Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Tri Deshi Babak Tigapuluh enam


__ADS_3

Suara letusan senjata api berkali-kali tak pelak membuat awas para preman bersenjata api. Marsudi berdiri, sedangkan Kardiman Setil menegang. Warga dan tamu losmen serta warung makan menghambur ke luar, menjauhi asal suara tembakan beruntun tersebut.


Sisa preman yang masih bersiap-siap di bawah tak perlu menunggu komando lagi, mereka langsung menaiki tangga ke atas.


Namun, saat itulah sebuah kejadian aneh, mengejutkan dan mengerikan terjadi. Suara teriakan bersahut-sahutan dari warga di sekitar losmen.


"Tolong!! Mayat hidup!!"


"Lariii ... Selamatkan diri kalian!"


"Mati, kita akan matiii ..."


Teriakan ini silih berganti dengan gelombang warga yang berlari dari arah perumahan penduduk desa di bawah bukit kecil terus ke pasar, pertokoan, losmen dan warung makan, terus menuju ke jalan raya.


Para pasukan preman yang baru saja menaiki beberapa anak tangga menjadi ikutan bingung dan selama sepersekian detik mematung tak tahu apa yang harus dilakukan dan lupa akan melakukan apa karena begitu hebohnya situasi mendadak ini. Tidak hanya heboh, kepanikan jelas terasa dari teriakan warga dan dentuman kaki-kaki mereka di atas tanah. Anak-anak remaja berlari bagai kesurupan. Ibu-ibu tergopoh-gopoh dan jatuh bangun membawa bayi dan anak kecil beserta mereka. Sudah hampir pukul tujuh malam saat itu dan hujan masih turun meski tak sederas sore tadi.


Kepanikan mendadak ini cukup membuat para preman bersenjata linglung dan baru sadar dengan perubahan suasana ketika dengan mata telanjang mereka melihat sosok-sosok menakutkan tiba-tiba hadir di sana bersama mereka.

__ADS_1


Kumpulan pocong ada di sudut-sudut bangunan, sosok laki-laki yang berjalan kayang dengan kedua tangan dan kakinya namun kepalanya terbalik seratus delapan puluh derajat, kuntilanak dan sundel bolong melayang di atas lantai, serta beragam jenis mahluk menjijikkan dan mengerikan lainnya.


Kepanikan seketika melanda. Mereka memberondong sosok-sosok tak kasat mata yang sekarang menjadi seratus persen kasat mata itu. Akibatnya sudah bisa diduga, mimis timah panas menyasar ke semua area. Para preman saling tembak tanpa sadar dan karena dikuasai rasa takut dan kepanikan. Mimis timah panas hanya menembus tubuh para hantu dan jin dan malah bersarang di tubuh rekan mereka.


Darah bermuncratan kesana-kemari. Sudah sepuluhan orang tertembak, beberapa diantaranya langsung tewas ditempat akibat luka tembakan yang terlalu fatal.


Marsudi meloncat melindungi Kardiman Setil. Tubuhnya tertembus mimis timah panas di punggung, bahkan kepala. Keduanya terlempar ke tumpukan kursi namun terlindungi dari rentetan senjata yang masih terus berlangsung.


Marsudi berdarah, namun kali ini kekuatannya terlihat berlipat ganda. Dalam keadaan terkejut, Kardiman Setil menyaksikan bahwa saudara angkatnya itu tak mati walau dengan menerima tembakan sebanyak itu. Ia memang terluka, namun dapat sembuh dengan begitu cepat.


Dalam posisi merunduk, Marsudi dapat melihat pertanyaan dalam air wajah Kardiman Setil.


Ia tertawa. Entah bagaimana, Kardiman Setil memandang sang saudara dengan ngeri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Asap mesiu mengepul. Rintihan, teriakan mengaduh bersahutan. Belasan orang masih hidup dengan luka-luka di berbagai tempat. Para roh halus terkikik dan mendesis, terbang memburu masuk merasuki tubuh para preman yang masih hidup. Tubuh mereka mengejang, mulut mereka mengeluarkan buih, sepasang mata membalik menunjukkan bagian putihnya saja. Sedangkan bagi para preman yang tewas, tubuh mereka seketika berdiri dan kembali hidup sebagai mahluk yang tak memiliki rasa, hanya bergerak sesuai perintah dan keinginan kuasa sang perempuan iblis yang juga sudah hadir di sana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti sudah hampir memancung salah satu preman bersenjata yang menyerangnya ketika tubuhnya ditubruk oleh Soemantri Soekrasana. Para preman yang dirasuki roh halus beragam bentuk itu tidak bertindak dan berperilaku seperti orang yang kerasukan pada umumnya. Mereka terlihat sangat sadar kecuali pada bagian mata mereka yang hampir bisa dikatakan merah secara keseluruhan.


Tubrukan Soemantri Soekrasana membuat tebasan Sarti lolos. Namun Soemantri Soekrasana sendiri segera menampar kepala sang preman dengan tenaga dalam disertai mantra kuat pengekang hantu dan roh halus. Preman itu jatuh kejang dilantai, sedangkan hantu laki-laki yang berjalan kayang dan kepala berputar seratus delapan puluh derajat segera keluar dari tubuh sang preman dengan berteriak nyaring. Tak lama tubuhnya seperti tersedot ke dalam sebuah pusaran energi yang diciptakan Soemantri Soekrasana.


Hantu itu terkurung di sana.


"Jangan asal serang dan main bunuh! Mereka sedang dirasuki oleh roh jahat!" teriak Soemantri Soekrasana pada sosok berbaju merah dan bertopeng Panji yang bergerak cepat dengan celurit di genggamannya itu.


"Lalu, kau pikir aku peduli? Makin bagus kalau mereka dirasuki, jadi aku bisa membunuh dua iblis sekaligus dalam satu tubuh," balas Sarti ketus.


"Mereka ingin membunuhku, tidak ada urusan denganmu, perempuan bertopeng," ujar Soemantri Soekrasana yang kemudian sadar bahwa orang di balik sosok misterius itu adalah seorang perempuan.


Sejak benerapa menit yang lalu suasana desa Pancasona menjadi begitu kalut dan berantakan. Hantu dan roh jahat bermunculan dan menunjukkan bentuknya dengan jelas. Mereka menakuti warga, tidak sedikit yang merasuki tubuh orang. Para preman yang hendak menyerangnya sudah separuh tewas karena tertembak rekan sendiri saking takutnya dengan kemunculan para hantu. Sudah pasti, mereka yang tewas hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk berubah menjadi mayat hidup. Sedangkan anggota preman lain yang masih hidup, dirasuki para mahluk gaib dan diperbudak sedemikian rupa agar tetap pada keadaannya ketika sadar, namun berkali lipat jahatnya. Maklum, bahkan sebelum dirasuki, mereka juga sudah memiliki niat jahat. Para preman yang terasuki ini menggunakan senjata api mereka memberondong warga yang berlari menyelamatkan diri dari serbuan mayat hidup dan kemunculan hantu di segala sudut desa.


Sarti muncul secara tiba-tiba. Ia berjumpalitan melawan para mayat hidup, memapras kepala mereka, membacok kerangka jerangkong sampai habis berantakan. Soemantri Soekrasana melihatnya dengan jelas sembari juga menyelamatkan penduduk yang diserang mayat hidup dan memberi hukuman besar pada para mahluk gaib dengan ajian Lebur Seketinya, sedangkan Lembu Sekilan membuatnya leluasa bergerak diantara desingan mimis timah panas dan cakaran serta gigitan para mayat hidup.

__ADS_1


Awalnya ia sudah cukup berhasil menggunakan mantra penarik sukma yang berisi para mahluk gaib untuk keluar dari tubuh para preman dan mengurungnya. Ia juga berhasil menghadiahi lebih dari separuh preman yang tersisa dengan bogem mentah, tendangan dan bantingan, membuat mereka semua terkapar tak sadarkan diri dengan cedera yang lumayan. Namun, ia tak pernah mau sampai membunuh manusia. Mengenal dunia gaib membuatnya sadar bahwa kehidupan sangatlah berharga.


Sialnya, kembang di dalam tas selempangnya sudah habis.


__ADS_2