Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Kelimabelas Kusuma Dewi


__ADS_3

Pintu kamar mandi terbuka lebar. Anggalarang menghambur keluar demi mendengar teriakan gadis itu, lalu menghampiri Livy Tjandrawati cepat.


"Liv, kamu kenapa?" seru Anggalarang.


Livy Tjandrawati kembali terkejut dan menepis sentuhan tangan Anggalarang. Ia menyeret tubuhnya mundur menjauhi Anggalarang.


Wajah cantiknya pucat, seakan darah sudah terkuras habis. Matanya yang sipit hampir tanpa kelopak itu terbelalak dan mulutnya terbuka, ternganga, rahangnya terkunci dalam posisi itu.


livy Tjandrawati bergantian melihat ke arah Anggalarang maupun ke arah jendela kamar hotel dengan campuran perasaan panik, bingung dan horor.


Anggalarang melihat ke arah yang ditatap Livy Tjandrawati. Tak ada apa-apa selain cahaya di luar kamar yang mencoba menembus tirai.


"Ada apa Liv? Ini aku, Anggalarang," ujarnya. Entah mengapa, Anggalarang merasa perlu menyebutkan namanya kepada Livy Tjandrawati yang terlihat panik dan ketakutan itu. Mungkin untuk meyakinkan pada sang gadis bahwa ia memang benar Anggalarang adanya.


Perlahan, wajah Livy Tjandrawati yang penuh kengerian itu mulai berpaling dan berfokus ke arahnya. "Ang ... Anggalarang ...?" ujarnya.


"Ya, Livy. Ini aku, Anggalarang."


"Ang ... Angalarang ... Kamu kah itu?"


"Iya, benar. Ini aku, Anggalarang," ujar Anggalarang untuk kesekian kalinya, mengulang-ulang.


Anggalarang memutuskan untuk mendekati Livy Tjandrawati yang sepertinya sedang dalam keadaan syok tersebut. Ketika ia sentuh, Livy Tjandrawati langsung meraih tangannya, bahkan melompat memeluknya. Anggalarang menggendong tubuh gadis itu yang bergetar hebat serta menempel erat di badannya.


Walau Livy Tjandrawati bertubuh tinggi dan bertungkai panjang, badannya sungguh langsing dan ringan. Mudah bagi Anggalarang untuk membopongnya kembali ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Tanpa berbicara sepatah kata pun, dengan perlahan, telaten dan penuh perhatian, Anggalarang membelai rambut dan mengelus punggung Livy Tjandrawati sampai perempuan itu merasa nyaman dan kalem. Ia tak bertanya sepatah kata pun, yakin bahwa Livy Tjandrawati sehabis bermimpi buruk. Tubuhnya yang bergetar hebat perlahan mulai tenang.


Livy Tjandrawati meraba wajah Anggalarang menelusuri bekas luka di sana dengan jari-jarinya.


"Aku takut, Anggalarang,". ujar sang gadis lirih.


Namun, sebelum Anggalarang berkata apa-apa, Livy Tjandrawati sudah mengecup bibir Anggalarang. Bukan kecupan biasa, tetapi penuh dengan sinyal gelora asmara.


Anggalarang menyambut undangan itu dengan baik. Dari bibir, kecupan Anggalarang turun ke dagu, leher dan mendarat di pucuk dadanya yang menegang panjang itu. ******* mulut Anggalarang bergantian di kiri dan kanan dada Livy Tjandrawati membuat snah gadis menggelinjang.


Pagi-pagi buta itu, Anggalarang menidurkan Livy Tjnadrawati dengan berahi. Persetubuhan mereka tidak liar seperti biasanya. Anggalarang menelisik masuk le tubuh sang gadis dengan penuh rasa perhatian, pelan tetapi nyaman.


Ledakan puncak permainan cinta mereka kali inipun selesai dengan mapan, bukannya liar dan ugal-ugalan.


Livy Tjandrawati kembali terlelap.


Tak terlihat apapun.


Anggalarang menyibak rambut hitam Livy Tjandrawati yang menutupi wajahnya. Gadis itu telah terlelap dalam pelukannya, masih tanpa busana. Hanya selimut dan pelukan Anggalarang yang masih menghangatkannya.. Tak mungkin mendapatkan informasi apapun tentang kejadian aneh barusan.


Apapun yang terjadi pada Livy Tjandrawati yang ia tinggal ke toilet tadi harus menunggu untuk diceritakan ketika ia sudah terbangun esok. Ia tak heran bila besok Livy Tjandrawati akan menceritakan mengenai mimpi buruknya.


Anggalarang mendesah gerah.


Hal-hal semacam inilah yang membuat Anggalarang sebal. Beragam hal aneh dan misterius menjadi semakin tak dapat dipahami ketika sang Maung tak ada, pergi entah kemana.

__ADS_1


Padahal, kehadiran harimau itu juga sama membuatnya selalu kesal dan marah. Sang harimau kerap bermain-main dengan memori ingatan masa lalu, identitas diri dan perilakunya. Entitas itu seperti sedang menguasainya.


Ia selalu diingatkan oleh sang Maung dengan kata-kata sang ayah yang mendadak menghilang di masa kanak-kanaknya, "Kita keturunan para prajurit setia Prabu Siliwangi, Anggalarang. Mereka adalah para abdi setia dan penjaga raja tanah Pasundan itu yang mengikuti kepergian sang Prabu mengasingkan diri ke hutan dalam bentuk pasukan harimau putih, sampai moksanya Prabu Siliwangi."


Anggalarang tak paham dengan penjelasan ini. Cerita yang diulang-ulang sang ayah menempel erat di kepalanya dibanding rupa wajah dan sosok sang ayah sendiri. Sang Maung menyiksanya dengan ingatan ini, menciptakan sebuah krisis identitas.


Tahu apa Anggalarang mengenai Prabu Siliwangi, bahkan berbicara bahasa Sunda pun ia tak bisa. Ia tercerabut dari akar budayanya seperti pula halnya dengan memori tentang ibunya yang sama hilang. Lidah ibu tak menurun padanya sehingga bahasa ibu tak pernah sanggup ia warisi.


"Maung, aku sebenarnya malas meminta padamu. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Di kala seperti ini, kau malah tak muncul dan terus menyiksaku dengan misteri yang tak mampu kubobol sendirian," gumam Anggalarang.


Ia memang membenci rahasia dan misteri.


Siksaan inipun tak berakhir esoknya. Padahal Anggalarang sama sekali tak tidur sejak kejadian pagi buta tadi. Ia terus memeluk dan menjagai Livy Tjandrawati agar tak terkesiap terbangun dalam keadaan terkejut lagi, atau bila memang ada sesuatu di dalam kamar hotel mereka ini. Nyatanya, Livy Tjandrawati telah lupa sama sekali.


"Maksud kamu apa, Anggalarang?"


"Subuh tadi kamu bangun, menjerit dan ketakutan. Aku sedang di kamar mandi. Aku memelukmu sampai pagi setelah kita kembali bercinta, Liv," jelas Anggalarang keheranan karena Livy tak ingat pernah mengalami kejadian semacam itu. "Kamu sungguh tak ingat?" tanya Anggalarang heran.


Livy Tjandrawati mengerucutkan bibir tipisnya, menyipitkan kedua matanya yang memang sudah sipit itu, dan menggelengkan kepanya perlahan. "Aku tak ingat, Anggalarang. Mengigau kah aku? Ah, tapi terimakasih lho sudah mau memelukku semalaman," ujar Livy Tjandrawati menggoda. Rupa-rupanya, waktu bercinta ia masih begitu ingat sedangkan terhadap kejadian buruk semalam, ia sama sekali tak mampu mengingatnya.


Tak tampak hal-hal berbeda darinya. Tak ada sisa-sisa ketakutan seperti yang subuh tadi kental di wajah sang gadis.


Anggalarang menyerah mencoba menggali ingatan itu pada diri Livy Tjandrawati, ia toh tahu sekali bahwa memori bukanlah suatu hal yang selalu mudah dan menyenangkan untuk diangkat ke permukaan kesadaran. Ia saja kerap melupakan mimpi.


Memang Livy Tjandrawati tak salah. Ia sungguh tak ingat bahwasanya pagi-pagi buta tadi di kamar hotel tempat mereka bercinta, bergumul dalam nafsu, Livy Tjandrawati terkecoh oleh sosok berdiri membelakanginya yang ia ia pikir Anggalarang itu.

__ADS_1


Ketika berbalik, dengan jelas, Livy Tjandrawati melihat wajah putih pucat memandang dingin ke arahnya. Walau tubuh sosok itu menyerupai bentuk tubuh laki-laki, Livy Tjandrawati tahu benar bahwa wajah pucat dan sebentuk helai-helai rambut kemerahan mencuat di kepalanya itu milik seorang perempuan yang mungkin cukup ia kenal.


__ADS_2