Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Tigapuluh Tujuh


__ADS_3

Di saat genting itulah Soemantri Soekrasana melihat sepak terjang sosok misterius yang melompat datang, bergulingan dan memburu dengan gesitnya. Sosok itu membawa serta seorang laki-laki yang Soemantri Soekrasana duga awalnya adalah salah satu penduduk.


Baju orang yang dibawanya compang-camping dan ia sedikit terlihat kelelahan.


Sosok misterius bertopeng itu memberikan kepada laki-laki dengan baju compang-camping tersebut sebilah senjata, yaitu semacam tombak dengan gagang pendek, sebagai alat pertahanan diri. Sedangkan sosok berbaju merah itu melesat dengan bersenjatakan celurit.


Ketika sadar bahwa persediaan kembangnya habis itulah Soemantri Soekrasana kehilangan fokus dan satu preman dengan pistol semi otomatis HS-9 berada hanya dua meter di belakangnya dan siap menyarangkan mimis timah panas ke batok kepalanya.


Sebenarnya Lembu Sekilan jelas akan menyelamatkannya, karena dengan jurus itu ia tak akaan tersentuk oleh serangan lawan. Tapi tidak seperti yang dilihat Sarti. Sarti hanya melihat seorang laki-laki muda, yang kemungkinan besar adalah salah satu penduduk, sedang dalam bahaya. Sarti berkelebat menendang tubuh sang preman sehingga tembakannya luput. Tinggal satu sabetan ke arah kepala maka selesai sudah.


Masalahnya, Soemantri Soekrasana malah menggagalkan tindakan Sarti tersebut. Sarti tentu bingung bukan kepalang. Orang yang ia selamatkan malah menyelamatkan nyawa orang yang ingin mengambil nyawanya.


"Aku tak ingin berdebat. Jelas kita punya tujuan yang sama. Biar aku mengurus para hantu, roh jahat dan mereka yang kerasukan. Sedangkan kau bisa menyelamatkan penduduk dari serangan para mayat hidup. Aku pikir itu adil," pekik Soemantri Soekrasana.


Sarti tak menjawab.


Ia kesal sebenarnya karena batal membunuh seorang preman yang ia kenal adalah bawahan orang yang ia incar, Marsudi. Seorang preman pembunuh dengan senjata api di tangannya yang sedang kerasukan adalah sasaran bunuh yang sempurna. Tapi di sisi lain, laki-laki muda ini terlihat cukup mampu melayani para preman dan roh halus yang ada di dalam tubuh mereka. Penjelasannya juga masuk akal, lebih baik untuk saat ini, dalam situasi gawat dan kacau, ia menyelamatkan para penduduk dan menghabisi para mayat hidup yang terus berdatangan.


Maka tanpa bicara Sarti melesat meninggalkan Soemantri Soekrasana yang melongo.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kardiman Setil melihat tubuhnya begitu kotor. Ia ingin muntah, dan memang akhirnya ia muntah.


Marsudi ingin membantunya ketika sadar bahwa sang saudara angkatnya sedang dimasuki satu sosok roh halus. Dalam penglihatan Marsudi, sosok itu begitu agung dan luar biasa berkuasa. Seorang perempuan paruh baya dengan gambaran fisik sangat mengerikan, namun dengan aura kekuatan dan kesaktian yang tiada tara. Ia bahkan jatuh berlutut melihat roh halus itu melalui jendela jiwa spiritualnya.


Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Marsudi, Kardiman Setil melihat dirinya sendiri dengan penuh penderitaan. Sang iblis di dalam tubuhnya mempengaruhi jiwa dan pikirannya. Kardiman Setil yang sebenarnya memiliki phobia atau ketakutan irasional pada kekotoran benar-benar terekspos dengan hal yang paling ia takuti itu sendiri.


Kardiman Setil melihat dan merasakan dirinya dalam kondisi yang memprihatinkan: belum mandi dan gosok gigi selama bertahun-tahun; rambutnya kusam, kusut dan gimbal di banyak bagian; meruap bau tak sedap bahkan cenderung busuk dari tubuhnya.


"Mar, bantu aku. Mengapa aku seperti ini?" ujar Kardiman Setil dengan mimik wajah sangat memprihatinkan dan memohon.


Iblis perempuan di dalam tubuh Kardiman Setil tersenyum kepada Marsudi. Ia memperlihatkan kekuasaan, kesaktian, bahkan keabadian kepada Marsudi yang berlutut kaku di depan Kardiman Setil.


"Kau mau ini semua bukan, anakku? Percayalah, aku tahu dan paham rasanya. Aku sudah hidup selama ribuan tahun. Aku tahu persis apa maumu dan apa yang mampu dan bisa aku berikan kepadamu. Bahkan bila kau mau seisi dunia, akan aku berikan. Kau bisa sampai ke tempat ini bukanlah kebetulan, kau ditakdirkan untuk berada di atas rantai makanan. Jadilah dewa diatas para manusia-manusia rendah ini," desis sang iblis betina.


"Ap ... Apa yang bisa aku lakukan untukmu, ibu?" jawab Marsudi terbata-bata.


Pertanyaan Marsudi membuat iblis betina semakin tersenyum lebar. Marsudi adalah orang terpilih, terlalu mudah ditembus dengan godaan, namun orang yang sempurna untuk tujuan-tujuan sang iblis. Marsudi ambisius dan jahat. Ia terdeterminasi untuk melakukan apapun yang ia inginkan bahkan bila harus mengorbankan banyak hal.

__ADS_1


Marsudi mendekat ke arah saudara angkatnya yang loyal dan patuh padanya itu. Kardiman Setil terlihat begitu lemah dan tanpa daya. UZI nya tergeletak di lantai, ia sendiri duduk lemah bersandarkan dinding melihat Marsudi dengan dengan tatapan mengibakan.


Marsudi mencabut pisau komando dari sarungnya di pinggang Kardiman Setil kemudian memegang kepala sang saudara angkatnya itu. Marsudi menusukkan pisau dengan bilah besar itu ke lambung Kardiman Setil dan melihat korbannya melotot heran, ngeri dan kesakitan tiada tara. Sebelum Kardiman Setil berhasil berteriak, Marsudi sudah mencabut pisau itu kemudian menusukkan ke dada empat kali, merobek daging dan mematahkan tulang-belulang Kardiman Setil dan menembus sampai ke jantungnya.


Kardiman Setil tewas seketika.


"Aku adalah puncak teratas. Aku adalah dewa diantara manusia fana dan rendah ini," gumamnya perlahan.


Sang iblis betina terkikik puas, keluar dari tubuh Kardiman Setil yang tak bernyawa lagi dan masuk ke tubuh Marsudi, membuat sang inang mereguk segala kekuatan dan kesaktian yang lama ia idam-idamkan dan ingini. Marsudi tertawa puas dan lepas. Ia bahkan kemudian menangis karena begitu bahagianya.


Beberapa meter jaraknya di sisi lain, Affandi yang menyeret tubuhnya turun dari tangga menyaksikan sang abang membunuh saudaranya sendiri. Bahkan ia juga melihat Marsudi kemudian menggorok leher Kardiman Setil sampai kepalanya lepas dari tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wong Ayu melayang di udara. Kedua matanya terpejam, rambut ikalnya berkibar di bawah hujan, begitu pula dengan jubah berwarna gelapnya.


Dalam mata batinnya, ia melihat sebuah gerbang sudah terbuka. Gerbang itu membuka jalan dari dunia kegelapan, dunia gaib, sebuah tempat dimana jiwa-jiwa manusia terpenjara dan roh kegelapan berkuasa. Kadang dinding gaib dunia roh itu memang sedikit terbuka sehingga membuat mata manusia dapat melihat bentuk-bentuk mahluk di dalamnya secara samar. Tapi kali ini, gerbang itu membuka lebar, melepaskan semua jenis hantu dan mahluk halus yang paling mengerikan yang pernah dan belum pernah dikenal. Ada sekelompok manusia sakti yang membantu sang induk dari mahluk-mahluk halus itu agar dapat sampai menjelma ke dunia manusia.


Dari atas sini ia mengerahkan semua kemampuan untuk menutup gapura dan gerbang gaib. Ia memerintahkan hantu-hantu yang keluar untuk kembali masuk ke dalam dunia mereka. Tapi sejauh ini usahanya tidak begitu berhasil. Para roh berseliweran di desa Pancasona ini. Dari yang masih baru sampai berumur ratusan dan ribuan tahun. Semua terpancing oleh kekuatan misterius yang membuat mereka serasa memiliki kekuatan atas keinginan mereka sendiri. Satu-satunya cara adalah dengan mengurung mereka, merantainya dengan tali gaib agar tak mencoba merasuki tubuh manusia.

__ADS_1


Dukun muda itu, Soemantri Soekrasana tadi juga membantunya. Kekuatan laki-laki itu rupanya tidak bisa dianggap remeh. Ia diam-diam memiliki beragam ilmu kanuragan selain ilmu gaib. Dan yang paling mengejutkannya adalah bahwa Soemantri Soekrasana memegang sebuah pusaka, keris legendaris dan sakti bernama Mpu Gandring, yang bisa menakuti, melukai bahkan membunuh roh halus untuk kedua kalinya. Hanya saja ia memang tak dapat dengan seenaknya menggunakan senjata itu, karena daya kutukannya yang begitu besar dapat menyedot energi si pengguna, bahkan konon dapat mengurangi umur sang pemilik.


__ADS_2