
Keris milik Girinata membangunkan Wardhani dari balik relung gaib jiwa Kusuma Dewi. Ketika mata Wardhani terbuka, saat itulah mata batin Kusuma Dewi ikut terbuka bersamanya sehingga ia dapat melihat arwah sang sepupu berjongkok di depannya. Wardhani lah yang dahulu datang ke kamar Ratih dalam bentuk suaminya untuk mengambil upah atas pesona yang ia berikan pada Kusuma Dewi: jiwa sang sepupu.
Sang siluman ular betina yang tertidur pula ikut menggeliat. Ia melihat Pak Guru Johan dan tersenyum. Ialah yang mengikat tubuh penuh peluh, tanah dan nafsu Kusuma Dewi dan Pak Guru Johan ketika keduanya sedang memacu berahi di tanah lapang dekat tunggul kayu keramat Dusun Pon, salah satu dari Pancajiwa yang terkotori.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hei, kau lihat itu tidak?" ujar salah satu preman kepada rekan kerjanya. Preman yang satu ini mengenakan jaket kulit hitam yang sudah luntur warnanya dan sedikit kebesaran dan tidak pas di badannya. Namun bukan berarti ia tak terlihat seram dan bengis.
Teman yang ia tanyai berambut gondrong dengan kuncir ekor kuda dengan seutas karet gelang seadanya. Ia melihat ke arah yang ditunjukkan rekannya.
"Lihat apa?"
"Rambutnya mengapa jadi lebih banyak putihnya?"
"Uban maksudmu?"
"Bukan ... Bukan. Tadi ia berambut pendek biasa, tapi belum lama aku perhatikan, sekarang rambutnya sedikit lebih panjang dan berwarna putih."
Si preman gondrong mengelus kepalanya sendiri, bingung harus menanggapi bagaimana. Ia tak menyangka harus dihadapkan dengan tingkah dan pikiran konyol, tak berguna dan sia-sia dari rekannya tersebut. "Kau mau aku bilang apa?" akhirnya ia berkata.
Sadar bahwa apa yang ia utarakan tadi terlalu aneh dan cenderung tanpa makna, sang preman dengan jaket sedikit kebesaran itulangsung mengibas-ngibaskan telapak tangannya, "Ah, sorry, bro. Lupakan saja," ujarnya pendek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Kau bisa melihatnya dengan jelas sekarang? Istri cantikku, ibu kandung dari kedua anak laki-lakiku yang berkat kau, tewas mengenaskan dan menjadi arwah gentayangan?" ujar Pak Guru Johan lekat-lekat di telinga Kusuma Dewi.
"Iya Mas, aku melihatnya. Aku melihat Mbak Ratih. Maafkan aku Mas, Mbak. Aku tidak bermaksud ...,"
"Diam kau, bangsat! Sundal, pelacur neraka jahanam. Aku tak menyuruhmu minta maaf. Aku mau kau mati! Jadi tidak perlu capek-capek membuat alasan segala atas perbuatan sialanmu itu. Ratih di depanmu akan membawa rohmu ikut serta. Ia akan damai di alam sana, sedangkan kau akan berenang di lautan api, nanah dan darah!"balas Pak Guru Johan kasar.
Tangisan kepedihan, kesedihan dan kesakitan Kusuma Dewi terdengar jelas. Hantu Ratih masih berjongkok di depannya memandang kosong ke arah Kusuma Dewi.
"Kau lihat baik-baik sepupumu yang mati karenamu, Kusuma Dewi. Aku akan melesakkan keris ini ke dalam kepalamu dan membiarkan darah keluar sampai habis. Kau akan mati seperti dirinya, Kusuma Dewi.
Sang preman berevolver mengernyit. Ia masih tak memahami arah pembicaraan kedua orang di depannya: sang pemberi pekerjaan dan korban. Meski awalnya ia tak peduli, lama-kelamaan ia jengah juga. Laki-laki bernama Johan itu mengulang-ulang konsep orang mati yang hidup kembali dan sekarang ada bersama mereka. Bukankah itu referensi tentang hantu? Sang preman ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini karena tanpa sebab ia merasa bulu kuduknya merinding.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Preman satunya memandang ke arahnya seakan mengatakan, "Apa kubilang tadi!"
Namun, setelah itu kedua preman itu tak sempat berbicara lebih jauh.
Anggalarang merasa kulit kepala dan wajahnya tertarik dantersobek. Ada yang berusaha keluar dari sana. Ia merangkak dan menggapai kasur, merasakan sekujur tubuhnya serasa ngilu dan terbakar. Tulang belikatnya tercatut keluar, gusinya berdarah, jari-jarinya memberontak serasa patah. Yang paling parah adalah kedua tangannya seperti memanjang dan sepasang tungkai kakinya menyembulkan otot-otot keras. Rambut-rambut berwarna putih muncul dari pori-pori tambahan di kepala, wajah, punggung, kaki dan tangannya.
Kedua preman yang menjaganya hampir tak percaya dengan apa yang serang mereka lihat. Sosok fisik laki-laki sekarat di depan mereka itu seperti terpatah-patah. Ada auman hewani yang menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya keluar dari kerongkongannya yang sudah berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
Sepasang taring menembus gusi Anggalarang. Kedua matanya membesar. Wajahnya menjadi moncong. Bagian tubuhnya yang lain tak kalah mencengangkan perubahannya.
__ADS_1
Bulu-bulu putih kasar mencuat dari seluruh tubuh yang semakin membesar itu. Kedua tangan Anggalarang memanjang dan berubah menjadi semacam tungkai kaki depan.
Anggalarang berdiri dengan keempat kakinya. Darah menghiasi wajah dan sebagian besar tubuhnya yang kini sudah menjadi sosok setengah manusia setengah harimau berwarna putih, sangat hewani tetapi belum menghilangkan bentuk manusiawinya sendiri sama sekali.
Mahluk itu mengaum keras, menjatuhkan mental siapapun yang melihatnya. Maung, sang harimau putih di dalam tubuh Anggalarang, siluman binatang itu akhirnya mengambil alih tubuhnya. Rasa haus akan darah dan kematian mengambang di depan hidungnya yang mengendus-endus mengerikan penuh semangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hantu kuntilanak Ratih sang Belibis yang sejak pertama kemunculannya terlihat dingin tak memiliki emosi itu mendadak terlihat sekali aura panik dan ketakutannya. Hawa kengerian aneh sosok hantu itu meruap di sekitarnya, membentuk tubuh astralnya seperti selembar hologram rusak, terpecah-pecah, koyak dan sobek.
Preman pemegang revolver melonjak kaget. Seperti kebanyakan orang yang mengalami hal yang tidak bisa begitu saja diterima oleh nalarnya, ia menggosok-gosok kedua matanya. Sosok di depannya malah semakin terlihat jelas: serupa bayangan tembus pandang, atau lukisan di permukaan kaca: sosok seorang perempuan: berjongkok, berbaju lusuh, berwajah cantik sekaligus mengerikan: terlihat terkejut dan sama takutnya dengan dirinya.
Kejadian keterkejutan yang berlangsung dalam sepersekian detik secara bersamaan dan serentak namun dialami oleh pribadi-pribadi yang berbeda ini dapat dipetakan sebagai berikut:
Pertama, roh Ratih mundur ngeri melihat kemunculan Wardhani dari balik lapisan kulit Kusuma Dewi. Wardhani yang tak berbusana itulah yang mengambil nyawa Ratih ketika ia masih bernafas. Sedangkan setelah mati dan menjadi arwah gentayangan pun Wardhani masih menguasainya. Wardhani masih merupakan sang Ratu Dedemit.
Kedua, Pak Guru Johan terkejut dan juga tersentak ke belakang ketika kepala Kusuma Dewi yang hendak ia tusuk dengan keris itu berputar seratus delapan puluh derajat memandang ke arahnya dan tidak hanya wajah, namun seluruh tubuhnya berubah menjadi sosok perempuan yang sempat cukup dikenalnya di Dusun Pon: Wardhani: terlentang polos tak berbusana: bertubuh molek, berkulit segelap daun kering namun berpucuk dada merah merekah darah. Wajah itu tersenyum ke arahnya.
"Bagaimana kabar Mas Johan? Lama kita tak bertemu, bukan? Dan, ah, keris yang Mas pegang itu milik bapakku, Girinata. Masih ingat beliau, Mas?"
Ketiga, sang preman berevolver mengangkat lengannya, bergetar mengarahkan pistolnya tersebut ke arah sosok aneh yang kuat ia duga adalah hantu itu - ia yakin karena bulu kuduknya merinding dan kedua lututnya serasa begitu lemah.
Keempat, dua orang preman - yang gondrong dan yang berjaket kulit kebesaran - begitu terkejut sehingga terpaku melihat perubahan tubuh Anggalarang menjadi sosok mahluk yang mirip seekor harimau berukuran besar, namun belum menghilangkan bentuk mirip manusianya sama sekali.
__ADS_1