
Nurdin serasa tersadar. Ia menengok ke belakang, pada kerumunan warga yang linglung, mengambang seperti habis bermimpi. Mereka tak punya daya untuk memberdayakan logika atau menerapkan akal sehat.
Nurdin mencoba menyusun semua informasi yang bagai bercak-bercak noda tak membentuk pola ini. Namun, ia baru saja menembak seorang pemuda di depannya. Orang itu bergeming. Ia tadinya melihat raksasa jangkung muncul di depan matanya. Baru saja ia melihat dua orang rekannya berdarah-darah tanpa luka, dengan pandangan yang membuat mereka 'bukan' mereka.
Ilmu hitam!
Hanya itu satu-satunya kesimpulan kilat yang dapat ia jelaskan sendiri. Ada kekuatan aneh yang bermain-main di tempat ini.
"Mas Rudi ... Juwanto ...," ujar Nurdin memanggil nama kedua orang yang ia kenal dengan baik itu.
Ia sekarang sedang dalam keadaan yang sulit dijelaskan. Tadinya ia merasa bersalah meninggalkan kedua rekannya itu di pos penjagaan. Sekarang ia yang merasa takut dengan kehadiran mereka.
Pak Rudi Suwarno menolehkan pandangannya ke arah Nurdin dan menguncinya di sana. "Orang-orang berusaha menyempalkan berita di otak orang lain selama berabad-abad, melalui agama, melalui kepercayaan bahwa neraka itu penuh penderitaan, panas, buruk dan busuk. Kami telah ke sana, Nurdin. Mereka semua berdusta! Neraka penuh dengan mahluk-mahluk indah. Kau tak akan pernah melihat sayap-sayap lebar dan perkasa berwarna-warni, sebanyak warna di dunia, kecuali di tempat itu. Api yang berkobar adalah api semangat, api gairah yang tak akan padam. Kobarannya memberikanmu tenaga berlipat untuk menikmati menu pesta pora neraka," jelasnya panjang lebar.
Nurdin mengernyit. "Kau sudah mati, Mas?" ujarnya. Nurdin kembali mengangkat senapannya dan mengarahkannya kepada Pak Rudi Suwarno.
Nurdin sepertinya kembali terdorong oleh sebuah kekuatan taksadar di dalam dirinya yang muncul menggedor keberaniannya kembali.
Ia melepaskan tembakan ke arah Pak Rudi Suwarno, tepat di bagian dadanya. Pak Rudi Suwarno tersentak, begitu juga dengan Parulian dan warga lainnya.
Hanya ada kepulan asap setebal letusan mercon di kain berlobang Pak Rudi Suwarno. Sedangkan, orang itu sendiri tetap tegak berdiri.
"Jangan kembali lagi kalau sudah mati! Kalau memang neraka itu seindah yang kau katakan, pergi sana. Ambil neraka untuk dirimu sendiri," ujar Nurdin dengan suara yang sedikit bergetar namun lantang.
Pak Rudi Suwarno dan Juwanto tertawa. "Kami masih diberi tugas untuk mengajak sebanyak mungkin orang dahulu, baru bisa menikmati tempat itu. Sudahlah, Nur, diajak senang kok tidak mau," balas Pak Rudi Suwarno tersenyum layaknya setan. Tidak ada tanda-tanda ia terluka sedikitpun.
__ADS_1
Warga kompleks yang semula linglung, menjadi semakin merasa ganjil namun juga dipenuhi rasa takut yang luar biasa.
Apalagi kemudian, salah satu dari keempat pemuda, mungkin yang tadi sempat ditembak Nurdin dengan senapan rakitan itu, mengangkat parang panjangnya dan maju dengan cepat menebas Nurdin.
Nurdin mundur dan jatuh terduduk. Teriakan warga terdengar, bersamaan dengan bunyi langkah kaki panik mereka yang berlari menyelamatkan diri.
Nurdin memegang dadanya dan merasakan bahwa tubuhnya tak kurang suatu apapun, hanya senapannya yang lepas dari tangan dan jatuh.
Parang sang pemuda yang menyerangnya tertahan pada satu sosok hitam legam yang sekonyong-konyong muncul entah darimana dan bagaimana.
Yakobus Yakob menangkis parang itu dengan lengannya yang sekuat baja, karena tertutupi beragam rajah dengan warna gradasi hitam saling timpa.
Dalam hitungan detik, Yakobus Yakob langsung menggasak rombongan ini. Ia memukul, menerjang, melayang dan menghujam musuh. Keempat pemuda terlempar menubruk pagar rumah dan membuatnya bengkok. Ada yang melambung sampai ke lantai tiga bangunan, menjebol dindingnya.
Yakobus Yakob menghilang, bermain bersama kabut, muncul, mencengkram kedua bahu Juwanto, melemparkannya jauh. Tubuh Juwanto sang security terseret di jalan aspal perumahan, melemparkan material pecahan aspal, batu dan pasir.
Pak Rudi Suwarno menubruk Yakobus Yakob bagai seekor badak.
Tubuh pemuda itu terpental mundur menghajar pagar sebuah rumah. Bunyi berkelontang besi pastilah membuat panik pemilik rumah yang berdiam diri di rumah, takut keluar namun merasa terancam dengan kemunculan hantu-hantu di dalam.
Yakobus Yakob menolakkan tubuhnya sehingga meluncur bagai sebutir mimis, menyikut, memukul dan menendang Pak Rudi Suwarno sehingga kali ini tubuh satpam senior itu yang melenting terpelanting masuk ke garasi salah sebuah rumah elit, membobol rolling door besi dan memenyokkan kap mobil mewah yang terparkir di dalamnya.
Wajah tegas Yakobus Yakob di bawah penutup kepala berparuh burung enggang gading itu berpaling ke arah Nurdin. "Bawa semua warga keluar, lari sejauh-jauhnya dari perumahan ini," ujarnya.
Nurdin menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha sadar setelah melihat aksi sang sosok misterius ini yang telah membuat perumahan elit yang selalu ia jagai, porak-poranda bagai medan pertempuran hanya dalam satu tarikan nafas. Bahkan ia sendiri baru ingat untuk bernafas.
__ADS_1
Nurdin berdiri, kemudian berlari sembari berteriak-teriak. "Keluar ... keluar .... keluar semuanya, bahaya di dalam rumah. Ikut saya!"
Empat pemuda yang berasal dari Kampung Pendekar bangun dan meloncat secara bersamaan dari tempat mereka tadi terlempar karena serangan Yakobus Yakob.
Keempatnya sudah memiliki kecepatan, kegesitan dan kemampuan bertempur yang cukup baik, bahkan sebelum mereka mati dan dibangkitkan kembali. Kampung Pendekar memiliki nama tersebut jelas bukan tanpa sebab.
Tubuh Yakobus Yakob memendar, memecah, memuai. Tubuhnya setipis kabut itu sendiri, sehingga ketika ditembusi parang, Yakobus Yakob tak tersentuh.
Seketika itu pula tubuhnya memadat dan mengayunkan lengannya meniru ketajaman dan bentuk sebuah mandau.
Kepala salah satu pemuda berguling di aspal, lepas dari badannya.
Lengan Yakobus Yakob kemudian memendar kembali, menembus tubuh pemuda lain dan memadat ketika ia merasa telah menggenggam jantung lawan. Sekali remas, jantung itu pecah di dalam. Yakobus Yakob menyentaknya keluar.
Darah menyembur bagai meluncur dari pompa air.
Dua pemuda lain menerima nasib yang tak begitu jauh. Wajah hancur disepak dan diinjak ketika tubuhnya telentang di tanah. Kepala terpuntir dalam sekali pukulan keras.
Rudi Suwarno dan Juwanto saling pandang setelah melihat empat pemuda yang membunuh mereka tadi kini berhamburan di jalan beraspal.
Mereka tertawa licik dan jahat. Membuat Yakobus Yakob awas dan tak terlalu puas dengan hasil karyanya.
Bagian-bagian tubuh yang berserakan tersebut bangun. Kepala yang terlepas terseret bagai magnet kembali ke tubuhnya, dengan sempurna. Pecahan jantung yang sudah tak berbentuk lagi, dengan cepat menyatu dan kembali masuk ke rongga sang empunya. Serat daging yang terkoyak menyambung, kulit yang sobek menutup. Wajah yang hancur, leher yang terpuntir kembali utuh bagai adegan film yang diputar terbalik.
Yakobus Yakob tersentak. Ia sama sekali tak menduga hal ini. Namun ia tak sempat berpikir terlalu lama karena keempat pemuda yang kembali bugar itu meloncat menyerangnya bagai kera-kera liar yang ganas.
__ADS_1