Babad Angkara Murka

Babad Angkara Murka
Kitab Prajurit Ayat Empatpuluh Tujuh


__ADS_3

Putri Junjung Buih tersenyum atas reaksi keterkejutan para anggota Catur Angkara.


"Wong Ayu, dianugerahi kekuatan yang paling dahsyat yang pernah ada di bumi. Anggalarang, ada kekuatan kuno yang menyertaimu, ia sejaman dengan saat kelahiranku, pada masa Pakuan Pajajaran Pasundan di Kerajaan Sunda Galuh yang dipimpin oleh Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja. Kau mengenalnya dengan Prabu Siliwangi. Sedangkan engkau, ...," ujar sang Putri sembari tersenyum dan menundukkan kepalanya hormat pada Sarti. " ... Ratna Manggali, yang bahkan usiamu jauh lebuh tua dariku," ujarnya.


Sarti menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal, "Waktu hanya perihal pemikiran yang bisa dimamah dan ditelan manusia. Meski aku memang lahir di masa raja Erlangga, dan engkau di masa Majapahit, itu hanya dalam perhitungan hidup manusia yang terbatas ini. Kau sendiri entah sudah berapa lama melayang di dunia berbeda menunggu untuk lahir di dunia manusia untuk dicatat dalam sejarah, sama seperti layaknya kami mencatat hidup dan mati orang-orang lain di rentang waktu terhingga kami ini," ujar Sarti santai namun penuh makna.


Kata-kata Sarti tak pelak membuat rekan-rekannya kembali sadar bahwa Sarti adalah seorang perempuan yang berumur ratusan tahun. Sewaktu mereka semua terkejut karena sang Putri ternyata memiliki pengetahuan tentang diri mereka, hanya Sarti yang terlihat biasa saja.


Putri Junjung Buih kembali tersenyum. "Baiklah. Aku pikir kita sudah sama-sama paham letak rangkaian nasib yang diuntaikan mengunci kita semua. Aku akan mulai bercerita. Cerita yang serupa kuberikan pada Yakobus Yakob, anak laki-laki yang aku percaya telah kalian temui. Bahkan Wong Ayu sempat terlibat dalam cerita itu di balik pintu dunia yang berbeda," ujar sang Putri sembari melirik nakal ke arah Wong Ayu.


Wong Ayu cukup terkejut karena nyatanya sang entitas adikodrati ini mengetahui bahwa ia sempat masuk ke dalam dunia dimana Yakobus Yakob dan Putri Junjung Buih bertemu tempo hari.


Tak lama permukaan air kembali beriak, namun bukannya bergelombang, butiran air mengambang naik ke angkasa seperti hujan yang turun terbalik, ke atas langit hampir menyentuh kubah yang berbentuk cembung itu.


Cahaya memantul dan menembus tiap bulir air. Keempat anggota Catur Angkara merasakan tubuh mereka juga melayang, ringan, tapi tubuh mereka tetap berdiri di atas buih-buih yang perlahan memecah satu persatu. Semesta mengambang, bersama mereka di dalamnya, terbang ke sebuah tempat yang dinamakan sejarah.


***


Sudah ratusan tahun individu lahir dan mati di tempat itu. Tubuh fananya sudah lama membusuk, menjadi kompos dan makanan bagi mahluk hidup lainnya, tumbuhan serta cacing-cacing tanah. Tapi, jiwa-jiwa tak mengenal konsep kala, era dan masa. Mereka diperintah oleh pikiran dan rasa yang terbang merayap menembus ruang dan waktu.

__ADS_1


Sialnya, penaklukkan jiwa-jiwa itu atas ruang dan waktu ternyata secara ironis dan paradoksal juga menaklukkan mereka sendiri dengan cara membelenggu dan memeperbudaknya sehingga arwah dan atma itu tak bisa pergi dari pangkal asal mula alasan kematian bentuk badaniah mereka. Pendek kata, para hantu tak bisa pergi dari masalah mereka sewaktu masih hidup.


Ratusan roh berbentuk menakutkan dan mengerikan melayang tanpa menyentuh tanah, terbang berkelebatan di atas pepohonan, merayap di tanah, timbul tenggelam melata di air dan lumpur, serta meloncat-loncat di pekuburan. Semuanya secara bergantian kasat mata di Kampung Pendekar dan daerah sekitarnya.


Ketika matahari telah muncul, kabut tetap menutupi daerah di seberang jembatan tol tersebut. Angkasa serasa mendung, dingin pula, namun mencekam. Ada semacam serabut-serabut tipis muncul dari hawa beku menyentuh tengkuk para warga di pagi buta itu, menciptakan rasa ngeri yang tak bisa dijelaskan.


Pelan-pelan, para roh gentayangan yang terbelenggu itu kini dilepaskan. Bukan untuk bebas, namun untuk diperbudak dan diperintah kekuatan asing yang lebih besar tumbuh menguat dari Kampung Pendekar.


Seluruh warga perumahan yang berinisiatif mengirimkan tiga orang warga mereka untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi mendadak gempar luar biasa. Kompleks perumahan mereka adalah kompleks kedua terdekat dari Kampung Pendekar dan jembatan tol setelah melewati kompleks perumahan para pemilik kebun sawit yang bisa dikatakan cukup mewah, namun jarang ditinggali penghuninya yang biasanya terlalu sibuk bekerja di luar kota.


Bagaimana tidak heboh, Pak Jerry datang menderu, hampir menubrukkan mobilnya di pos satpam depan kompleks perumahan mereka, meski berhasil masuk sampai depan rumah dengan selamat.


Dalam waktu lima belas menit ketika warga berhasil membangunkan keduanya, mulut mereka meracau. Kata-kata mengerikan namun tak urut menyembur keluar dari kerongkongan mereka.


"Ada semacam ledakan di jembatan tol. Tapi kabut tebal menutupinya," ujar Pak Jerry akhirnya, setelah ia berusaha setengah mati menenangkan dirinya. Sang istri bergayut di lengannya. "Kami diperlihatkan dengan kemunculan ... Mahluk halus," Pak Jerry berdehem membersihkan tenggorokannya. "Kami melihat ... Kuntilanak, bapak-bapak, ibu-ibu ..."


Tak perlu ditunggu lama, reaksi warga meledak bagai sekumpulan burung bubar dilempari batu. Pak Jerry tak peduli meski jelas-jelas banyak yang meragukan dan menganggap ucapannya ini konyol. "Tidak masalah bila bapak dan ibu sekalian tak percaya. Tapi setelah itu, saya melihat beberapa pemuda muncul dari balik kabut membawa senjata tajam, parang. Mereka mengejar kami. Bapak ibu bisa lihat kerusakan di kaca belakang mobil sedan saya."


Untuk alasan kedua, para warga memilih untuk sedikit lebih memercayai ini, meski mereka mulai menyimpulkan sendiri tanpa menerima mentah-mentah berita itu.

__ADS_1


Bisa jadi sedang ada kekacauan di Kampung Pendekar. Ini bisa diwajari karena tempat itu memang gudangnya masalah.


Mungkinkah perkara antar geng, penyerangan polisi, atau masalah-masalah kriminal lainnya?


"Kita harus menelpon polisi dan berjaga-jaga di kompleks. Tidak perlu berlebihan, tapi tetap awas dan siaga saja," ujar salah satu warga setengah baya bernama Pak Agus.


Yang lain kemudian ikut andil dengan menawarkan beragam solusi. Perbincangan kembali ramai, walau pada dasarnya mereka sepakat bahwa apa yang Pak Jerry ucapkan perlu diinterpretasikan kembali. Informasi perlu disusun untuk mendapatkan fakta sebenarnya.


Pak Jerry sudah tenggelam dalam lamunannya kembali. Ia tak peduli ucapan-ucapan mereka. "Ma, bawa Sandi dan Murni anak kita. Kita harus menjauh dari kompleks ini. Bahaya mengancam," ujar Pak Jerry pada istrinya.


"Maksud Papa, kita ke kota? Papa tidak kerja hari ini kalau kita pergi semua?" ucap sang istri.


"Tidak, Ma. Kita tidak bisa melewati jembatan tol. Disana lah letak masalahnya. Kita akan pergi ke arah sebaliknya. Percaya sama Papa. Bawa pakaian seadanya, makanan dan uang. Kita harus pergi sekarang juga! Papa akan ceritakan semua nanti sambil jalan," tegas Pak Jerry.


Hal ini sangat membuat bingung sang istri. Meski ia tetap melakukan apa yang suaminya utarakan.


Jalan ke arah sebaliknya, berarti mereka harus pergi ke arah beberapa kompleks perumahan kemudian masuk ke perkebunan sawit yang tak luas, perkebunan nanas, hutan dan sebuah jembatan kecil menyebrangi anak sungai ke arah jalan luar kota.


Jembatan itu konon bukan sebuah jembatan layak, hanya digunakan oleh para penduduk sekitar yang memiliki kebun-kebun kecil di tengah hutan. Pak Jerry belum pernah kesana. Ia tak ambil pusing. Ia akan ambil resikonya.

__ADS_1


__ADS_2