
Wardhani baru sadar bahwa malam ini adalah hari Rabu Pon dalam perhitungan Jawa. Kemunculan mahluk-mahluk gaib seperti perempuan menyisir di tepi sumur dan almarhumah mbah putrinya, memang berkaitan dengan hari khusus ini.
Bukan tanpa alasan orang-orang kampung memandangnya sebagai seorang gadis cantik yang sayangnya terganggu jiwanya. Ini karena ia mengaku kerap melihat hantu di setiap penjuru dusun. Di tegalan sawah, di samping warung kopi Mak Romlah, atau di belakang rumah Pak Guru Johan. Ia kerap berteriak atau berlaku tidak wajar di depan orang-orang sejak umurnya lebih muda dari ini.
Tentu saja, warga tidak mau mengambil matang-matang cerita yang beredar bahwa Wardhani dapat melihat hantu. Mereka sudah ingin maju, tak mungkin mundur dengan kembali percaya pada perihal semacam itu.
Warga malah mengaitkan kegilaaan Wardhani pada kedua orangtuanya yang depresi karena wafatnya anak perempuan pertama mereka, yaitu Kinanti, yang menyusul wafatnya sang ibunda dari ayah Kinanti dan Wardhani beberapa tahun sebelumnya. Depresi itu juga dimulai dari hancurnya perekonomian keluarga karena ayah Wardhani bukanlah orang yang becus mengatur beragam usaha yang ditinggalkan kedua orang tuanya.
Warga berpikir bahwa ketidakwarasan Wardhani adalah hasil transfer beban pikiran kedua orangtuanya. Sebuah pemikiran yang konyol memang. Tapi apa boleh buat, itulah yang terjadi.
Namun, bagi Wardhani, malam ini menjadi lebih berbeda. Mahluk-mahluk halus yang menampakkan diri mereka kepadanya menjadi semakin jelas terwujud, bukan sekadar kelebatan, siluet, wujud datang pergi, atau transparan, tapi semakin membentuk dengan utuh.
Wardhani mungkin tak sadar bahwa Rabu Pon adalah hari dimana mbah putrinya meninggal, juga hari dimana sang kakak bunuh diri tepat di hari ulang tahunnya yang ke sembilan belas. Ia dihamili sang pacar yang enggan bertanggungjawab atas calon anak yang merupakan darah dagingnya sendiri. Malam Rabu Pon pukul enam sore dimana langit temaram menempel di cembung langit, Kinanti menyisir rambutnya di tepi sumur, kemudian menjatuhkan dirinya ke dalam lubang kematian itu.
Di waktu yang sama, seorang pemuda bernama Soemantri Soekrasana berhenti di depan gapura dusun Pon yang dibangun dari batu-bata dan tampak sudah dibuat lama. Di beberapa bagiannya diikatkan kain kuning dan putih yang tak kalah lusuh, memamerkan ketuaannya.
Soemantri Soekrasana menghela nafas panjang. Sebuah dusun terpencil yang seperti seorang anak dijauhi teman-temannya ini memang terlihat dan terasa kental oleh aroma mistis. Di malam hari setelah magrib, serabut dan sulur-sulur kabut mendadak datang menyergap.
__ADS_1
Sang pemuda mendengar, orang-orang mengatakan nama tempat ini adalah Dusun Pon, membuatnya tersenyum tipis. Petang ini adalah hari Rabu Pon dalam perhitungan penanggalan Jawa.
Sang pemuda berjalan masuk tanpa ragu sampai menemukan sebuah tempat untuk berehat. Warung kopi Mak Romlah cukup ramai malam ini. Beberapa pemuda sibuk membahas mengenai kemungkinan pembangunan jalan baru di dekat dusun serta sebuah menara dari perusahaan penyedia jasa telekomunikasi di dekat beringin kembar lapangan bola di sudut desa. Itu artinya, kedua pohon beringin yang dikeramatkan warga tua dusun akan ditebang dan Internet akan datang. Keriangan dan semangat menyambut modernisasi yang sudah lama terjadi di kampung-kampung tetangga itu jelas menjalar dan merekat erat si sela-sela obrolan mereka.
"Internet iku opo to?" Mak Romlah bertanya mengenai apa gerangan yang dimaksud dengan Internet itu kepada para pemuda yang sedang melahap pisang goreng dingin di depan mereka.
"Ah, pokoknya kalau Mak dan tetua dusun ini percaya sihir, Internet itu ya sihirnya masa sekarang. Mak bisa ngomong sama anak Mak yang bekerja di Lampung bukan hanya dari suara, tapi juga bisa langsung sama-sama lihat wajahnya. Nah, gitu gambaran seupilnya Internet."
Mak Romlah ternganga.
Soemantri Soekrasana datang di saat yang tepat. Para pemuda enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan lanjutan janda enampuluh tujuh tahun itu lagi, terutama mengenai teknologi terkini. Umur empat puluh tahun saja di dusun ini memiliki ketertinggalan selama ratusan tahun pembangunan yang terjadi di luar sana, pikir para pemuda, apalagi Mak Romlah yang sudah renta.
"Selamat datang, nak. Ada keperluan apa di dusun terpencil di malam hari yang berkabut ini? Oh ya, panggil saja aku 'Mak', Mak Romlah orang dusun biasa menyebutku," ujar sang janda agak genit. Senyumnya terkembang, menampakkan deretan gigi yang masih utuh untuk orang seusianya walau tak rapi dan berwarna merah karena sirih.
Soemantri Soekrasana membalas senyuman Mak Romlah dengan kikuk. Nenek itu belum membalas pertanyaannya tentang makanan yang tersedia di warung ini. Perutnya sudah keroncongan seperti kendang berisi angin.
"Welah, Mak peyot gampang lupa, cah bagus. Di warung ini ada nasi. Lauknya pilih saja di meja, nak," ujar Mak Romlah sadar bahwa ia belum menjawab pertanyaan sang pelanggan.
__ADS_1
Soemantri Soekrasana mengangguk, "Boleh Mak, nasi satu," ujarnya sembari memperhatikan kepala, ceker dan hati ayam goreng, serta tempe bacem dan sayur bothok.
Para pemuda memperhatikannya. Sadar dirinya menjadi pusat perhatian, Soemantri Soekrasana balas menatap para pemuda dengan mencoba seramah mungkin. "Malam mas. Sebenarnya saya cuma numpang lewat. Tapi siapa tahu ada yang memerlukan bantuan, saya bisa bantu. Kebetulan saya bekerja sebagai tukang pijat keliling."
"Muda-muda jadi tukang pijat,mas?" tanya salah satu pemuda nampak tertarik sekaligus agak merasa aneh dan curiga.
"Malah karena masih muda mas, masih kuat," respon Soemantri Soekrasana sembari tersenyum. Sebagai seorang dukun - paranormal istilah yang lebih dipilihnya - dan menguasai ilmu kanuragan, menyamar menjadi seorang tukang pijat untuk menyelidiki kasus-kasus gaib bukanlah sesuatu yang sulit. Ia lumayan paham seluk-beluk otot dan syaraf manusia. Alasan ini pun menjadi masuk akal bagi para pemuda dusun yang mengangguk-angguk dan enggan mempertanyakan pekerjaannya lagi
Tak lama Soemantri Soekrasana mengambil kesempatan untuk meminta ijin buang air kecil. Mak Romlah mempersilahkannya ke kamar mandi sekaligus WC atau tempat buang air berdinding anyaman bambu, gedhek, di belakang rumah dan warungnya.
Baru saja jam tujuh petang, namun kegelapan sempurna merampok tempat ini.
Soemantri Soekrasana membuka resleting tas selempangnya. Mengambil botol air mineral, menenggak air namun tak meminumnya. Ia menyemprotkan air ke sekeliling tempat itu. Sebuah mantra dalam bahasa Jawa diucapkan lirih, " ... Sang kala ireng sang kala lumagang, sang sarasa karasa sira apasang sira anut marang ingsun, ana saking ingsun pangeranira sang nur zat maya putih, sira metuwa."
Soemantri Soekrasana merasakan kabut semakin menebal, bergulung-gulung bagai bulu domba. Hawa magis semakin terasa kental.
"Rupa-rupanya Rabu Pon adalah harinya," gumam laki-laki muda itu.
__ADS_1
Tak lama ia melihat dari balik pohon nangka yang tumbuh tinggi, sosok kakek-kakek dengan rambut putih seputih kabut itu sendiri berjalan bungkuk. Kulit keriputnya sepucat kapas. Kedua bola matanya terbalik. Bagian yang putih menggantikan bagian yang hitam.