
Teluh, tenung, santet dan ilmu sihir lain yang dikirimkan dengan menggunakan upacara, ritual dan tumbal khusus bukanlah kelas Wong Ayu. Ilmunya sudah jauh di atas semua itu melebihi kemampuan dukun biasa. Wong Ayu sudah masuk dan berenang dalam lautan dunia sihir yang sebenarnya.
"Jadi, kau akan membumihanguskan kampung itu dengan apimu lagi?" tanya Yakobus Yakob dengan datar dan dingin seperti biasa.
Wong Ayu merasa bahwa ia, anggota Catur Angkara yang menjadi sahabat-sahabatnya serta tentu Yakobus Yakob, rekan baru mereka ini, bukanlah pahlawan, bukan superhero, apalagi orang-orang baik nan suci. Tangan mereka penuh darah. Mereka tak ubahnya dengan para pemuda dan orang-orang budak iblis dari Desa Obong ataupun Kampung Pendekar, yang penuh dengan nafsu membunuh.
Namun, satu hal yang menyadarkan bahwa walau sedikit, mereka memiliki perbedaan mendasar dengan para musuh mereka. "Kami tidak mengejar kenikmatan palsu yang ditawarkan oleh iblis, apalagi melakukan segala cara yang diperintahkan: termasuk membunuh orang-orang tak berdosa atau paling tidak, tidak ada sangkut pautnya," pikirnya. Kematian beberapa jurnalis dan petugas, membuat Wong Ayu kembali menegaskan keinginannya untuk menghapus orang-orang itu dari muka bumi. Ia sadar bahwa neraka sudah menunggunya, namun ia akan membawa orang-orang jahanam itu ikut serta.
"Aku akan melakukan hal yang berbeda," jawab Wong Ayu. "Kita memerlukan bantuan lebih untuk dapat menembus benteng sihir kampung itu dan tentu saja menghancurkannya. Maka, aku akan minta pertolongan," jelas Wong Ayu kemudian.
Gapura Kampung Pendekar sudah terlihat di balik kabut dan pepohonan. Hawa magis kental dan beraroma tajam menyengat. Wong Ayu mengangkat kedua tangannya setinggi kepala. Ia tak perlu berlama-lama membaca mantra dan berupacara karena langit di atas Kampung Pendekar sudah mulai retak dan semacam portal gaib membuka di sana-sini.
Soemantri Soekrasana dari sisi yang berbeda merasakan bulu kuduknya meremang. Ia melihat dengan mata batin bahwa Wong Ayu melepaskan kendali atas dirinya sendiri. Ia sudah merogoh sampai ke dalam kekelaman dan menyerok keluar semua kekuatan gelap itu.
Langit yang retak membuka. Jutaan tawon dan lebah menderu keluar dari lubang-lubang di angkasa, menutupi langit menjadi lebih kelabu. Puluhan Kambing kumal liar bertanduk panjang, celeng bertaring mencuat menembus moncongnya, anjing-anjing berbulu kusam kasar bertaring panjang meneteskan liur muncul dari beragam sisi. Binatang melata, menjijikkan dan berbahaya: kodok-kodok beracun, ular dan buaya, kalajengking dan kelabang, merayap melewati batu, akar kayu dan reruputan keluar dari retakan portal gaib di balik dimensi tipis dunia lain. Total jutaan mahluk ini masuk menuju ke dalam Kampung Pendekar secara bersamaan. Kemurkaan nampaknya sudah mengambil alih kuasa atas diri Wong Ayu.
"Yu, kau bisa mendengarku? Apa yang Yu lakukan? Yu tidak memikirkan ...?"
"Tenang Soemantri," potong Wong Ayu dalam komunikasi batinnya yang ternyata masih tersambung. "Kita butuh bantuan, bukan? Aku membawa bantuan. Aku masih waras, Soemantri. Mahluk-mahluk itu tak akan membunuh orangtua, anak-anak dan warga yang tak dirasuki hantu dan mahluk gaib lainnya. Mereka hanya menyerang orang yang kental dengan hawa iblis betina tersebut," balas Wong Ayu. Soemantri Soekrasana menghembuskan nafas lega.
"Tapi, segala bantuan itu akan percuma bila mahluk-mahluk yang merasuk ke dalam tubuh para pemuda dan warga tetap bersemayam di sana. Berharaplah kuntilanak merahmu dan rombongan hantu yang bersama Satria Piningit dan berada di pihak kita cukup kuat," jelas Wong Ayu. Suaranya yang mengalir melewati saluran gaib itu bergetar, tanda ia sedang dalam keadaan emosional dan fisik puncak.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bandi mendengar suara dari gelombang gaib mendatangi bentengnya, Kampung Pendekar. Tengkorak hitam membayang di belakang tubuhnya sedangkan entitas lain sebesar kepala bayi menggelegak di kulit perut ke dadanya, menghantarkan energi yang sedang merayap datang menantang ini.
Bandi melihat Affandi yang tadi baru saja mencelat terbang menembus lapisan kabut untuk menyerang dua buah helikopter.
Ia terbang! Ya. Kekuatan luar biasa itu didapatkan seorang Affandi, bekas anak buah teman lamanya dari ketentaraan: Marsudi, yang malah membunuh tuannya tersebut - bisikan sang iblis betina menjelaskan semua kepadanya.
Begitulah iblis memainkan perannya. Memberikan kekuatan besar semacam itu kepada orang bejat dan jahat, semakin terkorupsi dan rusak orang tersebut, makin baiklah kualitasnya. Ambisi masih tak cukup untuk mendapatkan kekuatan yang dimiliki Affandi.
Ia jelas iri dengan Affandi. Ilmu parang irang nampak-nampaknya tak cukup kuat dibanding kesaktian yang dimiliki pria tersebut. Bandi dipermalukan tokoh yang datang tiba-tiba ke daerah kekuasaannya, hanya karena laki-laki itu adalah bidak Nyi Blorong yang memiliki kepentingan yang serupa dengan dirinya dan sang iblis betina.
Walau begitu, ia paham. Ia mengerti bagaimana cara memainkan permainan ini. Set pertama, ia kalah. Ia terima itu. Saat ini, ia harus memainkan perannya dalam rencana akbar kejahatan yang dimulai dari tanah ini.
"Benar kau yang bernama Bandi?" suara lirih dan datar masuk ke dalam telinganya di selipan kabut. Tubuh Bandi meregang, kuda-kuda terpasang.
Namun, ketika melihat siapa gerangan yang datang, sepasang lututnya langsung lemah dan Bandi berlutut.
"Yang mulia, Nyi Blorong. Ampuni hamba karena tidak memperhatikan kedatangan tuan putri," gagap Bandi demi melihat siapa yang datang secara gaib itu. Sosok seorang perempuan bertubuh ular menyiratkan sinar hijau berpendar dari busana dan pantulan kehijauan sisik-sisiknya. Ekor ularnya yang besar dan panjang menyapu kabut, sedangkan tubuhnya tegak tinggi menjulang di depan Bandi.
"Kau hampir benar, Bandi. Tapi aku bukan dia. Namaku Gendari," tutur sang sosok agung itu.
__ADS_1
Bandi menyadari bahwa ia tidak benar-benar melihat wajah sosok tersebut, namun dengan penampakan tubuh ular raksasa itu, susah baginya untuk tak mengira bahwa Nyi Blorong hadir di sana. Perlahan namun pasti, Bandi mengangkat kepalanya dan mencoba melihat wajah sang sosok.
"Aku adalah salah satu anggota tentara pasukan Nyi Blorong dari Kerajaan Laut Selatan," ujar sang sosok yang mengaku bernama Gendhari itu dengan penuh rasa bangga. "Tuanku memang hendak bertemu langsung denganmu, tapi karena satu dan dua hal, terutama mengenai rencana besar ini, aku lah yang menjadi utusannya," lanjut Gendhari.
"Ada apa gerangan sang putri ingin bertemu denganku? Untuk menghukumku karena menentang, melawan dan meragukan kekuasaan dan kekuatan beliau dan utusannya, Affandi?"
Gendhari tertawa, namun lebih terdengar seperti antara ringkikan kuda dan desisan seekor ular. "Jangan salah paham Bandi. Kami tak punya kesayangan. Nyi Blorong hanya melihat siapa yang bisa diajak kerja sama dan dijadikan rekan dalam melaksanakan rencana-rencananya. Yah, walau dalam dua tahun terakhir terjebak di dalam dunia gaib bersama Wardhani, aku tetap memperhatikan dan mengistimewakan dirimu dibanding Affandi," ujar sosok itu.
Bandi berusaha mencerna ucapan dan informasi yang diberikan. Ia gagal memahaminya, namun memutuskan untuk tak terlalu peduli.
"Jadi, bila boleh aku simpulkan, aku adalah pemain cadangan yang digunakan bila bidak catur Nyi Blorong, Affandi, gagal dalam rencana besarnya?"
Kembali sosok itu tertawa dengan carabya yang khas sekaligus mengerikan. "Ah, kau terlalu kasar, Bandi. Tapi, ya kurang lebih seperti itu. Sekali lagi jangan salah paham dan jangan diambil hati. Memang beginilah kenyataannya."
Bandi memicingkan kedua matanya. "Apakah aku dapat memiliki kekuatan seperti Affandi?" tanyanya.
"Bila kau mau lebih, kami bisa berikan," jawab Gendhari datar.
Tak butuh waktu lama bagi Bandi menentukan pikirannya. Sama seperti mahluk ini, ia pun sekadar menginginkan hadiahnya, tidak ada urusan dengan kesetiaan, pengabdian atau apapun itu namanya.
"Lalu, apa yang Nyi Blorong inginkan dariku? Selain itu, siapa orang-orang yang harus kita lawan? Nampaknya mereka membuat khawatir Nyi Blorong, termasuk membuat takut sang iblis betina itu," ujar Bandi sedikit menyepelekan.
__ADS_1
Gendhari tersenyum lebar. "Kau bisa bayangkan saja, bahwa beberapa diantara mereka sudah menghabisi sepuluh pendekar purba kakek moyang Kampung Pendekar yang kau bantu bangkitkan itu," jawabnya.
Bandi terkesiap. Bukan hanya terkejut mendapatkan fakta itu, tetapi juga karena melihat sosok Gendhari dengan lebih jelas. Perempuan siluman ular itu mendekat ke arah Bandi, memperlihatkan wajah dan seluruh klitnya yang dihiasi sisik ular berwarna hijau, berbeda dengan sang tuan yang walau bertubuh separuh ular, wajahnya begitu cantik.