Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tujuhpuluh Delapan


__ADS_3

Sarti sudah mati dan hidup kembali berkali-kali menyaksikan cucu, cucu buyut dan keturunan setelahnya hidup dengan jaya: Dang Hyang Kepakisan, putra tertua Mpu Tantular, yang kemudian menurunkan Cri Soma Kepakisan yang merupakan guru spiritual tokoh termahsyur di masa kerajaan Majapahit, Patih Gajah Mada.


Dari cucunya, putra Mpu Tantular yang lain, Dang Hyang Sidhimantra, selajutnya menurunkan Ida Manik Angkeran, yang menurunkan Arya Wiraraja atau Arya Banyak Wide. Dia adalah tokoh yang mempunyai andil besar dalam berdirinya kerajaan Majapahit bersama Raden Wijaya.


"Dia lebih paham segala tindakannya dibanding kita, Anggalarang. Ia sudah hidup ratusan tahun. Ia sudah mati dan kembali hidup berkali-kali. Bukannya menyepelekan kemampuan Maung yang juga telah hidup ratusan tahun sebelumnya, Anggalarang. Tapi kau bisa tewas, kau tahu itu, bukan? Jadi, tolong tunggu sejenak, aku pilah-pilih mantra yang tepat," ujar Soemantri Soekrasana.


Maung kembali menggeram, tapi Anggalarang paham dengan maksud Soemantri Soekrasana. Tingkat kesulitan melawan kekuatan iblis ini semakin berat. Harus benar-benar dipikirkan ketika hendak menceburkan diri dalam pertempuran. Sarti mungkin terlihat nekad, tapi ia sudah jauh berpengalaman. Maung di sisi lain terkonsumsi oleh sisi kebinatangannya, sejak ratusan tahun yang lalu pula. Sedangkan, Anggalarang yang berada di balik selimut bulu putih ini sama sekali bukan petarung. Ia bahkan bukan pilot atau pengendali sang siluman harimau putih tersebut. Bila ia tewas, ia pasti tewas. Padahal, ia seakan tak menyambungkan apa-apa selain menjadi inang sang roh Maung. Benar maksud Soemantri Soekrasana: Anggalarang sekarang telah menjadi satu bagian dengan sang Maung. Ia memiliki kemampuan juga, ia memiliki peran penting. Kesabaran, intelektualitas dan kesadaran adalah kekuatannya.


"Tenang Maung, tenang. Kita akan turun pada saatnya. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu," ujar Anggalarang pelan melalui batinnya. Maung meraung keras dua kali. Namun setelah itu kedua tangan yang memanjang membentuk fungsi dua kaki depan turun. Maung diam tenang, walau rahang dengan taring-taringnya bergemeretak serta kedua mata buas nya mengincar sasaran.


Soemantri Soekrasana menarik nafas lega. Ia mulai membaca mantra sembari bertanya kepada Chandranaya melalui alam batin dimana gerangan Satria Piningit, Yakobus Yakob dan serombongan hantu-hantu yang membantu mereka. Soemantri Soekrasana memerlukan data-data ini untuk memetakan serangan agar dapat tepat di jantung dan tak mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa.


Ada satu hal lagi yang tak diketahui Soemantri Soekrasana, termasuk Anggalarang, Maung, Satria Piningit bahkan Wong Ayu. Bahwasanya keturunan Sarti sang Ratna Manggali masih terus dilukis dan dihiasi oleh nama-nama besar seperti Dalem Waturenggong, seorang Raja agung, besar dan termasyur pulau Bali di masa jaman Gelgel. Ia adalah Putra dari Dalem Ketut Ngulesir atau Dalem Sri Semara Kepakisan, cucu dari Adipati Dalem Ketut Kresna Kepakisan dan keturunan dari Dang Hyang Kepakisan. Saat Dalem Waturenggong bertahta adalah dimana Bali mencapai jaman keemasan dengan berhasil memperluas wilayah sampai diluar pulau Bali.


Ibunda Wong Ayu, berdarah Bali, keturunan langsung, namun tak tercatat oleh sejarah, Dalem Waturenggong, dari garis ayahnya. Setelah ibundanya menikah dengan sang ayah yang berdarah Jawa, catatan urutan keturunan ini tak lagi diperhatikan oleh mereka, apalagi Wong Ayu yang tak tahu menahu dan tak sempat mendapatkan lebih banyak cerita sejak kedua orangtuanya tewas mengenaskan ketika ia masih berumur sangat muda.

__ADS_1


Sarti, sang Ratna Manggali, sedang membantu keturunannya, garis darahnya sendiri, serta melindunginya. Wong Ayu tak tahu bahwa Sarti paham bahwasanya para sisakarya sang ibunda melekat di dalam diri Wong Ayu menunggu keluar menunjukkan kekuatan mereka bukan tanpa alasan. Para sisya memilih Wong Ayu sebagai keturunan Ni Calonarang dari perkawinan Sarti sang Ratna Manggali dengan Mpu Bahula.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yakobus Yakob melipat kedua tangan di depan dadanya, berdiri tegak dan dingin. Sosok gelapnya dibelai untaian kabut putih yang memecah ketika menabrak kulitnya yang penuh rajah berwarna hitam dengan gradasi. Satria Piningit berjongkok di depan nya memerhatikan keadaan Kampung Pendekar.


"Tidak semua orang yang tewas mereka bunuh langsung bangkit dari kematian dan menjadi bagian dari mereka yaitu para pasukan iblis. Padahal jelas-jelas serangan ke kompleks perumahan di belakang Kampung Pendekar, termasuk kompleks perumahan dimana aku tinggal, ditujukan untuk merekrut pasukan baru," ujar Satria Piningit kepada Yakobus Yakob yang tak merespon.


"Lihat para pasukan tim khusus Kepolisian yang mereka bunuh, ternyata tidak menjadi bagian dari mereka. Para pemuda hanya melucuti senjata api modern dan canggih milik para Polisi tersebut. Mungkin karena mereka tak suka dengan polisi, atau karena cara tewasnya yang diakibatkan oleh hantu Mariaban, setengah jin setengah siluman," lanjut Satria Piningit.


Yakobus Yakob mendengus, membuat Satria Piningit memalingkan kepala ke belakang memandang sosok gelap itu.


Satria Piningit berdiri. Ia memang tak suka sosok misterius itu. "Bagaimana dengan kau sendiri, Yakobus Yakob? Setahuku kau hanya lah sosok penyembah libido dan nafsu akan darah belaka, bukan?" jawab Satria Piningit ketus.


Yakobus Yakob tak menjawab. Ia hanya terkekeh.

__ADS_1


"Kau pikir aku mau terlibat hal semacam ini? Aku tak pernah memintanya. Tapi memang aku sendiri yang kemudian memutuskan untuk membantu rekan-rekanku, termasuk warga kompleks yang terancam bahaya. Walau kemampuanku mungkin tak bisa dibandingkan dengan dirimu, atau yang lain, paling tidak aku sudah menyumbangkan apa yang aku bisa. Aku berkomunikasi dengan mahluk-mahluk astral untuk menarik para mahluk gaib yang membuat para warga Kampung Pendekar menolak mati," ulas Satria Piningit panjang lebar dengan geram.


"Aku paham maksudmu. Kau menganggap dirimu pahlawan, sama seperti keempat temanmu yang lain, bukan?"


"Bangsat kau, Yakobus Yakob! Apa sih masalahmu? Dimana posisimu sebenarnya?!" Rutuk Satria Piningit.


Yakobus Yakob bergerak. Bulu-bulu burung di penutup kepala berbentuk paruh burung itu bergoyang. "Aku hanya mau bilang, bahwa kau tak salah bila berpikiran untuk menjadi seorang pahlawan. Hanya saja, kau belum melakukan semua sepenuh hati."


Satria Piningit hendak protes, namun menangguhkan demi melihat Sarti turun ke medan pertempuran. "Apa yang perempuan itu lakukan? Tidakkah dia sadar bahwa para pemuda itu akan terus bangkit dari kematian tidak peduli seberapa sering ia membunuh mereka?"


Satria Piningit memandang Yakobus Yakob. "Kau tak mau turun tangan membantu Sarti, Yakobus Yakob?" ujarnya.


"Bukankah kau yang bilang sendiri bahwa mereka akan terus-terusan kembali hidup? Mengapa aku harus buang-buang tenaga?" jawab Yakobus Yakob santai.


Satria Piningit menggeram kesal. Ia kali ini melihat ke arah Wong Ayu yang melayang di udara, memainkan kedua tangannya, seakan memberikan perintah kepada para binatang menyerbu kampung tersebut. Para binatang mulai habis, buncai masai.

__ADS_1


Tak lama pandangan batinnya menumbuk sosok Chandranaya sang kuntilanak merah melayang turun menembus kabut, kemudian melesat cepat ke medan pertempuran. Pasti Soemantri Soekrasana memerintahkan mahluk itu, pikirnya.


Satria Piningit memejamkan mata. Sosok-sosok tak kasat mata muncul di balik tubuhnya. Jin Obong, Priyam, Tarini, Jessica Wu, dan Soelastri. Tubuh mereka memendar dalam bentuk yang paling mengerikan.


__ADS_2