Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Tigapuluh Dua


__ADS_3

Maryanto tewas dengan leher patah. Sekarang jiwanya telah disambut sosok perempuan berkulit semerah darah dan nenek-nenek berkulit keriput bergelambir yang sewaktu hidup adalah korban perampokan dan pembunuhan Maryanto.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tubuh Wong Ayu berteleportasi, menghilang dari dalam kamar hotel dan muncul di gedung seberang, meninggalkan bunyi angin berdesir.


Soemantri Soekrasana dan Anggalarang saling pandang melihat ruang kosong yang ditinggalkan sosok wanita berjubah hitam coklat itu.


Wong Ayu sendiri sekarang berada di sebuah lorong. Lampu berkedip-kedip, beberapa sudah padam dan pecah. Ia mencium bau karat darah dan melihat dua mayat berserakan di lantai.


Satu mayat terbaring dengan bentuk kepala yang aneh, terpuntir sedemikian rupa dan mendeprok setengah terduduk di lantai. Satunya lagi dalam keadaan yang sangat mengenaskan, perutnya terburai dengan usus dan bagian dalam tubuhnya ikut keluar bersama darah.


Wong Ayu menutup mata. Kulitnya meremang merasakan jiwa cabul masih mengambang di udara. Ia benci orang cabul, perudapaksa, pedofil, dan segala jenis predator sekssual.


Wong Ayu mengarahkan telapak tangan kirinya kepada mayat yang perutnya terburai itu. Hitungan detik, Febri terbangun! Oksigen tersedot ke dalam paru-parunya. Ia membelalak dan bernafas cepat dan dalam, seperti orang yang baru saja tenggelam.


Febri menatap sosok perempuan berjubah gelap yang berdiri di depannya. "Tuan putri, siapakah kau yang bermurah hati membawaku kembali ke dunia?" ujar Febri hampir menangis saking bahagianya karena jiwanya ditarik oleh Wong Ayu ketika berada di dalam portal menuju dunia lain yang dipenuhi dengan mahluk-mahluk mengerikan penuh kesumat yang merupakan semua korban pembunuhan dan pemerkosaannya.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Wong Ayu datar.


Febri melihat perutnya yang berlobang dan usus-usus berkeluaran. Ia tak percaya bahwa ia masih hidup dengan keadaan seperti ini. Ia kembali memandang perempuan penolongnya tersebut. "Aku tak tahu jelas. Badannya gelap, sepertinya penuh dengan tato. Aku tak benar-benar bisa melihatnya sebelum ia menghilang dan muncul di belakangku," ujar Febri.


Wong Ayu bergumam, "Yakobus Yakob ...," kemudian tersenyum dengan cara yang sangat misterius. Ia kemudian menyibakkan jubahnya dan mengeluarkan sebilah kelewang yang bilahnya berwarna hitam.


Sebelum Febri sempat berkata apapun, bilah kelewang itu memapras lehernya. Cipratan darah menghiasai dinding. Febri mati kedua kalinya sehingga rohnya juga kembali lagi ke dunia ghaib dimana roh-roh penasaran korban-korbannya menyambutnya dengan penuh rindu akan dendam kesumat.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Insting Sarti mendadak menyala-nyala. Kepalanya dipenuhi gambaran situasi. Detak jantung manusia di dalam gedung itu terdengar sangat jelas olehnya.


Dadanya bergemuruh penuh semangat. Sudah lama ia tak menyaksikan sebuah tempat yang begitu kotor, penuh dengan para penjahat, pendosa, iblis berkulit manusia dan para manusia sampah.


Darahnya menggelora, menggelegak dan berdesir dengan begitu cepat. Gedung di seberang hotel dengan satu dindingnya yang dirambati tanaman itu bagai sebuah ladang dengan tanamannya yang telah menguning siap panen. Ia akan memanen jiwa-jiwa kotor penuh lumpur itu kembali ke habitatnya, neraka!


Sarti memandang Chandranaya sang kuntilanak merah yang menangis darah namun terkikik memedihkan itu. Setelah sosok Chandranaya menghilang perlahan meninggalkan suara mengerikannya, Sarti bergumam pada dirinya sendiri, "Kemana kau Wong Ayu? Aku perlu celurit dan tombakku," kemudian ia melompat tinggi seakan terbang. Tubuhnya seringan kapas mendarat di bangunan seberang hotel tanpa bunyi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarti dan Wong Ayu bertemu di lorong sebelum keduanya sampai di pintu berlapis beludru merah itu.


"Aku perlu celurit dan Baru Klinthingku, Wong Ayu," ujar Sarti.


Dengan cekatan Sarti menangkap kedua senjatanya.


Jadi itulah rahasia Wong Ayu. Semua senjata tajam mereka tak mungkin melewati bandara manapun di dunia. Sebagai hasilnya, Wong Ayu memasukkan benda-benda tajam itu ke dalam sebuah dunia di dimensi lain dan disimpan di sana untuk kemudian dikeluarkan setelah mereka sampai di tempat tertentu tanpa melalui pemeriksaan modern di bandara.


Sarti melihat kelewang Wong Ayu sudah ditangan. Ada segaris cairan di bilah tajamnya. Darah. Sarti sudah mengenal ciri-ciri darah bagai mengenal bagian tubuhnya sendiri. Ia tersenyum tipis ke arah Wong Ayu. "Kau mencium bau jahanam pula di tempat ini, bukan?"


"Kau sebut saja sendiri mana yang menjadi seleramu. Cabul, sadis, gila, tamak, semua jenis penjahat ada di sini," ujar Wong Ayu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Soemantri Soekrasana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku merasa bakal ada hal yang berjalan tak sesuai dengan perkiraanku," ujarnya.


"Memangnya, apa perkiraanmu?" balas Anggalarang.


Soemantri Soekrasana berpaling dan terpaku memandang temannya itu. Kini wajahnya mulai ditumbuhi bulu kasar berwarna putih. Taring dan gigi-gigi tajam mulai bermunculan memenuhi mulutnya. Sedangkan cakar hitam melengkung terlihat tumbuh perlahan dari jari-jarinya.


"Kau benar sudah berdamai dengan Maung?" tanya Soemantri Soekrasana.


Anggalarang tersentak seperti tersadar. "Ah, ini maksudmu?" Anggalarang tersenyum malu-malu, tapi wajahnya malah jadi terlihat menyungging mengerikan.


"Aku rasa Maung tidak terlalu merasa terancam berada di sekitar kalian. Aku juga bisa berkomunikasi baik dengannya," jawab Anggalarang. Bulu-bulu putih kasar di wajahnya kadang tenggelam, masuk ke dalam kulitnya, namun kadang mencuat keluar kembali.


"Jadi, menyambung perkara tadi? Apa perkiraanmu sebenarnya?" sambung Anggalarang.


"Ya, seperti kau tahu, perkiraanku awalnya kita akan menghadapi si iblis perempuan yang ternyata sudah memiliki pion di pulau ini. Kita akan memberhentikan laki-laki yang bernama Yakobus Yakob, sesuai penjelasan Wong Ayu. Aku tak tahu apa kekuatan budak iblis betina yang satu ini," jelas Soemantri Soekrasana.


"Lalu, apa yang kemudian membuatmu ragu dan bertanya-tanya?"


"Aku rasa, Wong Ayu datang ke sini, bukan sekadar untuk menghentikan Yakobus Yakob. Ada beberapa hal yang tak ia jelaskan secara utuh. Kau sadar bukan bahwasanya ia meminta, cenderung memerintahkan, kita untuk berangkat tanpa rencana matang, atau informasi menyeluruh?"


Anggalarang memainkan kuku-kuku hitamnya kemudian mengedikkan kedua bahunya.


"Sial, aku berbicara dengan orang yang salah. Kau tak peduli, bukan? Kalian bertiga tidak segan untuk membunuh orang, menghilangkan nyawa mereka karena kalian anggap mereka pantas mati?!" Soemantri Soekrasana tersadar.


"Aku tak keberatan Maung menghabisi siapapun yang bertindak diluar batas kemanusiaan ...,"

__ADS_1


"Diluar batas kemanusiaan? Membunuh manusia lain dengan mengunyah tubuh mereka seperti yang Maung lakukan apakah bisa didefinisikan sebagai masih di dalam batas kemanusiaan?" potong Soemantri Soekrasana.


"Ya! Demi kemanusiaan yang sebenarnya, korban manusia sampah itu sangat perlu. Jadi, aku akan setuju-setuju saja dengan apapun yang dilakukan Wong Ayu dan Sarti sekarang, selama tujuan kita sama, menggiring sang iblis kembali ke alamnya, bersama pengikut-pengikutnya sekalian ke neraka jahanam!" Anggalarang melepaskan Maung yang sedari tadi mengintip dari balik jeruji jiwa sang inang.


__ADS_2