Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Limapuluh Dua


__ADS_3

Priyam menatap Satria Piningit dengan dingin, bahkan cenderung kosong. Satria Piningit telah terbiasa dengan model wajah Priyam yang seperti itu.


"Mereka sudah ada di sini. Mereka memerlukan bantuanmu. Mungkin kau tak sadar, tapi kau memiliki kekuatan dan kekuasaan besar, Satria," jawab Priyam.


Satria Piningit kembali kebingungan. "Mereka? Mereka siapa maksudmu, Priyam?"


Priyam hanya mengangguk, tanpa memberikan jawaban.


Satria Piningit menggaruk-garuk dagunya. Ia kemudian tersentak pelan oleh sebuah arus pikiran yang melewati kepalanya. "Maksudmu, Wong Ayu? Soemantri dan teman-temannya? Orang-orang itu? Di sini, di Kalimantan?!"


Alih-alih menjawab pertanyaan dan rasa penasaran Satria Piningit, sosok Priyam malah memudar serta menghilang di balik udara.


Satria Piningit menggeleng. "Mengapa mereka tidak berbicara dengan mudah, sih? Mengapa harus berputar-putar dan meninggalkan misteri?" gumam Satria Piningit merujuk pada mahluk-mahluk gaib, terutama hantu seperti Priyam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak Rudi Suwarno tidak melihat sosok mengerikan yang dilihat dan ditakuti oleh Nurdin sampai ia lari tunggang langgang tadi. Yang dilihatnya adalah empat orang pemuda yang berjalan menyibak kabut ke arah kompleks perumahan elit itu.


Secara gamblang parang panjang yang diseret terlihat berpendar dan berbinar oleh cahaya ringkih mentari. Padahal sebagian bilahnya diselimuti karat.


"Sudah kuduga, ada saatnya, cepat atau lambat, Kampung Pendekar sarang penyamun itu akhirnya mencari masalah di perumahan ini," ujar Pak Rudi Suwarno.


Juwanto berdiri dan langsung menutup gerbang pagar yang tinggi itu. "Mereka pemakai rasa-rasanya, Mas. Apa itu yang Nurdin takutkan, sampai-sampai berpikiran aneh? Atau jangan-jangan ia sekadar mencari alasan karena takut?"


"Entahlah, aku tak tahu. Apapun itu, siapkan dirimu, Juwanto. Orang nekad bisa sangat berbahaya. Mereka waras saja sudah brutal, apalagi kalau-kalau sampai mereka memang para pecandu," jawab Pak Rudi Suwarno berusaha terdengar tenang meski diam-diam ia meraba pistolnya.


"Maaf kawan-kawan, ada yang bisa kami bantu?" seru Juwandi ke arah empat pemuda yang menyeret parang itu. Ia sendiri segera mengunci pagar besi gerbang kompleks yang syukurnya dibangun tinggi-tinggi. Ia juga memundurkan dirinya agar berada dalam jarak aman.

__ADS_1


Tiada dari keduanya yang tahu bahwa belasan pemuda dari Kampung Pendekar itu memecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama hanya memberikan empat orang untuk menyelesaikan tugas di kompleks perumahan elit tersebut. Sisanya langsung berjalan ke pusat pemanenan jiwa, yaitu perumahan-perumahan yang masih menunggu kengerian yang sejati datang menggulung sejenak lagi.


Empat orang laki-laki itu terus berjalan, tak menunjukkan ciri-ciri untuk berhenti.


"Kami akan menelpon polisi bila kalian ...,"


"Jangan mengancam dengan cara seperti itu, mereka tak akan takut. Polisi malah adalah musuh mereka. Mendengar kata ‘polisi’ bis amembuat mereka semakin kalap," potong Pak Rudi Suwarno setengah berbisik.


Lagipula mereka tak mungkin bisa berbohong kepada para pemuda berparang itu bahwasanya tidak ada sinyal untuk menyambungkan komunikasi dengan dunia luar saat ini.


Pak Rudi Suwarno kemudian terpaksa mengeluarkan pistol yang digunakan sebagai alat pengancam. Pistol itu ia biarkan bergelantungan di tangannya.


Pak Rudi Suwarno berdiri di belakang pagar besi yang tinggi itu dan memandang tajam tetapi berusaha tak terlihat tegang atau provokatif. "Jangan cari masalah. Pergi ke tempat lain saja," seru Pak Rudi Suwarno. Jari telunjuknya menempel santai di pelatuk.


Dua orang yang berjalan paling depan menggigit parang mereka, sedangkan dua lainnya mendadak berlari cepat ke arah pagar, menubrukkan tubuh mereka bagai dua ekor anjing gila sekaligus membabatkan parang.


Tentu saja serangan ini tak mengenai Pak Rudi Suwarno dan Juwanto karena pagar telah dikunci dan jarak diantara mereka cukup jauh.


"Bangsat! Asu! Cari mati kalian!" ujar Juwanto. Ia meraba pentungan di pinggangnya, tetapi dem melihat tiang besi panjang di pos jaga, ia berlari meraihnya.


Pak Rudi Suwarno mengangkat pistolnya ke atas dan menembakkannya sekali. "Mundur, bubar, atau kutanamkan isi pistol ini di tempurung lutut kalian!" ujarnya.


Tak terlihat sama sekali rasa terkejut atau gentar apalagi takut meruap dari wajah atau gerak tubuh dua pemuda yang bagai dua primata menjulur-julurkan tangannya melalui jeda kerangkeng tersebut.


"Bangsat!" Juwanto maju dan memukul-mukulkan palang besi ke arah dua orang pemuda Kampung Pendekar tersebut. Tapi suara teriakan geramnya jauh lebih nyaring dari nyalinya. Tongkat besi panjang itu hanya digunakan untuk mengancam dan menghalau kedua pengancam, seperti menggusah burung di sawah saja.


"Tusuk, pukul saja, Ju!" perintah Pak Rudi Suwarno.

__ADS_1


Juwanto sendiri masih berteriak-teriak sampai tongkat besinya berhasil ditangkap serta digenggam dan diraih salah satu pemuda. Pemuda itu juga kemudian membenturkan parangnya ke palang besi itu, menggetarkannya sekaligus menggetarkan keberanian Juwanto yang mengecil mengkerut bagai biji kejantangannya di kala hujan.


Juwanto melepaskan palang dan mundur ke belakang dengan wajah pucat.


Dua pemuda lain yang menggigit parang panjang mereka kini datang, menggenggam pagar dan merayap naik bagai cicak.


Wajah Juwanto semakin pucat. Ia jatuh terduduk.


Melihat ini Pak Rudi Suwarno langsung mengarahkan revolver-nya ke arah dua pemanjat. "Berhenti! Aku bilang berhenti! Atau aku terpaksa menembak kalian!"


Pak Rudi Suwarno jelas ragu untuk benar-benar menembak mereka, dua orang manusia bernyawa, bukan seperti ayam yang tak perlu berpikir dua kali untuk mencabut nyawa mereka. Ia juga berencana memberikan tembakan peringatan lagi, namun ia tadinya sudah membuang satu mimis timah panas dan tak nampak hasilnya.


Dengan menguatkan segala keberanian yang ada, apalagi melihat parang panjang berdentingan menubruk baris-baris besi pagar, mau tak mau ia harus berani memutuskan.


Pak Rudi Suwarno meninting baik-baik dan menekan pelatuk. Bunyi ledakan bagai tamparan di udara terdengar keras.


Pak Budi Suwarno menepati janji. Ia mengarahkan tembakan ke tempurung lutut salah satu pemuda yang menggantung di pagar bagai seekor beruk.


Kakinya melemas dan membuat tubuhnya melorot turun.


"Mampus ... Mampus kowe! Ayo tembak lagi, Mas. Maju sini kalian, biar tahu rasa!" teriak Juwandi yang mendadak merasa jagoan, seperti anak kecil yang kedatangan pamannya sedangkan ia kalah berkelahi.


Namun, kepuasan Juwandi hanya sementara, begitu juga Pak Rudi Suwarno yang melihat pemuda yang melorot jatuh tadi kini sekadar mengibaskan celana panjangnya yang robek di lutut. Tak ada darah atau jenis luka apapun di sana. Bahkan tanpa memandang Pak Rudi Suwarno yang menembaknya tadi, ia kembali merambati pagar besi tersebut.


Pak Rudi Suwarno sekarang yang merasa kepanikan menjalar menyetrum tulang punggung dan membanjiri lambungnya.


Ia memuntahkan sisa mimis timah panas si revolver-nya. Bahkan kali ini tidak lagi menyasar lutut untuk melemahkan musuh. Ia menembaki bagian tubuh yang mungkin sekali dapat membunuh orang-orang di depannya dengan acak.

__ADS_1


Juwanto tadinya menutupi kedua matanya dengan lengan masih dalam posisi terduduk. Ia seakan tak tega melihat darah yang mungkin tercurah akibat tembakan yang dilepaskan Pak Rudi Suwarno.


Namun, sekarang yang dilihatnya adalah Pak Rudi Suwarno merogoh-rogoh kantung celananya yang nampaknya terlihat mencari isi pistol. Sedangkan asap mesiu membayang di udara dengan latar belakang dua pemanjat telah melompat turun dan membuka gerendel pagar.


__ADS_2