
Tak terasa Pakde Narto sudah berjalan sampai di tepi sungai Pratama. Aliran air lumayan deras malam ini. Sinar rembulan menembus batang pepohonan bambu, menciptakan larik-larik cahaya memantul di arus air sungai dan bergoyang-goyang sesuai gelombangnya yang berpunuk-punuk kecil. Udara masih terasa gerah, bahkan cenderung makin panas.
Pakde Narto turun ke sungai, membasuh wajahnya. Kesegaran mulai ia rasakan ketika air mengalir turun dari wajahnya sampai ke dada telanjangnya yang berkulit gelap menyaru malam.
Tak lama ia mendengar suara kecipak air.
Pandangannya samar karena tirai air yang membayang di matanya. Di seberang sungai dengan berbayang, ia melihat sosok seorang perempuan. Dari siluet dan ciri-ciri bentuk tubuhnya, mungkin sekali sosok tersebut adalah seorang nenek-nenek. Pakde Narto pun tak tahu jelas dan yakin karena sosok itu memunggunginya. Sang perempuan berjalan sedikit tertatih dan membungkuk, itu sebabnya Pakde Narto berasumsi ia adalah seorang nenek-nenek. Ia hanya mengenakan kain panjang yang menutupi bagian bawah tubuhnya, sedangkan punggungnya telanjang.
Kening Pakde Narto mengerut. "Mbah, sedang apa di sana? Malam-malam gini ndak dicari orang rumah apa?" tanya Pakde Narto dengan suara keras. Kalau memang benar sosok itu seorang yang sudah sepuh, bisa saja ia tersesat karena pikun dan pendengarannya buruk. Lagipula sosok itu tak mengenakan pakaian yang seharusnya menutupi bagian atas tubuhnya.
Sang sosok renta itu bereaksi terhadap teguran Pakde Narto. Ia mendadak menegakkan tubuhnya. Pakde Narto semakin mengerutkan keningnya. Rupanya sosok itu sama sekali tidak bungkuk. Tanpa diduga Pakde Narto sama sekali, kepala sosok misterius itu berputar seratus delapan puluh derajat seperti seekor burung hantu, memandang ke arah Pakde Narto. Sepasang mata perempuan yang Pakde Narto pikir seorang perempuan sepuh itu lebar dan seperti ada bara di bola matanya, berkobar di dalam gumpalan kegelapan malam menatap tajam, mendelik ke arah Pakde Narto. Mulutnya menganga terbuka dan mengeluarkan gumpalan darah dari sela-sela giginya yang tak rata dan berujung tajam serta sepasang taring yang mencuat. Lidahnya menyusul keluar menjulur panjang dari balik gumpalan darah yang menggelegak turun keluar dari mulutnya.
Pakde Narto terkesiap dan terlonjak ke belakang akibat pemandangan yang ia lihat di depannya tersebut. Namun, Pakde Narto bukan laki-laki biasa. Ia awam dengan aktifitas gaib, termasuk hantu, jin dan siluman jahanam. Sebagai hasilnya, ia berteriak keras, "Setan alas!!" Pakde Narto mencabut dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan menyerbu maju ke arah sang sosok tersebut secepat mungkin ke seberang sungai memotong arus. Sarungnya basah kuyup, dada dan wajahnya pun basah oleh cipratan air. Sedangkan sosok perempuan iblis di depannya terkekeh, terkikik, kemudian tertawa terbahak-bahak. Kepalanya kembali berputar ke arah semula. Ia merangkak dan merayap di tepian sungai dengan cepat seperti seekor kadal dan menghilang di balik rerimbunan pohon bambu, semak dan tetumbuhan lainnya.
Pakde Narto meludah ke tanah dan menyumpah kasar.
__ADS_1
Ia tetap merupakan seorang manusia yang memiliki rasa takut yang setiap saat mengintip dari balik kegelapan jiwa. Namun, Pakde Narto sudah terbiasa pula memaksa dirinya untuk melawan rasa takut dengan langsung datang dan menyerang pusat serta sumber rasa takut itu.
Ia melihat sekeliling, mencoba mencari penjelasan atas apa yang baru saja terjadi. Ia juga masih mempersiapkan kuda-kuda untuk menyiapkan diri dan berjaga-jaga dari apapun yang mungkin terjadi dalam beberapa saat ke depan.
Tak ada yang terjadi setelah beberapa saat ia berdiri di seberang sungai. Suasana kembali hening dan gerah pula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kompleks pekuburan desa Kaliabang hampir sama dengan kebanyakan pemakaman di desa-desa sekitar. Dikelilingi tembok dengan cat kuning, penerangan seadanya serta tiga buah pohon kamboja yang batang dan rantingnya menaungi nisan-nisan yang kusam oleh waktu bagai sebuah payung raksasa purba.
Handoko memainkan parang panjangnya, membabati rerumputan dan mencongkeli tanah, "Pakde, sebenarnya apa yang kita hadapi sekarang? Dari rapat desa kemarin, katanya kemungkinan adalah kelompok bandit yang mengancam desa kita. Dikatakan juga mereka memiliki ilmu hitam dan berusaha menakuti desa kita dengan ilmu santetnya sehingga dia bisa masuk dan menjarah desa kita dengan leluasa," ujar sang pemuda.
"Tapi pakde, aku dengar pakde sempat melihat penampakan di sungai Pratama. Apa itu hantu, pakde? Atau siluman, mahluk jadi-jadian?" potong Marwan.
Pakde Narto mengernyitkan keningnya, "Siapa yang bilang, Mar?"
__ADS_1
Marwan mengusap-usap belakang lehernya, "Anu ... Anu ... Wati, pakde."
Memang Wati, istri termuda Pakde Narto adalah teman sedari kecil Marwan dan Handoko. Bahkan istri Handoko adalah sepupu dekat Wati. Sampai sekarang pun mereka masih kerap berbincang-bincang dengan akrab, dan Pakde Narto paham itu.
Harusnya aku tak perlu cerita dengan Wati malam itu, pikir Pakde Narto. "Sebenarnya aku tidak benar-benar yakin apa yang kulihat. Cuma sesosok orang saja. Maka dari itu, kita perlu jaga-jaga dan bersiap menghadapi apapun yang terjadi nanti," jawab Pakde Narto berbohong.
Ia tahu bahwasanya desa ini sedang menghadapi sebuah kekuatan gelap yang misterius namun sangat kuat. Sementara yang bisa mereka lakukan adalah terus waspada dan sebisa mungkin melawannya, apapun itu.
Marwan mengangkat kedua bahunya, "Apapun itu, dengan pakde disini, perampok atau setan sekalipun pasti minggat dari Kaliabang," tegasnya. Pernyataan ini diaminkan oleh Lutfi dan Handoko, hanya Irawan yang berkeringat menggenggam gagang parangnya. Bahkan ketika ketika Handoko dan Pakde Narto bercerita mengenai perihal hidup perkawinan secara dengan cabul dan diketawai oleh Lutfi dan Marwan, Irawan hanya bersender di tembok pagar kuburan.
Telapak tangannya basah oleh keringat dan ia merasa sangat tidak nyaman terutama ketika kemudian ia mendengar suara gemeresak dedaunan kering kamboja yang jatuh di atas kuburan, tepat di belakangnya, di balik tembok.
Irawan tiba-tiba berteriak bagai orang kesurupan, mengagetkan Pakde Narto dan teman-temannya. Ada jari-jari kurus, gelap dan kotor merambat keluar dari balik tembok. Tak lama muncul kepala dengan sejumput rambut acak-acakan. Wajahnya sudah bisa dikatakan hancur, tak ada mata dan hidung lagi, menyisakan rongga kosong berisi belatung. Mayat hidup ini merayap menaiki tembok, perlahan tapi pasti.
Irawan jatuh terduduk, parangnya terlempar lepas dari tangannya. Marwan, Handoko dan Lutfi melongo. Mereka berdiri kaku di belakang Pakde Narto yang sudah menghunus pedang Inggrisnya.
__ADS_1
"Setan alas!" Pakde Narto menyumpah, kemudian meraung maju membabatkan pedangnya ke batok kepala mayat hidup yang sudah hampir melompati tembok itu. Kepalanya tertancap pedang Pakde Narto, dan tak terlepas. Namun, mahluk itu masih bergerak dan memamerkan giginya yang tak utuh lagi. Pakde Narto mencoba mencabut kembali pedangnya dengan susah payah. Ia bahkan terpaksa menjejakkan kakinya ke tubuh mayat itu. Setelah pedang terlepas, Pakde Narto melayangkan satu tebasan horizontal, memutuskan kepala sang mahluk.
Mayat hidup itu tak bergerak lagi. Tengkurap telanjang di luar pagar kuburan. Kepalanya menggelinding menjauh, jatuh di depan dua sosok mayat hidup yang keluar melalui pintu gapura kuburan.