
Di depan gapura, Anggalarang yang kini berada di dalam tubuh Maung bersama dengan Sarti, telah siap menyerang para kaki tangan Marsudi yang sudah dimasuki perempuan iblis di dalam tubuhnya. Orang-orang kebal ini rupa-rupanya tidak bisa memasuki desa karena dua patung gupala.
Gupala atau dwarapala adalah patung penjaga gerbang atau pintu yang berbentuk orang, atau raksasa bertaring, bermata melotot bulat besar dan perut yang buncit. Penggambaran menyeramkan ini sangat berkebalikan dengan fungsi dan sifat dasar mereka. para gupala adalah tokoh penjaga yang beraura positif. Gada yang mereka genggam digunakan untuk mementung mahluk-mahluk dan kekuatan gaib yang bersifat merusak dan hendak mengganggu kedamaian sebuah tempat.
Kedua patung itu sudah dimantrai dan disucikan ratusan tahun yang lalu oleh nenek moyang desa Prajuritan untuk mencegah kekuatan jahat masuk ke desa.
Para kaki tangan Marsudi dari desa Obong dan Pancasona yang memiliki ilmu kebal berusaha menghancurkan kedua patung tersebut. Belum lagi para preman anak buah Affandi dan Marsudi yang dimasuki hantu, mereka masih melengkapi diri mereka sendiri dengan senjata api. Hantu-hantu dapat menakuti dan merasuki para warga, namun pasukan yang terdiri dari manusia-manusia jahat ini benar-benar dapat membunuh.
Inilah hal utama yang siap meledakkan pertarungan di luar desa.
Perempuan iblis di dalam tubuh Marsudi sendiri sengaja memerintahkan para hantu untuk menakuti warga di dalam desa melalui portal gaib. Sayang, para tetua desa tak memikirkan untuk memantrai desa dari para hantu sehingga hanya-hantu tersebut dapat masuk ke desa dengan leluasa.
Soemantri Soekrasana lah yang kini harus berjuang sendirian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wong Ayu berhasil membawa para anggota Catur Angkara ke desa Prajuritan tepat waktu. Ia langsung ambruk di depan gapura, tepat di depan rombongan Marsudi dan antek-anteknya.
Soemantri Soekrasana merapal mantra dan memegang kepala Anggalarang sampai Maung keluar dari dalam penjaranya. Ia sendiri segera berlari masuk ke perumahan warga ketika si kuntilanak merah melambai-lambaikan tangan pucatnya di atas sebuah pendopo, mengabarkan bahwa para pasukan hantu dan jin laknat sedang menyerbu masuk.
Ia sempat melihat ke arah Wong Ayu yang segera mengusirnya pergi, "Segera tolong warga desa. Aku tak apa-apa," ujar Wong Ayu.
Sarti juga tak ragu meloloskan tombak Baru Klinthingnya. "Hei Maung, kau tahu cara menghabisi mereka bukan?" ujarnya sembari menunjuk dengan dagunya ke arah para pemuda dengan tampang dingin di depan mereka. "Rajah mereka di dada sudah dibuat agar tak dapat hilang, tapi Baru Klinthing akan dapat merobek tubuh dengan ilmu kebal macam apapun. Taring dan cakarmu yang harus di arahkan ke mata, lobang telinga atau rongga mulut mereka."
__ADS_1
Maung mengeluarkan suara raungan harimau yang menggelegar dari kerongkongannya sebagai bentuk jawaban.
Sarti kemudian memandang ke arah Wong Ayu, "Kau yakin tak apa-apa?"
Wong Ayu mencoba berdiri perlahan, namun kakinya tak mampu menopang tubuhnya. Sarti menahan tubuh Wong Ayu.
"Kau memang memerlukan waktu sejenak. Aku dan Maung akan menahan mereka selama mungkin," ujar Sarti.
"Ya, bertahanlah. Jangan mati dulu. Aku hanya butuh waktu sebentar untuk memulihkan tenagaku," balas Wong Ayu.
Melihat keadaan yang terjadi di depannya ini Marsudi tersenyum penuh makna. Tubuhnya mengambang di udara. "Habisi mereka, anak-anakku," perintahnya dengan suara berlapis, ditimpa oleh suara seorang perempuan, sang iblis betina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sial!" gumam Soemantri Soekrasana kesal.
Hantu-hantu yang ada disini sebenarnya terjebak oleh kekuatan sang iblis betina. Tidak sedikit hantu yang tidak mau ikut ambil bagian, namun mereka tak kuasa menolak. Seperti hantu anak kecil bernama Priyam yang tubuhnya terbakar habis. Kulitnya terkelupas menunjukkan daging berwarna merah, putih atau hitam Obong. Bahkan salah satu bola matanya mencuat keluar. Ada pula seorang nenek dengan lubang besar di punggungnya serta bagian belakang kepala yang hancur. Keduanya adalah hantu yang terikat di desa Obong, akan tetapi perempuan iblis itu membuat mereka tercerabut ke antar dimensi.
"Kita harus mengeluarkan mereka dari desa. Bantu aku pancing mereka ke kuburan," kali ini ia berbicara pada si kuntilanak merah yang masih mengambang di udara, tepat di atas kepalanya.
Soemantri Soekrasana sendiri sedang dalam posisi bersila dan mengatupkan kedua matanya. Hanya mata batinnya yang terbuka, menakar jumlah hantu gentayangan yang muncul di sana-sini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Irawan seketika sadar bahwa ia dan separuh laki-laki desa Prajuritan berhasil dibohongi dan ditipu oleh si perempuan dan komplotan iblisnya. Mereka disini hanya menghabisi para mayat hidup yang menjijikkan dan sedikit menakutkan memang, tetapi lambat dan sulit dikatakan berbahaya. Apalagi, ternyata warga dan para pemuda laki-laki khususnya, memiliki keberanian dan jiwa petarung yang luar biasa. Keliahaian silat mereka di atas rata-rata. Kelincahan tubuh mereka juga mengesankan.
Seakan mereka sudah dipersiapkan sejak mereka kecil, bahkan mungkin sejak nenek moyang mereka untuk menghadapi hal semacam ini.
Tidak lebih dari lima belas menit saja, para mayat hidup sudah benar-benar habis dibunuh kembali dengan cara yang sangat efektif.
Lalu Dul Matin berteriak kepada rekan-rekannya, "Ini terlalu mudah, teman-teman. Apa ada yang melihat hal yang mencurigakan?"
Bau kematian masih tercium dan lengket menempel di otak Irawan. Teriakan Dul Matin tentu menggerakkan rasa dan logikanya.
Ia membalas teriak Dul Matin sama kerasnya, "Mayat-mayat ini tidak datang bersama dengan induknya!"
Mendengar teriakan Irawan, Hamdan mencelat.
Sambil berlari, ia berteriak kepada rekan-rekannya ketika melihat ada kobaran api para banaspati kelap-kelip muncul di sekitar area desanya di kaki bukit sana, "Mereka menyerang desa kita!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Si Maung dengan tubuh buasnya terlempar jatuh dan bergulingan menjauh dari desa. Belasan orang preman bersenjata anak buah Affandi yang dirasuki mahluk halus langsung memberondongnya dengan senjata api. Tubuh hewani berbulu putihnya yang ternoda darah dan tanah meluncur menembus atap genteng dan membobol tembok bangunan yang berada di sepanjang jalan turunan antara perumahan warga di atas bukit dan pusat kegiatan masyarakat di tepi jalan raya, seperti sekolah, perkantoran atau rumah sakit.
Belasan orang preman tersebut melompat turun pula untuk memburu sang hewan. Kaki mereka menjejak atap bangunan dengan lincah. Para mahluk gaib di dalam tubuh dan jiwa membantu mereka dengan baik sehingga gerakan mereka seperti kumpulan kera yang meloncat-loncat gesit.
Tidak percuma para mahluk gaib merasuk ke dalam tubuh mereka yang telah terlatih tersebut. para preman sudah seperti para prajurit istimewa atau elit serta khusus yang memiliki kekuatan, stamina dan kecepatan di atas rata-rata.
__ADS_1
Catur Angkara mendapatkan lawannya.