
Tubuh Soemantri Soekrasana terpelanting keras menabrak pohon. Baru saja kuntilanak merah memasuki tubuhnya, membuatnya bergetar hebat dan melonjak seperti terbang tepat ketika kepala perempuan Calonarang itu hendak menelannya hidup-hidup. Rasa nyeri di punggungnya akibat menabrak pohon nangka itu tak sebesar kelegaannya karena berhasil terhindar dari serangan mahluk mengerikan itu.
Kuntilanak merah terkikik lagi, tapi kali ini dalam rupa Soemantri Soekrasana, ia masih berada di tubuh laki-laki muda itu, merasukinya.
Kepala sang perempuan Calonarang melayang kembali ke tubuhnya. Saat itu juga Soemantri Soekrasana mencium bau busuk yang menyengat. Dari balik pepohonan tiba-tiba muncul beragam mahluk mengerikan. Sundel bolong dengan rambut kusut dan baju panjang putih berlumuran darah dan tatapan kosong melayang perlahan ke arahnya. Pocong dengan wajah seputih kertas muncul dan menghilang, kadang meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain. Gendruwo setinggi pohon, menjulang dengan tubuh berbulu menyibak dedaunan di kelamnya malam.
Soemantri Soekrasana merasakan si kuntilanak merah mengangkat tubuhnya, menyeretnya menjauh. Ia benci ketika kuntilanak merah itu merasukinya. Ia tak bisa memiliki seratus persen kuasa terhadap tubuhnya sendiri. Tapi mahluk-mahluk mengerikan itu terus mendekat. Ia segera saja merapal mantra kembali, "... sira hupas isun upas, sira ggni isun ggni, sira banyuisun banyu huga ..." kemudian tubuhnya mengejang. Teriakan sundel bolong melengking si udara malam. Hantu perempuan itu menghambur ke arah Soemantri Soekrasana dengan kesepuluh cakarnya yang menghitam. Mahluk perempuan itu berusaha masuk ke dalam tubuhnya.
Soemantri Soekrasana terpelanting dan mengejang di tanah. Gendruwo setinggi pohon berjalan ke arahnya dan menunduk. Menggunakan kedua tangannya yang berbulu untuk meremas tubuh Soemantri Soekrasana yang berusaha setengah mati menahan pertempuran kuntilanak merah dan sundel bolong di dalam tubuhnya, sedangkan pocong berwajah pucat putih namun kain kafan yang menyelimutinya lusuh melompat-lompat kegirangan.
Tidak hanya itu, ternyata dari kegelapan muncul mahluk-mahluk gaib beragam bentuk yang berlomba-lomba ingin ambil bagian memperebutkan jiwa dan rasa takut korban manusia mereka ini atau sekadar menyaksikan apa yang sedang terjadi. Ada hantu anak laki-laki yang terbakar tubuhnya, hantu tanpa kepala, nenek-nenek dengan punggung berlobang dan kepala bagian belakangnya yang hancur lebur, dan bentuk-bentuk mengerikan lainnya.
Kuntilanak merah hampir saja menang atas sundel bolong yang merasuki Soemantri Soekrasana. Namun dengan adanya campur tangan banyak mahluk gaib lainnya, ia tak mungkin bisa bertahan lama di dalam tubuh manusia ini. Soemantri Soekrasana juga paham betul dengan hal ini. Tubuhnya mulai terasa sakit karena kejang dan berguling-guling di tanah. Ia tak tahan lagi selain mengambil jalan terakhir.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana meraba kembali tasnya dan mencabut sebuah keris berluk tujuh. Keris itu tanpa sarung dan gagangnya ditempa oleh bahan yang sama menjadi satu dengan bilahnya sehingga terlihat seakan tak bergagang sama sekali. Di gagangnya tersebut, mungkin untuk memudahkan menggenggamnya, Soemantri Soekrasana membelitkan selembar kain putih yang sudah kusam. Bilah keris itu sangat indah dan memancarkan cahaya kebiruan. Hutan gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang.
Teriakan kuntilanak merah, sundel bolong, gendruwo, pocong dan segala jenis hantu saling bersautan, mereka merasakan panas yang menyakitkan. Mata astral mereka terasa silau dan tubuh mereka seperti memudar perlahan.
"Atas nama kehidupan, enyah kalian semua mahluk-mahluk terkutuk!" teriak Soemantri Soekrasana lantang. Ia berdiri dan mengangkat keris itu tinggi-tinggi. Si kuntilanak merah dan sundel bolong keluar dari tubuhnya seperti asap yang tertiup angin. Saat itulah Soemantri Soekrasana mengambil kesempatan menusukkan kerisnya ke sundel bolong.
Pekikan pilu nan mengerikan sang hantu memekakkan telinga. Keris yang luar biasa ajaib, karena ternyata dapat digunakan untuk melukai hantu. Bahkan sang gendruwo pun terkena akibatnya, Soemantri Soekrasana membabat tubuhnya yang bagi orang lain tak kasat mata namun bagi keris itu, ia adalah sasaran empuk.
Semua mahluk gaib di hutan itu kalang kabut. Tubuh-tubuh mereka yang tak terlihat oleh mata biasa menggoyangkan pepohonan bambu dan akar-akar beringin. Teriakan mereka memecah malam dalam bentuk suara-suara misterius.
Perempuan Calonarang meraung pelan, darah menetes keluar dari mulutnya, sepasang matanya melebar membakar, "Keris Mpu Gandring ...!!" desisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Perempuan Calonarang berdiri di sana. Sepasang dadanya bergoyang bersama dengan gemerisik bunyi benturan tulang-tulang manusia yang dijadikannya kalung. Kedua matanya menyala-nyala, mulutnya perlahan membuka. Tapi mulut itu tak berhenti membuka dengan lebar, bahkan terus terbuka sehingga menyobek pipi dan wajahnya. Dari mulut yang menganga lebar itu keluarlah berbagai jenis ular berbisa, besar dan kecil. Ular-ular itu bercampur cairan lendir darah dan lumpur yang menjijikkan, terus merayap keluar bergabung dengan buaya, kalajengking dan binatang melata lain yang telah ada di hutan itu. Tidak sampai disana, perut sang perempuan Calonarang terbelah. Darah mengalir keluar bersamaan dengan robeknya perutnya. Dari celah di perutnya itu muncul seekor kambing bertanduk, babi hutan bertaring dan belasan kera bergigi runcing dan berbulu darah berlompatan dengan suara yang berisik.
"Ilmu leak" ucap Soemantri Soekrasana. "Bangsat! Penghuni kerak neraka ini benar-benar kuat. Hantu bisa kuusir, tapi ia malah menciptakan binatang-binatang ganas ini," gumamnya kemudian.
Memang sekarang bukan hantu-hantu yang dihadapinya, namun bentuk nyata mahluk-mahluk ciptaan ilmu hitam kuno yang berumur ratusan tahun. Mantra tidak akan cukup, pikirnya. Ia bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda untuk membabatkan keris Mpu Gandring miliknya tepat ketika ratusan ular, kelabang, kalajengking, seekor buaya, seekor kambing, seekor babi hutan dan belasan kera bergigi runcing menyerang ke arahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kepala kambing terlempar jauh, terpotong dengan suara embikan tertahan ketika sebilah kelewang membabatnya dengan cepat dan tiba-tiba.
Sosok seorang perempuan bertelanjang kaki dan berjubah hitam dan coklat tua berkelebat dari atas pepohonan bambu. Rambut ikalnya yang sehitam jelaga berkibar liar ketika ia membabatkan kelewang panjangnya dengan begitu cepat. Dua kera dan beberapa ular kembali terpotong-potong.
Sepasang mata Soemantri Soekrasana memandang ke arah sosok misterius ini. Semula ia berpikir sosok itu adalah hantu atau mahluk lain suruhan sang perempuan Calonarang untuk menghabisinya. Nyatanya sosok perempuan ini malah membantunya menghabisi mahluk jadi-jadian yang menyerangnya. Ia sendiri tadinya sudah akan memikirkan untuk lari atau benar-benar menyerah karena tenaganya sudah benar-benar habis.
__ADS_1
"Angkat kerismu!" bentak sang perempuan tiba-tiba kepada Soemantri Soekrasana. "Kita tak akan bisa menghadapi iblis itu kalau kau mematung berdiam diri saja dan melongo seperti itu," seru sang perempuan.