
Anggalarang terbatuk-batuk keras. Ada percikan darah di ujung bibirnya yang membuatnya terpaksa harus keluar dari pesta yang diselenggarakan rekan-rekan kerjanya untuk menyambut pimpinan baru.
Ia tak berniat ke toilet. Malah toilet adalah pilihan yang terburuk. Kejadian semacam ini bukan sekali dua saja terjadi. Sejak beberapa waktu terakhir, hitung-hitung sudah lebih dari sepuluh kali serangan ini terjadi dan semakin meningkat dua bulan terakhir.
Kalau sudah seperti ini, ia tak akan mau ada orang di sekitarnya.
Di sinilah ia sekarang, keluar dari restoran dengan gegap gempitanya melewati pintu belakang. Dengan masih terbatuk-batuk, ia berlari di lorong diantara bangunan yang lembab menjauh secepat mungkin. Di bagian lorong yang mulai menyempit ia terjatuh di atas genangan air. Kemeja lengan panjangnya terkoyak di bagian bahu dan seluruh pakaiannya basah.
Kepalanya pusing tiada terperi. Perutnya bergejolak dengan ganas. Ia mengutuk. Mengapa harus sekarang ketika ia berada di pusat pertokoan di kota kecil ini?
Kulit kepala dan wajahnya serasa tertarik, ada yang berusaha keluar dari sana. Ia merangkak dan merasakan sekujur tubuhnya serasa ngilu dan terbakar. Tulang belikatnya seperti tercatut keluar, gusinya berdarah, jari-jarinya memberontak serasa patah. Yang paling parah adalah kedua tangannya seperti memanjang dan sepasang tungkai kakinya menyembulkan otot-otot keras. Rambut-rambut berwarna putih muncul dari pori-pori tambahan di kepala, wajah, punggung, kaki dan tangannya.
Kesadarannya didesak kesadaran lain yang memiliki kekuatan dua kali lipat dibandingkan kekuatannya sendiri. Entitas itu berjalan mendekatinya dengan segala keagungan, keanggunan, kekuatan, dan kekejamannya.
Anggalarang terkesiap. Sudah berkali-kali ia melihat kekuatan itu mengambil alih, tapi tetap saja jantungnya serasa ingin copot dari rongga dadanya mendengarnya meraung. Bukan, mulutnya sendiri yang mengeluarkan raungan mengerikan itu.
"Katakan ... Katakan sekarang!" seakan itulah kata-kata sang entitas.
__ADS_1
Mau tak mau, akibat kuatnya kuasa mahluk lain di dalam tubuhnya itu, Anggalarang membuka mulutnya sekali lagi, bukan raungan yang keluar kali ini, namun gumaman, "Aing maung ..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anggalarang melompati bangunan demi bangunan dengan ringan, bukan dengan kedua kakinya, namun empat. Kedua tangannya sudah berfungsi menjadi kaki depan. Tubuhnya sudah berubah menjadi semacam mahluk yang benar-benar berbeda, manusia dengan ciri-ciri hewaniah.
Bau darah hangat terasa di penciumannya. Bagi Anggalarang, bau ini sudah menjadi aroma yang sedap dan membuatnya bergairah. Ia sudah terlalu lupa pada dirinya dan bergabung secara utuh dengan entitas yang menguasai tidak hanya raga, namun jiwanya.
Empat orang di dalam mobil SUV berwarna abu-abu gelap nan mewah yang sedang melaju itu tak sadar bahwa hidup mereka sedang di ujung tanduk, di jurang kematian. Melewati jalan di pertokoan di kota kecil ini bisa jadi adalah kesalahan terbesar mereka.
Braja Wisesa, laki-laki paruh baya yang mungkin menginjak usia setengah abad, memiliki raut wajah setengah jenaka setengah kasar. Ia duduk si kursi belakang, melipat kedua tangannya di depan dada sedangkan pandangannya jauh entah kemana. Di sebelahnya, Dana, sang bodyguard berpenampilan jauh dari kesan sangar. Tubuhnya biasa saja, tidak kekar, tidak juga kurus. Tapi orang yang kenal maupun tidak pasti akan berpikir seratus kali untuk mencari masalah dengannya. Sebilah golok nyaman di sarungnya terselip di pinggang di balik rompi hitamnya.
Si supir, Gugum, laki-laki berumur tiga puluhan yang sangat kemayu, tersenyum-senyum genit mendengar lelucon yang diceritakan si tambun Enjang. Jari-jemari lentiknya tanpa sangka mahir sekali dan tangkas dalam menyetir. Itu sebabnya Braja Wisesa sudah mempekerjakannya selama lima tahun terakhir.
Hampir tidak ada kesamaan diantara empat manusia di dalam SUV yang melaju kencang ini selain satu hal, mereka semua adalah kumpulan pedofil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ban berdecit memekakkan telinga. Belum jauh SUV itu meninggalkan pusat pertokoan di kota kecil itu, tahu-tahu sesuatu yang keras menubruk body mobil dari samping. Gugum mencoba mengendalikan laju mobil yang bergoyang liar. Si kemayu ini ternyata memang bukan driver biasa. Nampaknya pengalaman menempanya sehingga mapan dalam bidangnya.
SUV seinci lagi menubruk jejeran pohon di tepi jalan.
"Kehed!!" sialan, umpat Enjang yang tak bisa dihindari disusul Dana dan bos mereka, Braja Wisesa. Kesemuanya keluar mobil, kecuali Gugum yang melihat spion mobil sembari celingak-celinguk mencari tahu apa atau mungkin siapa yang menubruk mereka.
Lampu-lampu dari bangunan pertokoan masih bisa terlihat di balik kelokan jalan, pepohonan dan perkebunan. Tapi tempat dimana mereka berhenti, hanya lampu jalan dari tiang listrik yang menemani.
Enjang menghidupkan lampu sebagai senter dari ponselnya. Tubuh tambunnya bergerak ke sana kemari mengarahkan lampu ke sekeliling. Tidak ada satu apapun yang terlihat. Sebuah mobil melewati mereka tanpa menuruni kecepatan. Sepuluh detik setelah mobil itu lewat Gugum melihat kelebatan benda panjang berwarna putih di depan mobil. Ia berteriak layaknya seorang banci. Ia membuka pintu mobil dan berlari keluar.
"Jurig teh! Maneh nya', bikin kaget aja. Apa sih lu?" bentak Dana sembari melotok ke arah Gugum.
"Ada jurig ... Ada jurig ...," ujarnya dengan gaya yang khas.
"Elu yang jurig!" seru Enjang kesal.
"Beneran deh, aing lihat jurig tadi. Putih-putih lewat di depan mobil. Jangan-jangan itu yang nabrak kita tadi," ujar Gugum serius. Semuanya terdiam. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Mereka sendiri bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Melihat ini, Braja Wisesa yang sedari tadi diam meminta mereka untuk kembali masuk ke dalam SUV, "Mobil ini masih bisa jalan ‘kan, Gugum? Ayo masuk semua," Gugum mengangguk. Yang lain berusaha melupakan sementara pertanyaan mereka demi melihat sang bos sudah memberikan perintah. Mereka juga mengabaikan tepian body mobil di bagian pintu yang legok penyok seperti dihantam sesuatu, meski mereka tak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka.
Memang malam ini bukan malam yang lancar bagi mereka. Kegelapan ini tak membiarkan mereka untuk pergi dari tempat ini. Baru saja mereka ingin kembali masuk ke dalam mobil, sial bagi Gugum yang harus mengambil jalan memutar untuk masuk ke kursi pengemudi, tubuhnya terlempar menabrak kaca depan mobil, membuatnya retak parah. Teriakan Gugum terus mengiringi kematiannya ketika mahluk itu mencabik-cabik perut dan dadanya.