Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Empatpuluh Tiga


__ADS_3

Kuntilanak Merah mengambang di udara.


Rambutnya yang acak-acakan berdiri dan memanjang ke segala arah dengan gaib bagai akar terumbuhan. Sosok itu membuka mulutnya dan mulai berteriak dengan begitu mengerikannya. Darah mengalir dari kedua matanya yang terus mengalir turun membasahi leher, dada, perut sampai kakinya dan menetes akhirnya ke tanah.


Hantu, banaspati yang berkobar-kobar dalam bentuk lidah api, jin dan beragam jenis mahluk halus di dalam area pemukiman warga, termasuk yang sudah merasuk ke dalam tubuh beberapa warga desa, mendadak seakan tercerabut keluar. Semua mahluk adikodrati yang penuh dengan kekelaman tersebut ikut berteriak, melolong, mendesis, tergantung jenis macam apa mereka.


Ternyata jumlah mahluk halus yang semakin kasat mata ini terus saja bertambah. Bukan belasan, namun puluhan banyaknya. Belum lagi energi-energi negatif lain yang tidak dapat didefinisikan dengan baik.


Otot-otot tubuh Soemantri Soekrasana serasa menjerit. Kepalanya puyeng luar biasa. Kulitnya menyerap hawa dingin hujan. Ia baru sadar bahwa entah sudah berapa hari ia belum tidur. Ia bukan Wong Ayu yang tingkat kesaktiannya tak terukur atau Anggalarang yang dibantu oleh sang Maung. Sarti yang misterius itu juga terlihat memiliki kesaktian yang tak bisa dianggap sepele. Ia hanya seorang dukun muda minim pengalaman. Walau ia menguasai beragam kesaktian, nampaknya ia sendiri masih bisa dianggap seorang manusia biasa yang ilmu-ilmunya merupakan peninggalan sang guru serta hasil latihan sendiri.


Hampir saja Soemantri Soekrasana menyerah dan membiarkan apapun yang terjadi terjadi ketika teriakan, geraman, raungan, desisian atau kikikan mendadak berhenti.


Semua mahluk halus tiba-tiba menghilang, meninggalkan nafas memburu para warga yang meringkuk di dalam rumah mereka.


Soemantri Soekrasana tersentak. Ia melihat kuntilanak merah yang berdiri di depannya tanpa menyentuh tanah. Pandangan kosong hantu perempuan ini ternyata menunjukkan sesuatu kepadanya.


"Bajingan! Kita dipermainkan berulang kali. Mereka benar-benar akan menghabisi tenaga dan semangat kita," ujar Soemantri Soekrasana yang entah ditujukan pada sang kuntilanak merah atau lebih kepada dirinya sendiri.


"Aku tak akan mampu mengejar mereka sendiri, waktu kita tak akan cukup," lanjut Soemantri Soekrasana yang kali ini jelas diperuntukkan bagi si kuntilanak merah yang mulai kembali terkikik.


Tak ada komunikasi normal yang terjadi diantara dua sosok berbeda jenis itu. Namun yang jelas, tubuh Soemantri Soekrasana langsung menegang dan merenggang ketika kuntilanak merah merasuki tubuhnya.


Tubuh laki-laki muda itu terangkat tinggi ke udara kemudian langsung berkelebat terbang bagai kelelawar melewati desa, menuruni bukit, terus ke pusat kegiatan warga di bawah sana, tepat di tepi jalan raya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wong Ayu merasa tubuhnya bagai ditusuk-tusuk puluhan jarum, tenaganya seperti disedot lintah, dan tulang-belulangnya serasa dipatahkan berkali-kali. Baru kali ini ia menghabiskan daya kekuatannya untuk mengangkut sekaligus tiga orang untuk berteleportasi. Ia juga sudah bertarung hampir tanpa henti beberapa hari terakhir. Namun, bagaimanapun, ia tak bisa membiarkan Sarti, sang jagoan perempuan itu, menghadapi para budak iblis berilmu kebal dan beberapa orang bersenjata api yang kerasukan seorang diri.

__ADS_1


Terutama ketika ia melihat sang Maung jatuh terlempar ke bawah bukit dan Soemantri Soekrasana yang berkelebat turun pula untuk mengejar para mahluk halus yang memang diperintahkan oleh sang iblis betina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Murdani, Aris dan Alif rubuh ke bumi. Tubuh ketiganya menggelepar di atas aspal basah di depan gedung sekolah dan pertokoan bagai tiga ekor ayam sehabis disembelih.


Tak berapa lama enam orang juga ambruk dan berperilaku yang sama.


Mereka sedang berlari ke arah pusat pemukiman desa di atas sana, di kaki bukit, untuk mengikuti Hamdan ketika tiba-tiba ini yang terjadi.


Hanya ada sembilan orang yang berjaga si kompleks makam yang sebenarnya sudah 'bersih' dari gerombolan mayat hidup yang bangkit dari kuburan dan jumlahnya sebenarnya tidak seberapa itu. Sisanya diserang para mahluk halus dalam perjalanan mereka ke pemukiman warga di desa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Marsudi tersenyum licik ke arah Wong Ayu yang berusaha sekuat mungkin untuk berdiri. Wong Ayu sebenarnya masih membutuhkan sedikit waktu untuk pulih, namun rupa-rupanya keadaan sudah berubah sama sekali.


Namun, perempuan iblis yang bersarang di tubuh Marsudi punya rencana yang lebih besar, lebih mengerikan.


Wong Ayu memutuskan untuk menyerang sang iblis, tapi Marsudi berpaling dan meloncat turun ke bawah bukit seperti seekor bajing. Tubuhnya seringan kapas ketika ia mumbul mantul dari atap bangunan ke pepohonan dan hilang dalam kegelapan dan garis-garis hujan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Fadlan si rambut kribo melongokkan kepalanya ke luar gapura. Di belakangnya para warga, baik warga asli maupun pengungsi dari Pancasona, berduyun-duyun keluar dari rumah karena melihat bahwa keadaan sedikit lebih aman ketika para hantu tak lagi berbunyi-bunyi mengerikan.


Fadlan kemudian melihat seorang perempuan dengan berbalut baju berwarna merah berkelebatan di udara. Ia sedang diserang sekitar lima orang laki-laki bertelanjang dada dengan coretan-coretan aneh di dada mereka.


Satu orang perempuan cantik berjubah gelap di satu pojok jatuh berlutut. Ia terlihat lemah dan tidak memperhatikan ketika dua orang laki-laki bertelanjang dada merayap perlahan mendekati perempuan itu. Keduanya memegang pedang panjang.

__ADS_1


Fadlan mengeratkan genggaman tangannya pada parang dan spontan menghambur mencoba menyelamatkan sang perempuan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wong Ayu menghilang. Dua orang penyerang hanya memapras asap.


Tak lama tubuh mereka terangkat tinggi melewati pepohonan dengan begitu cepat. Wong Ayu yang tiba-tibu muncul di belakang para penyerangnya terbang mengangkat mereka dengan menjambak rambut dan melepaskannya ketika berada jauh atas.


Keduanya mungkin kebal senjata, tapi dengan gaya gravitasi yang bekerja secara alami, tubuh mereka menghempas ke tanah dengan suara berderak.


Kaki, punggung dan leher mereka patah.


Keduanya tewas di tempat setelah beberapa detik karena oksigen tak berhasil mencapai jantung dan otak mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Fadlan terlempar menghajar pohon. Tadinya ia hendak membantu perempuan yang nampaknya lemah tersebut, namun sosok itu kelihatannya adalah orang sakti. Ia sekarang malah yang menjadi korban. Ia dihadang salah satu dari orang-orang bertelanjang dada itu.


Secara refleks, hasil dari pelatihan silat di desanya, Fadlan berguling sembari memapras kaki musuh dengan maksud melumpuhkannya.


Namun ia merasa sehabis menebas batang besi. Sebaliknya musuhnya segera menyerangnya dengan pedang. Menusuk dan membabatnya. Fadlan terpaksa membalas dengan serangan yang tujuannya juga mematikan.


Setelah berhasil menghindar dari serangan musuh, ia berputar dengan lincah dan membacok dada dan menusuk perut laki-laki itu.


Keterkejutannya tak bertahan lama karena tubuhnya melayang jauh menubruk batang pohon akibat dorongan luar biasa si laki-laki kebal itu.


Fadlan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2