Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Keduapuluh Tujuh Kusuma Dewi


__ADS_3

Cipratan darah melukis dinding, tempat tidur, segala perabotan dan interior kamar monokrom Anggalarang itu bagai sebuah usaha pewarnaan di sebuah film noir klasik. Sang Maung menjepit tubuh si preman gondrong di antara gigi atas dan bawahnya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala berbulu putih besarnya sampai tubuh itu tersobek menjadi dua dan tak terlihat seperti bentuk manusia lagi.


Satunya berusaha melarikan diri karena ketakutan luar biasa menghinggapinya bagai seekor burung raksasa. Hanya saja, belum selangkah, tubuhnya sudah melayang tinggi dan deras menghajar tembok terlempar oleh sekali sentak tamparan tungkai kaki depan sang Maung. Si preman berjaket kebesaran itu belum mati tapi tulang bahunya retak, kepalanya pun terluka parah. Ada darah menempel di dinding di tempat dimana kepalanya terbentur.


Pak Guru Johan dengan keterkejutannya menengok ke belakang hanya untuk lebih dikejutkan mendapati satu tubuh preman sudah menjadi dua bagian terpisah dan darah menyebar ke segala arah, satu preman lagi terlempar jauh, dan ada sosok mahluk mengerikan tak terdefinisikan menggeram di depan matanya. Darah berceceran di bagian mulut serupa moncong seekor harimaunya.


Preman berevolver memindahkan arah moncong pistolnya bergantian ke hantu Ratih dan monster berbulu putih sebesar seekor sapi yang mendadak muncul di dalam kamar apartemen dan jelas terlihat menghabisi rekannya. Pikirannya kini sudah benar-benar tak waras. Ia serasa mau gila melihat pemandangan aneh dengan rentetan kebingungan dan keterkejutan yang membawa hawa kengerian yang semakin memuncak.


Ia tak tahan lagi.


Ia menekan pelatuk memberikan dua tembakan ke arah hantu perempuan membayang yang sedang berjongkok di depannya.


Peluru menghancurkan ubin lantai, menembus tubuh sosok hantu Ratih yang bahkan tak memandang ke arahnya.


Sang preman berteriak keras, menghabiskan sisa pelurunya berganti ke arah Maung sang siluman harimau putih.


Peluru masuk menyobek kulit berbulu sang harimau di berbagai tempat. Darah terciprat ke luar dari tubuhnya namun tanpa efek yang signifikan, seakan tembakan hanya bagai tusukan kecil mengganggu di tubuhnya. Sang harimau mengaum marah. Rahangnya terbuka lebar, tidak manusiawi, memamerkan taring tajam dan kokoh terhiasi liur dan darah yang menetes.


Itulah pemandangan terakhir yang ia lihat sebelum Maung melesat melompat cepat di atas kepala Pak Guru Johan ke arahnya.


Tubuh sang preman dicabik-cabik dengan kuku sekuat baja setajam belati dan taring yang lebih kokoh dibanding ganco. Teriakan sang preman tersebut hanya sebentar karena nyawanya sudah pergi dengan cepat. Maung menghancurkan dada dan lambungnya sampai menjadi adukan bubur dan lumpur merah.

__ADS_1


Pak Guru Johan terduduk kaku. Kusuma Dewi bangun berdiri membelakanginya. Ada sosok Wardhani membayang di dalam tubuh perempuan yang hendak ia bunuh tersebut.


Kusuma Dewi memandang ke arah sang harimau yang berdiri dengan keempat kakinya begitu agung sekaligus menakutkan. "Akang, kau kah itu? Akang Anggalarang?" ujar Kusuma Dewi.


Maung mundur. Wajah harimaunya menyusut ketika secuil wajah manusia yang sangat dikenal Kusuma Dewi menyibak muka berbulu putih bermandikan darah itu.


Beragam emosi bercampur baur tergambar jelas pada wajah Anggalarang yang tak bisa sepenuhnya  menghilangkan bentuk silumannya itu. Ia terkejut ada sosok lain di dalam tubuh kekasihnya itu. Ia terkejut pula ketika alama batinnya juga sempat menangkap sosok roh halus serupa perempuan berbusana lusuh berjongkok tak jauh di sampingnya. Ia bingung dan tak dapat menyelesaikan pemahamannya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun begitu lemah karena Maung telah mengambil kuasa atas dirinya.


"Ada apa denganmu, Kusuma Dewi? Siapa laki-laki yang ingin membunuhmu itu? Siapa yang menempel di tubuhmu?" tanya Anggalarang beruntun.


Kusuma Dewi mengucurkan air mata. "Oh, Akang Anggalarang. Apa yang terjadi dengan kita? Akang adalah seorang siluman harimau, dan aku adalah iblis betina. Ini adalah kita sejatinya. Aku tak menyangka jalan takdir yang terbentuk mengarah ke tempat ini," ujar Kusuma Dewi sembari sesenggukan menahan derasnya air mata yang mengalir dari dalam pusat semesta kebahagiannya yang mendadak hancur lebur itu.


Tidak hanya Kusuma Dewi, Anggalarang pun terhisap kembali ke dalam tubuh sang Maung. Ia terkunci di dalam sebuah ruangan gaib di jiwanya sendiri, dikunci oleh auman gahar Maung sang siluman harimau putih.


Wardhani tersenyum licik. Sosoknya menghilang dan digantikan kembali oleh Kusuma Dewi yang terlihat begitu sedih dan lemah. Namun itu hanya terjadi sedetik saja sebelum kulit putih pucatnya sobek di mana-mana. Sisik ular kehijauan mencuat dari balik kulit indahnya. Sisik-sisik itu membungkus seluruh tubuh bagian bawahnya yang berubah membulat dan memanjang membentuk ekor ular raksasa. Wajah Kusuma Dewi telah hilang sama sekali digantikan wajah perempuan dengan sisik yang juga menghiasi beberapa bagian di wajahnya yang terlihat licik dan penuh kekejaman. Lidah bercabangnya menyapu udara.


Maung menggeram mengaum nyaring. Sudah sedari awal Maung mencium rongga di dalam jiwa Kusuma Dewi yang berpotensi menyimpan entitas iblis yang bertentangan dengannya. Sekarang, semua terbukti sudah. Ada mahluk dengan hawa jahat kental yang sudah terlalu berani untuk akhirnya muncul keluar dalam rupa sebenar-benarnya.


Maung siap menjejakkan kakinya namun mendadak tubuh hewaninya terpental mundur dengan keras karena sosok ular yang mengambil kuasa atas Kusuma Dewi itu mencelat menyerang sang harimau terlebih dahulu.


Kedua tubuh fisik berbentuk setengah hewan setengah manusia itu terlontar menubruk dinding pendek pembatas lantai tiga apartemen, menghancurkan dan membobolnya serta jatuh meluncur ke bawah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak Guru Johan masih terduduk syok. Keris di tangan kanannya masih digenggam erat. "Ratih ... Dimana kau?" ujarnya tiba-tiba karena perlahan kesadarannya terbentuk dan tak melihat keberadaan arwah penasaran istrinya itu.


Preman berjaket kebesaran yang tadi tak sadarkan diri membuka mata. Ia bangun berdiri seperti tak terjadi apa-apa padahal tulang bahunya retak dan darah masih mengalir keluar dari luka di kepalanya.


Ia melihat ke arah laki-laki yang membayar untuk jasanya dan kedua rekannya yang sedang terduduk dengan keris


tergenggam di tangan kanannya.


Ia tersenyum dan mendekat.


Pak Guru Johan tersentak melihat kedatangan salah satu preman yang ia pekerjakan itu. "Kau masih hidup?Nampaknya kita harus pergi dari sini. Kau rasakan dan lihat sendiri bahwa kita berhadapan bukan dengan kekuatan biasa," ujar Pak Guru Johan.


Sang preman terkekeh. Sosok hantu kuntilanak Ratih menunjukkan diri merangkak di samping sang preman.


"Bunuuuhhh ...," ujar Ratih lirih seperti biasa.


"Kau disana rupanya, Ratih. Aku tak bisa membunuhnya hari ini. Semua diluar rencana. Ada mahluk-mahluk gaib lain yang terlibat. Tapi tenang istriku, aku tak akan menyerah. Tapi kita harus segera pergi dari tempat ini."


Sang preman tertawa, terkikik, "Mahluk hina seperti kau bukan pada tempatnya melawan kekuasaan gaib yang jauh lebih besar darimu, Mas Johan," ujarnya.

__ADS_1


__ADS_2