Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Pon - Suluk Kedua Kusuma Dewi


__ADS_3

Setelah percakapan di telepon dengan sepupu perempuannya malam itu, Kusuma Dewi tak bisa tidur. Padahal tenaganya juga telah terkuras habis akibat bercinta dengan halusinasi akan Anggalarang. Ada harapan liar yang bermain-main di dalam jiwanya. Ada cita-cita dan keinginan yang meski ia sendiri anggap konyol dan bodoh, tetap saja memberikan penawaran aneh yang tak bisa ditolaknya.


Kusuma Dewi bahkan telah memutuskan menerima undangan sang saudara sepupu. Esok hari, ia akan mempergunakan libur tujuh harinya untuk mengunjungi keluarga Ratih, sepupunya, di Dusun Pon.


Entah bagaimana kelak keputusan ini membawanya. Seluruh pusat semestanya hanya pada sang pemuda Anggalarang semata. Anggalarang bukan hanya cita-cita, tetapi juga sesembahan, dimana setiap tindak tanduk, perilaku dan pilihan kehidupannya diperintah oleh sosok yang hampir tak tersentuh tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Turun dari sebuah bus warna merah kusam dan list putih sama tuanya, Kusuma Dewi melihat Dusun Pon tersembunyi dalam riuh rendah pepohonan bambu. Sepasang kakinya menapak sebuah jalan setapak masuk ke dalam dusun kecil tersebut yang berupa aspal lama, dibuka dengan sebuah gapura ambruk. Bangunan gapura yang nampak sekali sudah tua itu terdiri dari bata merah yang rompal di sana sini dan hanya menyisakan satu dua bagian yang masih berdiri seperti tembok kecil setinggi pinggul.


Sempat terbersit keraguan untuk melanjutkan perjalanan demi melihat keadaan di depan matanya. Apa benar tujuannya datang ke tempat ini merupakan sebuah keputusan yang tepat? Apa yang sungguh dipikirkannya sebelumnya? Namun, ketika melihat lima orang pemuda pemudi juga turun dari sebuah bus tak lama setelah dirinya sampai, tertawa ceria, memanggul ransel dan mengambil foto di sana-sini, serta beberapa mengangguk ramah ke arahnya, Kusuma Dewi melangkahkan kaki menembus segala kesangsian. Memang benar apa kata Mbak Ratih, Dusun Pon menjadi semacam tujuan wisata baru, pikirnya.

__ADS_1


Kusuma Dewi menguncir rambut panjang kemerahannya kemudian membetulkan posisi tas ransel kecil dan jins biru ketat yang ia kenakan, serta menepuk kemeja lengan panjang oversized-nya. Kusuma Dewi menghela nafas panjang lalu melangkah mantap dengan sepatang sepatu kanvasnya.


Di dekat jalan masuk gapura, ada sebuah bangunan kayu ringsek di kiri jalan setapak, hampir habis terbakar. Dari posisinya di tepi jalan dan di dekat gapura dusun, Kusuma Dewi menebak bangunan itu adalah semacam pos jaga atau poskamling. Namun, ia tak tahu mengapa bangunan itu habis terbakar. Itu tak menjadi masalah buatnya.


Ada dua orang remaja laki-laki di dekat bangunan itu, menyapa ramah rombongan pemuda pemudi yang berjalan lebih dahulu di depan Kusuma Dewi. Mereka juga kemudian mengangguk dan tersenyum ke arahnya.


Kusuma Dewi membalas sapaan dua remaja laki-laki tersebutdan merasakan kelegaan semakin menyirami jiwanya. Ia merasa konyol karena sempat merasa ragu datang ke dusun asal ayah dan keluarganya sendiri, hanya karena melihat rimbunan pepohonan bambu, jalan setapak kecil beraspal lama dan gapura yang tinggal reruntuhan.


Benar saja, angin yang berhembus di sela-sela batang bambu dan dedaunannya yang ramping menyapa tengkuk Kusuma Dewi. Bunyi desiran sepoi angin juga bersimfoni dengan bunyi gemericik air sayup-sayup yang berasal dari balik hutan bambu. Aroma yang tak dapat ia definisikan terserap ke dalam otak melalui dua lubang hidungnya, menciptakan sensasi kenyamanan yang luar biasa, sulit untuk dijelaskan. Warna hijau pepohonan dan tanaman pangan yang terhampar beradu dengan warna merah tanah dengan latar belakang langit membiru menciptakan suasanya yang luar biasa berbeda dan anehnya, menyenangkan.


Hanya saja, tanpa Kusuma Dewi ketahui, dua remaja laki-laki tanggung yang tadi menyapanya, kini sedang memerhatikan kepergian para tamu itu, kemudian beralih ke bokong Kusuma Dewi yang bergerak-gerak dinamis menyembul menubruki bagian belakang kemeja lengan panjang oversized-nya. Keduanya saling berpandangan saling bertukar sinyal misterius.

__ADS_1


Tepat pukul tiga sore. Pemandangan di dusun Pon yang serba menyenangkan bagi Kusuma Dewi itu bertolak belakang dengan penerawangan orang yang mampu melihat hawa gaib yang mana saat itu sejatinya adalah masa dimana sinar mentari belum redup namun juga tidak segahar beberapa jam sebelumnya. Cahaya mentari di sore itu tak benar-benar mampu menembus Dusun Pon yang seakan ditutupi kubah dari pepohonan bambu dan aura yang tak dapat benar-benar dijelaskan.


Kulit pucat Kusuma Dewi seakan menyala ketika tubuhnya semakin masuk ke dalam dusun. Bintik-bintik, freckles, hitam yang tersebar di pangkal hidung dan sedikit di bagian bawah matanya meredup, menyatu bersama warna kelabu Dusun Pon.


Benar saja penerawangan orang-orang berpandangan mata gaib, ada yang terbangun dari balik lipatan dimensi. Ada yang mencoba memberontak keluar dari penjara dunia lain ketika melihat sosok Kusuma Dewi membelah lapisan tipis pelindung gaib tak kasat mata memasuki wilayah tersebut.


Setelah beberapa saat sejak kejadian terakhir di Dusun Pon, warga mulai memeluk kenyataan lain yang selama ini mereka sangsikan, sangkal bahkan tolak. Meski sudah selama itu pula mereka tak lagi melihat penampakan hantu, pocong, wewe gombel, genderuwo atau segala jenis mahluk halus lainnya, tetapi sesungguhnya hawa magis masih terus berputar di dusun ini. Hawa itu tak menghilang bahkan ketika internet berhasil masuk ke wilayah ini beserta para pengunjung dari luar dusun. Internet dan teknologi informasi bukanlah dewa baru yang membuat kekuatan gaib melemah. Kekuatan gaib nan mistis tersebut hanya lebih lihai bersembunyi.


Para warga secara ironis malah mulai merindukan aktifitas gaib yang mereka cerca dan hindari untuk percaya sebelumnya. Kini, banyak dari warga dusun, tua, muda, menyebarkan cerita gaib di masa lalu kepada para tamu. Menjadikannya sebagai sebuah kebanggaan dan atraksi wisata.


Mereka menunjukkan tempat dahulu Pancajiwa berdiri. Walau hanya sisa-sisanya yang masih ada, tak pelak ketertarikan para pendatang meningkat. Wisata spiritual menjadi semacam tren baru akhir-akhir ini.

__ADS_1


Semua warga Dusun Pon akhirnya mendapatkan gairah baru yang aneh. Mungkin mereka terlupa dengan pengalaman mengerikan yang terjadi tak berapa di masa lalu, tetapi sesungguhnya, para warga hanya memeluk kenyataan tersebut dengan lebih akrab dan baik. Gairah warga juga ternyata disambut titik-titik energi yang terlelap di sudut-sudut gelap nan kelam daerah ini, menyala terpercik dipantik oleh kedatangan seorang perempuan berambut kemerahan, berkulit pucat, dan berbenci diri.


Wardhani membuka mata. Tiada kekuatan sebesar ini akhirnya hadir di radarnya. Soemantri Soekrasana dan Chandranaya sang kuntilanak merah telah memberikan bui dengan jeruji besi gaib yang begitu kuat sampai tak mampu membuatnya bergerak sama sekali dari dalam semesta tersebut. Kedatangan Kusuma Dewi membawa harum kekuatannya untuk kembali tumbuh menyapa dunia.


__ADS_2