
Tengkorak para tetua kampung mendobrak naik ke atas. Mereka menggali tanah dari bawah dengan jari-jemari belulang kurus tanpa daging itu sampai kepala mereka menyembul ke permukaan.
Bandi berdiri. Ia tertawa lepas, bebas. Kepalanya menengadah, mengancam langit yang memamerkan petirnya, mengancam semesta.
Ia berbalik, kali ini menghadap hamparan daerah di tepi sungai yang penuh kepulan asap, api dan teriakan menyedihkan. Sebentar lagi tempat ini akan menjadi miliknya secara penuh. Semua hal yang bernafas maupun tidak, yang berjalan di atas tanah dan melayang di udara akan tunduk kepada perintah dan kuasanya.
Di belakang sosok Bandi, hantu-hantu Mariaban meraung-raung. Sepuluh tengkorak berhias tanah kuburan merayap keluar. Semua sekarang mengabdi pada anak manusia tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau pikir kita akan menghadapi kekuatan seperti yang kita hadapi bersama dulu?" tanya Anggalarang pada Wong Ayu. Mereka baru saja keluar dari kompleks bandara dan sedang mencarter sebuah taksi online.
Anggalarang berjalan cepat mendekati Wong Ayu ketika Sarti sedang menjelaskan keadaan secara umum mengenai pulau Kalimantan yang baru mereka darati ini kepada Soemantri Soekrasana yang memang kurang pengalaman tersebut.
Ada pertanyaan yang selalu menggelitik hati Anggalarang. Kadang sang Maung mencoba menjelaskan kepadanya dalam raungan dan geraman bermakna, tentang betapa sinyal iblis perempuan itu selalu menggodanya untuk keluar dari persembunyian, menyobek tubuh sang inang untuk melawan mahluk itu.
Wong Ayu memandang Anggalarang, "Aku harap tidak, Anggalarang. Aku benar-benar berharap untuk tidak memenggal kepala orang lain lagi," balas Wong Ayu.
Anggalarang tersenyum, "Kau yakin ini Wong Ayu yang berbicara? Sang Durga sakti yang malang melintang di seantoro Nusantara, yang kakinya berada di jembatan antara bumi dan alam baka? Yang tugasnya mengantarkan nyawa para dukun cabul ke wilayah berapi abadi?"
Wong Ayu kembali menatap teman barunya itu, "Bukannya kau sendiri juga ...," Anggalarang mengangkat telunjuknya memotong ucapan Wong Ayu.
"Bukan aku, Wong Ayu. Itu sang Maung yang melakukannya," ujar Anggalarang tersenyum licik.
__ADS_1
"Kau hanya mencari pembenaran. Sedikit banyak kau terlibat, Anggalarang. Maung mengendus masa lalu dan dendammu, maka ia bereaksi," balas Wong Ayu.
Anggalarang tertawa, "Jadi, maksudmu kita sama?"
Wong Ayu membuang muka, tersenyum. Ia tahu bahwa Anggalarang pun bercanda. Keempat anggota Catur Angkara ini adalah orang-orang yang berkubang dalam darah, tak terkecuali. Namun sejak kejadian tempo hari di desa Kaliabang, Pancasona, dan Prajuritan, ada hati nurani di alam bawah sadar mereka yang menjerit untuk didengarkan.
Mereka seakan menginginkan harapan untuk dapat hidup lebih baik, melakukan hal yang lebih baik, dan menjadi orang-orang yang lebih baik.
Anggalarang dan Wong Ayu tersenyum. Keduanya merasa lucu bahwa keinginan tersebut sangat jauh dari mungkin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untuk melewati pulau itu harus menyebrangi lautan, yang bukan lagi wilayah kekuasaan Nyi Blorong dan antek-antek jin, setan dan iblisnya. Namun Affandi sudah paham kemana arah jalannya kehidupan yang diberikan lagi kepadanya. Tidak ada yang gratis, tidak ada yang cuma-cuma.
Affandi semakin tertawa menyadarinya.
Iblis meminta tolong manusia untuk membangun persekutuan dengan manusia lainnya yang juga dikendalikan oleh iblis jenis lainnya. Manusia hanya merupakan bidak permainan catur mereka.
Namun ia tak keberatan. Ia menikmati manis dan harumnya juga. Kekuasaan dan kekuatan kini mengalir di dalam nadinya. Ia mereguk segala hormat, segala kepatuhan, segala keistimewaan yang belum benar-benar ia rasakan sebelumnya.
Mungkin sekarang ia masih merupakan budak semata. Ia dijadikan seorang pesuruh kekuatan gelap yang bermain-main di dalam nasib dan takdir manusia. Namun pada saatnya kemudian, ia yang akan membalikkan keadaan. Ia mungkin akan melepaskan keserakahan dari dalam jiwanya yang terkungkung.
Tapi itu nanti, setelah ia memainkan perannya. Setelah kekuatan para iblis yang nyata-nyata memiliki keterbatasan karena memerlukan dirinya untuk melaksanakan keinginan mereka, terbuka jelas dimana kelemahannya.
__ADS_1
"Hamba patuh. Hamba akan melaksanakan keinginan tuan putri dengan segenap jiwa dan raga serta penuh kesadaran. Namun bukan berani lancang, bila diperkenankan, hamba ingin sekali meminta satu permohonan kepada tuan putri," ujar Affandi ketika Nyi Blorong sekali lagi menemuinya, menyelip masuk ke dalam mimpinya.
"Aku tahu apa maumu, anakku," ujar sang ratu pasti. Tubuh ularnya yang hijau keemasan berlekuk-lekuk di sela-sela batu karang. Ombak memecah pantai, langit murung, dan angin laut yang dingin menyayat kulit.
"Lakukanlah. Aku mendukungmu. Lagipula, kau memiliki apa yang kau perlukan. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau. Setelah kau menyelesaikan urusanmu, segera pergi menyebrang samudra untuk melakukan kehendakku," tambah sang ratu. Tubuhnya yang agung menghilang bersama ombak yang ganas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Marsudi terbaring di sebuah kamar di dalam rumah sakit khusus tahanan kepolisian. Berbanding terbalik dengan keadaannya sebelum ini, ilmu kanuragan, jampi-jampi atau apapun itu tak berguna lagi. Tubuhnya sekarang hanyalah merupakan sekarung daging dan darah, tanpa makna, tanpa kuasa.
Tahunan latihan dan pengabdian pada ilmu hitam dan kekebalan berakhir dengan badan lemah ini. Semuanya serasa percuma, segala pengorbanan hanyalah semu semata. Bahkan Marsudi tak merasa perlu susah-susah untuk makan, minum dan berusaha sembuh, semua kegiatan manusia awam dimana ia sekarang adalah bagiannya.
Seorang perawat mendorong masuk rak makanan dan obat-obatan. Marsudi memandang sejenak saja pada kedatangannya. Ia menarik nafas. Bosan sekali rasanya terus berbaring. Dahulu, terluka adalah kenikmatan. Ia selalu berhasil menyebrangi kematian untuk kembali ke kehidupan, tak peduli seberapa besar rasa sakit di tubuhnya. Tapi kali ini, menjadi tak berdaya adalah sebuah neraka yang nyata baginya. Setiap inci tubuhnya menjerit. Sialnya, ia tak bisa melawannya, tidak seperti dahulu. Ia tak bisa berjaya atas rasa sakit dan kematian.
Sang perawat pasti membawa obat-obatan, memeriksa keadaan tubuhnya, patah tulang, lebam atau luka terbuka yang tak kunjung sembuh.
Tidak ada penjagaan ekstra di ruangan Marsudi. Ia mungkin adalah salah satu ketua gembong preman yang cukup berpengaruh. Tapi, seisi rumah sakit adalah para penjahat, tahanan, bukan rumah sakit umum apalagi khusus perlindungan saksi misalnya. Jadi menjaga kamar Marsudi bukan merupakan prioritas bagi penegak hukum.
Marsudi belum pernah melihat sang perawat. Biasanya, perawat laki-laki yang memberikannya perawatan dan makanan hanya ada dua orang bergiliran, dan dua-duanya bertubuh ceking dan berjalan dengan menyeret kaki mereka, mungkin malas mengurusi dirinya.
Namun perawat baru ini memiliki tubuh yang yang bergerak gesit dan penuh dengan kepercayaan diri.
Marsudi sebenarnya sama sekali tak peduli siapapun orang yang datang untuk memberikannya obat sampai perlahan ia sadar mengapa sepertinya ia mengenal benar porsi badan dan perawakan sang perawat yang membuka masker medisnya.
__ADS_1