Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tujuhpuluh Tujuh


__ADS_3

Nyi Waksirsa bersuka cita kerena berubah menjadi leak berwujud seekor babi hutan raksasa, bertaring panjang dan berbulu tajam. Semalam ia menyebarkan penyakit upas yang mematikan. Ia ditemani oleh Nyi Mahesa Wedana yang berubah menjadi leak berwujud kerbau raksasa yang besarnya menyamai ukuran sebuah rumah. Sepasang tanduk panjangnya menambah kesan tinggi menyundul langit.


Namun, yang mendapatkan pujian oleh Ibu Calonarang sendiri adalah Nyi Rarung, sisya nya yang paling sakti. Nyi Rarung juga mendapatkan ilmu langsung dari Dewi Durga, sama seperti sang Ibu Calonarang. Maka semalam ia berubah menjadi sosok perempuan penyihir telanjang berkulit merah menyala, yaitu sang Durga Abang. Ia berkeliaran menebar penyakit. Andaikata seorang warga ada yang nekat keluar dari dalam rumah dan berpapasan dengannya, sekali tatap saja sang korban akan mati menggelepar di tempat.


Namun Sarti tak lagi menangis saat ini.


Ia berumur enam belas tahun saat sang ibu membantai orang-orang itu bersama para muridnya dengan tenung, teluh dan tulah. Saat itu Sarti adalah seorang gadis cantik, berambut panjang tebal, bertubuh mungil namun molek, dan berhati lembut serta lemah. Kutukan lah membuatnya mati untuk hidup selamanya. Hal ini mungkin diterimanya untuk menebus dosa-dosa sang ibu di masa lalu.


Hanya saja alih-alih menebus dosa, Sarti malah semakin berkubang di dalamnya. Pikirannya kusut masai, hatinya cerai berai dan jiwanya luluh lantak. Ia menjadi semakin dingin dan kejam dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya.


Ia tak menangis kali ini.

__ADS_1


Namun, hatinya bergetar melihat Wong Ayu yang mengambang di udara tak jauh darinya, memainkan kedua tangannya bagai memimpin simfoni orkestra, mengatur semua jenis binatang memenuhi udara, tanah dan air, merambat memasuki Kampung Pendekar.


Diam-diam, sudah lama sebenarnya Sarti sudah menemukan jawaban mengapa ia ditakdirkan bertemu gadis yang usianya ratusan tahun lebih muda darinya tersebut. Rupa-rupanya ada roh Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Gendi, Nyi Guyang, Nyi Waksirsa, Nyi Mahesa Wedana dan Nyi Rarung bersemayam di dalam diri Wong Ayu. Selama ini seperti yang dilihat Sarti, hanya Nyi Lendi yang tampaknya selalu ikut aktif dalam menyumbangkan ilmunya. Namun sekarang, nampaknya, perlahan, Wong Ayu akan mampu mengeluarkan semua kesaktian para bibi sisya ibunya tersebut.


Binatang melata dan merangkak memenuhi kampung, tak terhitung jumlahnya. Bau busuk dan menyengat ikut menyertai, sedangkan ribuan tawon dan lebah berdesing di udara, berputar-putar dengan ribut sedangkan tepat di tengahnya Wong Ayu mengambang merentangkan kedua tangannya bagai seorang pawang. Dengan satu gerakan tangan, semua mahluk yang datang langsung menyerang secara bersamaan.


Berduyun-duyun, mereka merambati pepohonan dan rumah-rumah, merayapi jalan dan lantai, kemudian pada akhirnya menggigit, menjepit, menyapit, mengapit para pemuda yang sudah melengkapi diri mereka dengan beragam senjata tajam seperti parang panjang, kapak, linggis, pisau dapur, atau senjata api rakitan. Secara mengejutkan, para prajurit budak iblis ini juga ternyata melengkapi diri pula dengan senjata api milik pasukan khusus Kepolisian yang mereka pungut dari sisa-sisa mayat anggota tim Polisi yang dibantai oleh hantu Mariaban.


Teriakan perang menyeruak. Para pemuda melindungi diri sekaligus menyerang. Mereka membabat, membacok, menusuk atau menikam mahluk-mahluk kecil menjijikkan yang datang untuk menyobek rongga mata, mengebor masuk telinga atau menyelinap paksa ke dalam mulut mereka. Mereka yang bersenjatakan pistol dan senapan, menembaki binatang-binatang yang lebih besar.


Percikan tubuh mahluk-mahluk merangkak itu mengotori jalan, berderai, berceceran, hancur lebur berantakan akibat tembakan bedil dan senjata api rakitan atau kibasan senjata tajam. Awalnya memang para pemuda yang melawan seperti dicacah habis-habisan oleh binatang-binatang ini. Namun, ketika mereka kembali utuh dan bangun dari kematian, binatang-binatang itu terlihat hanya seperti pengganggu saja. Para binatang yang jumlahnya tak terhitung itu mulai berkurang jumlahnya.

__ADS_1


Sarti melihat Wong Ayu yang masih mengambang di udara mengatur serangan bagai seorang panglima perang. Namun Sarti tak dapat membiarkan pemandangan ini. Ia mencelat turun dengan tombak Batu Klinting bergagang panjang digenggam erat di tangan kanannya. Sejak menjejak tanah, ujung tajam tombaknya langsung mencium darah. Bilah lidah logam runcing bertuah itu menyasar para pemuda yang kembali bangkit dari kematian.


Soemantri Soekrasana berdiri berdampingan dengan Maung yang sudah gatal melesakkan cakar dan gigi-gigi tajam dan bertaringnya ke tubuh para pemuda budak iblis tersebut. Namun Soemantri Soekrasana mencegahnya. "Tunggu sebentar, Anggalarang. Jangan habiskan tenagamu. Aku masih mencari celah untuk membuat mereka tak kembali bangkit. Lagipula, ada beberapa dari mereka terlihat sekali mempersiapkan diri dengan senjata api lengkap yang direnggut dari tim khusus Kepolisian yang mereka bantai sebelumnya," ujar Soemantri Soekrasana.


Memang, beberapa pemuda yang terlihat memiliki postur tubuh prima, berdiri di sisi belakang. Mereka terlihat piawai sekali memegang senjata-senjata khusus rampasan tersebut. Mungkin memang mereka telah berpengalaman dalam duni kejahatan bersenjata api sebelumnya. Mereka hanya berdiri menyaksikan rekan-rekan mereka bertarung melawan binatang-binatang menjijikkan berbau busuk dan beracun tersebut, ditambah sosok perempuan pendekar berbaju merah yang bergerak cepat menerjang.


Maung menggeram. Sosok Anggalarang mencoba keluar dari wajah separuh hewan separuh manusia tersebut. "Tapi kau lihat Sarti, bukan? Ia sudah turun, Maung juga sudah tak tahan lagi untuk ikut bergabung, Soemantri. Kau saja cari caranya, Maung akan turun bertempur bersama Wong Ayu dan Sarti di sana," ujar Anggalarang. Citra wajahnya membayang di balik kulit muka berbulu putih kasar milik Maung. Tubuhnya siap mencelat turun ke medan pertempuran.


"Kau tahu pasti siapa Sarti, bukan, Anggalarang? Dia adalah Ni Diah Ratna Manggali. Sosok yang kau lihat di sana adalah seorang ibu yang melahirkan tokoh-tokoh besar di tanah Nusantara ini. Aku perlu mengingatkan kau mengenai hal itu," balas Soemantri Soekrasana.


Sarti, sang Ratna Manggali, dalam catatan sejarah merupakan istri dari Mpu Bahula dan Anak dari Ni Calonarang sebagaimana tertulis dalam Serat Calonarang halaman 17a. Perkawinan yang awalnya merupakan siasat Mpu Baradah untuk mengalahkan sang ibunda, Ni Calonarang, ternyata berjalan baik dan penuh cinta kasih.

__ADS_1


Bahkan dari perkawinan, Ratna Manggali melahirkan keturunan yang tercatat sebagai tokoh besar.


Putra tertuanya, kelak dikenal sebagai Mpu Wiranatha atau Mpu Tantular, adalah seorang bujangga termasyur Sastra Jawa yang hidup di abad ke empatbelas, pada masa kekuasaan Rājasanagara, atau Hayam Wuruk. Ialah yang menulis kakawin Arjunawiwaha dan Sutasoma. Dalam Sutasoma-lah tercipta bait Bhineka Tunggal Ika.


__ADS_2