Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Duapuluh Tiga


__ADS_3

Satria Piningit memutar kunci dan membuka pintu, ia keluar rumah bergabung dengan beberapa tetangganya.


Dari luar jelas terlihat bahwa kumpulan api memang menyala terang. Ini membuat warga ikutan khawatir karena bila memang kebakaran itu terjadi di daerah Desa Pendekar, itu berarti tidak begitu jauh dari tempat mereka tinggal.


Mereka, termasuk Satria Piningit, berharap hujan segera turun. Bukannya sekadar petir yang berlarian dan berlompatan kesana-kemari, malainkan air yang diguyur dari atas agar kebakaran itu dapat segera diredakan. Selain itu, Satria Piningit juga berharap sudah ada yang melaporkan apa yang terjadi, sehingga aparat dan petugas yang berkepentingan dapat segera tanggap.


"Bang ... Bang Satria, sinyal telepon dan internet kita mati, sama sekali nol," ujar salah satu tetangga membuyarkan pikiran Satria Piningit.


Satria Piningit ingat membawa ponsel pintarnya. Benar, tidak terlihat sinyal apapun terlihat dari layar sentuhnya. Ia juga langsung mencoba beberapa aplikasi online, termasuk media sosial. Semua tak bisa diraih.


"Semoga kebakarannya bisa segera diredakan, Bang. Kita yang tinggal di sini tak akan mungkin bisa ke kota atau mencari pertolongan kalau memang itu terjadi di Kampung Pendekar," balas Satria Piningit.


Sang tetangga mengangguk lemah. Memang semua sedang waswas. Ada beberapa kompleks perumahan yang dibangun di daerah ini. Untuk mencapai kota, mereka harus melewati sebuah tol penyebrangan yang melengkung di atas sungai. Sedangkan sebelum mencapai tol, para warga perumahan akan melewati gerbang Kampung Pendekar pula. Maka, bila terjadi kebakaran di daerah tersebut, mereka hanya bisa berharap agar hal tersebut segera bisa diatasi, atau hubungan mereka dengan kota dan dunia luar akan benar-benar terputus.


Sialnya, tanpa sepengetahuan mereka, memang itulah yang sebenarnya sedang terjadi. Tiada bantuan datang. Bisa dikatakan, jalur informasi dan komunikasi dari arah Desa Pendekar ke kota sudah terputus. Ini diperparah dengan listrik yang tiba-tiba padam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bandi berjalan penuh dengan keangkuhan dan kekuasaan. Dalam sekali gebrak, Kampung Pendekar luluh lantak. Wilayah yang sejak awal karirnya sebagai penjahat, preman dan pembunuh bayaran ini begitu susah untuk dikuasai padahal memiliki banyak potensi. Namun sekarang tak ada yang dapat mencegahnya.


Laki-laki itu terus berjalan. Kali ini ia berbelok ke arah perbukitan di sisi kampung. Teriakan teror dan rasa takut, kesakitan dan kesedihan menyala-nyala di belakangnya. Beberapa bangunan dilahap lidah-lidah api yang begitu rakus, tak peduli petir mengancam akan mendatangkan hujan. Sialnya, angin yang kencang menubruk bara kemudian membuatnya berkibar laksana bendera kemenangan.

__ADS_1


Mayat-mayat pemuda bergelimpangan dengan ditangisi ibu, bapak, sanak saudara dan kawan-kawannya. Tubuh mereka bermandikan darah, gosong terbakar hangus, atau patah tak beraturan.


Bandi terus berjalan menaiki jalan setapak ke atas perbukitan. Sudah terlihat apa yang sedang ia cari. Ada sepuluh gundukan tanah di dalam sebuah pagar bata merah.


Kuburan sesepuh dan pendiri kampung, yaitu makam sepuluh pendekar.


Perempuan itu sudah ada di sana terlebih dahulu. Rambutnya yang panjang berkibar di belakangnya, menyala oleh bayangan api yang membakar bangunan di bawah sana.


Tubuh telanjangnya masih sama moleknya dengan yang terakhir Bandi lihat. Ia bahkan masih dapat mencium bau bebungaan tubuh itu, halus kulitnya di jari-jemarinya, lengket dan liat badan ramping itu ketika ia menimpanya.


Bandi tersenyum, sang perempuan membalasnya.


Saat itulah Bandi melihat beberapa bentuk mahluk mengerikan berkumpul di sekitar tubuh perempuan yang melayang di atas pagar dinding bata merah tersebut.


Mereka haus darah. Babi hutan, binatang ternak dan manusia yang sial akan menjadi korbannya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, hantu Mariaban dapat mengubah bentuk tubuh mereka menjadi manusia lain, mengecoh, kemudian menghabisi nyawa mereka untuk kemudian menghisap habis cairan kehidupan berwarna merah yang menggelegak hangat dalam kerongkongan mereka.


Bandi membuka bajunya, hanya menyisakan celana panjang dan sepatu boot-nya. Tubuh empat puluhan tahun itu masih terlihat bugar, berotot dan terjaga, walau tak menunjukkan kemudaannya lagi. Ia selalu merasa bahwa ketahanan fisiknya harus sangat dijaga karena merupakan modal pekerjaan dan karirnya dalam dunia kejahatan.


Ia bangga dengan kondisi jasmaniah tubuhnya ini.


Sang perempuan dengan segala keagungannya melayang mendekati Bandi. Hantu-hantu Mariaban di belakang sosok wanita adikodrati itu bergerak-gerak dalam kegelapan bagai pepohonan.

__ADS_1


"Ini sudah saatnya bagimu untuk memetik hasil dari ketaatan dan ketertundukanmu kepadaku, Bandi. Kekuatan dan kekuasaan akan aku turunkan kepadamu malam ini. Aku harap kau siap," suara sang perempuan berdengung berlapis-lapis di udara. Rambutnya berkibaran bagai memiliki hidup sendiri.


Bandi berlutut di depan sang iblis dalam rupa perempuan tak berbusana itu. "Aku tidak akan sekadar memetik, aku akan memanen buah kejayaan. Sebagai gantinya, akan kucuci kedua kaki rampingmu dengan darah, akan kumandikan tubuh indahmu dengan rasa takut dan akan kutiduri dirimu ribuan kali dengan berahi sepanas neraka," ujar Bandi memandang tajam sepasang mata iblis betina itu.


Perempuan bugil itu sontak tertawa panjang, melengking, berlapis-lapis menggetarkan udara malam. "Kau tak tahu apa-apa soal neraka, Bandi. Tapi berkat dirimu, akan kubawakan secuil neraka untuk manusia bumi ini," ujarnya ketika dengan begitu tiba-tiba tubuhnya memendar, kemudian memecah bagai secarik kertas yang disobek-sobek.


Bandi merasakan tubuhnya penuh dengan energi yang datang masuk melalui dadanya. Ia merasakan eforia dan ekstasi yang tak tergambarkan.


Segala isi dunia terbentang di depan kedua bola matanya. Segala mahluk yang bersembunyi di balik kegelapan, hidup di dalam lumpur, menyelam di rawa-rawa, mengambang di atas tanah keramat, berdiam di perbukitan dan pegunungan, dan bersemayam di bangunan-bangunan tua semua menunjukkan taring, tanduk, lidah yang panjang, mata yang nyalang dan jiwa yang tak tenang.


Kini Bandi merasakan ada yang ingin mendobrak keluar dari perut, kemudian berpindah ke dadanya. Ia melihat ke arah dimana rasa itu semakin kuat.


Ada tonjolan sebesar kepala bayi mendesak-desak dari dalam tubuhnya yang berotot terawat dan terlatih itu. Tonjolan tersebut muncul, menghilang, muncul kembali menciptakan cembung di kulitnya seperti balon yang ditiup dan kempes berkali-kali.


Tidak ada rasa sakit sama sekali. Hanya rasa geli dan akrab yang luar biasa. Otot-ototnya menjadi lemas dan santai, sedangkan energi yang luar biasa perlahan menjalar ke seluruh syaraf dan aliran darahnya.


Bandi berdiri ketika menyaksikan tubuh perempuan iblis yang semula hilang memecah itu kembali menyatu, namun tidak lagi membentuk seorang gadis bugil bertubuh ramping menggoda. Kini berdiri di depan Bandi, sosok siluman tengkorak hitam.


Kerangka berwarna hitam jelaga. Beberapa potong daging masih menempel di beberapa tempat. Rongga dimana seharusnya ada biji mata di dalamnya, kini adalah sepasang lubang kosong namun mengalirkan darah.


"Akhirnya," ujar Bandi. "Aku menguasai ilmu parang irang. Tak ada senjata jenis apapun yang dapat menggores kulitku," ujar Bandi di dalam hati mengetahui bahwa ia mendapkan ilmu hitam kekebalan tersebut.

__ADS_1


Sang tengkorak hitam berbalik membelakangi Bandi dan berjalan ke arah makan para leluhur Kampung Pendekar. Tubuhnya yang kotor nan menakutkan itu menghilang perlahan. Sebagai gantinya, terdengar bunyi garukan ramai dari dalam tanah.


__ADS_2