
Anggalarang terkapar kaku. Mulutnya mengeluarkan busa bercampur darah. Sang Maung putih tak ada di dalam tubuhnya lagi. Ia sekarang hanya menjadi seorang laki-laki biasa yang sedang sekarat.
Sarti melihat mahluk gaib dengan samar, datang dan pergi bagai film sebuah foto. Itu sebabnya mudah baginya untuk diteror, ditakuti dan dikejutkan oleh mereka.
Dengan cepat ia membaca sebuah mantra untuk membangkitkan ajian Suket Kalanjana yang dapat membuatnya mampu melihat mahluk halus secara utuh. " ... Niyat ingsun matak ajiku sang suket kalanjana, Aji pengawasan saka sang Hyang Pramana ...,"
Dengan ajian ini dan tombak Baru Klinthing di tangannya, ia dapat mengusir para hantu dan mahluk gaib yang berusaha mendekatinya tadi. Bilah tajam tombak pusaka Baru Klinthing membakar udara gaib dan mengirimkan rasa takut yang biasanya dirasa manusia, kini terasa pula bagi para arwah-arwah gentayangan.
Roh-roh tersebut berlarian terbang, menghilang atau merangkak menjauh. Hawa panas menempel di tubuh roh-roh gentayangan itu. Sarti bahkan dapat melukai beberapa diantaranya. Sang perempuan pendekar membabat udara, menusuk dan mendera mereka.
Setelah berhasil membebaskan diri dari para roh jahat, Sarti menderu ke arah tubuh Anggalarang yang oleh mata batin akan terlihat sedang dikerumuni beragam mahluk adikodrati jahanam. Yang terkuat dan sedang mencekiknya adalah sosok gendruwo setinggi pohon. Tubuhnya berbulu dan kesepuluh jarinya berkuku panjang dan tajam. Dengan tubuh setinggi dan sebesar itu dalam posisi menunduk benar-benar mengambil tempat yang cukup luas. Mudah bagi Sarti membabat sang gendruwo dengan tombaknya.
Sang gendruwo meraung. Tubuhnya tercabik-cabik dan mengeluarkan cairan berwarna hitam gelap. Bilah tajam tombak pusaka Baru Klinthing melukai sosok gaib yang besar, tinggi dan mengerikan itu dengan cara yang aneh. Tubuh sang gendruwo tiba-tiba menyusut dan menghilang dalam bentuk asap. Demi menyaksikan ini, roh-roh lain meringis, perlahan merangkak mundur keluar dari tubuh Anggalarang. Semuanya gentar dengan akibat apa yang mereka bakal dapatkan bila masih ngeyel berebut tempat di dalam raga Anggalarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Para roh dan mayat hidup yang tersisa menempatkan diri di belakang sang ratu iblis. Kain lebarnya memenuhi tanah yang basah. Rambut panjangnya terurai menutupi tubuhnya. Sepasang mata membara melotot ke arah Sarti. Mulutnya yang mengeluarkan darah kental mendadak terbuka, terus terbuka, melebar sampai mengoyakkan pipi dan rahangnya.
Bunyi gemeretak dan sobekan terdengar. Dari dalam mulutnya muncul sosok kepala seorang perempuan lain yang sangat berbeda. Tubuh sang ratu iblis menjadi semacam pakaian atau jubah semata yang koyak sampai sosok baru itu bisa keluar.
__ADS_1
"Terimakasih Sarti, dan kau Anggalarang. Berkat kalian, aku bisa menguasai tiga desa sekaligus tanpa gangguan," sang wanita berkata.
Ini membuat Sarti menjadi bingung. Anggalarang yang tadi dibantu Sarti kini sedang terduduk bersandar pada sebuah pohon. Sang Maung masih belum bisa kembali ke tubuhnya karena pertarungan dengan mahluk gaib sebelumnya. Ia juga sedang mencerna ucapan si perempuan yang keluar dari dalam tubuh si penyihir iblis tersebut.
"Aku adalah Wong Ayu. Orang-orang di dunia perdukunan bergetar ketika mendengar julukanku, sang Durga."
Sarti tersentak, "Bangsat! Jadi kau si penyihir bedebah itu? Aku sudah mendengar namamu di berbagai tempat, tapi tak kusangka kau adalah biang kerok pagebluk di desa-desa di kaki gunung ini. Aku sempat tak mau ambil pusing dengan cerita dan desas-desus bahwa kau hanya mencari dan membunuh para dukun ilmu gelap, tapi nyatanya kau adalah si penyihir dengan ilmu setan itu sendiri yang membunuhi orang-orang tak berdosa!"
Sang sosok yang mengaku bernama Wong Ayu dan bergelar Durga itu tertawa nyaring, "Aku sudah menyiapkan para bawahan di Pancasona untuk membangkitkan mereka yang mati. Keberadaan kalian di sini hanya untukku main-main saja. Aku tahu kalian berdua dipersatukan oleh kekuatan gaib yang masih tak benar-benar kalian pahami untuk melawanku. Sayang, kalian tidak akan berhasil. Selagi kalian berada di Kaliabang, orang-orangku yang sudah semakin kuat dan sakti akan menundukkan satu desa lagi. Akibatnya ini juga akan membuatku semakin kuat."
Kilat berpendar di angkasa. Sosok perempuan berjuluk Durga dan para mahluk gaib menghilang dari pandangan. Mayat-mayat hidup yang tersisa mulai bergerak ke arah mereka lagi.
Anggalarang berusaha berdiri. "Aku Anggalarang,” ujar Anggalarang mengoreksi ucapan Sarti.
“Sang Maung masih terjebak di dalam ruang dan waktu yang berbeda. Untuk sementara ia tak akan bisa keluar. Sedangkan aku, aku tak memiliki kemampuan ilmu apapun untuk secepat kilat pergi ke Pancasona. Kau pergilah," ujar Anggalarang lemah.
Sarti memandang Anggalarang. Wajahnya mengeras di balik topeng panjinya. "Kau harus ikut. Aku bisa membawamu."
Anggalarang tak bisa protes ketika Sarti membopongnya di punggung dengan mudah.
__ADS_1
Sebelum Sarti kembali merapal ajian Saifi Angin, ia melihat Pakde Narto yang terbaring penuh luka. Darah dari pahanya terus mengalir deras. Wajahnya pucat.
"Hei, kau. Seperti janjiku, aku akan menceritakan tentang pedang Inggris itu. Senjata milikmu itu adalah ...,"
Pakde Narto mengangkat tangannya, "Aku sebenarnya tak peduli apa-apa dengan kisah dibalik pedang sialan itu. Aku pasti mati hari ini. Mayat-mayat hidup itu masih tak berhenti. Kalian pergilah, selamatkan penduduk desa dari perbuatan pelacur setan itu."
Sarti menarik nafas dan mengangguk.
Namun, sebelum Sarti sungguh pergi dari tempat itu, Pakde Narto menyentuh kaki Sarti.
"Sudikah kau membantuku untuk terakhir kali?" ujar Pakde Narto dengan suara dan kekuatannya yang sudah benar-benar melemah.
Sarti meletakkan tombaknya di tanah, menurunkan Anggalarang yang juga sudah cukup lemah sejenak. Ia kemudian mengambil celuritnya, meloloskan dari sarungnya dan menatap sejenak ke arah Pade Narto. Tak lama, Sarti mengayunkan celurit itu memapras leher Pakde Narto dengan sekali sabet. Kepala sang pendekar tengah baya itu menggelinding di tanah. Nyawa Pakde Narto langsung hilang tembus ke awan.
Sarti mengelap darah di bilah melengkung celuritnya, memasukkannya kembali ke sarung. Ia kemudian kembali membopong Anggalarang serta sekaligus mengambil tombak Baru Klinthing kembali. Ia tak begitu peduli dengan wajah terkejut Anggalarang. Namun, tetap saja ia menjelaskan maksud dari tindakannya dibanding Anggalarang bertanya-tanya.
“Orang itu yang memintanya. Ia sudah tak sanggup melawan mayat-mayat itu. Dibanding ia tersiksa dicabik-cabik mereka, maka sebenarnya aku lah yang menyelamatkan dan membantu kebebasannya. Tapi terserah apa anggapanmu,” ujar Sarti.
Sarti menarik nafas pendek, kemudian melesat dengan cepat ke arah desa Pancasona dengan membopong Anggalarang. Tubuhnya mencelat ringan dari dataran rendah ke dataran tinggi, menyibak rerumputan dan tanaman, meniti angin dan membelah udara. Tidak peduli bahwa Sarti, perempuan pendekar bertubuh mungil itu membawa serta seorang laki-laki bersamanya.
__ADS_1