Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Ketigabelas Kusuma Dewi


__ADS_3

Anggalarang mengerang pelan. Kepalanya pusing luar biasa, otaknya seperti diremas dengan menggunakan jari-jari baja. Matanya kembali terbuka. Nyatanya, ketiadaan sang harimau di dalam tubuhnya sama saja menghasilkan kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan. Bagaimana ia dapat terlelap bila seperti ini?


Hari-hari seperti ini, ia butuh dekapan kehangatan seorang wanita untuk membuat pening kepalanya mereda. Seorang Queenie pasti mampu membelainya dengan kedewasaan. Anggalarang ingat sekali cara Jenar Keswari memanjakan dan membelai-belainya. Perempuan dewasa memang menawarkan cara yang indah penuh kesabaran dan ketelatenan sebelum keduanya benar-benar masuk ke dalam menu utama. Jenar Keswari sang Queenie akan mengelus rambutnya pelan dan menempelkan wajahnya ke sepasang dada tanpa penutupnya, membuat Anggalarang semakin merasa nyawan sampai perlahan-lahan kehangatan datang dan berubah menjadi rasa panas yang bergelora.


Atau, mungkin ketika kepalanya sedang begitu sakit seperti ini, malah kebinalan Livy Tjandrawati dan Jenni Tan, dua gadis yang sama-sama berkulit putih awan dan semulus pualam itu bisa membuat udara kamarnya menjadi panas semarak debur nafsu. Livy Tjnadrawati yang bertungkai panjang serta tubuh ramping, membuat permainan cinta mereka begitu penuh gaya. Tubuh sang gadis yang ringan itu dengan mudah diangkat, ditunggingkan, ditelentangkan, bahkan dilipat untuk mendapatkan sensasi kenikmatan yang berbeda-beda.


Ia juga suka bermain api dengan Jenni Tan. Anggalarang tahu bahwa Jenni Tan iri, cemburu dan merasa Livy Tjnadrawati adalah saingannya. Anggalarang membiarkan pikiran itu subur di dalam hati dan jiwa Jenni Tan karena akibatnya, Jenni Tan akan bermain cinta lebih liar, lebih memuaskan dan habis-habisan, terutama karena tahu Anggalarang sehabis bermalam dengan sang saingan di sebuah hotel atau di apartemennya sendiri.


Mungkin bila bercinta dengan aktif seperti itu akan membuat dirinya berkeringat, lelah dan puas sehingga dapat beristirahat dengan tenang dalam tidurnya.


Atau ... Kusuma Dewi?  Ya, apa rasanya bergumul berpeluh dengan perempuan bertubuh indah tersebut?


Mendadak badannya tersentak. Ia bahkan merinding ketika memikirkan nama Kusuma Dewi. Bayangan wajah dan tubuh sang gadis menempel erat di permukaan memorinya. Cara sang gadis memandang sekeliling, caranya berjalan, dan bahkan caranya mengikat rambutnya yang kemerahan tersebut, membuat Anggalarang tak bisa berkata apa-apa. Sebuah perasaan aneh menjalar ke seluruh sanubarinya melalui untaian syaraf dan bongkahan ototnya.


Namun bahkan ketika memikirkan para wanita termasuk Kusuma Dewi sekalipun, kehangatan yang ia inginkan itu tak kunjung datang. Hawa alkohol dan ketiadaan sang harimau telah terlanjur membawanya ke masa lalu yang kelam.

__ADS_1


Penjagaannya atas kenangan itu pun akhirnya kendor.


Tiga anak laki-laki sebelas tahun, bergantian digilir, kadang sekaligus bersamaan oleh Braja Wisesa di sebuah ruangan kecil, sumpek, bau apek dan bercahaya temaram. Kekerasan demi kekerasan menimpa tubuh dan hati mereka, menghancurkan harapan demi harapan sampai mereka rasanya enggan lagi untuk hidup.


Anggalarang menangis seperti saat ia masih kecil. Setiap rasa sakit yang mengambang di kepalanya, membeset di kulitnya, menusuk dagingnya dan memalu jantungnya tak bisa hilang sampai sekarang. Hanya kemarahan dan dendam dalam rupa sosok harimau yang mampu melepaskannya dari kepiluan tiada ujung ini. Malam-malam dinginnya yang ia lalui sendirian di masa kanak-kanak setelah berhasil melarikan diri dari cengkraman sang pedofilia itu dibungkam dengan kehangatan tubuh-tubuh telanjang menggeliat indah milik semua perempuan yang terpesona padanya tanpa tahu apa yang telah ia alami selama ini.


Didera dalam rasa sakit di kepalanya itu membuat mata batin Anggalarang tiba-tiba terbuka lebar. Ia mampu melihat apa yang tak terlihat oleh mata telanjang.


Sosok Kusuma Dewi berjalan mendekat ke arah Anggalarang. Tubuhnya yang berlekuk indah nan megah itu dibalut terusan abu-abu tanpa lengan, sedangkan bagian bawahnya menggantung pendek sedikit saja dibawah paha, memamerkan kulit indah putih pucatnya.


Air mata Anggalarang masih mengalir turun dari ujung matanya akibat serangan kenangan yang membuatnya terluka selamanya itu. Tubuhnya masih begitu lemah, bak sebatang pohon yang tercerabut dari tanah dan bumi dimana ia tumbuh.


Dengan jari-jemarinya yang panjang kurus berkulit pucat itu, Kusuma Dewi menyeka leleran air mata Anggalarang. "Lupakan semua, Anggalarang. Tinggalkan semua. Ada aku di sini. Engkau dapat merasakan kehangatan dari tubuhku, seperti yang engkau mau, selayaknya yang engkau dapatkan dari wanita-wanita itu," ujar Kusuma Dewi perlahan. Suaranya penuh goda, gairah dan keyakinan.


Anggalarang tak begitu kenal Kusuma Dewi. Namun, ia tak bohong, dari semua perempuan yang pernah ditidurinya untuk menyerap kehangatannya, Kusuma Dewi lah yang dari dulu ia begitu inginkan melebihi siapapun. Mungkin sekali ia mau menukarkan kepuasan bercinta dengan sepuluh gadis demi sekali saja bersenggama dengan Kusuma Dewi sang dewi.

__ADS_1


Anggalarang menatap dan memperhatikan wajah Kusuma Dewi dari balik misteri. Anggalarang mengendusi dan menciumi pesonanya dari seluk beluk rahasia.


Sang Maung melarangnya sejak lama. Si harimau memarahinya dan mencegahnya agar tak mendekati gadis itu.


Namun kini, secara ajaib, sang harimau hilang pergi entah kemana, dan secara aneh pula, Kusuma Dewi hadir di dekatnya, memberikan dan menyerahkan diri secara utuh. Apa lagi yang ia mau? PikirAnggalarang dalam kegamangan perasaan yang hadir padanya.


Anggalarang mencoba tersenyum.


Si harimau muncul bagai letupan pecut. Menggeram ganas, mengaum buas. Anggalarang terkesiap, tetapi bukan karena kemunculan sang Maung yang begitu cepat dan mendadak itu, melainkan efek yang dihasilkan pada Kusuma Dewi.


Sosok Kusuma Dewi terdorong mundur ke belakang karena sang harimau memamerkan susunan gigi dan taringnya mengancam. Pandangannya mengancam tertuju kepada Kusuma Dewi.


Akibatnya,kulit putih nan pucat wajah, lengan dan kaki Kusuma Dewisobek oleh susunan sisik berkilau kehijauan yang menembus keluar dari dalam tubuhnya. Tak lama kedua tungkai kakinya menempel, merekat menjadi satu, membulat, memanjang, membentuk tubuh dan ekor sesosok ular besar.


Anggalarang kini yang menjadi luar biasa terkejut. Ia berusaha bergerak untuk mundur dan menjauh dari sosok Kusuma Dewi yang sedang berubah bentuk tersbeut, tetapi tubuhnya sama sekali tak bergerak. Ia kaku dan merasa seperti sedang dipasung di permukaan bumi.

__ADS_1


Di depannya sana, selain sang harimau yang sudah siap untuk menerkam, sosok Kusuma Dewi masuh terus bergulingan dan patah-patah. Ekor ularnya terus memanjang dan bergulung-gulung. Wajah cantik Kusuma Dewi masih di sana, tetapi memiliki raut wajah hewani yang kental dibanding manusiawi. Sepasang mata ularnya memandang Anggalarang dan menguncinya tajam dan kuat seakan tak akan melepaskannya lagi.


Kusuma Dewi berdiri tinggi ke angkasa dengan tubuh separuh ularnya, sedangkan dari perut ke atas, kemolekan tubuhnya masih terlihat jelas. Namun, apa gunanya kemolekan tubuh itu bila kemudian Kusuma Dewi malah melesat maju bagai seekor ular raksasa siap mematuk mangsanya.


__ADS_2