
Yakobus Yakob merancang baju yang dapat menutupi ketiak dan pangkal pahanya. Bagian-bagian itu adalah area di tubuhnya yang dapat terluka. Tidak hanya oleh mimis timah panas, bahkan dengan goresan senjata tajam biasa pun, kulitnya di bagian yang tanpa tertutup rajah itu akan terbuka dan mengalirkan darah seperti yang pernah ia coba lakukan sebelumnya dengan eksperimen kecil.
Malam ini ia akan beraksi. Ia tak akan segan menggunakan kemampuan istimewanya. Biarkan bila memang kesaktian yang ia miliki hanya secuil fragmen dari entitas lebih besar yang bernama Panglima Burung atau Pangkalima tersebut. Baginya, semua ini sudah lebih dari cukup.
Sekarang ia sudah memiliki tujuan. Dan tujuan itu jauh lebih besar dari dendam kesumat semata. Memang, bisa dikatakan bahwasanya dendam, benci, amarah dan nafsu adalah bagian tergelap dari jiwa manusia yang gampang sekali mengejawantah menjadi sesuatu yang lebih keji dan menakutkan. Bagian-bagian paling gelap itu adalah pemantik kekuatan yang ia miliki sekarang.
Apapun itu, ia tak peduli. Yakobus Yakob merasakan bahwa jiwanya mungkin telah tersimpan di sebuah ruang khusus di neraka jahanam, menanti kesadarannya ikut masuk ke tempat terkutuk itu. Tapi semuanya akan impas bila ia bisa melenyapkan sampah-sampah di muka bumi ini. Orang-orang yang merampas harapan hidup orang lain, merenggut orangtua dari anak-anak mereka atau sebaliknya, mereguk nikmat dari kehancuran alam dan lingkungan serta berenang di dalam danau kesengsaraan dan penderitaan orang-orang lemah.
Orang-orang seperti inilah yang akan ikut ia ke bara neraka dengan apinya yang menjilat-jilat liar.
Yakobus Yakob membuka tirai sedikit, mengintip sebuah bangunan gedung berlantai tiga di seberang hotel kecil dimana ia menginap. Tanaman merambat tumbuh liar di satu sisi bangunan dan menjalar hampir menutupi dinding. Kekumuhan dan noda-noda sejarah yang menghiasi tembok bangunan itu berbanding terbalik dengan pesta di dalamnya dengan transaksi narkoba yang juga marak.
Ia sadar betul bahwa bakal ada belasan nyawa yang siap ia cabut nanti malam. Mereka harus mempertanggungjawabkan kejahatan yang sudah mereka lakukan selama ini.
Sabar. Pikir Yakobus Yakob. Meski ia tak akan segan-segan menumpahkan darah manusia malam ini, ada pula tubuh-tubuh berpeluh yang bergoyang mengikuti iringan irama yang tak benar-benar bersalah di dalam sana. Mereka adalah jiwa-jiwa tersesat yang merindukan hangatnya bahasa dalam keluarga, indahnya persahabatan dan manisnya kehidupan. Orang-orang itu adalah korban dunia, sama seperti dirinya.
Lagipula, ia tak tertarik sama sekali mengambil nyawa orang-orang dungu yag tersesat belaka.
__ADS_1
Oleh sebab itu, Yakobus Yakob akan menunggu malam perlahan datang dan menghilang di dini hari. Saat itulah ia akan merasakan darah kental menghiasi kedua tangannya.
***
Soemantri Soekrasana melihat sosok astral melayang-layang di lantai tiga sebuah gedung kumuh yang satu sisinya dipenuhi tanaman merambat.
Sosok itu adalah seorang gadis dengan pakaian seragam putih abu-abu berleleran darah. Rambut sebahu sang gadis kusut masai dan kaku. Wajahnya pucat seputih kapas dengan bola mata sepenuhnya putih karena seakan terpasang terbalik.
Sosok perempuan tersebut hanya melayang di sana. Kakinya menggantung tanpa alas kaki. Darah mengucur dari balik rok abu-abunya, mengalir melewati paha, betis dan ujung ibu jari kakinya.
"Mati dirudapaksa dan overdosis narkoba dua tahun lalu," ujar Wong Ayu dekat di telinga Soemantri Soekrasana.
Keempat anggota Catur Angkara itu sekarang sedang menginap di sebuah hotel sederhana yang terletak di seberang bangunan tua bertingkat tiga dan berlumut serta bertanaman merambat tersebut. Di belakang hotel itu, sungai besar membelah dengan sebuah jembatan tol berdiri mengangkang di atasnya.
Keempatnya memutuskan untuk menyewa satu kamar besar dengan dua tempat tidur.
Ini bukan perkara mudah bagi semuanya yang telah bertahun-tahun hidup mereka telah tinggal sendiri. Masing-masing dari mereka telah menjauhi hubungan komunikasi serta interaksi dengan orang lain. Ranah privasi mereka begitu tinggi. Kini, semuanya terpaksa berbeda.
__ADS_1
Mungkin diantara mereka, hanya Soemantri Soekrasana yang tak terlalu keberatan. Itu pun bukan karena ia memiliki kemampuan sosial dan bersosialisasi yang mumpuni, melainkan karena hanya bisa dekat dengan Wong Ayu. Sedangkan Sarti yang walau juga merupakan penyendiri, sudah melalui ratusan tahun dengan beragam jenis gaya kehidupan. Jadi ia bisa beradaptasi dan menyesuaikan keadaan.
Yang unuk, kenyatannya, Wong Ayu lah yang sebenarnya meminta mereka untuk tetap bersama, tak peduli seberapa besar ia sendiri terganggu dengan ini.
"Bila iblis betina itu muncul, aku tak perlu mengetuk pintu kalian satu-persatu," ujarnya sebelumnya.
Semua mengiyakan saja. Apa mau dikata, Wong Ayu lah yang tersakti diantara kesemuanya. Ia memiliki kesaktian setingkat dewa. Mendengarkan, memercayai dan melakukan perintahnya adalah sebuah keharusan.
Maka perbincangan mengenai mahluk halus, hantu dan sejenisnya sangat kental diantara Wong Ayu dan Soemantri Soekrasana.
Selain gadis yang mati overdosis itu, tadi keduanya juga sama-sama melihat hantu gentayangan lain di hotel ini. Sekitar sepuluhan mahluk tak kasat mata melakukan kegiatan fisik di hotel ini seakan mereka adalah pegawainya. Namun perbedaan mereka dengan manusia biasa terlalu kentara. Misalnya saja dilihat dari wajah mereka yang kebanyakan hancur berantakan, tak beraturan, sehingga tak mungkin dikenali sebagai milik manusia biasa. Tubuh mereka juga tak berbentuk wajar. Ada yang bungkuk, saking bungkuknya wajahnya hampir menyentuh kakinya. Ada pula yang mengesot di lantai, merayap di dinding, atau berjalan kayang dengan kepala berputar seakan patah.
Sarti lain lagi. Ia memutuskan untuk menutup mata batinnya sehingga ia tak terlalu terganggu dengan segala penampakan tersebut, kecuali bagi hantu-hantu jahat yang dipenuhi rasa benci dan dendam atau yang digunakan entitas kejahatan lainnya untuk mencelakai orang lain, maka mata batinnya akan langsung terbuka tanpa dipinta.
Sejak awal kehidupannya sebagai Ratna Manggali, melihat beragam penampakan mahluk-mahluk mengerikan, tak kasat mata atau jiwa-jiwa penasaran adalah bagian dari kesehariannya. Ia sendiri akrab tinggal di dalam kuburan. Ia sudah menjadi saksi beragam jenis kematian. Dan, percayalah, bagi Sarti, kehidupan jauh lebih berat dan mengerikan dibanding kematian itu sendiri.
Anggalarang di lain pihak, hanya dapat melihat mahluk-mahluk itu bila si Maung menginginkannya. Maung lah yang memiliki segala kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan cara yang adikodrati. Ia sendiri adalah produk dari aktifitas supranatural itu sendiri, dimana manusia memerlukan lebih dari sekadar hal-hal yang mampu digapai panca indra mereka. Terlalu banyak pertanyaan dan keinginan manusia yang tak bisa diakomodir oleh fisik dan logika mereka. Maka dunia itu tercipta. Iblis bermain-main dengan harapan, nafsu dan kepedihan dunia. Bahkan tak jarang manusia lah yang menciptakan iblis di dalam dunia, menyediakan jalan bagi kegelapan untuk menyibak terang dan mematikannya.
__ADS_1
Jadilah Anggalarang orang paling santai diantara keempatnya. Ia memandang ke arah Wong Ayu dan Soemantri Soekrasana yang berdiri berdampingan menghadap jendela memerhatikan bangunan berlantai tiga dengan tanaman merambat di depan mereka.