Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Empatpuluh Satu


__ADS_3

Mahluk-mahluk astral itu selain hilir mudik dan muncul hilang sesuka hati, tak sedikit yang menempel di tubuh-tubuh anak muda yang mati dan kembali hidup. Ini termasuk Yudi, anak laki-laki sang emak itu sendiri.


Mak Yudi melihat tatapan kebanggaan dan kejantanan terpancar dari sepasang mata Yudi. Sedangkan, di saat yang sama, ada sosok hitam laksana bayangan menggelantung di punggung pemuda itu. Bayangan hitam tersebut layaknya asap pembakaran paling kotor dan jahat yang pernah ada. Menggumpal-gumpal, bergelung-gelung, padat sekaligus gas, melekat di punggung Yudi.


Mak Yudi ingat akan mendiang suaminya. Andai suaminya melihat keadaan ini dan menyaksikan betapa sang putra telah bangkit dari kematian menjelma menjadi sosok jantan seperti mendiang ayahnya, sang pendekar kampung yang disegani pada masanya, peletak dasar kebanggaan keluarga, jelas sang suami akan berbuncah rasa di dalam dadanya.


Tapi Mak Yudi dulu menikahi laki-laki pengecut dan lemah. Suaminya wafat karena penyakit jantung yang dideritanya, bukan karena ditembak polisi atau berkelahi dengan preman dan jawara kampung lain. Bahkan kematian sang suami tergolong muda untuk umurnya saat itu, di usia empat puluhan akhir. Mungkin sekali ia mati karena tak tahan degan sifat istrinya yang tidak sekadar bawel atau cerewet, namun juga penuntut, boros, penuh iri dan dengki serta semua sifat jahat yang dimiliki hampir semua perempuan penduduk asli Kampung Pendekar. Dan mereka bangga akan itu, kecuali sang suami tentunya.


Ia ingin sang suami bangkit lagi dan melihat bahwa Yudi, anak mereka, tumbuh mati dan hidup kembali menjadi seseorang yang tak meniru sifat penakut ayahnya. Mak Yudi ingin tertawa mengejek di depan arwah sang suami.


Yudi mengejawantah menjadi seorang pendekar sejati, seorang jawara. Lebih serupa ayahnya dibanding suaminya. Perasaan sang ibu tak ubahnya dengan perempuan-perempuan yang menangis terharu melihat penobatan para putra mereka menjadi tentara atau polisi misalnya. Sedikit perbedaannya adalah Yudi sempat mati dan kini bangun dengan kemampuan berlipat ganda bagai seorang adiwira, adisatria, pendekar, jawara ... Jagoan!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satria Piningit memeluk istrinya erat. Anggraeni sendiri kebingungan dengan apa yang diperbuat sang suami. Nampak sekali begitu berat beban yang dipikul Satria Piningit. Lucunya, Anggraeni sama sekali tak ingat dengan apa yang telah terjadi beberapa saat lalu. Ia tak ingat dikunjungi Chandranaya si kuntilanak Merah.


Satria Piningit masih terdiam, kemudian ia memeluk kedua anak kembarnya yang tertidur pulas, sampai ledakan itu terjadi.


Gelombang energi ledak dan suara menyapu area di dekat jembatan tol. Dinding bergetar, beberapa bagian kaca retak dan pecah, lantai bergoyang dan bumi pada dasarnya bergetar.


Satria Piningit sontak mengangkat kedua anaknya, meraih Anggraeni dan mencelat keluar ruangan hotel.


Anggraeni masih sempat meraih Ngalimun dari tangan Satria Piningit, sehingga suaminya bisa fokus menggendong Priyam. Kedua anak mereka tentu menangis karena tersentak kaget. Tapi memang ini masalah nyawa dan keselamatan mereka semua.

__ADS_1


Keduanya berlari bersama alur manusia lain, para tamu hotel, yang bergegas dengan panik keluar dari kamar, berbondong-bondong menyelamatkan nyawa sesuai insting meski semua juga tak benar-benar paham apa yang sedang terjadi


Hanya Satria Piningit yang tahu.


***


Ledakan itu menggemparkan kota tersebut. Mungkin tidak semua bangunan dan tempat merasakan langsung kedahsyatan efek ledakannya. Namun suara dan kekisruhannya menyebar lebih cepat dibanding kilat di langit sekalipun.


Kepanikan akan kemungkinan bencana alam seperti gempa bumi, sampai dugaan serangan para anggota peneror terus mengemuka selagi informasi yang beredar masih sebatas desas-desus, dugaan bahkan hoaks.


Aparat bahkan terpaksa menutupi sebuah kejadian yang mereka sendiri tak bisa jelaskan: belasan orang yang terbaring, tertidur dengan begitu nyenyak di tepian sungai dekat dermaga tua terselamatkan dari sebuah kapal yang karam tepat di bawah jembatan yang meledak dan terputus.


Mereka bukan tak sadarkan diri karena pingsan seperti yang diduga. Begitu wajar kemungkinannya bila beberapa orang tak sadarkan diri setelah berhasil lepas dari sebuah kejadian yang mengancam nyawa mereka. Bisa saja orang-orang tersebut terlalu lelah sehingga jatuh pingsan.


Ketika terbangun, mereka masih sempat meregangkan tubuh seakan seperti benar-benar dalam kondisi tidur panjang.


Lebih aneh lagi, mereka tak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi serasa datang lebih awal karena ledakan itu. Pijaran api menembakkan sinarnya memenuhi angkasa, mengganti sinar mentari yang baru akan sampai.


Keempat anggota Catur Angkara berdiri berdampingan di seberang sungai yang arus derasnya berwarna kelam, di balik pepohonan tinggi dan rimbun. Mereka menyebrang dengan teleportasi Wong Ayu, menyaksikan keramaian di tempat mereka tadi menyelamatkan para penumpang kapal yang karam.

__ADS_1


Berkebalikan dengan apa yang terjadi di seberang sini, kegelapan merayap dan menaungi daerah ini bagai sepasang sayap burung raksasa.


Wong Ayu langsung berdiri di depan rekan-rekannya. "Apa kau merasakan hal yang sama, Soemantri?" ucapnya.


Soemantri Soekrasana mengangguk mantap. "Semuanya dimulai dari sini, Yu. Entah siapa yang meledakkan jembatan itu, tapi jelas ada pemrakarsanya yang juga entah bagaimana diperbudak oleh kekuatan yang ditawarkan ratu iblis itu."


Anggalarang kini yang berbicara. "Mereka memutus hubungan dengan dunia luar. Apakah itu mungkin? Bukankah polisi mungkin juga tentara akan berombongan menyerbu daerah ini?"


"Tidak ada yang peduli dengan tempat ini, Anggalarang. Lihat baik-baik kemajuan tempat ini berbanding terbalik dengan apa yang telah dibuat di seberang sana. Tempat ini bagai daerah yang ditelantarkan. Lokasi yang pas bagi sarang iblis," ujar Sarti.


"Sayangnya kita sama-sama tidak dapat menyimpulkan apapun sementara ini. Yang jelas, kita telah dibawa dan diarahkan ke tempat ini oleh sinyal-sinyal gaib itu. Maka, kita akan lanjutkan dan selesaikan sampai tuntas," balas Wong Ayu.


Memang banyak yang belum diketahui para anggota Catur Angkara, termasuk bahwa Bandi membutuhkan sehari saja untuk membentuk pasukannya dan memperbudak orang-orang yang menentang kekuasaannya ... Kelak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa satu-satunya jembatan sebagai akses ke kota dari area kompleks perumahan di sekitar Kampung Pendekar telah hancur, runtuh dan terputus.


Bahkan ketika kini setelah mereka mendengar ledakan besar yang terjadi, butuh waktu sampai lebih dari tiga puluh menit bagi mereka untuk sadar bahwa sesuatu telah terjadi.


Beberapa warga berinisiatif untuk pergi ke arah datangnya suara dan cahaya yang meletup-letup menyinari angkasa subuh ini.


Satria Piningit telah berhasil menyebrangi jembatan tol lama. Namun Pak Jerry, Pak Norman dan seorang suami muda, Setya, tetangga kompleks rumah Satria Piningit, memutuskan pergi bersama mengendarai mobil Pak Jerry untuk menilik apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2