Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Rasa Gandrung


__ADS_3

Girinata tak percaya melihat pemandangan di depannya. Rambut panjang bergerombol dan awut-awutan si sundel bolong menutupi sebagian besar wajahnya. Lubang di punggungnya mengeluarkan ratusan belatung yang menggeliat mati dalam aliran darah kental. Tapi tubuh Marni yang berasap dan berkedap-kedip antara nyata dan tidak seperti bola lampu yang hendak padam itu tak bergerak sama sekali. Hanya keris Mpu Gandring yang menancap di betisnya terus memendarkan cahaya biru.


Girinata memandang panik ke arah istrinya yang ada dalam rupa hantu sundel bolong itu. Tak berpikir lama lagi, Girinata memegang hulu keris yang berupa logam dibalut kain itu kemudian mencoba menariknya.


Semua arwah gentayangan, hantu, siluman, jin, genderuwo, tuyul, serta iblis yang mampir ke Dusun Pon ini berteriak berbarengan dengan bentuk lolongan, *******, ringkikan bahkan gonggongan. Tubuh-tubuh astral mereka kembali berkelebatan bagai minyak disirami air.


Angkasa serasa retak terbelah. Cemeti energi melecut kesana kemari setelah Girinata mencatut bilah keris pusaka Mpu Gandring dari betis astral sang istri yang sudah berbentuk sundel bolong itu.


Genderuwo yang menjulang setinggi atap menggeram menunjukkan sepasang taringnya yang mencuat keluar dari bibir tebalnya. Tubuh berbulunya bergetar kesal dengan hawa mengancam dan mematikan yang bercipratan keluar dari bilah keris sakti itu. sedangkan sang wewe gombel dengan payudara menggantung panjangnya mendesis penuh amarah lebih kepada sang pemegang pusaka. Sepasang matanya melebar melotot ingin melompat dari rongganya. Lidah sang wewe gombel menjulur panjang meneteskan liur bagai seekor kucing betina yang siap menerkam karena terancam.


Arwah-arwah gentayangan berbentuk kuntilanak yang berdiri di cabang sebuah pohon serta tuyul-tuyul bertubuh anak-anak berkepala besar semua mengkerut takut oleh cahaya kebiruan yang berkedap-kedip itu, tidak terkecuali si sundel bolong yang tubuhnya melayang menjauh dari Girinata yang kedua tangannya menjadi semakin legam menjelaga, bermain-main bersama kekuatan sang pusaka.


Soemantri Soekrasana tak mampu untuk kembali bangun. Ia masih tengkurap karena tenaga seperti sudah disedot habis dari tubuhnya.


Girinata melihat terpesona pada gemerlap sinar biru bilah keris pusaka ratusan tahun yang digenggam oleh tangan hitamnya, berselimutkan surat-surai asap tipis. Tak tahan lagi, ia tertawa keras, "Begini rasanya memegang keris bertuah dan sakti. Selama ini kau ternyata mampu menundukkan segala jenis demit dan setan dengan benda ini, cah bagus?" ujarnya tanpa melihat sedikitpun pada Soemantri Soekrasana. Tatapannya menempel pada Mpu Gandring dengan rasa gandrung.

__ADS_1


"Aku mungkin tak bisa menyerangmu sebelumnya karena Lembu Sekilan masih menempel di badanmu yang hampir saja tak bernyawa lagi itu, Soemantri. Tapi, terbukti bahwa kau akan kesulitan melawan arwah dan hantu-hantu gentayangan dan ilmua gaib tanpa keris ini. Bagaimana bila kuberikan semua hantu, jin, siluman dan iblis di segenap penjuru dusun ini untuk merasukimu, mencacah jiwa sekaligus badanmu, cah bagus?" ujar Girinata dengan sunggingan liciknya.


Penggunaan kata-kata cah bagus memang hanya semata-mata digunakan untuk mengejek, mencemooh dan mengintimidasi Soemantri Soekrasana.


Laki-laki paruh baya yang telah kembali menjadi muda itu mengangkat keris pusaka Mpu Gandring tinggi-tinggi. Siraman energi mendatangi tubuhnya dengan kekuatan yang tak main-main. Girinata merasa seperti tenggelam dalam kuasa.


Lengkingan tinggi nan mengerikan sosok kuntilanak, wewe gombel dan Marni si sundel bolong langsung  meretakkan udara malam itu. "Aku perintahkan genderuwo, wewe gombel, kuntilanak, sundel bolong, siluman, setan alas dan iblis demit segala rupa. Aku perintahkan untuk menyerbu manusia itu. Namanya Soemantri. Cakar, gigit, rasuki, ludahi dengan bisa teluh dan kutukan, penyakit kulit bernanah, perut membengkak dan muntah darah. Tiduri orang itu dengan tubuh-tubuh kalian yang penuh lumpur dan lendir. Cabik-cabik dadanya, congkel kedua matanya, tarik lidahnya keluar dari mulutnya, kunyah klaminnya sampai *****. Lakukan sekarang!" teriak Girinata dengan penuh tenaga.


Untuk melapisi kekuatan si keris, Girinata kemudian kembali merapal mantra ilmu gaib serta setelah itu keris pusaka Mpu Gandring ia sabetkan sekali ke udara. Akibatnya jelas, semua mahluk astral bergejolak, kembali mendesis, berteriak, menangis dan terkikik pedih.


"... Manik gumilir cahya gumilang sang gateyap ireng aran kang ningali sajroning soca, copiyang naga marucut arane banyune mata sira lunga ...," kembali mantra untuk melawan kedatangan dan serangan para mahluk gaib yang bergerak bersama bagai tanaman menjalar Soemantri Soekrasana rapalkan.


Perlawanan yang hebat terjadi. Girinata semakin tertawa menggila. Keris Mpu Gandring tambah erat ia genggam dan ia sabetkan sekali lagi di udara. Tangannya yang hitam masih mengeluarkan garis-garis asap putih yang membumbung mengikuti lekukan keris. Para mahluk gaib tak mungkin mundur menolak perintah Girinata karena kekuatan hawa magis Mpu Gandring yang terlalu membahayakan bagi mereka. Sedangkan Soemantri Soekrasana masih merapal mantra yang juga lumayan kuat sehingga membentuk semacam dinding gaib yang harus mereka rangkak dan panjat untuk dapat melewatinya.


Di tempat lain, mantra yang tertulis di lantai ubin rumah Girinata menyala. Chandranaya sang kuntilanak merah yang mengambang di atasnya terkikik mengerikan. Darah mengalir deras dari kedua matanya membasahi kebaya merah, jarit dan terus turun ke kakinya yang tak menyentuh tanah. Hantu simbah Dasimah yang bungkuk menegakkan kepalanya. Sepasang mata berlendirnya menerawang ke suatu arah tertentu. Hantu Kinanti muncul merayap di dinding. Kedua kaki dan sepasang tangannya membuka lebar bagai seekor laba-laba. Matanya pun memandang nanar ke arah yang dilihat simbah Dasimah. Mahluk-mahluk gaib lain serupa binatang atau campuran manusia dan mahluk jadi-jadian lainnya muncul di sekitar Chandranaya, memadati ruang dan waktu.

__ADS_1


Chandranaya terkikik tak henti, bahkan semakin menjadi. Sehabisnya, mulutnya membuka lebar. Kedua mata merah mengalirkan darahnya melotot. Tak lama tubuhnya menghilang bagai asap disapu angin. Begitu pula segenap mahluk adikodrati lainnya yang tadi ada bersamanya.


Pada saat kejadian itu, dinding pertahanan magis Soemantri Soekrasana sudah bobol. Ia tak kuat menahan banyaknya mahluk gaib yang berbondong-bondong mendatanginyawalau dengan mantra dan ilmu yang ia kerahkan. Kekuatan kuasa keris Mpu Gandring sang pusaka tak mungkin dapat ditolak oleh para mahluk halus.


Sang genderuwo yang bertubuh jangkung menyundul langit berhasil berada paling dekat dengan tubuh sang dukun muda. Taringnya yang mencuat dari mulutnya yang berbuih terlihat jelas di depan mata Soemantri Soekrasana ketika lehernya tercekik lengan raksasa berbulu dan jari-jari bercakar panjang itu.


Nafas Soemantri Soekrasana tersengal-sengal. Sundel bolong Marni melayang di atas kepalanya, kemudian menghujam turun menembus tubuh astral sosok genderuwo yang masih mencekiknya.


Tubuh Soemantri Soekrasana mengejang. Marni merasukinya.


Tak lama rombongan hantu berupa buruk, bertubuh berbau busuk dan tak sempurna berbentuk, berebutan mencoba masuk ke dalam tubuh fisik Soemantri Soekrasana.


Sebelum itu terjadi, dengan sekuat tenaga, Soemantri Soekrasana membaca mantra, meludah ke tanah dan muntah. Ia berdiri dengan gamang namun menghambur maju ke arah Girinata.


Kepala Soemantri Soekrasana terasa berputar dan puyeng luar biasa. Ia jatuh berdebum ke bumi dengan bilah keris pusaka Mpu Gandring menancap di lambung bagian kirinya.

__ADS_1


__ADS_2