Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Delapanpuluh Empat


__ADS_3

Anggalarang berdiri berselimutkan kabut yang menelisik di sela-sela tubuhnya. Ia menyibaknya dengan gerakan pelan kedua tangannya. Para siluman ulat meliuk-liuk bagai ombak di tepi pantai. Mereka mendesis menunjukkan taring dan raut wajah mengerikan mengintimidasi. Beberapa bahkan memamerkan mimik yang mengejek dan mencemooh, paham bahwa sosok Anggalarang adalah korban utama mereka di balik dunia nyata. Sang target telah berhasil mereka pancing dengan umpan pusat berahi. Gigi-gigi tajam serupa mata gergaji mengkilat oleh pantulan cahaya temaram dunia antah berantah ini.


Anggalarang menutup mata, merasakan Maung menggelora di dalam jiwanya. Mahluk harimau putih itu berjalan berputar-putar tak sabar dalam rongga dada ke perutnya minta dilepaskan.


Siluman ular betina yang tadi berada dalam bentuk tubuh Kusuma Dewi, yang bernama Gendhari itu berdiri di atas badan ularnya paling depan diantara ular-ular betina lainnya. Lidahnya yang bercabang menyelip keluar di sela-sela gigi dan taring runcingnya yang basah oleh liur. Bibir merah meronanya menebarkan sensasi yang aneh antara pesona nafsu yang begitu nakal nan menggoda serta kengerian yang tiada tara.


Sosok itu memandang Anggalarang tajam. Sorot matanya mempersembahkan rasa kemenangan tiada terperi, metamorfosa pikiran keunggulan hati. "Kau siap bertarung untuk terakhir kalinya, Anggalarang? Tiada teman dan kawan yang dapat membantumu kali ini, pun tak ada kekasih yang membayang di setiap mimpi indahmu. Jangan lupa, kaulah yang membunuh Kusuma Dewi. Darahnya ada di tanganmu," ujar siluman ular betina itu lambat dan panjang di sela-sela desisannya, serasa ingin menekankan setiap dosa yang Anggalarang telah lakukan di lalu masa.


Tanpa diduga, Anggalarang tersenyum. Sebuah senyum yang tulus, bukan dibuat-buat. "Aku sudah lama merelakannya. Aku juga menerima setiap dosa yang aku cipta. Jadi, kau salah besar bila merasa aku ini sebatang kara. Teman-temanku memang tak ada bersamaku sekarang karena kau berhasil menipu dan menyekapku di alam yang berbeda ini. Tapi, aku sama sekali tak sendirian. Catur Angkara membatuku selama ini untuk menyadari siapa aku sebenarnya."


Tubuh Anggalarang robek, terkoyak. Sosok Maung yang hewani mendesak keluar dari bungkus tubuhnya, membelah membuka kulit dan daging bagai kacang tanah.


Maung mengaung meraung.


Bulu-bulu putihnya berdiri bersama dengan kedua daun telinganya yang besar dan lancip. Kuku kaki depan dan belakang Maung keluar hitam menajam, sedangkan rahangnya terbuka lebar dengan taring di samping menggiring kemanusiaannya ke samping. Maung sudah seutuhnya berubah.

__ADS_1


Para siluman ular merespon Maung dengan mendesis, bergerak-gerak liar sembari mempertontonkan gigi-gigi mereka yang setajam gigi hiu. Tubuh mereka bergelombang, bergulung-gulung siap menyerang sang Maung. Semuanya mengharapkan mendapatkan cuilan tubuh siluman ular itu setelah nanti mereka menubruknya bersama-sama, bergiliran mengunyah badan sang harimau putih.


Tepat ketika para ular betina siap melontarkan dan meluncurkan tubuh mereka ke arah target, kabut tersibak, menguap meruap hilang tak terbilang. Dunia gaib para pasukan Nyi Blorong ini menjadi seluruhnya putih bagai terbungkus awan yang tanpa bentuk.


Mendadak warna putih yang mengelilingi wilayah dunia gaib itu memadat di berbagai sudut. Bagai gumpalan adonan tepung, muncullah bentuk-bentuk yang dengan cepat terlihat jelas. Mereka semua adalah mahluk-mahluk berbulu berwarna putih dengan garis-garis aksen hitam. Tak lama terpampanglah sudah bahwa Maung tak sendirian. Belasan, bahkan mungkin lebih, pasukan siluman harimau putih serupa dirinya telah hadir bersamanya. Bulu tubuh mereka yang putih menegang karena otot-otot hewani mereka telah mengeras terlebih dahulu, siap tempur.


Pasukan siluman ular betina bawahan Nyi Blorong kini yang harus terkejut dan terkesima dengan kehadiran tamu yang tak diundang. Bagaimana mungkin prajurit siluman harimau putih yang setia pada Prabu Siliwangi itu berhasil menembus dunia gaib mereka untuk membantu Anggalarang?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bandi dalam bentuk mahluk gaib parang irang melingkarkan kedua lengannya erat ke tubuh Wong Ayu yang sedang mengambang di angkasa. Sepasang tungkai kurus itu mengikat dan mengunci tubuh sang perempuan penyihir sakti itu erat sebagai rantai kapal.


Setiap partikel gas gaib bagai pedupaan tengkorak hitam yang telah berubah wujud tersebut masuk dengan paksa melalui lubang hidung, mata, telinga dan mulut Wong Ayu, membuatnya tersedak dan termengkelan.


Tubuh Wong Ayu langsung kejang, kejat, kaku, kejur, kelojot dan berkiat sampai membengkok kayang ke belakang. Rupa-rupanya, tengkorak hitam yang berubah bentuk menjadi asap itu membawa serta puluhan hantu, arwah dan roh halus penasaran untuk masuk mengobrak-abrik tubuh Wong Ayu.

__ADS_1


Kejadian ini sama sekali tak terpikirkan oleh Wong Ayu sendiri. Ia seakan tak percaya bahwa tubuh dan jiwanya bisa dirasuki oleh entitas supranatural. Nyatanya, pertahanannya yang tak terencana dengan baik itu bobol.


Soemantri Soekrasana yang melihat kejadian ini langsung panik dan tak berpikir panjang lagi menghunus Mpu Gandring dari dalam tas selempangnya. Jeritan para iblis yang menempel erat di dalam tubuh Wong Ayu terdengar pilu silih berganti. Dukun muda itu merapal mantra secepat mungkin sembari berlari ke arah Wong Ayu yang masih kejang-kejang melayang di udara.


Tapi, belum selangkah ia bergerak, sebuah benda pipih panjang nan besar berputar mendesir di angkasa dan siap memotong tubuhnya. Soemantri Soekrasana tak bisa menghindar.


Sosok Gatotkaca menyambar dan menyasar benda yang sedang mengancam nyawa Soematri Soekrasana tersebut sehingga membuat benda misterius itu telempar jauh menancap di tanah tak jadi mengenai Soemantri Soekrasana yang tak sempat merapal mantra ilmu Lembu Sekilannya.


Soemantri Soekrasana kemudian mendapati bahwa lempengan besar yang terlempar ke arahnya ternyata adalah potongan rotor alias kipas helikopter.


Ia terkejut setengah mati. Hampir saja nyawanya melayang bila tidak diselamatkan sosok adiwira yang pernah ia temui sebelumnya.


Gatotkaca tidak tersenyum. Ia berdiri sedikit membungkuk dan mengarahkan pandangannya kepada satu sosok lagi yang terbang mengambang di depan mereka. Affandi tersenyum puas menantang.


"Sial. Orang itu sudah menjadi sehebat ini," ujar Soemantri Soekrasana merujuk pada Affandi. Ia kemudian memandang Gatotkaca, "Terimakasih sudah menyelamatkanku. Kali ini, kau harus direpotkan kembali. Mohon maaf aku terpaksa meminta tolong lagi untuk menghadapi orang itu. Jelas kau adalah lawan yang dapat mengimbanginya. Aku harus membantu Wong Ayu," ujar Soemantri Soekrasana.

__ADS_1


Gatotkaca, yang kelak lebih dikenal dengan julukan Tetuka oleh media, walau tak tersenyum dan bermimik wajah serius, tetap mengangguk dengan pasti. "Lakukan apa yang harus kau lakukan. Tinggalkan orang ini padaku," ujar sosok adiwira dengan suara baritonnya itu.


Soemantri Soekrasana melesat, merapal mantra dan memanggil Chandranaya sang kuntilanak merah dengan suara gaibnya. "Dimana kau? Aku sedang membutuhkanmu sekarang," ujarnya di dalam hati.


__ADS_2