegelapan yang selalu menaungi hidupmu, anakku. Aku ingin kau berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan. Mimis timah panas selanjutnya yang ditembakkan kepadamu akan mental, begitu juga dengan marabahaya yang mengancam tubuh fisikmu akan tak berguna sama sekali. Namun, tidak begitu dengan jiwamu," senyum sang perempuan masih terus mengambang. Lembuswanda mengepakkan kedua sayapnya dalam gerakan yang sangat lambat, seperti  sebuah adegan* slow motion* dalam satu frame film.


"Namun, kau bisa juga memutuskan membiarkan biji timah itu menembus kulitmu dan melepaskan jiwa dari ragamu. Setelah itu, kau tak akan terluka lagi sama sekali. Kau akan berada di sini bersamaku. Aku tak akan membiarkan hatimu hancur lagi. Aku akan menambal keropos di jiwamu, anakku."


Yakobus Yakob menarik nafas, tersenyum. Keindahan dan kedamaian memasuki ke relung-relung jiwa, bagai oksigen yang memenuhi paru-parunya.


Kemudian ia menggeleng.

__ADS_1


"Aku tahu siapa engkau, Putri Junjung Buih, ibu dari segala bangsa di pulau ini. Engkau sangat disanjung dan dirindukan setiap insan manusia. Siapa yang dengan bodoh menolak berkat darimu? Jawabannya, orang bodoh itu adalah aku. Aku meminta maaf, Putri, karena telah menolak kedamaian yang engkau tawarkan. Namun, hatiku tidaklah keropos, sebaliknya ia telah membeku dan membatu. Biarkan aku membawa serta kehampaan ini ke dalam dunia, Putri."


__ADS_2